MENGHAMILI MAMA
PART 1
Sejak kapan aku mulai melihat sosok Mama
jadi berbeda?
Mungkin sejak dua bulan lalu, saat
aku secara tak sengaja melihat Mama keluar dari kamar mandi hanya dengan
mengenakan handuk saja. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan waktu itu, tapi
kemolekan tubuh Mama yang begitu menggoda dan menggairahkan sudah terpaku di
kepala hingga detik ini.
Usia enam belas tahun ternyata
membawa kejutan-kejutan aneh. Tubuhku bereaksi pada hal-hal yang sebelumnya tak
kuhiraukan. Apakah ini yang disebut Bu Monik, guru Biologi ku, sebagai
perubahan hormon seorang remaja? Berdekatan dengan Mama selalu membuat
jantungku berdebar tak tenang, sesuatu yang tak pernah kurasakan saat bersama cewek-cewek
seusiaku. Tinggal berdua saja dengan Mama sejak Papa pergi meninggalkan kami membuat
banyak hal berubah dalam hidupku. Banyak waktu yang kami habiskan bersama,
kedekatan yang membuatku merasa spesial.
MAMA
Aku tak bisa menipu diriku sendiri, Mama
memang cantik. Terlalu cantik untuk seorang ibu yang sudah memiliki anak
seusiaku. Bentuk tubuhnya yang masih kencang dan terawat, senyumnya yang selalu
hangat, bahkan cara dia berjalan dengan gemulai, semuanya seperti magnet yang
sulit kuabaikan. Tapi di balik itu semua, dia tetaplah seorang Ibu, sosok yang
tak pernah berhenti mengomeliku, mengaturku, seolah tak memberiku ruang untuk
bernapas.
"Dimas!! Mama sudah capek
ditelepon sekolahmu terus-terusan! Kamu pikir Mama nggak punya kerjaan lain
selain ngurusin kenakalanmu? Skorsing lagi, kapan kamu mau berubah?!"
Suara Mama melengking kesal, tapi
entah kenapa, justru hal itu membuat bibirku senyum-senyum sendiri, alih-alih
takut tapi kemarahan Mama makin membuatku terangsang. Bibirnya tipis, sorot
matanya tajam, semuanya terbalut dalam bentuk kecantikan sempurna yang tak
dimiliki oleh wanita manapun di dunia ini.
"Maaf Mah, tapi Pak Joko aja
yang lebay.”
"Lebay katamu? Kamu mengunci
pintu ruang guru, lalu melempar petasan ke dalam? Kamu sudah keterlaluan Dimas!
Mama malu tiap hari dapat komplain kenakalanmu.”
"Dimas cuma iseng Mah, lagian
Pak Joko tu suka bikin temen-temenku kesel, makanya kukerjain sedikit.”
"Kamu ini kalo dikasih tau
selalu aja ngebantah?!"
Suara Mama makin meninggi, tapi aku
hanya tersenyum, menikmati betapa matanya berbinar saat marah. Aku tahu cara
mengakalinya, diam sembari menunduk, mengangguk-anggukkan kepala, menunggu
sampai emosi Mama mereda. Aku pikir semua wanita akan seperti ini jika sedang
emosi, mereka hanya perlu diberi ruang untuk mengungkapkan kekesalan.
"Iya Mah, maafin Dimas. Aku
janji nggak akan ngulangin lagi..."
"Issh! Mama udah bosen denger
janjimu terus! Pokoknya mulai hari ini kamu nggak boleh keluar rumah,
paham?!"
"Yah Mama…Sampai kapan?" Rajukku
sambil memasang wajah memelas.
“Sampai masa skorsingmu berakhir!”
“Kenapa hukuman Dimas ditambahin lagi
sih Mah? Dimas kan udah minta maaf…”
"Kalau nggak suka aturan Mamah,
ya sudah! Kamu bisa ikut Papamu saja!"
"Nggak mau! Dimas mau sama Mama
aja."
Ancaman itu selalu membuatku takluk
menyerah. Aku tak pernah membayangkan bagaimana nanti hidupku kalau berpisah
dengan Mama. Sejak kedua orangtuaku bercerai aku sudah memantapkan hati untuk
tinggal bersama Mama. Papa? Ah, pria brengsek itu hanyalah bagian buruk dalam
hidupku. Papa lebih memilih wanita lain ketimbang aku dan Mama!
"Iya deh, Dimas nurut sama Mama.
Dimas di rumah aja, nggak pergi main lagi."
"Okey, Mamah pulang sekarang.
Mau bareng atau...oh iya kamu bawa motor kan?"
"Mamah duluan aja, habis ini
Dimas susul pulang.”
“Langsung pulang, nggak usah
keluyuran! Inget, sekarang kamu bukan liburan tapi sedang dihukum!”
"Iya Mah…Dimas langsung pulang
kok.” Sebelum Mama pergi, kucium
punggung tangannya. Sengaja kujilat sedikit untuk memuaskan hasratku. Di bawah,
kontolku sudah menegang keras sedari tadi.
Mama kemudian melenggang pergi menuju
tempat parkir. Aku menyeringai nakal, mataku terus mengamati tubuh Mama dari
belakang yang terbalut dress panjang. Meskipun pakaiannya tertutup tapi tetap
saja tak bisa menyembuyikan kesemokan tubuhnya. Pantatnya yang besar bergoyang
indah seiring langkah kakinya menapaki jalan.
"Pantes aja Lu sange sama nyokap
sendiri! Body nya udah kayak bintang bokep Jepang!" Fantasi konakku
seketika buyar saat Rayo, sahabat dekatku, sudah berdiri di sampingku. Ikut
menatap tubuh Mama yang semakin menjauh.
“Anjing Lu! Ngapain di sini?”
Sergahku.
“Yee… Suka-suka Gue lah! By the
way, kata anak-anak Lu kena skorsing lagi?” Aku hanya mengangkat bahu
sembari berbalik badan saat mobil Mama terlihat meninggalkan pelataran parkir.
“Gue akuin, nyali Lu emang gede
banget Bro! Si Joko yang kayak gladiator aja masih berani Lu usilin!” Rayo
menemaniku melangkah menuju ruang kelas.
“Gue udah muak sama kelakuannya yang
otoriter main hukum seenak jidat.” Kataku.
“Terus, Lu kena skorsing berapa
hari?” Tanya Rayo. Wajahnya yang bulat nampak penasaran.
“Seminggu.”
“Ya udah nggak apa-apa bro. Anggap
aja liburan, lagian kalo di rumah kan Lu bisa nglanjutin misi yang kemarin Lu
ceritain.” Aku menyeringai lebar, mengingat rencana nakalku pada tubuh Mama.
Rayo jadi satu-satunya orang yang mengetahui rencana gilaku itu.
“Hehehehe, doain Gue biar segera bisa
ngentotin Mama ya bro!” Kataku seraya menepuk pundah sahabatku itu.
“Hahahahaha! Dasar gila Lu!”
***
Malam harinya, saat aku ke dapur
untuk mengambil air minum, tiba-tiba pintu kamar Mama terbuka dari dalam, dia
keluar dengan santai menuju ruang TV. Mama mengenakan baju tidur seksi yang
memperlihatkan belahan montokdadanya, celana pendek yang dipakai Mama nyaris
tak bisa menutupi lekuk pantat semok bin bahenol. Aku tak bisa menahan diri, kontolku
langsung tegang saat itu juga.
Mama kemudian duduk santai di atas
sofa, TV dinyalakan namun pandangan mata Mama justru terarah pada layar ponsel
yang menyala terang. Setelah menenggak air di dalam gelas, aku langsung
menyusulnya. Inilah kesempatanku untuk semakin dekat.
"Mah, lagi ngapain?"
Kusandarkan kepalaku di bahunya. Aroma wangi tubuh Mama kuhirup dalam-dalam.
"Lagi ngecek paketan udah
nyampek mana.” Mata mama masih fokus ke layar ponsel.
“Paket apa sih, Mah?" tanyaku
sambil tanganku mulai memeluk pinggangnya.
Aku menunduk, rambutku menggesek
lehernya. Hidungku sengaja makin mendekat, menghirup dalam-dalam wangi tubuhnya.
Mama menggeliat, mencoba menjauhkan wajahku dari lehernya.
"Mama beli bibit pohon, biar
halaman belakang rumah kita lebih adem.”
"Nanti Dimas bantuin nanem ya
Mah. Kan lagi nggak sekolah." Mama melirikku, senyum mengembang di
bibirnya.
"Udah malem. Ke kamar sana. Mamah
juga mau tidur."
"Tidur bareng lagi ya,
Mah..." Tangan Mama mendarat di pinggangku, matanya menyipit.
"Kamu udah mau 17 tahun. Harusnya udah
nggak boleh tidur bareng Mama lagi. Makin gede kok manjanya nggak hilang sih?”
"Salahnya di mana, sih, Mah? Dimas
kan anak kandung Mamah. Masa aku nggak boleh manja sama ibunya sendiri?"
Mama menghela napas sembari menatap wajahku.
"Bukan gitu Dimas. Kamu ni ya kalo
dikasih tau pasti suka ngebantah. Ya udah ayo tidur, kamu matiin TV nya dulu.”
Mama sepertinya menyerah untuk berdebat denganku.
“Siaapp Mama!” Sahutku antusias.
Mama bangkit dari sofa dan melangkah
menuju ke kamarnya. Setelah mematikan TV aku langsung mengekor di belakangnya.
Inilah kesempatan emas yang kutunggu-tunggu daritadi, bisa melihat kemolekan
tubuh Mama saat dia tertidur pulas pasti jadi pemandangan paling indah.
Sesampainya di dalam kamar Aku
langsung merebahkan diri di kasur, sementara Mama duduk di meja rias, memakai
cream malam dan handbody. Aku berbaring menyamping, tangan menopang kepala.
Mataku tak lepas mengamati tiap gerakan Mama, membayangkan tubuhnya bisa
kunikmati sepanjang malam.
Tentu saja itu hanyalah khayalan. Aku
belum berani benar-benar melangkah lebih jauh. Hanya menatap dan
membayangkannya saja sudah bisa membuat kontolku tegang maksimal, apalagi kalau
sampai kami bisa ngewe? Saat aku masih larut dalam lamunan jorok, tiba-tiba
Mama berdiri dan perlahan mendekati ranjang. Aku langsung pura-pura mengalihkan
pandangan mataku ke layar ponsel.
“Tidur Dim…Jangan maenan HP mulu.”
Tegur Mama sembari merebahkan tubuhnya tepat di sampingku.
“Iya Ma, masih bales chatt nya Rayo.”
Kataku berbohong.
Mama memiringkan tubuhnya,
memunggungiku. Saat hendak memeluknya dari belakang mendadak notifikasi ponselku
berdering, sebuah pesan masuk dari Rayo. Panjang umur juga ini bocah.
Lagi
ngapain Bro?
Lagi mau ngewein nyokap dong!
Aku balas pesan itu sambil mengirim
foto bagian belakang tubuh Mama pada Rayo. Aku tersenyum, membayangkan reaksi
Rayo setelah melihat foto Mama yang bahenol, bocah tolol itu pasti auto sange.
Jancuk!
Coba pegang pinggulnya Bro!
Hahahaha! Lu sange kan?
Iyalah
bro! Body nyokap Lu bagus banget, apalagi pantatnya! Gede!
Terpacu karena
pujian dari Rayo, kuarahkan tanganku memegang pinggul Mama dan langsung
memotretnya dengan kamera ponsel. Segera kukirimkan foto itu pada Rayo.
Anjing!
Kok nyokap Lu gak protes sih? Gw ngaceng banget bangsat!
Udah Lu coli aja sono, Gw mau ngewein
pelacur Gw dulu
"Dim, udah maenan HP nya.
Tidur.” Suara Mama membuatku kaget dan
buru-buru meletakkan ponselku di atas kasur.
“Iya Mah..”
“Matiin lampunya.” Perintah Mama, Aku
bangkit dari ranjang dan mematikan lampu kamar kemudian menyalakan lampu tidur
di atas meja.
Suasana jadi remang-remang romantis.
Aku yang berbaring di sisi kiri ranjang perlahan bergerak mendekati punggung Mama
yang membelakangiku. Kubuat diriku tetap terjaga, menunggu dengan sabar.
Kira-kira sepuluh menit berlalu sebelum akhirnya terdengar suara dengkuran
lembut, pertanda Mama sudah terlelap. Dadaku berdegup kencang menunggu momen
spesial.
Dengan gerakan hati-hati, kusentuh
selimut yang menutupi tubuh Mama. Perlahan kusibak kain tebal itu, membuka
sedikit demi sedikit. Aku menelan ludah saat lekuk tubuh Mama makin jelas
terlihat dari belakang. Kontolku sudah berontak tak karuan, celanaku terasa
makin sesak.
Perlahan kurapatkan tubuhku pada
punggung Mama. Tanganku mendarat ke pinggulnya. Mama sama sekali tak bereaksi,
dia tertidur begitu lelap. Meskipun dadaku berdegup kencang tapi gerakan
tanganku makin berani. Kini tanganku bergerak mengelus pinggulnya, menyentuhnya
dengan sangat hati-hati.
Baju tidur berbahan satin itu mengalir seperti
air di antara jemariku, halus, dingin, tapi di bawahnya tersembunyi kehangatan
yang membuat napasku tersengal. Tanganku menelusuri lekuk pinggul Mama yang
melengkung sempurna. Perlahan kugeser kain itu ke atas, memperlihatkan seinci
demi seinci kulit perut Mama yang kenyal.
Oh Tuhan!
Aku menahan napas saat jemariku
menjelajah lebih jauh, menyusuri tulang pinggulnya, lalu menuju perutnya yang sedikit
berlemak namun tetap menggairahkan. Setiap sentuhan seolah membakar birahiku. Inilah
kali pertama aku bisa menyentuh tubuh Mama secara langsung, sedekat ini,
senyata ini! Bukan lagi khayalan seperti saat aku melakukan onani. Mama masih tertidur
atau pura-pura tidur? Aku sudah tak peduli lagi.
Kusingkap baju tidurnya lebih tinggi
lagi, dan napasku tercekat saat melihat gundukan payudaranya masih terbungkus
BH yang nampak kekecilan. Tanganku berhenti sejenak, aku ragu, haruskah
kusentuh payudaranya? Tidak! Terlalu beresiko! Aku tak ingin membangunkan Mama
hanya karena tanganku tak lebih pintar dari isi kepalaku saat ini.
Maka kuputuskan untuk tetap menyentuh
kulit perutnya saja. Telapak tanganku sekarang sepenuhnya menempel pada
perutnya yang hangat, jari-jariku dengan rakus mengeksplorasi setiap jengkal
kulitnya. Aku ingin merasakan semuanya. Ingin menelusuri setiap lekuk, ingin
mendengar napasnya tersengal. Tiba-tiba, tubuhnya bergerak.
Mama bergerak dan pantatnya yang
montok mendorong ke belakang, menekan selangkanganku yang sudah membatu sejak
tadi. Oh sial. Rasanya seperti tersetrum. Panik menyambar dadaku apakah dia
terbangun? Apakah ini sengaja? Tapi matanya masih terpejam, napasnya masih
teratur.
Paha belakangnya yang kenyal menekan
batangku yang masih terbungkus kain celana, Mama seolah membiarkanku merasakan
setiap lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Aku menggigit bibirku sendiri, mencoba
menahan desakan untuk menekan pinggulnya dari belakang. Mama bergerak lagi,
kali ini pantatnya naik turun beberapa kali, menekan kontolku tepat di
lipatannya.
Oh Tuhan! Aku sudah tak tahan lagi!
Kepalaku bergerak mendekati tengkuk
Mama. Kuhisap aroma tubuhnya yang harum meskipun sedikit berkeringat. Pantatnya
sudah berhenti bergerak, tapi masih menekan kontolku. Kini, jariku turun ke
bawah, otakku sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Kuselipkan jari-jariku ke
dalam celana pendeknya, sangat pelan dan berharap ini tak membangunkan Mama
dari tidurnya.
Aku Jariku berhenti saat merasakan
bulu-bulu jembut halus di ujung jemari. Rupanya Mama tak mengenakan celana
dalam. Dadaku berdegup kencang, darah berdesir. Aku membeku, takut, tapi juga
terlalu terangsang luar biasa. Mama kembali menggeliat dalam tidurnya, pinggulnya sedikit
mendorong ke depan seolah memberi jalan untuk jariku. Jempolku tanpa sadar
menyentuh sesuatu yang lebih lembap, lebih hangat.
"Eeemmcchh..." Mama
melenguh pelan saat ujung jariku sudah hinggap di permukaan vagina.
Aku menahan napas, membiarkan ujung
jari tengahku tenggelam perlahan dalam kelembapan vagina yang hangat. Bisa
kurasakan liang tempat lahirku dulu itu berdenyut-denyut kecil mengikuti
gerakan tanganku yang memutar pelan. Seiring gerakan jariku yang menggesek
pelan, lambat laun kurasakan lembab di sana sudah berubah jadi becek dan
cenderung basah.
“Eeemmchhh….” Mama kembali mengerang,
pinggulnya bergerak ke depan sekali lagi, membuat tekanan pantatnya pada
selangkanganku mengendur.
Kurentangkan tubuhku tak lagi memeluk
tubuh Mama dari belakang, tapi tangan kananku masih berada di dalam celananya.
Tangan kiriku bergerak menurunkan celanaku sendiri, kontolku langsung mencuat
begitu selangkanganku terbuka. Kuangkat bagian bawah kaosku hingga sebatas dada
agar nanti tak kena semprotan spermaku sendiri.
Tanpa pikir panjang langsung kukocok.
Setiap tarikan ke bawah membuat otot perutku mengencang, setiap dorongan ke
atas mengirimkan sengatan listrik ke tulang belakang. Aku mengatur ritme kocokan
sebaik mungkin, menyesuaikan gerakan tangan kananku di permukaan vagina Mama.
Keringat dingin mengalir di pelipis
saat kulihat bagaimana tubuh Mama mulai merespon di luar kesadarannya.
Pinggulnya bergoyang pelan, mengikuti tekanan jariku yang sekarang mulai berani
menyelip lebih dalam. Suara desahan kecil keluar dari mulutnya saat ujung
jariku menyentuh sesuatu yang lebih kenyal. Kontolku pun berdenyut liar di
genggamanku.
Aku mempercepat gerakan tangan
kananku, sekarang menggunakan dua jari untuk menekan dan memutar di sekitar
klitoris Mama yang sudah mengeras. Cairannya semakin banyak, merembes menetes
ke ujung jariku. Dengan erangan teredam, aku merasakan panas menggelegak di
pangkal paha. Otot-ototku mengencang seperti kawat baja yang siap putus.
"Ahh... Anjing..."
Kepalaku mendongak ke atas saat semprotan
pertama spermaku menyembur deras, mengenai perut. Semprotan kedua lebih kuat, bahkan
sampai mengenai dada dan sebagian kaosku. Tanganku terus bergerak, memeras
setiap tetes terakhir sambil terus mengelus-elus vagina Mama.
Setelah puas, pelan-pelan kutarik
tangan kananku dari dalam celana Mama. Kujilati cairan vaginanya yang menempel
di ujung jariku. Rasanya aneh. Namun sensasinya luar biasanya, pasti akan
sangat nikmat jika lidahku yang ada di vagina Mama tadi.
PART 2
Matahari pagi menyelinap lewat
jendela dapur, menerangi rambut Mama yang dikuncir ala kadarnya. Aroma bawang
putih dan kecap menari-nari di udara, tapi yang paling menggoda justru bau
tubuh Mama, campuran sabun mandi dan keringat pagi yang samar. Aku melangkah
mendekat diam-diam.
"Pagi, Mah!" sapaku sambil langsung
memeluk tubuhnya dari belakang.
"Duh, Dimas! Udah sana duduk
aja! Mamah lagi masak nih!"
"Sini Dimas bantuin Mah!”
ucapku, tangan kananku sudah merebut spatula dari genggaman Mama.
Lenganku sengaja menyelinap di bawah
ketiaknya, aku bisa merasakan payudaranya yang lembut menekan lengan bawahku. Aku
mulai mengaduk nasi goreng perlahan, sambil bagian depan tubuhku menempel di
pantatnya.
"Dimas... jangan deket-deket
gini, nanti kepanasan," Mama kembali mengumbar protes, tapi tubuhnya sama
sekali tidak menjauh. Aku hanya tersenyum.
"Tapi kan aku mau bantu Mama
masak." Jawabku.
Mama diam, tapi aku bisa merasakan
jantungnya berdebar kencang. Aku masih berdiri di belakangnya, menikmati setiap
detil tubuhnya yang bergerak-gerak lembut saat kami mengaduk nasi goreng. Dari
posisiku, mataku tak bisa lepas dari belahan dadanya yang sedikit terbuka,
memperlihatkan sedikit gundukan payudara yang bergoyang mengikuti gerakan
tangannya. Lengan bawahku yang sengaja menekan samping tubuhnya bisa merasakan
kelembutan payudara, membuat kontolku yang sudah setengah keras sejak bangun
tidur makin menegang.
"Duh, Dimas kamu bisa ngga sih?!
Tuh liat, nasinya jadi berantakan!" suara Mama memecah lamunanku.
Aku kaget, baru menyadari nasi goreng
sudah berantakan di atas kompor. Tapi meskipun begitu fokusku tetap pada
belahan dada Mama yang menggoda.
"Hehe, maaf Mah," jawabku
cengengesan sambil menempelkan daguku di bahunya, sengaja membuat bibirku
hampir menyentuh kulit lehernya.
Mama menggeliat, tapi bukan geliat
kesal, lebih seperti usaha lemah untuk melepaskan diri. Menyadari ini adalah
kesempatan emas, Aku semakin erat melingkarkan tangan di perutnya. Napasku
sengaja kuhembuskan perlahan di sekitar lehernya, pasti itu akan membuat bulu
kuduknya berdiri.
"Dimas kamu kenapa sih?!"
"Emang kenapa sih Mah?"
balasku dengan nada paling polos yang bisa kubuat.
"Mamah susah gerak nih!!! Heran
deh kamu kok makin hari makin manja aja!! Cari pacar sana! Nggak malu apa udah
gede masih nempel mulu sama Mama?!"
Aku melepas pelukan tapi tidak
mundur. Aku pindah ke sampingnya, bersandar di kabinet dapur sambil menyengir
lebar.
"Ngapain cari pacar kalau di
rumah udah ada Mamah?"
Mama berhenti mengaduk. Wajahnya
memerah. Aku bisa melihat dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya. Aku
tak tahu apakah dia marah atau tergoda. Tapi yang jelas, melihat Mama seperti
ini membuatku makin horny. Kontolku sudah sepenuhnya keras, sekarang makin menekan
celana boxerku. Aku ingin melanjutkan, ingin menyentuh lebih jauh, tapi...
"Udah sana mandi dulu!"
hardik Mama tiba-tiba.
Aku mengangguk, tapi sebelum pergi,
tanganku sengaja menyentuh pinggulnya sekali lagi. Mama tak bereaksi, hanya
diam dan melanjutkan memasak, namun Mama tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya
yang kikuk. Aku tersenyum. Ini baru permulaan. Aku masih punya banyak waktu
selama aku diskors.
***
“Ouucchhhh Mah…”
Kepalaku
terdongak ke atas, mataku terpejam erat selain ingin lebih fokus membayangkan
tubuh semok Mama, tapi juga karena guyuran air hangat dari shower menerpa
wajahku. Di bawah, tanganku makin cepat mengocok kontolku yang mengeras
sempurna. Sensasi nikmat yang menjalar di sekujur tubuh kupusatkan semua di
sana.
“AAARGGHHTTT!”
Akhirnya
setelah hampir sepuluh menit aku melakukan onani dan membayangkan nikmatnya
bercinta dengan Mama semburat spermaku meluncur deras. Kurasakan tanganku
lengket, namun segela terbilas oleh guyuran air dari shower. Mandi sambil coli
jadi salah satu hobiku akhir-akhir ini, tentu saja rasanya makin nikmat karena
fantasiku bisa setiap hari kulihat.
Setelah
menyelesaikan mandi dan mengeringkan tubuh, aku bergegas kembali ke kamar. Saat
berjalan kudengar darilantai satu suara Mama sedang ngobrol dengan seseorang.
Penasaran, aku berbalik badan dan menuruni anak tangga. Di depan pintu rumah
kulihat Mama sedang membungkuk sambil membuka beberapa kardus yang berisi bibit
pohon pesanannya.
“Ini sudah
semua Mas?” Tanya Mamaku sambil mengecek satu persatu bibit pohon pesanannya.
“I-Iya Bu,
sudah semua.” Jawab si kurir yang nampak memperhatikan lekuk tubuh semok
Mamaku.
BAJINGAN
Mama yang
mengenakan kaos longgar tanpa lengan dipadu sebuah celana pendek sebatas paha
jadi santapan mata jalang kurir brengsek itu. Dia pasti sudah ngaceng berat
menyaksikan payudara dan pantat Mama yang terlihat sempurna. Entah kenapa
darahku jadi panas, tanpa pikir panjang aku langsung turun ke bawah. Kalau
dibiarin, lama-lama makin keranjingan tu kurir brengsek, umpatku dalam hati.
“Kalo udah
beres kenapa nggak langsung cabut Bang?” Sergahku. Mama langsung menoleh ke
arahku dengan tatapan heran.
“Eh..I-Tu..A-Anu..Saya
minta tanda tangan penerimaan paketnya dulu.”
“Ngapain pake
gitu-gitu segala? Biasanya habis nganter paket langsung cabut kan? Sini Gue aja
yang tanda tangan!” Ucapku makin ketus. Kurir itu menyerahkan selembar kertas
padaku dan langsung kucoret-coret asal.
“Dimas…Mama
nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar kayak gini ya.” Tegur Mama, tapi aku
bergeming.
“Nih udah.”
Kataku sembari menyerahkan kertas pada si kurir. Wajah pria berusia 20 tahunan
itu nampak kikuk.
“Baik saya
permisi kalo begitu. Selamat siang.” Kurir itu buru-buru pergi dari rumahku,
mungkin malu atau takut terjadi keributan. Entahlah, aku sama sekali nggak
peduli.
“Kamu kenapa
sih Dim? Dia itu kerja, nyari nafkah buat keluarganya. Jangan dijutekin gitu,
kasian.” Gerutu Mama.
“Dimas nggak
suka aja ngliat matanya yang kayak mau makan Mama hidup-hidup.” Jawabku.
Mendengar itu tawa Mama langsung pecah.
“Hahahahaha!
Kamu ni kebanyakan nonton film horor ya? Mana ada kurir yang makan ibu-ibu?”
“Isshhh! Bukan
gitu maksud Dimas Ma…”
“Ya udah,
mending sekarang kamu pake baju terus bantuin Mama nanem bibit-bibit pohon ini
di halaman belakang.” Aku baru sadar jika sedari tadi tubuhku hanya terbalut
handuk saja.
“Iya…” Aku
berbalik badan berniat kembali ke kamarku.
“Eh kok
langsung pergi? Bantuin Mama ngangkat kardusnya sekalian juga dong.” Tegur Mama
sembari menjewer telingaku dari belakang.
“Aw..Aw..sakiit
Mah…” Protesku.
“Makanya
jangan bandel jadi anak biar nggak Mama jewer.”
Tanpa pikir
panjang, kuambil kardus berisi bibit pohon itu, mengangkatnya sekaligus.
Badanku sedikit oleng karena keseimbangan yang kurang baik, tapi aku yakin bisa
membawanya. Saat hendak melangkah, tiba-tiba ada sesuatu yang terlepas. Awalnya
kupikir hanya angin yang menyentuh kulitku, tapi ternyata handuk yang melilit
di pinggangku perlahan melorot ke bawah. Aku membeku.
"DIMAAASSSS!!!"
Suara Mama menyambar tajam seperti
petir di siang bolong. Teriakannya memecah kesunyian. Matanya membelalak,
wajahnya memerah, dan tangannya langsung menutupi mulut. Aku baru menyadari
bahwa sekarang aku berdiri di depan Mama dalam keadaan telanjang bulat. Ya,
kontolku kini bisa dilihat oleh Mama!
Darah langsung naik ke kepalaku.
Panik. Malu. Bingung. Semua bercampur jadi satu. Kaki ini terasa seperti
ditanam ke tanah, tidak bisa bergerak sedikit pun. Tangan yang memegang kardus
bergetar, aku bahkan tidak bisa memutuskan apakah harus menjatuhkan kardus atau
tetap memegangnya sambil berusaha menutupi tubuhku yang terbuka.
Mama masih terpaku di tempatnya,
matanya terpaku pada selangkanganku yang terbuka. Aku tahu dia sedang melihat
ke arah kontolku, wajahnya memerah, tapi bukan marah, apakah mungkin Mama
takjub dengan ukuran kontolku?
"Ma-Maaf, Ma!" Akhirnya
suaraku keluar, terdengar seperti orang yang baru saja dicekik.
Dengan gerakan cepat aku menjatuhkan
kardus dan berusaha meraih handuk yang sudah tergeletak di lantai. Tapi semakin
buru-buru, semakin kacau. Kakiku malah menginjak ujung handuk, membuatku hampir
terjatuh.
"Aduh, Dimas! Kamu ini bagaimana
sih?!" Mama memutar badan membelakangiku.
"Cepat pakai handuknya!"
Dengan tangan gemetar, kuambil handuk
dan melilitkannya kembali ke pinggang. Kali ini kuikat dengan sangat kencang,
sampai-sampai kulitku sedikit tertekan. Setelah memastikan bagian bawah tubuhku
sudah tertutup sempurna aku kembali mengangkat kardus.
“Udah Mah, kontol Dimas udah nggak
nongol lagi.” Selorohku santai yang langsung mengundang pelototan mata Mama.
“Kamu ya!! Sini Mama jewer lagi!” Aku
langsung berlari ke belakang menghindari jeweran Mama.
Kejadian tadi membuatku lebih percaya
diri lagi, apalagi setelah mengetahui reaksi Mama yang malu-malu kucing saat
melihat batang kontolku, tak marah sedikitpun. Itu artinya rencanaku untuk
makin “intim” dengan Mama mendekati kenyataan. Aku hanya perlu menemukan momen
yang pas di antara kami berdua.
Setelah berganti pakaian aku langsung
menyusul Mama ke taman belakang rumah. Matahari
semakin meninggi ketika kami mulai menanam bibit-bibit pohon. Mama terlihat
begitu bersemangat, wajahnya yang cantik berkilau oleh butiran keringat kecil. Mama
masih mengenakan baju yang sama seperti tadi, membuat lekuk tubuh semoknya jadi
santapan mataku.
"Setelah ditutup tanah jangan
lupa langsung disiram air ya. Biar nggak cepet mati bibitnya." ujar Mama memberi
instruksi padaku.
“Oke Mah.” Sahutku antusias.
Aku sengaja memilih tempat menanam di
bagian yang berseberangan dengan posisi Mama saat ini. Tujuanku jelas, agar
bisa lebih puas mengamati gerak tubuhnya. Tangan Mama terlihat anggun meski
kuku-kukunya sudah dipenuhi tanah. Saat jongkok, pantatnya yang semok tercetak
jelas di balik kain celana pendek. Hanya dengan melihatnya saja sudah bisa
membuat kontolku ngaceng maksimal. Mama bangkit berdiri dan berjalan menuju
kran air, menyalakannya, dan mulai menyirami seluruh taman belakang rumah.
“Biar Dimas aja yang nyiramin, Mama
istirahat aja.” Tawarku.
“Bisa?”
“Alah Mah, cuma nyiramin taman aja
sih enteng…”
Aku menerima selang dari tangan Mama
dan mulai mengarahkan ujung selang ke seluruh penjuru taman. Mama berjalan
menjauhiku, dia kembali merapikan tanaman di ujung halaman. Mataku tak bisa
beralih dari tubuhnya yang begitu semok saat membungkuk. Pinggulnya yang berisi
terlihat sempurna dalam posisi itu, membuat jantungku berdebar lebih kencang. Tanpa
pikir panjang, kuarahkan semprotan air ke arahnya.
"DIIMAAASSS!" Teriak Mama
kaget ketika air membasahi punggungnya. Aku hanya tertawa senang dan terus
menyirami tubuhynya hingga basah kuyup.
Mama berbalik badan, inilah
kesempatan untuk menyasar payudaranya yang montok. Benar saja, hanya dengan
satu buah semprotan kencang aku bisa langsung melihat bentuk payudara Mama yang
montok berisi, putingnya tak bisa lagi bersembunyi di balik kain kaos yang
basah. Gila! Ini sempurna banget!
"Awas ya kamu!"
Mama mengancam, tapi matanya berbinar
penuh geli. Aku melihat bagaimana dadanya naik turun saat tertawa, membuat
payudaranya bergerak dengan cara yang mempesona.
Aku terus menyemprot, air membasahi
rambut hitamnya yang panjang hingga membentuk alur-alur indah di sepanjang
punggungny. Mama berlari menghindar,
setiap langkah membuat pantatnya yang besar dan berisi bergoyang dengan
cara yang membuat mulutku terasa kering. Pinggulnya bergerak dengan irama alami
yang memikat, seperti ombak kecil yang menari.
“Dasar anak bandel! Sini Mama kasih
pelajaran!”
Mama berhasil merebut selang dari
tanganku dan langsung mengarahkan ujungnya pada tubuhku. Kami berdua jadi basah
kuyup, aku tertawa girang. Namun ada rasa aneh ketika Mama menyemprot bagian
selangkanganku, kulihat matanya berbinar, menyadari aku tak memakai celana
dalam. Kontolku yang sudah ngaceng dari tadi bentuknya tecetak jelas.
“Kamu udah gede kenapa nggak pernah
pake CD sih???”
“Emang kenapa Mah? Kan Dimas nggak
kemana-mana, cuma di rumah doang.” Elakku sambil memasang wajah innoncent.
“Kamu tuh ya, kalo dibilangin selalu
aja ngebantah. Dasar anak bandel!”
Mama kembali menyemprot tubuhku
dengan air kali ini mengarah langsung ke bagian atas tubuhku hingga ke wajah.
Kami berdua berlarian di taman belakang rumah seperti anak kecil. Tawa dan
jeritan riang masih sering terdengar menandakan keakraban kami berdua.
"Kamu ini, jangan lihat-lihat
Mama seperti itu," tegur Mama tiba-tiba, saat menyadari tatapan mataku
menyasar payudaranya yang tercetak jelas di balik kaos basahnya.
“Nenen Mama gede banget…” Kata-kata
itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tangan Mama reflek menutupi dadanya, wajahnya
jadi jutek meskipun senyum malu-malu tak bisa dia sembunyikan lebih cepat.
"Udah…Udah…Makin nglantur
omonganmu.” Gerutu Mama sambil berjalan menuju kran air dan mematikannya.
"Sudah, ayo masuk. Nanti masuk
angin." Suara Mama terdengar lembut, tapi ada getaran aneh di dalamnya.
Saat berjalan ke dalam rumah, aku
memperhatikan bagaimana sinar matahari menyorot tubuh Mama dari belakang.
Setiap langkahnya membuat pantatnya yang besar dan berisi bergoyang dengan
irama yang memikat. Andai saja aku punya keberanian saat ini pasti sudah
kuterkam dari belakang dan langsung memasukkan kontolku ke dalam vaginanya.
Ya Tuhan, aku sange!!
“Kamu ngapain ngikutin Mama terus?”
Mama berbalik badan tiba-tiba, menyadari jika aku mengekor di belakangnya
sedari tadi.
“Nggak mandi Mah?” Tanyaku sok polos.
“Ya mandi lah, udah basah kuyup kayak
gini kok.”
“Mandi bareng yuk Mah!” Tawarku
dengan senyum mengembang. Mama menatapku dengan heran.
“Nggak usah aneh-aneh! Kamu itu udah
gede Dimas, tahun depan udah mau kuliah! Nggak pantes masih mandi bareng Mama.”
“Tapi kan dulu kita sering mandi
bareng Mah…”
“Iya…Tapi dulu kamu masih kecil.
Sekarang ya beda.”
“Emang apa bedanya sekarang?”
Tiba-tiba pandangan Mama beralih ke selangkanganku yang basah. Kontolku memang
sudah sedikit melemas tapi bentuknya masih tercetak jelas.
“UDAH…UDAH…SEKARANG KAMU KE ATAS!
MANDI SENDIRI!” Bentak Mama sebelum mengalihkan pandangan matanya ke wajahku.
“Huuu…Mama nggak asyik.”
PART 3
Malam harinya mendadak badanku demam,
dan rasanya sangat tidak nyaman. Ketika demam menyerang, aku merasa tak bisa
melakukan apapun, tubuhku lemas seolah semua energiku hilang. Dalam benakku,
muncul ketakutan yang mendalam, bagaimana kalau aku mati sebelum merasakan
kenikmatan tubuh Mama? Ya Tuhan, tolong jangan biarkan itu terjadi!
"Mamahhh! Dimas demam!!!!"
teriakku dari dalam kamar berharap Mama segera mendatangiku.
“Maamaahhh!!! Dimaass sakiitttt!”
Teriakku sekali lagi, masih belum ada jawaban.
Tak lama pintu kamarku terbuka, Mama
berdiri dengan wajah cemberut. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku,
melainkan penampilan Mama yang mengenakan dress pendek ketat. Lekuk tubuh Mama
tercetak begitu jelas bahkan putingnya nampak menonjol di area dada. Itu pasti
dress yang dijual Mama saat live online shopee.
“Mama udah bilang tadi jangan
kelamaan main air, sekarang giliran sakit manjanya kumat! Mama lagi kerja loh,
udah kamu minum obat sendiri sana!”
“Iihhh Mama lebih milih mentingin
jualan online daripada anaknya sendiri! Dimas mau mati ini Maaahh!” Gerutuku
saat Mama mau berbalik badan dan meninggalkan kamar.
“Kamu ngomong apa sih Dimas?! Jangan
sembarangan gitu kalo bicara! Tunggu sebentar, Mama beresin live dulu.” Tanpa
menghiraukan rengekanku Mama melangkah pergi. Selang beberapa menit Mama
kembali ke kamarku.
"Kamu ini udah mau kuliah tapi
manjanya nggak hilang-hilang. Gimana nanti kalo kamu harus tinggal jauh dari
Mama?"
Mama meletakkan sebuah baki berisi
air dingin dan kain kompres di mejaku. Sesaat dia merendam kain handuk
berukuran kecil ke dalam air dingin lalu memerasnya. Mama lalu mendekati sisi
ranjangku, dengan lembut dia mengompres keningku. Rasanya begitu nyaman, berada
di dekat Mama seolah jadi obat mujarab untuk demamku.
“Dimas sakit Mah…” Kataku. Mama menempelkan
punggung tangannya ke jidatku lalu bergerak menuju leherku.
“Kamu minum obat ya habis ini?”
“Nggak mau, dikompresin aja Mah…”
Tolakku sambil menggelengkan kepala.
“Mana bisa sembuh kalo nggak minum
obat?”
“Obatku cukup Mama aja…”
“Dasar kamu ini.”
Mama mencubit lembut ujung hidungku
sebelum melangkah menuju meja dekat ranjang. Mama mencelupkan kain handuk kecil
ke dalam baki lalu memerasnya sampai semua air dingin mengalir kembali. Dengan
lembut Mama meletakkan kain basah dan dingin itu ke jidatku, rasanya
benar-benar menenangkan.
“Sekarang kamu istirahat aja, tidur.
Jangan maenan hape mulu biar cepet sembuh.” Kata Mama.
“Mama mau kemana?’
“Ya balik ke kamar lah.”
“Mama tidur di sini aja ya…” Kataku.
“Hah? Tidur bareng lagi??”
“Please Mah…Dimas mau mati loh ini…”
Rengekku dengan ekspresi manja yang sengaja kubuat-buat.
“Hust! Mama nggak suka ya kalo kamu
ngomong gitu lagi.” Hardik Mama sembari memasang wajah galak yang justru
membuat kontolku menggeliat.
“Please Mah…”
“Ya udah Mama ganti baju dulu tapi.”
“Nggak usah ganti baju Mah, pake itu
aja.”
“Hmmmm…Kamu ini ya kalo mau sesuatu
harus diturutin sekarang juga.” Gerutu Mama, tapi aku tau usahaku barusan
segera membuahkan hasil.
“Ya udah Mama tidur di sini.” Ujar
Mama sebelum merebahkan tubuhnya yang semok di sampingku.
“Makasih Mah…” Tanpa canggung
sedikitpun kupeluk tubuh Mama.
“Udah sekarang kamu tidur ya…”
“Iya Mah…”
Suasana jadi hening, kulihat Mama
mulai memejamkan mata, nafasnya terdengar teratur. Sengaja kusenderkan kepalaku
di bahunya, dari sini aku bisa menyaksikan bagaimana belahan dadanya yang
nyaris menyembul keluar begitu menggoda hasratku. Tanganku yang awalnya hanya
menyentuh pinggulnya kini perlahan tapi pasti merambat naik. Aku harus meremas
payudara Mama seperti malam kemarin! Begitu pekikku dalam hati.
“Dimas kamu ngaceng ya…?”
Belum sempat niat cabulku terlaksana,
tiba-tiba mata Mama terbuka lebar dan langsung menatapku tajam. Dalam beberapa
detik tubuhku serasa membeku, mungkin inilah sensasi ketika seorang maling ayam
dipergoki si pemilik kandang. Bibirku kelu, nyaris tak bisa mengeluarkan seribu
alasan yang biasanya begitu lancar kulafalkan.
“Eh..I-Itu..A-Anu Mah…” Aku gagap.
“Hmmm, nggak usah alasan lagi. Kamu
kira Mama nggak tau apa yang kamu lakuin semalem…?”
“Loh? Ja-Jadi Mama tau…?”
Mama bangkit dari tidurnya, sementara
aku masih tidur terlentang dengan bagian selangkangan yang sudah menyembul
tinggi. Ya, kontolku sudah begitu keras, tegak mengacung meskipun baru saja
dipergoki oleh Mama.
“Sejak kapan kamu jadi kayak gini
Dimas?” Tanya Mama dengan suara lembut, raut wajahnya sama sekali tak
menunjukkan kemarahan padaku.
“Ma-Maksudnya Mah…?” Tanyaku masih
dengan kegugupan membuncah.
“Sejak kapan kamu jadi sangean kayak
gini? Hmm…?”
Tanpa kuduga, tangan Mama tiba-tiba
menyentuh kontolku yang masih terbungkus celana boxer tipis. Mama mengelusnya
dari luar, sedikit meremas kontolku, lalu kembali memainkan ujung jarinya pada
permukaan kain boxer. Jangan ditanya rasanya seperti apa, aku sendiri tak
percaya dengan apa yang dilakukan Mama padaku saat ini.
“Ma-Maafkan Dimas Mah…” Desisku
lirih.
“Kenapa minta maaf sayang? Memangnya
kamu salah apa?”
Jemari Mama kini bergerak ke bawah,
karet boxerku jadi sasaran utama. Perlahan tangannya menurunkannya hingga
membuat batang kontolku pelan tapi pasti mulai terbebas dari kungkungan. Mama
menelanjangiku, membuat bagian vital bawah tubuhku terlihat tanpa penghalang
apapun.
“Wow! Gede juga ya kontolmu
sayang…Hmmm…Hampir sama kayak punya Papamu dulu…” Desis Mama vulgar.
“Mah…”
“Kenapa sayang? Mau Mama bantuin
ngocok?”
“Ma-Mau Mah…” Jawabku pasrah.
Aku gugup menunggu, napasku berdesir
pelan. Mama duduk di sampingku, lututnya menekuk, dengan posisi seperti ini aku
masih bisa melihat belahan dadanya. Tangan Mama kembali merayap, jari-jarinya
membelai batang kontolku dengan sentuhan lembut tapi penuh percaya diri.
Gerakan awalnya hanya usapan ringan bergerak dari pangkal hingga ke ujung
kontol. Mama seperti memastikan setiap sentimeter kulit kontolku mengenal
hangat telapak tangannya.
“Ouucchhh Mah….”
Mama kini telah menggenggam
sepenuhnya batang kontolku. Perlahan tangan kanannya bergerak naik turun dengan
irama yang menghanyutkan, mengocok alat kawinku. Jika dibandingkan dengan
caraku saat melakukan onani, tangan Mama terasa jauh lebih nikmat. Tak hanya
hangat, remasan jarinya seperti memberi efek simultan berkali lipat.
Kurasakan batang kontolku pun makin
mengeras. Kocokan jemari Mama membuatku terhanyut akan kenikmatan tabu, tiap
gerakan tangannya yang naik turun makin membuat kontolku semakin membesar serta
mengeras. Mama kemudian mempercepat irama kocokan, pergelangan tangannya begitu
lentur bergerak naik turun.
Napasku sudah tak beraturan, desah
kecil terdengar dari mulutku tiap kali ujung jarinya menyapu leher batang kontolku.
Mama seolah tahu persis di mana letak titik kenikmatanku. Sesekali jemarinya
menekan, meremas, memutar, lalu kembali bergerak naik turun.
“Ouucchh! Mah..Enak banget Mah…”
Racauku.
Aku belum sempat menarik napas
panjang saat kepala Mama sudah mendekati wajahku. Tangannya tetap mengocok
kontolku sementara wajahnya kini menghadapku. Matanya menatap dalam, lalu perlahan
bibirnya menempel di bibirku. Ya, kami akhirnya berciuman!
Ciumannya terasa lembut di awal, tapi cepat
berubah jadi begitu beringas. Lidah Mama memaksa masuk, menjelajahi setiap
sudut mulutku, mengejar lidahku yang mulai bisa beradaptasi. Kami bergumul,
napas saling memburu, sementara tangan Mama tak pernah berhenti mengocok
kontolku, ritmenya stabil, membuatku makin terbakar birahi.
“Eeemmcchhh! Eeemmchhh!” Hanya itu
yang terdengar dari mulut kami berdua.
Ciuman Mama terlepas dari bibirku,
kini dengan lembut ia menciumi daguku, lalu turun ke leher. Setiap sentuhan
bibirnya membuat kulitku merinding. Tangan kirinya yang bebas perlahan mengangkat
ujung kaosku, hingga membuat area perut dan dadaku terbuka. Udara kamar yang
dingin karena AC menerpa kulitku, tapi segera tergantikan oleh lidah hangat
Mama yang mulai menjilati putingku. Jilatannya mulai dari puting kiri, lidahnya
seperti sedang menari-nari di sana.
“Sssttt…Mah…” Tubuhku menggelinjang
diperlakukan seperti itu.
“Enak kan sayang?” Desis Mama di
sela-sela jilatannya pada putingku.
“I-Iya Mah…Enak banget…”
Tak hanya sekedar menjilati saja,
sesekali mulut Mama juga menghisapi putingku kiri dan kanan secara bergantian. Sementara
di bawah, tangannya tetap mengocok batang kontolku. Gerakan kocokan tangan Mama
di bawah kadang cepat, kadang lambat, seolah memainkan irama birahiku tanpa
kutau kapan akan berakhir. Aku mengerang, tanganku meremas permukaan sprei,
tubuhku mengejang menahan gelombang nikmat yang makin ganas.
“Ouucchhhh! Maahh!”
Setelah puas bermain di dadaku, Mama
bangkit, sesaar dia menatapku dengan senyum penuh hasrat. Mama kemudian
bergerak ke bawah, memposisikan tubuhnya di antara kedua kakiku. Tangannya
melepas genggaman pada batang kontolku sejenak, hanya untuk melepaskan kaosku
sepenuhnya, kini aku sudah telanjang bulat, tak ada yang tertutup lagi.
“Mama akan bikin kamu makin
keenakan…” Desis Mama dengan senyum mesum nan menggoda.
Mama membungkuk perlahan. Napasnya
yang hangat terasa menyapu batang kontolku. Kali ini gerakannya tak
tergesa-gesa, penuh kelembutan. Mama kemudian mulai dengan menciumi pangkal
paha kananku, lidahnya terjulur keluar menjilati kulit antara paha dan buah
zakarku. Aku menarik napas dalam, menahan desahan. Lalu ia berpindah ke kiri,
melakukan hal yang sama, membuatku mengerang pelan.
“Aaacchhhh! Mahh..Enak banget…”
Mama kemudian menatap kontolku, jemarinya
mengelusnya dari bagian pangkal hingga ke ujung dengan gerakan lembut. Tangan
kanannya kembali menggenggam kontolku perlahan, memegangnya dengan lembut tapi
mantap. Jantungku seolah berhenti berdetak kala kepala Mama mendekati kontolku
dan tanpa aba-aba langsung mencium bagian ujung kontolku. Ciuman itu hanya
sebentar, lalu lidahnya keluar, menyentuh lubang kencingku.
“Eeemchhhhh! Geli Mah….”
“Tahan sayang, sebentar lagi kamu
akan merasakan surga dunia…” Balas Mama sambil tersenyum menatapku.
Lidah Mama memutar dan menjilati
lubang kencingku. Tubuhku sontak mengejang nikmat, apalagi ketika mulut Mama
tiba-tiba menghisap bagian ujung kontolku. Jangan ditanya bagaimana rasanya,
ini benar-benar luar biasa enak! Lidah Mama lalu turun ke bawah, menyusuri urat
di sekujur batang kontol, menjilati seperti orang yang tahu persis di mana
letak surga dunia sesungguhnya.
“Arrghhhhh! Mah!”
Aku mengerang lebih keras. Mama
tersenyum, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Perlahan ia memasukan kontolku ke
dalam mulut. Sensasi hangat sekaligus hangat langsung menyergap kontolku. Ia
menahan sejenak kulumannya namun lidahnya tetap bergerak di bawah, menekan dan memutar
batang kontolku. Perlahan kepalanya bergerak naik turun, mulutnya mengulum alat
kawinku dengan sangat mahsyuk. Semakin lama gerakan bibir dan mulutnya makin
turun membuat batang kontolku tenggelam makin dalam.
“Eeemmcchhh…Eemmchhhh…”
“Ouucchhh! Anjing! Enak banget Mah…”
Ceracauku sambil meremas rambutnya.
Kurasakan ujung kontolku nyaris
menekan tenggorokkan Mama namun saat aku ingin menekan lebih dalam Mama menarik
mulutnya, menciptakan hisapan yang membuat urat-urat di batang kontolku
menegang. Kuluman mulut Mama mulai berirama. Naik turun sambil diiringi hisapan
lembut. Setiap kali mulutnya turun lebih dalam aku langsung mengerang cukup
keras.
Tangan kanannya tak tinggal diam,
sembari mengikuti ritme hisapan, Mama menggenggam dan mengocok bagian kontolku
yang tak tertutup mulut. Kadang ia berhenti, hanya menahan kontolku di
tenggorokan, lidahnya berkeliling memutar di dekitar lubang kencing, membuatku
mengerang tak karuan. Lalu tanpa aba-aba Mama kembali melanjutkan aksi kuluman
panas, makin cepat, makin dalam, hingga akhirnya seluruh batangku tenggelam
bahkan sampai membuat bola zakarku menempel di dagunya.
“Oocchhhh! Occhh! Maahh!”
Tanganku kini kembali meremas sprei,
lututku menekuk refleks. Kurasakan desakan hebat dari dalam kontolku akan
segera keluar dan Mama sepertinya tau akan hal itu. Ia mempercepat kulumannya,
genggaman dan hisapan bersatu jadi satu irama liar. Napasku tersenggal, desahku
memenuhi kamar. Tangannya kini turun ke bawah, meremas buah zakarku, memijitnya
pelan, menambah gelombang nikmat yang makin deras.
“Ayo sayang,,,Keluarin pejumu di
mulut Mama..” bisiknya sambil menatapku, matanya berkilat penuh hasrat.
Dengan satu hisapan terakhir yang
dalam, lidahnya menekan urat kontolku paling bawah dan membuatku tak tahan
lagi. Tubuhku melengkung, kontolku berdenyut keras. Semburan-demi semburan peju
menyembur mulus diiringi eranganku yang parau.
“AARRGGHHHHHTTTTT!!!”
Mama menahan kepalanya, tetap di
posisi, menelan setiap pancutan peju yang menyembur, genggaman tangannya di
batang kontolku pun tak terlepas sampai denyut terakhir mereda. Baru setelah
itu ia bangkit, menyeka sudut bibir dengan punggung tangan, lalu mencium
keningku pelan, napasnya masih berdesir. Aku hanya terdiam, tubuhku lemas,
dunia serasa melayang di tengah hangat yang masih membekas di sekujur batang
kontolkuku.
“Anak Mama sekarang udah gede ya…”
“Terima kasih Mah…”
Mama hanya tersenyum sebelum mengecup
lembut kedua mataku secara bergantian. Rasanya begitu menenangkan, akupun
terpejam untuk sesaat. Tak lama mataku kembali terbuka dan mendapati kamarku
sudah kosong melompong. Mataku terburai, langit-langit kamarku datar memandang.
Tubuhku terasa ringan tapi ada yang aneh di selangkangan. Aku tarik napas
panjang, otak mulai terhubung. Tanganku otomatis meluncur ke bawah, boxerku
lembap, lengket, dan hangat. Aku usap sedikit, jari menangkap lendir yang masih
mengalir. Napasku berhenti sekejap.
Sialan, ternyata cuma mimpi basah!
Kenangan kenikmatan tadi muncul
sekilas. Semua terasa nyata tapi kini tinggal bayang. Aku hentakkan punggung ke
kasur, memejamkan mata, berusaha menangkap sisa nikmat yang masih berdenyut di
ujung batang kontol. Tak berguna, gelombangnya sudah luntur.
Aku bangkit dari ranjang, kulihat jam
di layar ponselku masih menunjukkan pukul dua dinihari. Aku bahkan sudah lupa
sejak kapan aku terlelap tadi malam. Tubuhku masih menggigil, bukan karena
dingin tapi karena hentakan jantung yang belum mau reda. Aku tarik napas, buka
pintu, biarkan udara luar menelan bau malam.
Tenggorokanku terasa seperti pasir,
kering dan menginginkan guyuran air dingin. Aku melangkah keluar kamar menuju
dapur di lantai satu rumahku. Air dingin yang kuminum nanti barangkali bisa
menenggelamkan rasa kecewaku. Tapi tetap saja terselip rasa penasaran, kalau
mimpi saja bisa seenak itu, bagaimana kalau jadi kenyataan? Langkahku mendadak membeku
di anak tangga kala mendengar suara desahan dari dalam kamar Mama.
Rasa penasaran kembali membuncah di
dada. Kuarahkan langkah kakiku mendekati pintu kamar Mama yang tertutup rapat
dari dalam. Telingaku menempel erat pada pintu mencoba mendengarkan segala
jenis suara yang terjadi di dalam kamar. Desahan itu kembali terdengar nyata,
bukan ilusi seperti mimpi basahku barusan.
"Aaach terus! Genjot yang
kenceng!!"
“Suka digarap habis-habisan kayak
gini ya?”
“Aaacchh! Anjing! Entotin teruusss!!
Emmmcchhh! Eemmcchhhh!!”
“Bro gantian! Aku juga pengen
ngrasain memeknya!”
“Sabaarr, sementara kontolmu
disepongin dulu.”
“Eeemmcchhh! Eeemmchhh!!”
Langit-langit rumah serasa menciut.
Aku menekan telinga lebih rapat memastikan apa yang kudengar barusan adalah
sebuah kebenaran. Jelas sekali Mama bukan hanya bersama satu laki-laki saja
tapi dua sekaligus! Karena makin penasaran kuarahkan kepalaku mendekati lubang
kunci kamar berharap bisa melihat keadaan di dalam kamar.
Namun usahaku sia-sia karena lubang
itu tertutup oleh anak kunci, aku sama sekali tak bisa mengintip. Suara desahan
makin kencang dan vulgar terdengar dari dalam. Napasku sendiri makin tak
beraturan, jantungku mengetuk dada seperti mau copot. Setelah hampir sepuluh
menit menguping dari balik pintu kuputuskan untuk mengambil langkahku mundur
pelan menuju dapur.
Selain untuk minum, aku juga ingin
bersembunyi dan memastikan siapa sosok pria-pria yang bersama Mama saat ini.
Aku jadi lebih sedikit tenang setelah menenggak segelas air dingin, namun
perlahan kurasakan ada gemercik amarah dalam dada. Mama yang selalu kudambakan
ternyata sudah begitu binal bersama pria lain. Cemburu? Tentu saja! Aku merasa
dibohongi karena selama ini Mama tak pernah mengungkapkan keinginannya untuk
dekat bersama pria lain setelah perceraian.
KLAK!
Suara gagang pintu terbuka, reflek
aku langsung bersembunyi di balik lemari es. Kulongokkan kepalaku sedikit untuk
melihat keadaan di sekitar. Dua orang pria bertubuh gempal keluar dari dalam
kamar Mama sambil tersenyum, Mama menyusul kemudian hanya dengan mengenakan
sebuah daster tipis sebatas lutut.
BANGSAT!
“Kami pamit dulu kalo begitu, terima
kasih sudah melayani dengan sangat baik” Ujar salah satu pria yang begitu
kukenal wajahnya. Pak RT.
“Malam yang sangat berkesan, tapi
lain kali jangan di rumahmu lagi ya. Lebih baik kita ke hotel saja, lebih
bebas.” Sahut satu pria lagi yang tak lain adalah Pak Anwar, salah satu
tetanggaku yang berprofesi sebagai anggota satpol PP.
“Gampang, nanti kita atur jadwal
lagi. Sudah buruan pulang, nanti anakku bangun.” Balas Mama sembari
mengantarkan kedua pria brengsek itu keluar dari dalam rumahku.

Posting Komentar
0 Komentar