HASRAT TABU 2

 

GENRE : HIJAB EROTIC - AGEGAP
JUMLAH HALAMAN : 262 HALAMAN
HARGA: Rp 35.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


PART 1

 

Sugeng mengucek matanya setelah terjaga dari tidur. Perut buncitnya naik turun mengikuti deru nafas perlahan, masih telanjang bulat sejak semalam. Pria tua itu masih merasa lelah setelah bercinta semalam suntuk dengan Safiya. Mereka bercinta sampai jam 3 pagi! Untungnya, penis Sugeng sudah ditanami susuk oleh Mbah Jagat, bukan masalah besar baginya untuk melayani birahi sang betina muda, bahkan Safiya lah yang semalam sering memohon ampun saat dihujami penis besar Sugeng.

Sugeng sendiri masih tidak menyangka nafsu Safiya begitu liar. Seolah-olah wanita cantik itu ingin membuktikan bahwa dia layak menjadi wanitanya. Ketika kesadaran Sugeng mulai pulih sepenuhnya, dia merasakan sentuhan lembut di selangkangannya. Di bawah, nampak tangan Safiya begitu mahsyuk meremas dan mengocok batang penisnya.

“Hmm…Sudah bangun Mas…?” Sapa Safiya dengan senyum sumringah, tangan kanannya masih mengocok batang penis Sugeng yang perlahan mulai mengeras.

“Iyah…Sekarang jam berapa?” Tanya Sugeng sembari berusaha menggeliatkan tubuhnya.

“Baru jam sebelas. Mas Sugeng tidur lagi aja kalo masih ngantuk..”

“Emmcchhh…Gimana mau tidur kalo kontolku kamu buat mainan kayak gitu.” Ujar Sugeng yang langsung disambut tawa riang Safiya.

Istri Hamzah itu kemudian menurunkan kepalanya mendekati alat kawin sang pejantan tua. Mulutnya terbuka, lidahnya menjulur keluar. Disapunya lubang kencing penis Sugeng dengan lidahnya yang basah dan lembut, sontak membuat pria tuia itu menggelinjang keenakan. Jilatan lidah Safiya masih dibumbui dengan kecupan-kecupan lembut di sekitar ujung penis, memberikan efek kejut pada Sugeng yang masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur.

"Kamu maniak seks ya? Pagi-pagi udah sarapan kontolku.” Cerocos Sugeng.

"Katamu semalam aku lontemu Mas? Bukannya kalo jadi lonte harus maenin kontol terus ya?” jawab Safiya menghentikan ciumannya pada penis Sugeng.

“Hehehehe, pinter! Kamu memang lonteku, tiap jam butuh dikontolin terus.”

“Kan Mas Sugeng yang bikin aku kayak gini…”

“Nyesel nggak?” Tanya Sugeng, meskipun dia tau jika ajian peletnya bukanlah sesuatu yang bisa ditolak oleh Safiya. Wanita cantik itu sama sekali tak punya pilihan untuk menolak.

“Nggak mungkin nyesel lah Mas. Kontolmu itu lebih enak dibanding sama kontol suamiku.” Jawab Safiya dengan tegas.

"Oh ya? Memangnya kontol ustad itu kenapa? Kecil ya?” Pancing Sugeng seolah ingin menasbihkan superioritas terhadap suami sah Safiya.

“Nggak cuma kecil, tapi juga gampang crot. Beda sama kontol Mas Sugeng yang gede dan tahan lama.” Begitu enteng Safiya menghina alat kawin suaminya sendiri, seolah tak ada lagi sisi baik Hamzah dalam hatinya. Sugeng merasa puas mendengar mulut Safiya merendahkan suaminya.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan Hamzah. Namun, berkat pengaruh ilmu pelet, Safiya jadi tidak pernah merasakan kepuasan dari suaminya. Padahal, secara fisik, tidak ada perubahan pada diri suaminya itu. Pengaruh ilmu pelet tak hanya membuat perasaan cinta Safiya pada Hamzah menghilang, guru cantik itu kini juga secara sadar telah menyerahkan jiwa dan raganya pada kekuasaan Sugeng. Apapun yang diminta oleh pria tua itu akan selalu dituruti oleh Safiya. Apapun itu.

Dengan mulut terbuka lebar, Safiya mendekatkan kepalanya ke arah penis Sugeng. Air liur menetes dari sudut bibirnya. Safiya sudah tidak sabar untuk merasakan kembali penis perkasa milik sang pejantan tua. Nafsu yang menyala-nyala mendorongnya, membuatnya ketagihan alat kawin Sugeng. Sempat ada penyesalan dalam diri Safiya, kenapa dia tak sebinal ini dari dulu. Padahal dengan modal wajah cantik dan body bahenol tak sulit rasanya menggaet lelaki manapun untuk memuaskan birahinya.

Safiya kembali menjilati kepala penis Sugeng. Lidahnya bermain di sekitar lubang kencing dan kepala penis. Perlahan, ia memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya, menghisap, dan mengulumnya dengan rakus. Safiya terus menurunkan kepalanya, menelan batang penis Sugeng sedalam mungkin.

“Ouuchh! Anjing! Enak banget seponganmu!”

Sugeng berusaha untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada ujung ranjang, membuatnya bisa melihat keseluruhan body Safiya yang menungging di sekitar selangkangan. Pelan namun pasti, Safiya mulai merasakan batang penis Sugeng semakin membesar dan membengkak di dalam mulutnya. Pada saat yang sama, tangan Sugeng mulai meremas bokongnya dengan kasar, menamparnya berkali-kali dengan cukup keras.

“Aawww! Sakit Mas..” rajuk Safiya sebelum kembali mengulum batang penis Sugeng.

“Stop! Ambil hijabmu, mulai sekarang kamu harus make hijab kalo mau nyepongin kontolku.” Perintah Sugeng tiba-tiba.

Bak kerbau yang dicokok hidungnya, Safiya langsung melepas kuluman pada batang penis Sugeng dan beranjak turun dari atas ranjang. Guru cantik itu kemudian membuka lemari pakaian dan meraih seutas hijab warna hitam, hijab yang sering dipakainya saat mengajar di sekolah. Tak lama, kepalanya sudah terbungkus hijab itu. Dengan senyum nakal dia menoleh ke arah ranjang dan mengedipkan matanya pada Sugeng.

“Kayak gini Mas?” Safiya memutar tubuhnya yang telanjang bulat, sementara kepala dan sebagian wajahnya tertutup oleh hijab. Sugeng tersenyum puas.

“Iya kayak gitu, lonte mode syariah.” Desis Sugeng penuh penghinaan.

Safiya hanya tersenyum mendengar ocehan pelecehan dari Sugeng, sama sekali tak ada rasa sakit hati atau amarah sedikitpun. Penghinaan dari pria tua itu bahkan membuat birahi Safiya makin meninggi. Langkah kakiknya gemulai kembali mendekat ke sisi ranjang, niatnya ingin kembali mengulum alat kawin sang pejantan tua. Namun Sugeng tiba-tiba merebahkan tubuhnya secara terbalik, kini kepalanya mengarah pada sisi luar ranjang. Safiya seolah paham apa yang ingin dilakukan pria tua itu. Dengan perlahan dia naik ke atas ranjang, dan mengangkangi kepala Sugeng. Posisi 69.

Kini hampir seluruh wajah Sugeng tertutupi selangkangan Safiya, matanya terpaku pada pemandangan terlarang di hadapannya. Safiya, tanpa ragu langsung memegangi alat kawin Sugeng yang sudah mengeras sempurna dan langsung mengulumnya. Sugeng tak mau kalah, jarinya menguak lubang kenikmatan sang betina binal, membiarkan lidahnya menari di antara lipatan-lipatan vagina yang basah.

Lidahnya menyerbu klitoris Safiya dengan ganas, sementara jemarinya bermain-main di sekitar lubang anus, menggoda dan menjajah setiap titik sensitif. Tubuh Safiya menegang dan bergetar hebat saat mulut Sugeng menghisap daging kelentit kecil itu, tanda bahwa Sugeng telah berhasil membangkitkan dewi nafsu dalam diri Safiya.

“Ouucchhhh! Maass! Shit!”

Suara erotis yang keluar dari mulut Safiya bercampur dengan suara decapan lidah Sugeng, menciptakan melodi dosa yang memabukkan. Keduanya tenggelam dalam lautan kenikmatan, melupakan segala norma dan batasan. Penis Sugeng terus dihisap dengan sangat ganas, mulut Safiya bak vacum cleaner yang ingin menguras habis sperma pria tua itu. Sugeng sendiri sekuat tenaga memainkan lidahnya di sekitar vagina sang betina yang makin basah cenderung becek.

"Eeemmchhh! Memek lonte nikmat banget rasanya!” ucap Sugeng ditengah gerak lidahnya yang terus menguasi vagina Safiya.

“Eeemmcchh!!! Ssshh!!!!” Safiya pun tak mau kalah, mulutnya sibuk mengulum penis Sugeng yang besar bukan main. Mulutnya terlalu penuh hingga tak bisa mengicap satu kata pun.

Kepala Safiya bergerak naik turun dengan tempo yang cepat, seiring dengan lidah Sugeng yang menjilati vaginanya tanpa ampun. Posisi 69 mereka berdua adalah potret dosa yang sempurna. Wanita cantik yang dulunya adalah seorang istri setia kini sudah menjadi budak nafsu, menunggangi lelaki tua berperut buncit dengan birahi yang membabi buta. Sugeng dengan rakus menenggelamkan wajahnya di antara selangkangan Safiya, menghirup aroma surga terlarang, dan menjilat setiap tetes cairan kewanitaan yang keluar dari sana. Keduanya saling mendesak, saling memaksa, berjuang untuk mencapai puncak kenikmatan hina. Hanya suara decakan dan erangan yang memenuhi ruangan, menjadi saksi bisu perzinahan.

"Ermmmm....Hhhhhhh...." desah Safiya, suaranya tercekat. Mulutya penuh sesak oleh alat kawin Sugeng.

Tak lama tubuh Safiya menegang, pinggul dan pantatnya menekan keras wajah Sugeng, gelombang orgasme nyaris datang. Jilatan lidah Sugeng telah membawanya ke gerbang orgasme. Sentuhan di klitorisnya, hisapan di penis Sugeng, semuanya berpadu menjadi ledakan yang tak tertahankan. Safiya menjepit kepala Sugeng dengan pahanya, mencengkeramnya erat, sementara vaginanya memuntahkan air kehidupan, membasahi wajah lelaki tua itu.

“AARGGHTT!!! MAAASSS!!!!”

 Sugeng terus menjilat, berusaha mengumpulkan setiap tetes terakhir cairan kewanitaan. Saat itu pula, Safiya merasakan penis Sugeng berdenyut semakin keras, sebelum akhirnya memuntahkan benih haram ke dalam mulutnya. Meskipun tak sebanyak malam sebelumnya, sperma Sugen tetap memenuhi rongga mulutnya dan meluap keluar.

“Occchhhhhh!!! Telen semua pejuku!” Perintah Sugeng dengan nafas terengah-engah.

Safiya menelan semuanya tanpa ragu. Tidak ada jijik, hanya kenikmatan yang membara. Sperma dari pria yang bukan suaminya. Safiya bergeser, turun dari atas tubuh Sugeng, lalu berbaring lelah di samping pria tua itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sugeng, aroma keringat jantan yang memabukkan. Wangi yang membuatnya merasa aman dan diinginkan. Sementara Sugeng masih mencoba mengatur napasnya, sambil mengusap lembut rambut Safiya. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum penuh kepuasan.

"Pagi-pagi udah sarapan peju ya…?” kata Sugeng, memecah kesunyian.

“Kamu memang lonteku…Sampai nanti kamu tetap jadi lonteku…” lanjut Sugeng, lalu mengecup dahi Safiya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya deru napas yang menjadi saksi bisu kenikmatan yang baru saja mereka raih.

 

***

 

Aroma bawang goreng, kecap, dan nasi memenuhi ruangan dapur, Safiya terlihat sibuk menyiapkan makanan. Masih seperti sebelumnya, tubuh guru cantik itu telanjang bulat dan kepalanya terbalut hijab sesuai dengan permintaan Sugeng. Sekarang, apapun perintah dan permintaan pria tua itu, Safiya akan melakukannya dengan penuh kepasrahan diri dan tanpa penolakan sedikitpun.

Sedang asyik memasak, tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya didekap dengan erat. Safiya hanya tersenyum, karena dia tahu siapa pemilik tangan yang sedang memeluknya. Safiya bisa merasakan perut buncit Sugeng rapat di punggungnya. Jemari pria tua itu merayap nakal, meremas pinggul dan payudaranya. Sementara lehernya jadi sasaran ciuman dari bibir tebal berkumis lebat.

"Eeemmchhh..Geli Mas…Sabar dong, aku masakin makanan buat kamu loh.." desah Safiya manja sambil menunggingkan pantatnya, membuat selangkangan Sugeng makin mengeras dibalik balutan handuk.

Sesekali Safiya menggoyangkan pantatnya, bergerak naik turun seolah sedang mengurut batang penis sang pejanta tua. Sugeng tak mau kalah, tangannya yang awalnya sekedar meremas payudara Safiya, kini beralih ke putting wanita cantik itu. Sugeng menarik, menjepit, memelintirnya hingga membuat tubuh Safiya menggelinjang.

"Oucchhh…Mas…" rengek Safiya.

Safiya sudah melepaskan alat masak, kedua tangannya kni bertumpu pada meja dapur. Tubuhnya kembali bergoyang erotis, merespon tiap sentuhan dan ciuman Sugeng yang makin liar.

"Kamu masih bau peju sayang…Lonte beneran aja jam segini harusnya udah mandi.” hina Sugeng, sambil terus mencium dan menggigit tengkuk Safiya.

 Tangan kirinya mulai turun ke bawah, menyasar area selangkangan Safiya. Jari-jari pria tua itu mengelus permukaan vagina, menggosoknya secara perlahan dari atas hingga ke bawah. Awalnya tersa lembab, namun lama kelamaan berubah jadi bsah cenderung becek.

“Dasar lonte, baru juga dipegang kayak gini aja udah banjir memekmu?”

"Ouucchh…Mass…"

Tiba-tiba Sugengi menghentikan semua aksinya. Perutnya perlu diisi untuk mendapatkan kembali tenaga kejantanannya. Safiya menoleh ke belakang, raut wajahnya terlihat agak kecewa. Disaat dia sudah mulai birahi justru Sugeng memadamkannya seenak hati.

"Kok berhenti Mas…?" tanya Safiya, masih berharap Sugeng meneruskan aksi cabul pada tubuhnya.

"Aku lapar...Hidangkan makanan." Balas Sugeng singkat, sambil berjalan santai menuju meja makan.

Meskipun kecewa Safiya tetap patuh pada arahan Sugeng. Dia kembali memasak dan beberapa saat kemudian menghidangkan sepiring nasi goreng ke meja makan, tempat Sugeng sudah menunggu. Safiya hendak kembali ke dapur namun Sugeng dengan sigap meraih tangan guru cantik itu.

“Mau kemana?” Tanya Sugeng, matanya begitu dalam menatap wajah Safiya.

“Mau bersih-bersih dapur sebentar Mas..”

"Nanti aja bersih-bersihnya. Sekarang kamu lanjutin ngemutin kontolku dulu.” Ujar Sugeng santai sambil mulai menyendok nasi goreng lalu menyuapnya ke dalam mulut.

Safiya tersenyum, itu seperti hadiah yang selalu dinanti-nantikan. Safiya berlutut, merangkak masuk ke bawah meja, mendekati bagian selangkangan Sugeng yang sudah terbuka lebar. Tangan kanannya mulai meraih ikatan handuk yang dikenakan oleh Sugeng, dalam satu gerakan cepat handuk itu langsung terlepas. Selangkangan Sugeng terbuka, penisnya yang setengah tegang terlihat menantang. Safiya tak sabar untuk mengulumnya.

"Jilatin aja.." terdengar suara Sugeng memberi perintah lagi.

Safiya mengangguk, meskipun dia sadar lelaki tua itu tidak dapat melihat aksinya di bawah meja makan. Safiya menjulurkan lidah, mulai menjilat dari bagian kantung testis  merasakan tekstur kulit yang keriput dan hangat di lidahnya. Jilatan Safiya perlahan menyusuri area lain, kali ini bagian batang penis Sugeng yang menerima sensasi hangat dan basah.

Safiya memejamkan mata, membiarkan aroma khas penis Sugeng memenuhi hidungnya. Lidahnya bermain-main di sepanjang batang penis Sugeng yang berdenyut, sesekali menyentuh lubang kencing yang sensitif. Sugeng mendesah pelan, tapi tak menghentikan kunyahannya. Safiya tahu, lelaki tua itu sedang menikmati momen ini, perpaduan antara kenikmatan duniawi dan nafsu yang meluap.

Safiya mulai membuka mulutnya lebar-lebar, ujung penis Sugeng menyeruak masuk. Dikulumnya alat kawin pria tua itu sembari sesekali menjilati dengan lidahnya. Safiya masih bisa mendengar suara sendok beradu dengan piring di atas meja, Sugeng rupanya tak begitu acuh dengan apayang dilakukannya di bawah meja, terbukti dia begitu lahap menyantap nasi goreng meskipun penisnya sedang diblowjob oleh Safiya. Tak lama Sugeng menghabiskan suapan terakhir nasi gorengnya. Ia meletakkan sendok dengan suara yang cukup keras, lalu menghela napas panjang.

"Enak." komentarnya singkat, lalu dengan sedikit kasar dia mendorong kepala Safiya agar menjauh dari selangkangannya.

“Sudah makannya Mas?” Tanya Safiya sambil keluar dari kolong meja, air liur membasahi sebagian bibirnya yang tipis.

“Sudah, enak masakanmu. Sekarang giliran kontolku yang harus dikasih makan.” Jawab Sugeng sembari berdiri dari kursi.

Sugeng memulai tugasnya sebagai pejantan andalan. Bibir dan lidahnya bergerak menyusuri tiap jengkal bagian tubuh Safiya. Leher, pundak, payudara, perut, hingga lembah nikmat di bagian bawah tubuh sang betina tak terlewat sedikitpun. Safiya mendesah, mengerang sesekali sembari meremasi rambut Sugeng yang begitu ahli mempermainkan birahinya.

“Fuck….Ouch Mas…” Desis Safiya.

Wanita cantik itu lalu berbalik membelakangi tubuh Sugeng, menunjukkan punggungnya. Dia melangkah mundur, mencondongkan tubuh ke depan dan menempelkan tangannya di dinding. Punggungnya begitu mulus, jemari Sugeng menyusuri dari atas hingga ke bawah. Safiya tau apa yang sedang diharapkan oleh pria tua itu, maka dia sedikit menungging, mempertontonkan bongkahan pantat semok di hadapan Sugeng.

“Sempurna…” Desis Sugeng sembari meremas gemas pantat Safiya.

“Mas Sugeng suka?” Balas Safiya sembari mengerlingkan mata nakal.

“Siapa yang tak suka menjamah pantat seindah ini?” Balas Sugeng.

Satu tangan Safiya meraih ke belakang dan menarik tubuh Sugeng ke arahnya. Tangannya memegang penis pria tua itu, menggosokkannya ke lubang pantatnya, lalu menyandarkannya di celah anus.

“Rasanya gimana ya kalo kontol Mas Sugeng masuk ke sini?” Tantang Safiya sambil terus menggesek ujung penis Sugeng ke lubang anusnya.

Sugeng bergerak maju, menepis tangan Safiya dan mengenggam penis dengan tangannya sendiri. Sugeng menekuk lututnya sedikit, bergerak lebih dekat lagi hingga kepala penisnya menempel di celah vagina yang tertutup rapat. Safiya mendorong mundur ke belakang,

"Eittss…Aku nggak mau di situ Mas…Please…" Rengek Safiya.

Safiya tersenyum. Sepertinya semuanya sudah dipersiapkan untuk saat ini. Semua godaan, semua permainan, semua momen masa lalu yang kembali menggelanyuti isi kepala. Dari dulu, mereka memang belum pernah sekalipun melakukan anal sex, dan sekarang Safiya menginginkannya.

 Sugeng mencium punggung Safiya dan mendorong tubuhnya ke depan. Penisnya perlahan membelah bibir vagina. Pria itu tak mengindahkan permintaan Safiya yang menginginkan penetrasi di tempat lain. Sugeng makin mendeorong hingga seluruh batang penisnya bersemayam seutuhnya di dalam liang kenikmatan.

"Ouucchhhh Mas….Nakal…" desis Safiya, kakinya gemetar.

"Sakit?" Sugeng bertanya. Safiya menggelengkan kepalanya, vaginanya terasa begitu sesak saat ini.

"Ini enak banget Mas…Fuck!"

"Lebih enak mana dibanding kontol suamimu?" Sugeng mulai mendorong penisnya keluar masuk di vagina sedikit lebih cepat.

"Acchh! Shit!! Fuck!" Hanya racauan yang keluar dari bibir Safiya seraya tubuhnya berguncang mengikuti irama sodokan demi sodokan sang pejantan tua.

"Entotin aku sepuasmu Mas! Entot sampek pejumu muncrat Mas!”

Safiya mengerakkan pinggulnya ke arah Sugeng, napas semakin berat, Sugeng ikut mengerakkan pinggulnya menyambut tantangan sang betina. Pria itu sedang berjuang menahan ejakulasi. Tangan kanannya meraih ke bawah dan mengesek klitoris Safiya dengan jari hingga membuat tubuh wanita cantik itu tersentak.

"Enak banget kontolmu Mas! Sumpah! Lebih enak dari kontol suamiku! Sesek banget rasanya memekku Mas!” jerit Safiya. Sugeng meraih payudara Safiya yang berayun dengan tangan kiri dan menarik putingnya.

"Ouucchh Mas! Kalo kamu cepetin kayak gini aku bakal keluar duluan!” Safiya menggerakkan pinggulnya lebih cepat.

 "Ooh.. shit!"

Tubuh Safiya mengejang, menyentak ke depan, membuat penis Sugeng terlepas dari vagina. Safiya mendorong ke belakang lagi dan penis Sugeng kembali meluncur mudah ke dalam vagina. Safiya berteriak, gemetar saat mencapai klimaks. Sugeng berusaha memegangi pinggul Safiya untuk menahan penisnya tetap di dalam, merasakan pijatan dari dinding vagina dan semburan hangat di kepala penisnya.

“AARGGHHTTTT! MAAASS!!!”

Sugeng kemudian mundur, menarik tubuh Safiya ke belakang sampai bersandar di dadanya. Kaki Safiya masih gemetar, hampir tidak bisa menahan tubuhnya, Sugeng sampai harus memeluknya saat tubuh guru cantik itu menggigil, menahannya agar tidak merosot ke lantai.

Safiya mengangkat lengannya dan melingkarkannya ke belakang leher Sugeng, mencoba menoleh untuk mencium bibir pria tua itu, tapi gagal karena tidak bisa mengontrol tubuhnya yang lemas dan terus gemetar.

"Gila! Sampek gemeteran kayak gini badanmu?" Sugeng menggelengkan kepala, penisnya kembali bergerak mencekoki liang senggama sang betina binal.

"Mas Sugeng masih belum keluar…?” Desah Safiya dengan nafas terengah-engah.

"Baru juga mulai, masa udah crot?” Safiya tertawa, melepaskan diri dari pelukan Sugeng, penis pria tua itu kembali tercabut keluar dari dalam vagina, basah kuyup.

“Harus diapain biar kontolmu muncratin peju Mas?”

“Diapain aja boleh, hari ini kontolku milikmu seorang.” Balas Sugeng sambil tersenyum.

Sugeng kembali meremas payudara Safiya, sambil menikmati, tangan Safiya membelai penis Sugeng. Safiya membungkuk ke depan, menopang tubuhnya di dinding dengan satu tangan. Wanita itu mendorong pantatnya ke atas, mencengkeram penis Sugeng lalu menggosoknya ke bongkahan pantatnya, menyelipkannya ke celah di tengahnya. Sugeng memegang pinggulnya dan menariknya sedikit ke belakang. Safiya menempatkan kepala penis Sugeng tepat di depan lubang anusnya, menahannya di sana.

"Mas…please ewein anusku…” Ucap Safiya.

“Kamu yakin?”

“Yakin Mas..Aku pengen ngrasain analsex kayak di bokep-bokep.”

“Hahahahaha! Dasar lonte murahan!”

Safiya menggosok penis Sugeng, masih menempelkan di lubang anusnya. Lelehan cairan kewanitaan dari lubang vagina membuatnya licin dan saat dia menekan ke belakang, Sugeng merasakan penisnya mulai membuka bibir anus.

"Ouucchhh Mas….”

Sugeng menekan pinggulnya ke depan dan lubang pantat Safiya terbuka lebih lebar. Setengah kepala penis sekarang sudah terselip ke dalam, dijepit oleh otot melingkar yang ketat. Kepala Safiya tergantung ke bawah, menggeleng putus asa.

“Sodok terus Mas!! Entotin pantatku!”

Sugeng makin menekan dan penisnya perlahan tapi pasti memasuki lubang anal sang betina. Safiya memekik tertahan, tapi bukan kesakitan, Sugeng mendorong dan masuk lebih dalam. Safiya merespon dengan membuka kakinya lebih lebar dan meletakkan tangannya yang lain di dinding. Sugeng menarik pinggulnya kuat-kuat ke arah depan, menekuk lututnya, detik berikutnya penisnya meluncur sepenuhnya ke dalam anus sang betina. Safiya menahan napas dan tersentak lagi,

"Achhh! Fuck! Maasss!" Suaranya seperti tercekik.

"Aku akan muasin kamu!" kata Sugeng berbisik di telinga Safiya.

“Aaachh! Yes! Entotin aku terus Mas!”

"Aku boleh crot di dalam anusmu?" Pinggul Sugeng bergerak makin cepat.

"Ya! Keluarin di dalem!" Safiya memejamkan mata, hampir tak mampu bicara.

“Ouucchh! Yes! Fuck!” Di tengah sodokan penisnya, jemari Sugeng merambat meremasi payudara Safiya yang bergelantungan bebas.

"Shit! Kontolmu penuh banget di anusku! Anjing kamu Mas!" Safiya megap-megap lagi, tubuhnya bergetar.

Sugeng terus memompa keluar masuk, sedikit kasar, perutnya yang buncit menabrak pantat Safiya dengan kencang. Suara tumbukan tubuh keduanya beradu nyaring dengan lenguhan serta desahan. Sugeng tahu tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Bola testisnya menegang, hampir sakit, penisnya berkedut dan dia merasakan klimaksnya mendekat.

"Aku mau crot!!"

"Crotin di dalem Mas!" Safiya berteriak saat sperma Sugeng meledak di dalam anusnya, menyemburkan cairan hangat dan kental jauh di dalam.

Safiya merasakan cairan sperma menyembur dan itu membuatnya orgasme juga, dia gemetaran lagi. Kakinya lemas dan Sugeng menariknya ke arah tubuhnya, mencoba untuk menahan tapi lututnya sendiri terasa lemas, tiba-tiba saja mereka merosot ke lantai dan Safiya mendarat di atas tubuh Sugeng, penisnya masih menancap di anus, Sugeng memompa lagi, menyembur lagi di dalam anus.

“Kamu gila Mas Sugeng! Aku puas banget…” Desis Safiya penuh kepuasan.

“Aku juga puas banget…” Balas Sugeng dengan nafas kembang kempis.

 

 

 

 

PART 2

 

Adzan Ashar terdengar sayup-sayup. Di ruang tamu, mata Safiya terpaku pada layar laptop yang menampilkan video porno. Kepalanya bersandar manja di paha Sugeng yang duduk di sofa. Guru cantik itu masih telanjang bulat, hanya kepalanya saja yang terbalut hijab, persis seperti tadi pagi. Tangan kanan Sugeng mengelus kepala Safiya, tak lama tangan kirinya merogoh kantong celana, mengeluarkan sebungkus rokok. Setelah menyulut rokok, tiba-tiba Sugeng menyodorkan tembakau bakar itu pada Safiya.

“Buat apa Mas?” Tanya Safiya sambil menatap Sugeng dengan bingung.

"Cobain, aku ingin liat kamu ngrokok.” kata Sugeng sambil tersenyum, tangannya masih menjulurkan rokok.

Dulu Safiya selalu membenci rokok. Baik perokoknya, asapnya, maupun baunya. Namun hari ini dia diperintahkan oleh Sugeng untuk mencicipinya, perlahan ia meraih rokok yang disodorkan Sugeng, meletakkannya di bibir, dan mulai menghisap.

"Hisap yang dalam," perintah Sugeng lagi. Safiya menurut. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam.

“Uhuk! Uhuk!”

Safiya terbatuk hebat saat asap memenuhi paru-parunya. Matanya berair dan perih. Sugeng tersenyum. Safiya mencoba lagi. Rokok itu kembali dihisapnya dalam-dalam. Demi cintanya yang terlarang.

 

***

 

Bau asap rokok menyesaki ruang tamu. Di meja, laptop masih memutar video porno, menemani asbak kecil yang penuh puntung rokok. Di atas sofa, Safiya duduk mengangkang, kedua kakinya terbuka lebar menghadap layar. Ia masih telanjang, hanya mengenakan hijab warna hitam yang menutupi kepalanya. Bagian intimnya terbuka, merekah merah, dihiasi vibrator yang bergetar halus di dalamnya.

Tangan kiri Safiya memainkan vibrator itu, keluar masuk perlahan. Area di sekitarnya tampak merah dan basah. Tangan kanannya menggenggam sebatang rokok yang hampir habis, sesekali dihisap dalam-dalam, lalu asapnya dihembuskan ke udara. Bagian bawah sofa terasa lembap, basah oleh cairan vagina yang sudah berkali-kali keluar. Masturbasi dengan vibrator, dipicu oleh video porno yang ditontonnya tanpa henti, telah membawa Safiya pada orgasme berulang.

Sugeng, setelah Ashar sudah pergi entah kemana. Ia hanya meninggalkan vibrator dan perintah agar Safiya terus bermasturbasi dan merokok selama ia pergi. Dan itulah yang Safiya lakukan selama hampir tiga jam terakhir. Ia sudah berkali-kali mencapai klimaks, hingga tak terhitung lagi. Vaginanya terasa perih, tapi ia tetap mematuhi perintah Sugeng. Begitu pula dengan rokok yang dihisapnya. Sesuatu yang dulu sangat dibencinya, kini mulai menjadi kebiasaan.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil milik Sugeng memasuki halaman rumah. Senyum lebar merekah di bibir Safiya. Ia bangkit dari sofa, berlari kecil ke jendela, membiarkan vibrator tetap tertanam di dalam vaginanya. Dari celah jendela, ia melihat Sugeng keluar dari mobil sambil membawa beberapa kantong plastik. Safiya segera berlari ke pintu depan, membukanya lebar-lebar untuk sang pejantan tua.

Sugeng memandangi tubuh telanjang guru cantik itu menyambutnya tanpa rasa malu. Matanya menelusuri tubuh Safiya dari atas ke bawah, melihat vibrator yang masih tertancap di dalam vagina.

Sugeng melangkah masuk, meletakkan kantong belanjaannya di lantai, menutup pintu rapat-rapat, lalu menarik kasar kepala Safiya, mendekatkan bibirnya. Mereka berciuman. Sugeng bisa merasakan bau rokok dari air liur Safiya. Sama seperti pelacur yang sering disewanya. Safiya membalas ciuman Sugeng dengan rakus. Saling bertukar air liur dan bermain lidah. Tangannya memeluk erat leher Sugeng.

"Aku beliin hadiah buat kamu." kata Sugeng, setelah bibir mereka terpisah, sambil menunjuk kantong belanjaan di lantai. Safiya mengambil kantong itu, senyumnya merekah melihat isinya.

"Terima kasih, sayang..." ucap Safiya. Sugeng merangkul pinggangnya dari samping, menariknya menuju sofa.

Safiya melangkah hati-hati mengikuti Sugeng. Heels setinggi 4 inci dan vibrator yang masih tertanam di vagina membuatnya harus berhati-hati. Ia tak ingin vibrator itu sampai terlepas. Sugeng menjatuhkan diri di sofa. Terasa lembap. Ia tersenyum, tahu betul penyebabnya. Ia menarik Safiya duduk di sebelahnya, mendekatkan wajahnya ke leher wanita cantik itu, menghirup aroma keringatnya. Aroma betina yang sedang birahi.

Safiya mengeluarkan isi kantong belanjaan. Sehelai tank top putih tipis dan sebuah mini skirt hitam pendek. Ia membolak-balik tank top itu. Dua ukuran lebih kecil dari badannya. Pasti ketat jika dipakai nanti, pikir Safiya sambil tersenyum nakal, membayangkan lekuk tubuhnya yang akan terpampang jelas. Begitu pula dengan mini skirt hitam itu. Terlalu pendek. Mungkin hanya beberapa inci yang menutupi pantatnya. Ia merogoh tas itu lagi. Ada satu benda lagi di dalamnya. Safiya mengeluarkannya. Sebuah wig berwarna kuning kecoklatan. Pirang.

"Buat apa ini, Mas?" tanya Safiya, menoleh dan menunjukkan wig itu pada Sugeng.

"Nanti malam kita keluar. Jalan-jalan ke kota. Aku mau ajak kamu bersenang-senang. Hehehe..." jawab Sugeng, tertawa.

"Mas Sugeng mau ajak aku keluar pakai baju seksi ini?" tanya Safiya lagi. Kekhawatiran dan keraguan mulai muncul. Ia tak menyangka Sugeng punya rencana seperti ini.

"Ya iyalah. Aku mau pamerin pacarku ke semua orang. Makanya, kamu dandan yang seksi, biar kayak lonte.” Safiya terdiam.

"Tapi, Mas... Kalau ada yang lihat aku pakai baju begini nanti... Gimana, dong?" Ada nada khawatir dalam suara Safiya.

"Makanya aku beliin kamu wig juga. Lagian, aku yakin nggak ada yang bakal ngenalin kamu. Kamu tenang aja. Nurut aja sama aku. Ngerti?" jelas Sugeng dengan nada yang tak terbantahkan.

"Oke deh Mas, aku nurut apa katamu…” Safiya mencium pipi Sugeng dengan mesra. Wajahnya langsung cerah lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dada pria tua itu.

"Udah, sana siap-siap." perintah Sugeng lagi.

"Oke sayang..." jawab Safiya sambil bangkit dari sofa, memberikan ciuman singkat di bibir Sugeng sebelum berbalik dan pergi.

PLAK!

Satu tamparan mendarat di pantat Safiya. Ia menoleh, melihat Sugeng tersenyum, dan Safiya membalas dengan senyuman dan lirikan mata menggoda. Ia mulai berjalan, menggoyangkan pantatnya yang sintal, meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya.

Sugeng tersenyum, memperhatikan goyangan pantat budak seksnya yang menjauh. Malam ini ia akan membawa Safiya menikmati dosa yang lebih besar. Ia ingin membuat Safiya semakin terjerumus ke dalam lembah maksiat. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Safiya oh Safiya.

 

***

 

Safiya memamerkan tubuhnya yang terbalut pakaian seksi pemberian dari Sugeng. Tank top hanya menutupi separuh bagian atas tubuhnya. Ketat dan melekat, menampakkan bentuk payudara dan putingnya, namun perutnya sebagian besar terbuka, terutama pusarnya yang akan terlihat jika ia bergerak sedikit saja.

Safiya tersenyum sambil membusungkan dada, memamerkan puting yang menonjol, mengisyaratkan bahwa ia tidak mengenakan bra. Mini skirt hitam ketat yang membalut bagian bawah tubuhnya juga hanya menutupi sebagian kecil pinggul. Bibir vaginanya akan terlihat jika ia duduk dengan kaki terbuka. Safiya melengkungkan tubuhnya, berpose provokatif.

Pahanya dihiasi fishnet stocking hitam, dipadukan dengan platform heels setinggi 4 inci. Setelah puas dengan penampilannya, Safiya meraih lipstik dari meja rias. Ia mengoleskan lipstik merah terang berkilau pada bibirnya yang sudah merah, sekadar menambah volume agar terlihat lebih tebal, seksi, dan tentu saja menggoda. Safiya mengedipkan mata dan memberikan ciuman pada pantulan dirinya di cermin, sebelum meraih clutch bag dan melangkah keluar kamar.

"Wow! Kamu luar biasa cantik dan seksi!" puji Sugeng saat melihat lenggak-lenggok Safiya keluar dari kamar. Begitu menggoda, apalagi dengan rambut palsu pirang di kepalanya. Persis aktris porno dari Barat.

Safiya hanya tersenyum mendengar pujian pria tua itu. Ia terus menggoyangkan pinggulnya, mendekati Sugeng, melingkarkan tangan di lehernya, menyatukan bibir merahnya dengan bibir Sugeng. Mereka berciuman mesra, sementara tangan Sugeng meremas lembut bokongnya. Setelah beberapa saat, bibir mereka terpisah. Ada bekas lipstik menempel di bibir Sugeng, yang kemudian dibersihkan Safiya dengan jarinya.

"Kamu memang wanita nakal! Aku nggak salah pilih pacar.” Ujar Sugeng, yang hanya dibalas senyum bangga oleh Safiya.

"Ayo kita berangkat sekarang." kata Sugeng, mulai bergerak menuju pintu depan, diikuti Safiya dari belakang. Ia menutup dan mengunci pintu setelah mereka keluar rumah.

Mobil Sugeng melaju kencang meninggalkan halaman rumah milik Safiya, membawa mereka menuju destinasi pilihannya. Safiya kembali merapikan lipstiknya yang berantakan akibat ciuman tadi. Selapis, dua lapis, tiga lapis. Kembali terang, berkilau. Sugeng tersenyum melihat aksi Safiya. Kebiasaan memakai riasan tebal, terutama lipstik merah, seolah sudah melekat dalam diri guru cantik itu. Jauh berbeda dari dirinya yang dulu, yang hampir tak pernah memakai make up. Penis Sugeng kembali berdenyut. Safiya tersenyum nakal, melihat tonjolan batang penis Sugeng di balik celana.. Tangannya mulai menjulur ke arah tonjolan itu. Dibelai-belai lembut, sambil bibirnya memberikan senyum menggoda.

"Kita mau ke mana ini, Mas?" tanya Safiya sambil meneruskan usapan lembut di selangkangan Sugeng.

"Kita pergi pusat hiburan malam di kota. Di sana aman, nggak akan ada orang yang mengenalimu.” balas Sugeng, membiarkan jari-jari Safiya menurunkan resleting celananya.

Batang penis kekar milik Sugeng seketika mencuat keluar, sudah setengah keras. Safiya mengusap lembut kepala penis itu, sebelum tangannya mulai mengocok naik turun, membuatnya semakin mengeras. Cairan pre-cum mulai menetes dari lubang kencing. Safiya menjilat bibirnya. Air liurnya juga menetes, tergiur dengan batang penis itu.

“Sepongin aja kalo udah sange.” Kata Sugeng santai seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Safiya.

Safiya mulai menggeser pantatnya, mendekati Sugeng, menurunkan kepalanya ke bawah, ke selangkangan pria tua itu. Kedua kakinya sudah naik ke kursi penumpang, berlutut dengan stick gear rapat di perutnya. Kedua tangannya menopang di kursi pengemudi dan kepalanya turun ke batang penis.

Lidahnya terjulur, menjilat alat kawin sang pria tua tua. Pantatnya yang menungging pasti terlihat oleh pengemudi lain yang berpapasan, karena kaca mobil milik Sugeng tak begitu gelap. Perlahan, penis Sugeng masuk ke dalam mulutnya. Gerakan naik-turun pun dimulai. Dihisap dan disedot, bergantian.

“Eeemmchhhh…Eeemmchhh…”

Suara kecapan dan hisapan menggema di dalam mobil. Sugeng berusaha fokus pada kemudi, meskipun penisnya sedang dioral oleh Safiya. Sesekali saat berhenti di lampu merah, ia menekan kepala Safiya, agar mulut wanita itu menelan lebih dalam batang penisnya. Aksi cabul berlanjut sepanjang perjalanan menuju pusat kota. Sama sekali tak peduli jika ada yang melihat perbuatan mereka di dalam mobil.

Sugeng perlahan mengarahkan mobilnya ke area parkir sebuah bangunan luas yang dipenuhi gedung tinggi dan kawasan hiburan malam. Sugeng melirik jam di dashboard mobil. Baru pukul 9 malam. Ia menoleh ke Safiya yang sedang mengelap sisa sperma di dagunya dengan tissu sebelum kemudian dia keluar dari dalam mobil dengan santai. Safiya mengikutinya.

Jantung Safiya berdebar semakin kencang. Ini kali pertama ia keluar di tempat umum dengan pakaian seksi dan terbuka dan bahkan tanpa mengenakan hijab, memamerkan auratnya untuk tontonan. Terlebih lagi, ia tahu banyak pria akan memperhatikannya. Namun, melihat senyum di wajah Sugeng, segala kerisauannya hilang. Ia sanggup melakukan apa saja untuk pria tua itu. Apa saja.

Sugeng mendekat, memeluk pinggang Safiya. Tak serasi memang. Wanita cantik dan seksi seperti Safiya dipeluk pria tua berperut buncit. Bahkan, mata-mata pria di area parkir ikut memperhatikan pasangan ini. Ada rasa heran dan cemburu di hati mereka. Baru berjalan beberapa langkah, Sugeng berhenti. Pria tua itu mengeluarkan kotak rokok, mengambil sebatang dan memberikannya pada Safiya. Seolah mengerti, Safiya langsung menjepit rokok itu di bibirnya, membiarkan Sugeng menyalakan ujungnya. Dihisap dalam-dalam, dihembuskan asapnya sebelum kembali berjalan santai.

Safiya menjatuhkan puntung rokok yang hampir habis ke lantai saat memasuki area gedung yang penuh sesak oleh pengunjung. Begitu masuk, hampir semua mata tertuju pada Safiya. Guru cantik itu pun mulai merasakan sesuatu. Bukan perasaan malu karena tubuhnya jadi sasaran mata banyak orang, melainkan perasaan bangga. Ya, itulah yang ia rasakan sekarang. Memamerkan auratnya untuk tontonan. Dulu, saat memakai kaftan panjang pun ia segan keluar di tempat Sugengi. Tapi sekarang, Safiya ingin semua orang yang melihatnya memuja kecantikan dan keseksian tubuhnya.

Putingnya semakin menegang. Jelas terlihat bentuknya di balik tank top tipis karena Safiya sama sekali tak memakai pakaian dalam. Begitu juga dengan vaginanya yang tanpa celana dalam mulai basah. Safiya terangsang karena jadi pusat perhatian. Ia membayangkan pria-pria yang melihatnya pasti sedang membayangkan menikmati tubuhnya. Bibirnya mengukir senyum nakal, menggoda. Matanya melirik, seolah ingin pria-pria itu terus berimajinasi tentang tubuhnya. Pantatnya semakin digoyangkan dalam setiap langkah.

Sugeng tersenyum lebar. Senang dengan setiap pandangan pria pada tubuh Safiya. Tangannya terus memeluk erat pinggang guru cantik itu, sesekali turun ke pantat. Meraba dan meremasnya di hadapan banyak orang, seolah memberitahu mereka jika Safiya adalah miliknya.

Tidak sedikit pengunjung perempuan yang mencubit pasangan mereka yang terpesona dengan penampilan Safiya. Semua itu diperhatikan Sugeng, membuatnya semakin tersenyum lebar, semakin bangga. Ia terus menggiring Safiya menuju eskalator. Ingin ke tingkat atas, ke food court. Di sana pasti lebih banyak kerumununan orang yang akan semakin iri padanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PART 3

 

Di tempat lain, Hamzah mulai merasa khawatir. Sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi istrinya, tapi panggilannya tak kunjung dijawab. Sementara itu Adam, terus merengek di dekatnya, ingin berbicara dengan Safiya. Sejak Hamzah pulang ke Semarang dua hari lalu, dia memang sangat sibuk. Jadwal ceramahnya begitu padat sampai lupa menghubungi Safiya.

"Apa Safiya marah ya?" batin Hamzah. Ia terus mencoba menelepon, namun tetap tidak ada jawaban. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam.

 "Mungkin dia sudah tidur, kecapekan karena kesibukan mengajar." Hamzah kembali mencoba menenangkan dirinya, menjauhkan dari berfbagai macam prasangka buruk terhadap istrinya.

"Ayah... Aku mau telponan sama Ibu," rengek Adam sambil menarik-narik lengan Hamzah.

“Ibu belum jawab telepon, sayang. Mungkin Ibu sudah tidur. Besok pagi Ayah telepon lagi ya, biar Adam bisa bicara sama Ibu." bujuk Hamzah lembut sambil mengusap kepala anaknya. Ia merasa kasihan, Adam tampak sangat merindukan Safiya.

"Alaaaa...." Adam merajuk dengan bibir cemberut.

"Ayah janji, besok pagi setelah Adam bangun tidur Ayah langsung telepon Ibu lagi. Besok Adam bisa cerita-cerita sama Ibu ya," bujuk Hamzah lagi.

"Sekarang Adam tidur dulu, biar besok pagi bisa telponan sama Ibu. Okey?”

"Emm..." jawab Adam lesu, lalu pergi mencari neneknya di kamar dengan wajah kecewa. Hamzah kembali mencoba menelepon Safiya, namun tetap tidak ada jawaban.

 

***

 

Sugeng tersenyum melihat Safiya membiarkan ponselnya terus berdering hingga panggilan itu terputus dengan sendirinya. Nama “Mas Hamzah” tertera jelas di layar ponsel.

"Kenapa tidak kamu jawab telepon suamimu?" tanya Sugeng sambil mengamati ekspresi Safiya yang sedang menyesap minuman dingin.

"Males, paling nanyain hal-hal yang nggak penting. Lagian aku kan lagi sama Mas Sugeng sekarang.” jawab Safiya manja sambil melirik nakal pria tua itu.

Safiya memainkan sedotan di gelasnya dengan lidah, menggoda Sugeng yang sedang menikmati makanan. Safiya sendiri hanya memesan minuman. Sejak mulai merokok, nafsu makannya memang berkurang. Safiya terus memperhatikan Sugeng makan, sesekali menoleh ke sekeliling, melirik dan tersenyum pada pria-pria lain di sekitar food court. Ada sensasi tersendiri saat ia menggoda mereka. Safiya ingin merasakan sensasi itu terus-menerus. Ia sudah ketagihan.

Sugeng menyuapkan sisa mi goreng sambil tersenyum melihat tingkah Safiya menggoda dan berkedip untuk menarik perhatian pria-pria lain. Wanita itu memainkan lidahnya di sedotan sambil memberikan lirikan dan senyuman manja. Ujung wig blondenya juga dipilin-pilin, menciptakan kesan nakal layaknya seorang pelacur murahan.

"Buka sedikit pahamu," perintah Sugeng.

Safiya tersenyum mendengar perintah itu. Ia memutar sedikit kursinya, menghadap ke luar meja, lalu mengubah posisi pahanya dari menyilang menjadi mengangkang. Pahanya yang terbalut stocking begitu menggoda, dan bagian intimnya kini terpampang jelas di balik rok mini pendek, mengundang tatapan para pria di depannya. Safiya tersenyum nakal, memperhatikan beberapa pasang mata pria terbelalak tak percaya melihat pemandangan cabul yang disuguhkan. Tidak ada sedikit pun rasa malu pada istri seorang pendakwah itu.

Beberapa wanita terlihat berkomat-kamit, mungkin mencela aksi berani Safiya di tempat umum. Andaikan mereka tahu siapa Safiya sebenarnya, pasti mereka akan terkejut. Senyum Sugeng semakin lebar. Pengaruh ilmu pelet yang dilakukan Sugeng terbukti berdampak begitu besar terhadap perilaku dan kepribadian Safiya. Tak ada lagi sosok istri sekaligus guru yang selalu menjaga aurat, dan kini berganti jadi sosok wanita nakal yang ingin dilihat kemolekan tubuhnya.

Ketika Sugeng selesai makan, Safiya mengeluarkan cermin kecil dan lipstik dari tasnya. Ia membuka tutup lipstik dan kembali melapiskan lipstik merah terang ke bibirnya. Ia tahu bibirnya sudah merah, namun ia ingin memuaskan nafsu sang pejantan tua. Selapis, dua lapis, tiga lapis, sebelum ia memberikan ciuman jauh pada Sugeng sambil melirik nakal pada pria-pria yang asyik menonton aksinya.

"Ayo kita pergi." ujar Sugeng riang sambil berdiri dari kursinya.

Safiya segera menyimpan cermin dan lipstiknya, lalu ikut berdiri dan memeluk lengan Sugeng sambil berjalan menuju pintu keluar food court. Langkahnya diatur sedemikian rupa untuk menggoda, setiap langkah disertai lenggokan pantat yang bergoyang dari kiri ke kanan. Senyum nakal tak hilang dari bibir merah Safiya, penuh dengan godaan dan kebanggaan karena menjadi pusat perhatian.

Sugeng ikut tersenyum bangga sambil merangkul pinggang Safiya erat-erat di sebelah kanannya. Ia bisa melihat ekspresi cemburu dan heran di wajah para pria yang melihat Safiya bersamanya, pria tua seperti dirinya. Dengan sengaja, Sugeng meremas pantat Safiya saat melewati meja mereka, seolah ingin menegaskan bahwa Safiya adalah miliknya. Setiap kali pantat Safiya diremas, wanita itu membalasnya dengan erangan sensual tanpa malu.

Safiya merasa sangat senang dan bersemangat diperlakukan seperti itu oleh Sugeng. Ia merasa seperti dipamerkan dan dipertontonkan seperti wanita murahan di depan banyak orang dan itu membuatnya sangat terangsang. Safiya bisa merasakan vaginanya mulai basah setiap kali berjalan mengikuti Sugeng. Sebelum keluar dari food court, ia sempat menoleh ke belakang, memberikan senyum penuh arti, dan melambai kepada para pria yang memperhatikannya.

 

***

 

Suara dentuman house music terdengar menggema, bercampur dengan suara riuh rendah dari pria dan wanita yang sedang menggoyangkan tubuh, bergembira bersama-sama di ruangan klub. Cahaya redup hanya diterangi kilauan berwarna-warni dari bola lampu di atas ruangan, menerangi aksi para pengunjung yang sedang berjoget malam itu. Sesekali terdengar suara teriakan bercampur gelegak tawa, riuh rendah penuh warna.

Di salah satu sudut ruangan, terlihat Sugeng dan Safiya sedang berpelukan di atas sofa, asap rokok mengepul keluar dari bibir Safiya. Wanita cantik itu memperhatikan suasana hiruk-pikuk di dalam klub, yang sebelumnya hanya pernah dilihatnya melalui layar kaca. Inilah kali pertama dalam hidupnya dia menginjakkan kaki di tempat seperti ini.

Safiya masih terkesima dengan pemandangan di sekitar. Bagaimana laki-laki dan perempuan saling berdesakan, saling sentuh tanpa rasa canggung sedikitpun. Mereka seolah sedang merayakan banyak kebahagiaan tanpa mempedulikan hari esok lagi. Sesuatu yang tak sekalipun pernah dibayangkan oleh Safiya jika hari ini dia akan berada dalam circle yang sama. Sedang asyik menikmati suasana, seorang pelayan datang ke meja Safiya dan Sugeng sambil membawa dua gelas minuman berwarna kuning keemasan. Meskipun ini kali pertama Safiya datang ke tempat ini, tapi dia tahu persis apa isi gelas itu. Alkohol.

"Ayolah, minum. Jangan banyak mikir," kata Sugeng sambil tangannya mengusap lembut paha Safiya.

Safiya menatap mata pria tua itu sebentar, lalu membuang puntung rokoknya ke asbak. Safiya mengambil gelas di atas meja, membawanya ke bibirnya, dan meneguk isinya sekaligus sampai habis. Rasa pahit yang tajam menyengat lidahnya, terasa panas saat mebasahi tenggorokannya. Tapi Safiya tetap menghabiskan gelas itu sampai tetes terakhir.

“Haaaahhhhhh! Aneh banget rasanya Mas!” Protes Safiya sambil mengibas-ibaskan lidahnya sendiri. Sugeng malah tertawa melihat ekspresi wajah guru cantik itu.

“Hahahahaha! Ini baru lonteku, udah bisa minum alkohol!” Pekik sugeng seolah apa yang dilakukan oleh Safiya barusan merupakan sebuah prestasi besar.

Pelan namun pasti Kepala Safiya terasa melayang. Matanya berkunang-kunang. Namun ada yang lain, sesuatu yang lebih indah. Emosinya melonjak entah ke mana. Bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyuman lebar, dan kegembiraan mulai memenuhi tubuhnya.

"Habisin dong, ini masih ada satu gelas lagi." kata Sugeng sambil mendorong gelas kedua.

Safiya tersenyum lebar dan mencium bibir Sugeng dengan cepat sebelum mengambil gelas itu. Dia meneguknya hingga habis sama sekali.

"Hehehee, badanku kenapa jadi enteng banget ya Mas sekarang?” Safiya tertawa sambil meletakkan gelas kosong di meja. Tubuhnya mulai bergoyang mengikuti irama musik yang menggelegar memekakkan telinga.

"Enak kan? Gimana kalo sekarang kamu ikut joget di tengah kayak mereka?" kata Sugeng sembari menunjuk kerumunan orang di lantai dansa.

Safiya langsung berdiri, dan tanpa pikir panjang berjalan menuju lantai dansa. Langkahnya agak terhuyung-huyung karena efek alkohol. Seumur hidup Safiya tidak pernah berjoget apalagi sampai melakukannya di sebuah night club, tapi malam ini tubuhnya mulai bergerak dengan sendirinya, mengikuti irama musik. Gerakannya berubah menjadi sensual, menggairahkan, memancing pandangan lawan jenis.

Setiap gerakan tubuh Safiya seolah memohon perhatian, memancing tangan-tangan nakal untuk segera menyentuhnya. Benar saja karena tak lama kemudian, Safiya sudah dikelilingi oleh empat pria sekaligus. Dari depan dan belakang, mereka ikut berjoget sambil tangan mereka mulai menyentuh, meraba tubuh guru cantik itu. Payudaranya diremas, pantatnya pun mendapat perlakuan yang sama. Safiya sama sekali tak menolak, yang ada hanya tawa riang dan gerakan tubuh yang seolah meminta mereka terus melanjutkan perbuatan cabul itu.

Melihat Safiya sedang dijamah oleh banyak pria hidung belang, penis Sugeng perlahan mulai menegang di dalam celana. Wanita yang dulu alim dan sopan itu kini dikelilingi banyak pria, bertingkah laku seperti seorang pelacur. Sugeng semakin terangsang melihat Safiya setengah mabuk, melayani nafsu bejat para pria itu. Inilah yang dia inginkan dari dulu, menyaksikan Safiya terjerembab dalam lubang kemaksiatan.

Tangan Sugeng mulai menggosok tonjolan di balik celananya, semakin keras. Sugeng lalu bangkit dan berjalan menuju Safiya yang masih asyik berjoget. Dia mendekat, tanpa pikir panjang langsung memeluk dan mencium bibir Safiya di depan banyak orang, membuat para pria yang sebelumnya mengerubungi Safiya terkejut. Keheranan dan kecemburuan terpancar jelas ketika Safiya tak menolak ciuman Sugeng, bahkan membalasnya dengan semangat.

"Ummm... Muaahhhh... Muaahhhh..." Safiya membalas ciuman Sugeng dengan rakus, sambil melingkarkan tangannya di leher pria tua itu.

Sugeng terus mencium bibir Safiya sambil meraba dan meremas pantat sang betina binal di tengah lantai dansa, menarik perhatian seluruh pengunjung. Mereka bersiul, bersorak, dan bertepuk tangan melihat aksi cabul yang dipertontonkan oleh dua pasangan haram ini. Bibir mereka akhirnya terpisah, Sugeng tersenyum bangga menyadari mereka menjadi pusat perhatian. Pria tua itu kemudian merangkul pinggang Safiya, membimbingnya keluar dari kerumunan.

"Ayo kita pergi, kita lanjutkan di tempat lain." kata Sugeng sambil berjalan menuju bagian belakang ruangan.

"Hehehehe, kita mau kemana Mas? Aku udah sange banget loh padahal." Hanya tawa riang yang keluar dari mulut Safiya.

“Sange kenapa?” Tanya Sugeng.

“Sange karena tubuhku dipegang-pegang banyak cowok dong…Memekku udah banjir deh ini kayaknya.” Balas Safiya vulgar.

“Hahahaha! Kamu suka ya dikerjain banyak cowok kayak tadi?” Pancing Sugeng makin bersemangat.

“Suka aja sih, apalagi kalo tadi sampai diperkosa rame-rame! Hahahahaha!’

“Dasar lonte!”

“Iya dong, aku kan lontenya Mas Sugeng..”

Sugeng terus menuntun Safiya menuju toilet. Pinggang Safiya dipeluknya erat, memastikan wanita itu tidak jatuh karena langkahnya yang sempoyongan. Tubuh Safiya pun sesekali masih bergoyang mengikuti irama musik. Saat hendak masuk ke dalam toilet pria, mereka sempat berpapasan dengan dua orang pria asing. Kedua pria itu terkejut melihat Sugeng berhasil membawa masuk wanita bertubuh seksi yang tampak setengah mabuk. Mereka bertukar pandang, lalu tersenyum dan mengacungkan jempol pada Sugeng.

"Mantap, Om! Barang bagus tuh!" puji salah satu pria sebelum mereka meninggalkan toilet. Sugeng hanya tersenyum menanggapinya.

Sugeng membawa Safiya ke bilik toilet paling ujung, mendorongnya masuk hingga Safiya terduduk di atas kloset. Pria tua itu kemudian berdiri tepat di hadapan Safiya, memamerkan tonjolan keras di selangkangan yaang masih terbungkus kain celana.

"Wah! Apa tuh nonjol…?”  Tanpa pikir panjang, Safiya langsung menarik resleting celana Sugeng, membebaskan penis pria tua itu. Efek alkohol nyatanya membuat birahinya makin cepat meninggi.

"Wow! Kontol Mas Sugeng udah ngaceng banget rupanya.”

 Tangan lembut Safiya membelai lat kawin Sugeng dengan lembut, jemarinya merayap di sekujur batang penis, bergerak dari atas hingga pangkal lalu berubah jadi remasan. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika Safiya sudah sangat bernafsu dan ingin segera melahap penis besar itu.

“Kocokin dong…” Ujar Sugeng santai.

Safiya pun mulai mengocok penis itu. Senyum Sugeng semakin lebar. Gerakan tangan yang awalnya perlahan, berangsur jadi lebih cepat dari sebelumnya. Di bagian lubang kencing terlihat setitik cairan kental menggumpal, precum beraroma pesing. Safiya menggosok cairan itu, meratakannya dengan ibu jarinya, lalu perlahan dia membuka mulutnya lebar-lebar, menjulurkan lidah dan menjilati cairan itu.

“Ouucchhh! Pinter..Enak banget lidahmu lonte…” Desis Sugeng sambil membelai kepala Safiya yang terbungkus wig pirang.

Lidah Safiya bergerak di bagian ujung penis, menari-nari di sepanjang lubang kencing Sugeng sambil sesekali menghisapnya kuat-kuat. Tubuh Sugeng tentu saja menegang, sensasi hisapan mulut Safiya yang makin mahir bak pemacu birahi sempurna. Lidah Safiya tak hanya puas menikmati bagian ujung penis saja, karena beberapa saat kemudian dia bergerak ke bawah menyasar area batang yang dihiasi otot-otot keras, hingga kemudian berhenti sedikit lama di bagian kantong testis Sugeng.

“Eeeemmcchh! Ini kontol kesukaanku! Hhehehehe…Gede..Keras…Dan panjang…” Entah karena birahi atau sebab pengaruh alkohol, ceracauan Safiya makin terdengar vulgar. Sesuatu yang sangat disukai oleh Sugeng tentunya.

“Ouucchhh! Dasar lonte murahan!” Penghinaan Sugeng sama sekali tak membuat Safiya tersinggung, justru makin membuat nafsu guru cantik itu bergelora.

Safiya mulai memasukkan penis Sugeng ke dalam mulutnya, berhenti sejenak saat dia menelan kepala penis, memainkan lidahnya di lubang kencing, sebelum menelan bagian batang juga. Mulutnya bergerak naik turun di sekujur penis pria tua itu. Sugeng menikmati perbuatan mulut cabul Safiya sambil sesekali mendesah keenanakan. Bilik toilet night club terasa seperti surga dunia bagi Sugeng. Semua yang dia impikan sejak pertama kali bertemu Safiya kini telah terwujud. Safiya sudah menjadi wanitanya. Lebih dari itu, Safiya telah menjadi budak seks bagi Sugeng.

KRIINGGG!

KRIIINGGG!

Suara ponsel Safiya berdering dari dalam tasnya. Wanita itu berhenti sejenak, mendongak menatap Sugeng. Pria tua itu hanya tersenyum lalu mengangguk seolah tau apa yang hendak dikatakan oleh sang betina binal. Safiya melepaskan penis Sugeng dari mulutnya, menoleh ke belakang, mengambil ponsel dari tasnya dan melihat nama penelepon di layar. Nama suaminya tertera di sana. Safiya menunjukkannya pada Sugeng.

"Jawab aja nggak apa-apa. Tapi pakai loudspeaker. Aku mau dengar juga... Hehehe..." perintah Sugeng.

"Halo Mas…?" jawab Safiya setelah menekan tombol terima panggilan dan mengaktifkan loudspeaker. Tangan kirinya kembali mengocok penis Sugeng.

"Assalamualaikum…" terdengar suara Hamzah dari speaker ponsel.

“Eh..I-Iya, Walaikumsalam Mas Eeemmcchhh…” Sambil menjawab telepon Hamzah, Safiya masih sempat mengulum penis Sugeng.

“Kamu lagi dimana? Kenapa daritadi nggak jawab teleponku?” Tanya Hamzah dari balik sambungan telepon.

“Eeemmcchhh…Eeemmchhh..Maaf Mas, aku daritadi sibuk ngerjain laporan. I-Ini aja baru sampek rumah..Eeemmchhh..” Sugeng sengaja mendorong pinggulnya ke depan, membuat penisnya masuk makin dalam di mulut Safiya.

“Kamu lagi apa? Kok suaramu aneh gitu?” Hamzah mulai menyadari ada yang berbeda dari suara istrinya.

“A-Anu Mas, lagi sambil makan. Laper banget perutku…Eeemmchhh..” Lidah Safiya kembali menjilati ujung penis Sugeng.

“Oalahh…Ini Adam mau ngomong sama kamu. Daritadi nggak mau tidur, rewel. Kangen kamu katanya.” kata Hamzah, memberikan ponselnya kepada Adam, yang sudah tidak sabar menunggu di sampingnya.

Safiya masih bisa melakukan dua kegiatan sekaligus, bergantian antara mengulum penis Sugeng dan berbicara dengan suaminya. Sugeng semakin jumawa, bibirnya melengkung senyum lebar dan nafsunya semakin membara menyaksikan seorang istri alim sedang berbohong kepada suaminya sambil melayani penisnya. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi.

"Assalamualaikum Ibu!!!" terdengar suara anak kecil yang bersemangat.

"Eemmccchhhh…Waalaikumsalam sayang…Maaf ya Ibu belum bisa pulang.”

"Adam kangen sama Ibu. Kenapa Ibu nggak ikut pulang sama Ayah?"

"Eeemmchhh..Grrookhhgggttt!! I-Iya, nanti Ibu pasti pulang kok sayang. Adam sabar dulu ya…Grrookkgghhtttt!”

Untuk kedua kalinya Sugeng menekan pinggulnya ke depan, kali ini leboh dalam dan kasar saat Safiya masih menyahuti celotehan Adam. Guru cantik itu terlihat kewalahan, mulutnya penuh sesak oleh batang penis jumbo, bahkan ujungnya nyaris menyentuh pangkal tenggorokan.

"Ibu lagi ngapain? Ibu sakit???" Tanya Adam dengan polos. Safiya mendelik ke arah Sugeng, pria tua itu hanya tertawa lebar seolah begitu puas mengerjainya.

"Nggak sayang..Eeemmchh..Ibu lagi makan sosis ini.” kata Safiya, mendongak menatap pemilik penis yang sedang dikulumnya, tersenyum nakal meskipun baru saja nyaris suaranya menimbulkan kecurigaan pada Adam.

"Waahhh! Adam juga mau dong! Nanti kalo Ibu pulang, masakin sosis ya??”  pekik Adam penuh semangat. Kalau saja dia tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan ibunya sekarang, dia pasti akan sangat kecewa.

"Eeemmchhhh..I-Iya sayang. Nanti ibu masakin ya. Sekarang Adam tidur ya? Udah malam. Ibu mau makan dulu.” Safiya langsung memutus panggilan telepon tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Dia lebih memilih melayani penis Sugeng daripada berbicara dengan anak lelaki satu-satunya.

"Alaaaa... Teleponnya mati yah…." rengek Adam pada Hamzah.

"Ibu bilang apa tadi?" tanya Hamzah sambil mengambil kembali ponsel dari tangan anaknya.

"Ibu bilang lagi makan sosis...." jawab Adam dengan wajah polos. Raut kekecewaan tergambar jelas di paras bocah kecil itu.

"Ya sudah, besok kita telepon Ibu lagi ya? Sekarang Adam tidur dulu sama Mbah Uti…" bujuk Hamzah sambil mengusap kepala anaknya.

Sosis? Seingat Hamzah, istrinya tidak begitu menyukai makanan itu. Apalagi makan selarut ini? Sudah lebih dari pukul sepuluh malam. Kecurigaan muncul di hatinya, tapi segera ditepis jauh-jauh. Hamzah tidak seharusnya berpikir buruk tentang istrinya yang selama ini begitu setia dan menjaga sikap. Hamzah beristighfar, mencoba meredam kecamuk perasaannya sendiri.


Posting Komentar

0 Komentar