BELENGGU BIRAHI - SEASON 2
PART 1
Safiya baru saja meletakkan ponselnya
di atas meja nakas hotel yang dingin. Belum sempat dia berbalik, sepasang
lengan kekar berkulit gelap dan berbulu lebat tiba-tiba melingkari pinggang
rampingnya dari belakang. Itu adalah tangan Pak Malik, pria keturunan Arab
bertubuh tegap dengan kepala plontos yang mendominasi.
Tangan besar yang kasar itu merayap
naik, langsung mencengkeram payudara Safiya. Daging kenyal itu hanya dibalut
bra renda hitam transparan, membuat puting merah muda milik Safiya terlihat
jelas di sela-sela jari gelap Pak Malik.
"Ahhh..."
Safiya mendesah, kepalanya mendongak
bersandar di dada bidang pria itu. Dia merasakan sesuatu yang keras, panjang,
dan besar mengganjal di belahan pantatnya dari balik celana dalam tipis.
"Ahhh…Bapak nakal…" desis
Safiya dengan nada manja yang dibuat-buat.
Malik menyeringai lebar, gigi
putihnya terlihat kontras dengan kulit badannya yang gelap. Pria berusia 50
tahun itu kemudian memutar tubuh Safiya hingga mereka saling berhadapan. Tangan
kekarnya menjambak kuncir rambut panjang Safiya, lalu menariknya pelan untuk
mengekspos barisan kulit leher jenjang. Malik menjilati leher Safiya dengan rakus,
seolah gadis itu adalah mangsa empuk.
"Ahhh...Eeemmcchhh…Sssshhh…"
Safiya melenguh. Tangannya turun ke bawah, meraba tonjolan masif di balik
celana yang dikenakan Malik. Gadis cantik itu mengurut batang tebal itu dari
luar dengan gerakan naik turun.
"Kita harus check out jam dua
belas, kan? Jadi kita masih punya waktu dua jam lagi," bisik Malik di
telinga Safiya, suaranya berat dan serak.
"Aku masih mau make kamu sampek
puas…” Safiya mengangguk antusias, matanya berbinar menatap wajah pria yang
usianya begitu jauh dengannya, bahkan usia Abinya poun masih kalah tua.
"Iya Pak…Pake badanku sepuasmu,
asalkan Pak Malik ngasih uang bulanan terus…” bisik Safiya sambil meremas
batang kontol Malik.
Kesepakatan kotor itu meledakkan
gairah Malik. Tanpa basa-basi, dia menyibakkan thong tipis yang dipakai Safiya
ke samping. Celah vagina gadis itu terekspos, basah dan siap dijejali kontol.
Malik mengangkat satu kaki Safiya, lalu dengan satu dorongan pinggul yang kuat.
Dia menghunjamkan batang hitam besarnya masuk ke dalam liang sempit gadis SMA
itu setelah sebelumnya melucuti celananya sendiri hingga telanjang bulat.
"Akhhh! Anjing mentok banget
kontolmu Paaakkk…"
Saat Safiya mengerang menerima hujaman
kontol, ponsel Malik yang tergeletak di atas kasur bergetar. Layarnya menyala,
menampilkan sebuah pesan masuk.
Pah, nanti pulang tolong beliin
titipan Mama ya. Sekalian jemput Rama.
Di wallpaper ponsel itu terpampang
foto keluarga bahagia yang sedang tersenyum lebar. Malik sedang memeluk
istrinya yang cantik, serta putra tunggal mereka yang tampan. Wajah istri di
foto itu tidak asing. Itu adalah Zahra. Ternyata dunia lendir ini jauh lebih
sempit dari bayangan Kalila. Keluarga Safiya dan keluarga tetangganya sudah
saling meniduri satu sama lain tanpa mereka sadari.
***
Damar menarik napas panjang,
meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Dia masih tak percaya dengan
kejadian semalam. Sepanjang malam sampai pagi buta, Tante Sabrina nyaris tidak
berhenti mengekspresikan nafsu dan birahi. Mulai dari ciuman basah, saling
jilat, posisi 69, sampai berbagai macam posisi bercinta mereka praktekan
semalaman suntuk.
Damar harus mengakui, wanita matang
seperti Sabrina jauh lebih memuaskan ketimbang cewek-cewek seumurannya untuk
urusan seks. Sabrina punya stamina, teknik, dan yang paling penting wanita itu tidak malu memohon diperlakukan seperti
pelacur. Servicenya gila. Namun pikiran Damar melayang ke hal lain.
Ibunya.
Dia tak pernah menyangka Kalila akhirnya
bercinta dengan Arlo. Kalau benar dugaannya bahwa ibunya setia selama ini,
berarti Arlo adalah laki-laki pertama selain Ayahnya yang berhasil menyetubuhi
ibunya. Anehnya, bukannya marah, Damar justru merasa terangsang. Bayangan
ibunya yang menungging pasrah sambil mendesah nikmat di bawah tindihan tubuh Arlo
justru jadi bahan bakar birahi utama saat menggenjot Sabrina semalam.
Damar bangun dari tempat tidurnya
waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Rumahnya nampak lenggang karena kedua
orangtuanya sejak pagi tadi pergi berbelanja kebutuhan bulanan rumah. Tak lama
ponselnya berdering, nomor tidak dikenal. Dahi pemuda itu berkerut, Damar
menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo?"
"Halo. Damar, kan?" tanya suara pria di ujung sana.
Suaranya santai, serak, dan terdengar sangat percaya diri.
"Iya. Siapa nih?"
"Arlo. Tetangga depan," jawab suara itu, diikuti tawa kecil
yang akrab.
"Bokap Nyokap lo lagi keluar, kan? Cabut
yuk, cari makan. Gue traktir." Damar terdiam sejenak. Arlo. Bajingan yang semalam meniduri
ibunya.
"Nyokap bawel banget, nyuruh gue
ngajak lo jalan." lanjut Arlo santai.
Damar bisa menangkap nada tersembunyi
dalam suara itu. Itu bukan sekadar ajakan makan siang. Itu kode keras. Ajakan
dari satu pemangsa ke pemangsa lain mungkin untuk menyamakan frekuensi. Damar
menyeringai.
"Boleh juga," jawab Damar
singkat.
"Gue siap-siap dulu. Setengah
jam lagi gue ke sana."
"Sip. Pintu depan nggak dikunci.
Masuk aja kayak biasa," jawab Arlo penuh arti. Kalimat itu seolah mengingatkan Damar
bahwa akses ke rumahnya selalu terbuka lebar untuknya.
Damar melempar ponselnya ke kasur
lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah ringan. Makan siang dengan pria
yang meniduri ibunya, setelah dia sendiri meniduri ibu pria itu. Benar-benar
hubungan bertetangga yang sangat harmonis.
***
"Mas, ini enak banget. Dagingnya
tebal, juicy lagi. Udah lama ya kita nggak makan di sini."
Kalila menggigit burger daging sapi
tebal dengan lahap. Saus mayones dan lada hitam meluber di sudut bibirnya, yang
kemudian dia jilat dengan gerakan lidah sensual. Baskara tersenyum lembut
melihat Kalila makan begitu lahap, sebelum menggigit burger ayam miliknya
sendiri. Setelah membeli beberapa barang belanjaan untuk kebutuhan rumah,
pasangan suami istri itu memustuskan untuk makan siang di sebuah restoran cepat
saji di dalam mall. Sesuatu yang sudah begitu lama tak mereka lakukan
akhir-akhir ini.
"Jadi belanja bulanan sudah
beres. Kamu mau cari apa lagi?" tanya Baskara sambil mengelap mulut dengan
tisu. Kalila berpikir sejenak, matanya berkilat nakal.
"Aku mau cari baju tidur baru.
Sama, bikini!" serunya setengah berbisik namun antusias. Suaminya tersedak
sedikit.
"Uhuk! Bikini? Buat apa? Kamu kan
berhijab."
"Ih, Abi mah. Kan rumah kita ada
kolam renang pribadinya. Temboknya tinggi, tertutup, nggak bakal ada yang lihat
kok. Apa salahnya aku pake bikini pas berenang?" goda Kalila. Kakinya di
bawah meja menyentuh kaki Baskara.
"Lagian, kamu pasti nanti suka kalo lihat
aku pake begituan? Hehe."
Wajah Baskara mendadak memerah. Dia mulai
membayangkan tubuh montok istrinya yang selama ini tertutup rapat, hanya
dibalut kain tipis di kolam renang.
"Ya sudah, boleh deh,"
jawab Baskara akhirnya, kalah oleh godaan Kalila.
"Tapi ada syaratnya. Habis berenang, kamu
harus mandi bareng sama aku ya?" Mata Kalila melebar pura-pura kaget, lalu
dia mencubit perut suaminya gemas.
"Dasar genit!"
Kalila tertawa kecil, namun tawanya
terhenti saat pandangannya menangkap sosok yang masuk ke restoran. Seorang
remaja laki-laki, mungkin seusia Damar atau Arlo, baru saja duduk di meja
seberang bersama pacarnya. Pemuda itu mengenakan kaos ketat yang menonjolkan
otot bisepnya. Pikiran Kalila langsung melayang ke kejadian semalam.
Dia teringat sentuhan kasar tangan
Arlo yang meremas payudaranya, teringat tubuh Arlo yang telanjang, berkeringat,
dan berotot di atas sofa. Dia teringat ciuman Arlo yang menuntut dan bau
maskulinnya. Dan yang paling parah, dia teringat rasa kontol Arlo yang keras
dan berurat saat menghunjami vagina. Mata Kalila tanpa sadar menatap
selangkangan remaja asing di depannya itu.
“Kira-kira kontol anak itu segede
Arlo nggak ya?”
batin Kalila liar.
“Gimana rasanya nyepongin kontolnya?
Apa dia lebih ganas dari Arlo?”
“Sayang…?"
Suara Baskara membuyarkan lamunan
kotor itu. Kalila tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang karena ketahuan
melamun jorok. Wajahnya memanas hebat. Dia baru saja membayangkan menghisap
kontol pria asing tepat di depan suaminya sendiri.
Cepat-cepat Kalila menggelengkan
kepala, menurunkan burgernya yang tinggal setengah. Dia menyambar gelas Mango
Tea dan menyedotnya hingga habis, mencoba memadamkan api gairah yang
tiba-tiba menyala di dalam tubuhnya.
"Kamu kenapa? Kok mukanya merah?
Sakit?" tanya Baskara cemas sambil menyentuh dahi Kalila. Dosen cantik itu
menggeleng malu-malu, menepis tangan suaminya pelan.
"Eh, nggak apa-apa kok. Cuma
kepedesan dikit sausnya."
Rasa bersalah sempat menyelimuti
hatinya karena telah mengkhianati pria sebaik Baskara, baik secara fisik maupun
pikiran. Namun saat dia melirik remaja itu lagi dari sudut mata, Kalila sadar
satu hal. Rasa bersalah itu kalah telak oleh rasa penasaran dan nafsu yang kini
menguasai dirinya. Dia bukan lagi istri yang setia. Dia adalah wanita yang sangean.
***
Damar menyendok nasi hangat campur
sambal ikan pedas ke mulutnya. Matanya terpejam sejenak menikmati ledakan rasa
di lidah. Gila, warung sederhana ini ternyata hidden gem. Rasanya jauh lebih
"nendang" dibanding masakan ibunya yang cenderung hambar. Damar
menyesal cuma pesan setengah porsi.
"Mantap kan? Ini tempat pelarian
gue kalau Nyokap lagi males masak," kata Arlo bangga sambil menyuwir
daging ikan patin tempoyak. Aromanya menyengat nikmat. Damar mengangguk setuju
sambil mengunyah.
"Kayaknya gue bakal langganan di
sini."
Mereka makan cukup lahap,
menghabiskan isi piring sembari basa-basi soal kuliah dan hobi. Suasana cair
dan akrab layaknya teman lama, padahal baru kenal sehari. Dan perkenalan mereka
diawali dengan saling meniduri ibu masing-masing. Damar baru saja mengelap
bibir berminyak dengan tisu dan meneguk es teh manis sampai sisa separo, saat
Arlo tiba-tiba merubah konteks obrolan.
"Jadi, gimana rasanya ngewein
Nyokap gue semalam?" tembak Arlo santai, nadanya datar seolah menanyakan
hal remeh temeh.
Damar tersedak es batu kecil. Matanya
membelalak kaget, wajahnya langsung panas karena malu dan canggung. Melihat
reaksi Damar yang salah tingkah, Arlo tertawa.
"Santai aja kali, Bro. Gue nggak
marah, malah gue seneng. Lagian, gue juga puas banget kok ngewe sama Ibu lo
semalam," tambah Arlo dengan seringaian penuh arti.
Damar menelan ludah, lalu perlahan
tersenyum canggung. Masih aneh rasanya membicarakan hal sevulgar ini dengan
anak dari wanita yang dia tiduri. Tapi kejujuran Arlo membuatnya lega. Di sisi
lain, Arlo tahu dia perlu meruntuhkan tembok moral Damar pelan-pelan.
"Lo emang demen MILF, ya?"
pancing Arlo lagi. Damar mengangkat bahu, mulai rileks.
"Nggak spesifik sih. Tapi ya
kadang gue emang suka nyari kategori MILF kalau lagi nonton bokep. Cuma gue
nggak pernah nyangka bakal kejadian beneran di dunia nyata." Jawab Damar. Arlo
mengangguk-angguk paham.
"Sama aja sih. Apalagi kalau
liat Nyokap gue dandanannya mancing gitu. Cowok normal mana sih yang bisa
nahan?" Celetuk Arlo, Damar tertawa kecil, merasa divalidasi.
"Nah, itu dia. Tante Sabrina secara
body dan postur udah sempurna banget!" Damar berhenti sejenak, lalu
memberanikan diri bertanya balik.
"Terus, lo sendiri gimana? Apa
yang bikin lo nafsu sama Nyokap gue? Maksud gue, nyokap kan tertutup banget,
nggak seterbuka nyokap lo." Arlo menyandarkan punggung ke kursi plastik,
matanya menerawang nakal.
"Justru itu poinnya, Bro. Sori
ya kalau gue ngomong jorok soal Nyokap lo," kata Arlo, suaranya merendah.
"Tapi ada sensasi beda kalau liat MILF
yang luarnya alim, pake baju panjang, jilbab rapi, mukanya adem keibuan tapi
ternyata di balik semua itu, ternyata dia sangean." Arlo mencondongkan
tubuh, berbisik seperti setan.
"Apalagi setelah gue tau dan
liat sendiri bentuk asli badan Nyokap lo pas telanjang. Gila... Kenceng
banget."
Damar mengangguk pelan,
tenggorokannya tercekat. Dia tidak begitu tergila-gila pada ibunya, tapi dia
tidak munafik. Sebagai laki-laki, dia sering diam-diam melirik lekuk tubuh
ibunya saat sedang di rumah.
"Gue ngerti... Kayak kebalikan
gitu kan? Muka alim, tapi aslinya..." Damar tidak menyelesaikan
kalimatnya, tapi mereka berdua tahu kata selanjutnya adalah pelacur. Arlo
tersenyum, menangkap sinyal itu. Dia melempar umpan terakhir.
"Lo... pernah ngebayangin ngewe
sama Nyokap lo sendiri nggak?" Tanya Arlo tanpa basa-basi.
"Anjir lo! Ya nggak lah, gila...
Itu Ummi gue," sangkal Damar cepat.
Namun dalam kepalanya, potongan
adegan semalam berputar liar. Bayangan ibunya menungging pasrah menerima
sodokan kontol Arlo, desahan nikmat wanita itu, bercampur dengan sensasi
jepitan liang Sabrina di batangnya. Fantasi itu ada. Dan itu kuat. Arlo
mengangguk, seolah sudah menduga jawaban pebuh kemunafikan dari Damar.
"Hehehe, kali aja lo punya
pikiran kayak gitu Bro…" kata Arlo santai sambil memainkan sedotan di
gelasnya.
"Tapi jujur aja, pas gue liat
Nyokap gue digenjot sama cowoklain, termasuk sama lo semalam kadang gue jadi
mikir. Kenapa bukan gue aja yang muasin dia? Kenapa orang asing boleh nikmatin
tubuhnya, tapi anaknya sendiri nggak boleh? Gitu deh." Damar menatap Arlo
dengan tatapan horor bercampur takjub.
"Lo... Lo mau ngentot sama
Nyokap lo sendiri?" tanya Damar kaget.
Arlo hanya tersenyum misterius. Tidak
mengiyakan, tapi juga tidak membantah. Dia membiarkan ide gila itu merayap dan
berakar di otak Damar.
"Udah ah, cabut yuk. Gue anter
lo pulang," kata Arlo sambil berdiri dan melempar uang ke meja. Damar
mengikutinya dengan pikiran yang berkecamuk. Benih sudah ditanam.
PART 2
Kalila melangkah pelan menyusuri
lorong pakaian renang wanita. Tangannya sempat menyentuh beberapa deretan baju
renang muslimah yang tertutup rapat, pakaian yang seharusnya dikenakan oleh
seorang dosen berjilbab seperti dirinya. Namun matanya terus melirik ke rak di
seberang, rak yang memajang potongan-potongan kain kecil menantang. Jari-jarinya
beralih, menyentuh bahan licin dari sebuah bikini two-piece.
"Ah, nggak apa-apa kali ya? Kan
cuma dipakai di kolam renang rumah sendiri. Temboknya tinggi, nggak bakal ada
yang lihat,"
batinnya mencari pembenaran.
Padahal jauh di lubuk hatinya, ada
keinginan pamer yang baru tumbuh. Dia membayangkan bagaimana reaksi Arlo jika
melihat tubuh montoknya hanya dibalut benang-benang tipis ini. Tiba-tiba
sepasang lengan hangat melingkari pinggangnya dari belakang.
Kalila tersentak kecil, lalu rileks
saat mencium aroma parfum suaminya. Baskara menempelkan dagunya di bahu Kalila,
memamerkan kemesraan di depan umum yang jarang sekali mereka lakukan. Gairah
istrinya yang meningkat akhir-akhir ini rupanya menular padanya.
"Itu yang kamu mau, Sayang?
Wah... seksi banget," bisik Baskara tepat di telinga. Nadanya menggoda
saat melihat potongan kain minim di tangan istrinya. Kalila menoleh sedikit,
tersenyum manja sambil mengangguk.
"Boleh nggak?" Baskara
tersenyum nakal, matanya berbinar membayangkan tubuh istrinya dalam balutan
pakaian itu.
"Tentu saja boleh dong. Apa sih
yang nggak buat Istriku yang cantik ini? Mau warna apa?"
Tanpa ragu, tangan Kalila meraih
sebuah bikini berwarna hitam pekat. Modelnya sangat berani. Atasannya hanya
berupa cup segitiga kecil dengan tali leher yang akan menonjolkan belahan
payudara besarnya. Dan bawahannya hanya celana dalam segitiga kecil dengan tali
ikatan di samping pinggul. Jenis yang biasanya hanya dipakai model majalah
dewasa. Kalila membayangkan kontras warna hitam itu di atas kulit tubuhnya.
Arlo pasti akan gila melihatnya.
"Bagus kan?"
"Wow...Hitam ya? Pasti kelihatan
kontras banget sama kulit kamu yang putih," puji Baskara, tidak menyadari
bahwa Kalila membeli bikini untuk fantasi pria lain.
"Mas yang bayarin ya?"
tanya Kalila dengan nada manja, matanya berkedip genit. Baskara hanya tertawa
pelan, hatinya berbunga-bunga melihat sisi manja istrinya.
"Iya, Sayang. Sini." Dengan senang
hati, Baskara mengambil bikini dari tangan istrinya dan membawanya ke kasir.
***
Arlo menepikan mobilnya perlahan di
persimpangan jalan masuk kompleks.
"Gue drop sini ya, Bro. Gue ada
urusan bentar," kata Arlo setelah menghentikan laju mobilnya. Damar
melongok keluar jendela. Rumahnya masih berjarak beberapa blok lagi, beruntung
cuaca sedang cerah, melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki tak
memberatkannya.
"Sip, nggak masalah. Thanks
traktiran makan siangnya bro." ucap Damar sambil membuka pintu.
Arlo mengangguk, setelah pintu mobil
tertutup, Arlo melambaikan tangan sekilas sebelum mobilnya melaju pergi, menjauh
dari pandangan. Damar menarik napas panjang, menatap mobil itu menghilang di
belokan. Dia memutar tumit dan mulai berjalan santai menuju rumahnya.
Pikirannya masih melayang pada obrolannya bersama Arlo tadi saat makan.
Menyetubuhi ibu sendiri? Di luar batas, tapi semakin memikirkannya membuat
gejolak darah muda Damar makin penasaran.
"Damar! Damar!"
Suara perempuan dengan logat khas
memanggilnya. Damar menoleh. Di depan gerbang sebuah rumah minimalis, berdiri
wanita berwajah oriental yang tampak familiar.
Tante Mey.
Wanita tionghoa itu sedang mengambil
bungkusan makanan dari driver ojol. Mey tersenyum ke arah Damar sambil terus
melambaikan tangan. Si driver mengangguk sopan lalu pergi. Damar mendekat ke
pagar rumah Mey, hidungnya langsung menangkap aroma kentang goreng dan burger.
"Halo, Tante Mey," sapa
Damar. Mey tersenyum lebar, matanya menyipit cantik menatap pemuda itu.
"Kebetulan banget ketemu kamu.
Temenin Tante makan yuk? Tante pesen kebanyakan nih," ajak Mey dengan nada
yang sedikit terlalu antusias.
"Tadi Tante kira si Om bakal
pulang cepet, eh taunya dia baru bisa pulang malem. Mubazir kalau nggak
dimakan."
Damar menatap mata Mey. Ada kilatan
kesepian sekaligus "undangan" di sana. Damar yang nalurinya sudah
diasah oleh Arlo dan Sabrina, langsung paham. Ini bukan sekedar soal makan
bareng. Ini lebih dari itu. Damar menelan ludah. Perutnya sebenarnya sudah
penuh, tapi dia mulai paham pola di kompleks ini. Ajakan makan dari ibu-ibu
tetangga biasanya punya makna ganda.
"Boleh deh. Kebetulan perut saya
masih muat dikit," jawab Damar berbohong. Padahal dia cuma penasaran menu
apa lagi yang akan disajikan oleh Mey.
Damar mengikuti langkah Mey masuk ke
dalam rumah yang sejuk dan beraroma lavender. Mey meletakkan kantong kertas bungkus
makanan di atas meja makan marmer, lalu mulai mengeluarkan isinya.
"Kamu mau yang mana? Ada Cheeseburger,
Big Mac, McChicken? Kalau yang Happy Meal itu jatah anak Tante.
Dia baru pulang nanti sore, lagi main ke rumah temannya," jelas Mey sambil
memilah makanan.
"Saya McChicken aja,
Tan."
Mereka duduk berhadapan. Sambil
membuka bungkus burger, mata nakal Damar mulai bekerja. Dia tidak bisa menahan
diri untuk memindai tubuh salah satu tetangganya itu. Penampilan Mey hari ini
luar biasa menggoda. Rambut hitamnya yang biasanya dikepang rapi, hari ini
dibiarkan tergerai dengan potongan bob pendek sebahu yang membingkai wajah
putih tirusnya. Kelihatan lebih muda dan segar.
Tak seperti Kalila atau Sabrina yang
montok dan berisi, Mey memiliki tubuh tipe petite yang bugar.
Kecil-kecil cabai rawit. Tubuhnya mungil, ramping, tapi tetap memiliki lekukan
feminin berbahaya. Apalagi dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.
Damar bisa melihat jelas cetakan
garis bra merah marun di balik tanktop, serta bentuk payudaranya yang tidak
terlalu besar tapi bulat sempurna dan kencang. Di bawah, Mey mengenakan hotpants
super pendek. Potongannya lebih mirip celana dalam, memperlihatkan paha putih
mulus dan betis yang jenjang. Sambil mengunyah kentang goreng, Mey sengaja
mencondongkan tubuh ke depan. Gerakan itu membuat belahan dadanya yang putih
mulus terekpos vulgar tepat di depan mata Damar.
"Jadi..." Mey memulai,
suaranya tiba-tiba merendah. Tatapannya tajam menyelidik.
"Gimana rasanya sama Sabrina?
Enak nggak ngewe sama dia?"
Damar langsung tersedak. Matanya
melotot mendengar pertanyaan yang begitu frontal. Ternyata benar, geng ibu-ibu
ini memang tidak punya filter kalau soal seks. Damar buru-buru menenggak Cola
untuk mendorong makanan di tenggorokan, lalu mengangguk pelan.
"Ehm...enak, Tan. Itu pengalaman
pertamaku main sama wanita yang lebih tua sebenernya," jawab Damar jujur.
Suaranya sedikit bergetar, otaknya langsung traveling mengulang momen cabul
semalam bersama Sabrina.
"Lebih tua? Jahat banget sih
mulutmu," protes Mey dengan nada manja.
“Ma-Maaf Tant, maksudku nggak kayak
gitu, tapi….”
"Secara teknis sih iya, tapi
jangan panggil tua dong. Kesannya udah keriput banget. Kalo Sabrina aja kamu
sebut tua gimana dengan aku? Nenek-nenek?" Potong Mey sambil menatap Damar
dengan mata sipitnya yang nakal.
“Terus disebut apa dong Tant..?”
Tanya Damar kebingungan.
"Mungkin lebih cocok disebut...
Matang? Berpengalaman? Atau MILF?" ujar Mey sambil mengedipkan sebelah
mata membuat Damar makin salah tingkah.
"Ah begitu juga boleh. Tapi
menurut Damar, tante kelihatan muda banget. Masih kenceng, masih kayak anak
kuliahan." Mey tertawa , jelas senang dengan pujian itu. Mey menjilat
bibirnya sekilas, lalu matanya turun menatap selangkangan Damar yang menyembul
di balik celana.
"Pertanyaannya sekarang, menurutmu
Tante masuk kategori MILF yang pengen kamu tiduri nggak?" tanya Mey
blak-blakan, tanpa sensor.
Pertanyaan frontal itu langsung
direspon oleh tubuh Damar. Benjolan di celananya berdenyut keras, makin tegang.
Mey tersenyum puas melihat reaksi jujur itu. Meskipun anak Kalila ini sudah pernah
dipake oleh Sabrina, Damar masih punya sisi malu-malu yang menggemaskan.
“Ah, tunggu aja seminggu dua minggu
lagi, pasti udah jadi buaya darat kayak Arlo,” batin Mey geli.
Damar hanya bisa tersenyum kaku,
tangannya gemetar saat meraih gelas Cola untuk membasahi tenggorokan yang
kering. Namun belum sempat dia menelan minumannya dengan benar, Mey tiba-tiba
bangkit berdiri. Tanpa sedikit pun rasa malu, di tengah ruang makan yang terang
benderang, Mey menyelipkan jempol ke dalam hotpantnya. Dengan satu gerakan
mulus, dia memelorotkannya sampai ke pergelangan kaki.
Damar tersedak.
Tanktop putih ketat yang dipakai Mey
hanya sampai sebatas pinggang. Begitu hotpants turun, vagina Mey langsung
terpampang nyata di depan mata Damar. Mulus, licin tanpa bulu sehelai pun.
"Maaf ya, Tante lupa pesen McFlurry
buat pencuci mulut," bisik Mey
dengan suara serak.
Dia mengangkat satu kakinya yang
jenjang dan putih mulus, lalu dengan santai menaikkannya ke atas meja makan,
tepat di sebelah nampan burger Damar. Pose itu membuat selangkangannya terbuka
lebar, menyajikan pemandangan paling erotis sebagai menu penutup. Jari telunjuk
Mey bergerak turun, membelah bibir kemaluannya yang becek, lalu menggosok area
klitoris pelan-pelan seolah sedang memamerkan kebolehannya dalam bermasturbasi.
"Tapi kalau Damar masih laper, boleh
kok icip memek Tante," tawarnya menggoda.
"Masih anget, lho."
Napas Damar memburu kencang. Aroma
khas selangkangan wanita yang bercampur dengan bau gurih burger menciptakan
kombinasi yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Tanpa perlu disuruh dua
kali, tangan Damar menyambar paha dalam Mey. Dia menarik pinggul wanita itu
mendekat. Wajah Damar maju, bibirnya langsung menyambar permukaan vagina. Lidahnya
menjilat celah basah itu dengan rakus, membuat tubuh Mey perlhan menggeliat
kegelian.
***
Mobil yang dikendarai Baskara
meluncur masuk ke carport. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan sesaat
sebelum suara pintu mobil dibuka. Kalila melangkah keluar dari kursi penumpang.
Tangannya menjinjing paperbag berisi bikini yang baru saja dibelinya. Dosen
cantik itu berjalan ke belakang mobil untuk membuka bagasi, sementara suaminya
sibuk mengumpulkan barang belanjaan dapur dari kursi belakang.
Saat Kalila hendak menutup pintu
bagasi, matanya menangkap pergerakan dari seberang jalan melalui celah pagar rumahnya.
Itu Arlo. Pemuda itu baru saja keluar dari mobilnya, berdiri santai di depan
gerbang rumahnya. Mata mereka bertemu. Waktu seolah berhenti bagi Kalila.
Tatapan Arlo tajam, nakal, dan penuh kepemilikan. Seketika itu juga, wajah
Kalila memanas. Kilatan memori semalam langsung membanjiri otaknya. Liang vagina
Kalila berkedut reflex. Kakinya lemas seketika.
"Sayang, liatin apa sih kok
bengong?"
Suara Baskara membuyarkan lamunan
kotor itu. Suaminya sudah berdiri di samping dengan tangan penuh kantong
plastik, mencoba mengikuti arah pandang mata Kalila. Beruntung Arlo sudah masuk
ke dalam rumahnya, menghilangkan rasa penasaran Baskara atas apa yang baru saja
dilihat oleh istrinya.
"Eh...O-oh, nggak ada apa-apa
kok. Hehe," elak Kalila gugup, tangannya refleks membenahi hijab di atas
kepalanya.
"Tadi kayak liat kucing
lewat."
Kalila buru-buru mengangkat kantong
belanjaannya dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menyembunyikan
wajah yang merona. Begitu masuk, hawa dingin AC menyambut mereka. Suasana
mendadak hening dan sepi.
"Damar! Ummi pulang!"
panggil Kalila. Suaranya menggema di ruang tamu. Tidak ada jawaban. Baskara berjalan menuju rak sepatu di dekat pintu
masuk sambil menenteng belanjaan ke arah dapur.
"Lagi pergi main kayaknya si
Damar." kata Baskara santai.
Kalila mengerutkan kening. Dia
meletakkan tas belanjaannya di meja makan. Perasaan tidak enak mulai
menyelinap. Damar jarang keluar rumah tanpa pamit. Anak itu biasanya lebih suka
mendekam di kamar, bermain game.
"Hmmm…Tumeben Damar nggak pamit
kalo mau pergi keluar rumha?" gumam Kalila. Naluri keibuannya mendadak
mengambil alih.
Tanpa dia sadari, sementara dia
mencemaskan anaknya, Damar sedang sibuk menikmati hidangan penutup di antara
selangkangan Mey, hanya berjarak
beberapa rumah dari tempat Kalila saat ini.
***
"Ahh Damar! Enak banget jilatanmu...Terus..."
Mey mendesah penuh hasrat.
Tubuhnya kini terbaring pasrah di
atas meja makan. Kaki wanita tionghoa itu terbuka lebar, membiarkan wajah Damar
tenggelam di antara pahanya, melahap habis seluruh permukaan vaginanya. Tubuh
Mey melengkung seperti busur, merespons setiap sapuan lidah dan hisapan mulut
Damar yang rakus. Sesekali mulutnya ternganga lebar tanpa suara, matanya
terpejam erat menahan gelombang nikmat. Jari-jarinya menjambak rambut Damar,
menekan kepala pemuda itu vaginanya makin intens mendapat jilatan.
"Damar! Ahhh! Jangan berhenti!
Tante mau keluar!" jerit Mey histeris sebelum melepaskan orgasme
pertamanya hari itu tepat di wajah Damar.
Putera sulung Kalila itu tidak
mundur. Dengan rakus dia menelan dan menjilati cairan kewanitaan yang membanjir
deras. Dia menyukai rasanya yang khas. Mey mendesis panjang, napasnya memburu.
Tubuhnya masih bergetar akibat sisa klimaks saat Damar perlahan mengangkat
wajahnya. Mey membuka mata, menatap ke bawah. Dagu dan bibir Damar terlihat
basah kuyup, pemandangan yang sangat memuaskan egonya sebagai wanita dewasa.
"Ummph..." Mey mengangkat tubuhnya bangun hingga posisi
duduk, kakinya masih mengangkang di sisi tubuh Damar.
"Kamu jago banget! Suami Tante aja jarang
bisa bikin sampai gemetar kayak gini, apalagi kamu cuma pake lidah."
Damar menyeringai bangga, meski
napasnya juga ngos-ngosan, sejenak dia hendak mengusap bibirnya dengan punggung
tangan namun Mey buru-buru mencegahnya.
"Eits, jangan dilap.
Sayang..."
Mey menarik tengkuk pemuda itu
mendekat dan langsung melumat bibir Damar, menjilati dan menghisap sudut bibir
pemuda itu. Mey membersihkan cairan kewanitaannya sendiri tanpa rasa jijik
sedikitpun, bahkan terlihat sangat sensual. Lidah Mey yang bergerak liar terasa
lincah dan hangat. Damar membiarkannya terjadi, jari-jarinya mulai membelai
leher dan menyisir rambut bob pendek wanita itu, sementara tangannya yang lain
turun meremas payudara dari balik tanktop.
"Ummph...Sekarang gantian Tante
yang minta dessert…" bisik Mey di depan bibir Damar sambil
tersenyum nakal.
Dia mendorong tubuh Damar sedikit ke
belakang agar bersandar di tepi meja. Perlahan, Mey turun dari atas meja dan
berlutut di lantai. Tangannya cekatan membuka kancing celana jeans Damar,
menurunkan resleting, lalu memelorotkannya beserta celana dalam. Kontol keras,
tebal, dan berurat itu langsung membal menantang wajahnya. Tanpa jijik sedikit
pun, Mey menempelkan pipinya ke batang hangat itu, menggesekkannya manja.
"Oucchhh Tante…Geli…” ucap Damar
terbata-bata, napasnya tercekat melihat pemandangan di bawah tubuhnya.
Mey mendongak. Rambut pendeknya
bergoyang membingkai wajah. Dia menatap Damar dengan tatapan menggoda, matanya
menyipit cantik.
"Kamu udah pernah maen sama cewe
Cina?” Tanya Mey dengan tatapan menggoda. Damar menggeleng lemah.
“Jadi ini pertama kalinya ya…?”
“I-Iya Tante…”
Perlahan, Mey menjulurkan lidahnya,
mulai menjilati batang kontol Damar dari pangkal ke ujung, membuat jalur basah
yang berkilauan. Sesekali dia meniupnya pelan, memberikan sensasi hangat dalam
hembusan nafas. Tangan Mey menggenggam kontol Dmar dengan lembut sebelum
kemudian mulutnya terbuka lebar diikuti lidahnya menjulur keluar menyambut tamu
agung. Mata sipitnya Mey menatap lurus ke wajah Damar saat dia memasukkan
kepala kontol ke dalam mulutnya.
"Oucchhh Tante…Sshhhhh…"
Damar mendesah kenikmatan. Tangannya
secara insting mencengkeram kepala Mey, menuntun wanita itu saat mulai
menggerakkan kepalanya maju mundur. Damar terkejut dengan kemampuan blowjob Mey.
Mulutnya terlihat mungil, namun wanita itu mampu menelan hampir seluruh bagian
kontolnya dengan mudah tanpa tersedak.
Mey seolah ingin memperlihatkan
kepiawaiannya dalam melakukan oral seks. Setiap hisapannya terasa menyedot jiwa
Damar. Bahkan, Mey memaksa batang kontol pemuda itu masuk lebih dalam lagi,
nyaris menyentuh kerongkongan, membuatnya kesulitan bernafas.
"Oucchhh! Tante Mey gila! Jago
banget nyepong kontol!” puji Damar, matanya terpejam menahan nikmat yang
menyengat.
Mey tidak menjawab. Dia hanya
menyipitkan mata, tersenyum bangga di sela-sela hisapan. Tanpa peringatan,
tempo gerakan kepalanya berubah. Lebih cepat, dan lebih kasar. Suara kecipak
basah yang intens terdengar nyaring. Sesekali, Mey sengaja menggesekkan giginya
ke batang kontol, memberikan sensasi ngilu bercampur nikmat yang membuat
pinggul Damar tersentak kaget. Mey menyeringai melihat reaksi itu.
Tak lama, Mey melepaskan genggaman
tangannya di batang kontol Damar seperti memberikan ruang lebih. Dengan satu
tarikan napas panjang, Mey lalu menelan seluruh batang panjang itu sampai
mentok. Tenggorokannya menjepit kuat. Mey menahannya di dalam sana selama
beberapa detik, membiarkan kontol Damar merasakan hangatnya bagian terdalam mulutnya,
sebelum menariknya keluar perlahan.
Batang kontol Damar kini basah kuyup,
berkilauan oleh air liur kental. Mey menjilati jejak ludahnya yang menetes di
sepanjang urat batang itu dengan tatapan binal, seolah itu permen lolipop
paling enak sedunia.
"Ummph... Sekarang..."
Mey bangkit dari posisi berlutut.
Wajahnya dingin penuh birahi, bibirnya
basah nan sensual. Sekali lagi, dia melumat bibir Damar. Kali ini Damar lebih
berani dan tak lagi canggung, kedua tangannya meremas kuat bokong Mey dan
mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi. Mey merespons dengan melingkarkan
kedua kakinya erat di pinggang Damar. Tangan Mey lalu turun ke bawah,
menggenggam batang kontol yang sudah keras membatu dan siap meledak,
mengarahkannya tepat ke bibir vagina
"Masukin kontolmu sekarang…"
bisik Mey liar, napasnya panas menerpa telinga Damar.
"Fuck me. Masukin kontolmu.
Hajar Tante sekarang….."
PART 3
Kalila memindai keadaan di
sekelilingnya dengan waspada. Tembok beton yang mengelilingi halaman belakang
rumahnya memang menjulang tinggi, dirancang khusus untuk menjaga privasi dari
pandangan orang asing. Namun, jantung Kalila tetap berdegup kencang karena rasa
khawatir yang tak beralasan. Ia melangkah keluar perlahan melalui pintu geser
kaca di samping rumah.
Suaminya sudah mendengkur halus di
kamar, kelelahan setelah membereskan belanjaan di dapur tadi. Sebaliknya, Kalila
justru merasa segar dan bersemangat setelah mandi. Ia tak sabar ingin merasakan
kolam renang pribadinya untuk pertama kali, sekaligus mencoba bikini yang baru
saja ia beli.
Tangannya perlahan membuka simpul
tali jubah mandi yang membungkus tubuhnya dari luar. Sekali lagi, matanya
melirik paranoid ke sekeliling. Meskipun ia berada di dalam propertinya
sendiri, dosen cantik itu masih merasa cemas, atau mungkin excited. Ia
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Jubah putih itu melorot jatuh ke
lantai keramik pinggir kolam. Rambutnya yang yang biasanya terikat rapi, kini
dibiarkan tergerai bebas melewati bahu. Tubuh indah Kalila mulai menuruni anak
tangga kolam renang. Bikini hitam two-piece itu terlihat sangat kontras dan
mencolok di atas kulit putih mulusnya, potongannya yang tipis semakin
menonjolkan lekuk tubuh seksi sang dosen binal.
Bagian atas bikini seolah sedang
berjuang keras menahan bobot payudara besar Kalila. Tali pengikatnya tampak
sedikit terbenam di dalam daging punggung dan lehernya, menegaskan betapa
montok dan kencangnya tubuh wanita matang itu. Bagian bawahnya lebih nakal lagi,
celana dalam segitiga itu sangat kecil, hanya mampu menutupi separuh bagian
bokong Kalila, membiarkan daging pantatnya terekspos bebas di bagian belakang. Kalila
mendesah pelan saat kulitnya bertemu dengan air dingin kolam renang. Ia
menyelam perlahan, membiarkan air membelai dan menyelimuti seluruh lekuk
tubuhnya yang hampir telanjang.
***
Sementara itu di tempat lain, Mey
menarik tangan Damar dari meja makan menuju sofa. Ia mendorong tubuh pemuda itu
hingga terduduk nyaman dengan posisi setengah bersandar. Dengan gerakan yang
luwes, Mey menarik ujung bawah tanktopnya ke atas. Ia melepasnya dengan mudah
dan melemparkan ke sembarang arah, memperlihatkan payudaranya. Meski ukurannya
tidak sebesar milik Sabrina, bentuknya yang indah terasa sangat pas untuk
digenggam.
"Mmmhh...Tante paling suka
posisi ini buat permulaan..." bisik Mey dengan nada menggoda, matanya
menatap nakal wajah Damar yang tak kalah birahi.
Damar hanya bisa tersenyum, sementara
jantungnya berdegup kencang tak karuan. Perlahan, Mey naik ke pangkuan pemuda
itu. Dengan gerakan sensual nan menggoda bak penari striptis profesional, Mey
menggoyang tubuhnya di atas pangkuan Damar. Permukaan vaginannya yang licin
menggesek batang kontol Damar tanpa ampun. Dua tangannya memeluk leher pemuda
itu sambil sesekali mengecupinya.
"Mmmhh...udah siap ngewein memek
Tante?” tanya Mey tepat di telinga Damar.
Damar tak menjawab, lidahnya cukup
kelu merasakan gesekan masif di selangkangannya. Tangan Damar tak tinggal diam,
ia meremas lembut bokong Mey yang padat. Damar mengangguk mantap, napasnya
mulai memburu.
“Mau masukin sekarang…?” Tanya Mey
sekali lagi.
"I-Iya Tante…" Ujar Damar
sedikit tergagap.
Jemari Mey meraba ke bawah kemudian
mencengkram batang kontol Damar, memposisikan ujung tumpulnya tepat di bibir
vagina. Desahan kenikmatan lolos dari bibir Mey saat ia mulai menurunkan pinggulnya
ke bawah. Kontol Damar yang keras sempurna perlahan menyusup masuk, menyesaki
seluruh liang senggama. Pemuda itu terhenyak, menyadari betapa hangat dan
ketatnya vagina Mey menelan seluruh bagian kontolnya hingga pangkal.
"Ahhhhh….Shit! Panjang banget
kontolmu…" desah Mey, matanya terpejam menikmati sensasi sesak namun
nikmat di dalam vaginanya.
Damar pun ikut mendesah saat tubuh Mey
mulai bergerak naik turun di atas pangkuannya. Irama napas wanita itu semakin
berat, seiring dengan gerakannya yang kian cepat. Damar bisa merasakan betapa
kuat jepitan vagina Mey, sebuah sensasi yang membuatnya nyaris melupakan
pengalaman seksnya bersama Sabrina semalam.
"Ouucchhh! Terus Tante! Genjotin
terus kontolku! Ouucchhh!” desah Damar di sela-sela hisapan mlulutnya melumat
payudara sang betina binal.
Mey menekan dadanya lebih dalam ke
mulut Damar, sementara pinggulnya memacu ritme naik-turun makin cepat dan
beringas. Ia menghentakkan tubuhnya, merasakan kontol Damar menukik tajam ke
dalam liangnya.
"Ahh... Ahh...Fuck... Ya! Terus,
Damar! Ahh!" Tante Mey mendesah tak karuan.
Tangan Mey yang bebas bergerak ke depan, memeluk
leher Damar erat, jelas sekali ia sangat
menikmati persetubuhan dengan putera sulung Kalila itu. Tubuhnya terus
meliuk-liuk di atas pangkuan Damar, tak hanya naik turun menggenjot dari atas,
sesekali Mey juga memutar pinggulnya kiri kanan seperti seorang penyanyi
dangdut, membuat kontol Damar seolah sedang diperas dari dalam.
"Ummph!! Slrrpp!!" Damar
mendengus pelan, bibirnya tak henti bermain menghisapi kedua puting Mey secara
bergantian.
Tak mau hanya pasrah didominasi, Damar
mencengkeram bokong Mey. Dengan satu gerakan kuat, ia bangkit berdiri, sedikit
mengejutkan Mey karena Damar melakukan itu tanpa melepas batang kontolnya dari
dalam liang senggama. Kontolnya tetap tertancap dalam. Dengan sigap, Mey
melingkarkan kedua kakinya di pinggang Damar. Pemuda itu kemudian membawa tubuh
Mey arah dinding, menyandarkannya di sana.
"Ahhh... Mmhh... Suami Tante
nggak pernah kuat gendong begini... Ya... Damar, entot Tante sepuasmu...
Ahhh..." rintih Tante Mey.
Damar menyeringai puas sebelum
kembali melumat bibir wanita itu. Pinggulnya mulai bekerja. Ujung kemaluannya
menghantam liang vagina dengan tempo cepat dan keras, seolah ingin menjebol
pertahanan Mey tanpa ampun.
"Ahh Ahh Ahh!!"
Desahan Mey makin menjadi-jadi saat
lidah mereka bertautan. Damar memompa sekuat tenaga, seolah yakin tubuh mungil Mey
sanggup menerima setiap rojokan kontolnya yang bertenaga.
"Ughh! Tante!! Fuck...Jepitan memek
Tante kenceng banget!" desis Damar tepat di leher Mey.
Mendengar itu, Mey justru
mengencangkan otot kewanitaannya, menjepit kontol Damar lebih kuat. Hal itu
membuat Damar mengerang keras. Kontolnya berdenyut hebat, nyaris mendekati
puncak pelepasan. Tapi Damar menahannya, ia belum mau menyerah sekarang.
"Mmphh!! Anjing...Mmphh!!" Damar
mengerang kasar.
Tangannya meremas bokong Mey dari
bawah dengan brutal, menahan tubuh wanita itu agar tetap terpaku di dinding
sementara pinggulnya menghujam tanpa ampun. Suara adu kulit yang basah
terdengar nyaring. Tubuh Mey menggelinjang, tersentak-sentak setiap kali Damar
menyodokkan kontolnya dalam-dalam sampai mentok ke rahim.
Suara desahan dan lenguhan napas
memenuhi ruangan. Tangan Damar kini berkeliaran, meraba setiap inci lekuk tubuh
Mey, sementara batang kontolnya terus mengaduk-aduk lubang vagina yang semakin becek
dan banjir.
"Ahhh... Ahhh! Damar... Crotin
Tante!!"
Hingga beberapa saat kemudian
kuku-kuku Mey menancap kuat di bahu Damar saat dinding vaginanya mengejang
hebat. Tubuhnya gemetar menempel di dinding saat ia mendapatkan ledakan orgasme,
cairan kewanitaan membasahi batang kontol Damar yang masih tertanam di sana. Damar
sempat terhenyak karena berharap mereka berdua bisa merasakan puncak kenikmatan
secara bersama-sama.
Damar membiarkan Mey menikmati sisa
getaran orgasmenya sebelum perlahan menurunkan tubuh wanita itu. Tanpa perlu
disuruh, Mey langsung jatuh berlutut di hadapan selangkangan Damar. Wanita itu
mendongak, menyeringai binal. Tangannya melingkar di pinggang Damar, lalu
mulutnya terbuka lebar. Hanya menggunakan lidah dan bibirnya saja, ia melahap
kepala kontol yang masih tegang. Ia mengocoknya dengan mulut, menjilati sisa
cairan kewanitaannya sendiri dengan rakus. Tatapan matanya liar, penuh nafsu.
"Arghhh...Tante...Gila...Lidahnya...Ahh!"
Damar mendesis, matanya terpejam.
Ia tahu ia takkan bertahan lama.
Sedotan mulut Mey terlalu nikmat. Namun, Damar berusaha menahan diri sekuat
tenaga, agar permainan cabul ini bertahan sedikit lebih lama lagi. Tapi apa
daya, blowjob Mey harus diakui membuat birahinya meledak tanpa bisa ditahan
lagi. Damar merasakan ujung kontolnya mulai berkedut-kedut di bawah sana.
"Ahhh...Tante! Aku keluar!! Buka
mulutnya!!" teriak Damar, pinggulnya menyentak ke depan.
Tante Mey menerima semburan sperma
yang pertama tepat di dalam mulutnya, wanita keturunan tionghoa itu menelannya
tanpa rasa jijik sedikitpun. Namun detik berikutnya, ia sengaja menarik
wajahnya mundur, membiarkan tembakan sperma Damar berikutnya menyasar wajahnya.
Cairan putih kental itu membasahi pipi, hidung, hingga menempel di bulu mata Mey.
Keduanya terengah-engah, napas memburu. Damar menatap Mey yang wajahnya kini belepotan
cairan sperma, wanita itu tersenyum puas.
"Mmmhh..."
Mey mendesis. Jarinya menyapu lelehan
sperma kental di pipinya, lalu memasukkan jari itu ke mulutnya sendiri,
menjilat dan menghisapnya sampai bersih.
"Padahal semalem Sabrina pasti
udah nguras pejumu sampai habis, tapi kamu masih bisa muncrat sebanyak ini, ya?
Tante salut..." goda Mey dengan suara serak.
Damar menatapnya tak percaya, lalu
seringai bangga muncul di wajahnya. Gila. Dalam seminggu saja, dia sudah
menaklukkan dua tante girang sekaligus dengan kontolnya!
***
Langkah Damar terhenti tepat di
gerbang depan rumahnya saat ponsel di sakunya bergetar. Ada pesan masuk dari Arlo.
Alis Damar terangkat, seringai nakal langsung muncul di wajahnya saat melihat
lampiran foto yang dikirim sobat barunya itu. Damar geleng-geleng kepala. Di
layar ponselnya, terpampang jelas foto-foto Sabrina sedang melakukan yoga. Arlo
memang bajingan, dia sengaja memilih angle yang menonjolkan aset ibunya, pantat
bulat yang menungging ke arah kamera dan belahan payudara yang tumpah dari
sport bra.
“Nyokap bilang kalau lu lagi gabut,
dia ngajakin yoga bareng tuh” Damar terkekeh,
jarinya dengan cepat mengetik balasan.
“Bilang sama Tante Sabrina sori nggak
dulu coz Tante Mey barusan abis nguras peju gue sampe kering... Huhu.” Baru saja Damar hendak membuka
gerbang, balasan Arlo sudah masuk.
“Anjay, gercep juga lu. Haha. Oke.”
Damar menyeringai puas, lalu
melangkah masuk ke halaman rumahnya. Telinganya menangkap suara kecipak air
yang cukup keras. Penasaran, ia berjalan mengendap-endap menuju tepi kolam
renang. Matanya langsung melotot. Di sana, ibunya sedang berenang santai. Bukan
dengan baju renang muslimah yang tertutup, melainkan hanya mengenakan bikini
two-piece yang sangat seksi! Potongan kain yang minim itu nyaris tidak bisa
menutupi tubuh montok sang ibu yang biasa tertutup gamis lebar. Seperti Menyadari
kehadiran seseorang, Kalila melongokkan kepala dari dalam air, dadanya sedikit
lega karena orang itu adalah puteranya sendiri.
"Eh, Damar. Dari mana? Udah
makan?" Damar mengangguk kaku, matanya tak bisa lepas dari tubuh ibunya
yang basah kuyup.
"Udah kok, tadi makan sama Arlo…"
Kalila mengangguk pelan, lalu
beranjak naik dari kolam renang. Pemandangan itu membuat tenggorokan Damar
kering kerontang. Air menetes deras dari tubuh Kalila, membuat bikini nampak semakin
melekat, mencetak jelas bentuk payudara dan lekuk vagina yang menggoda. Damar
menelan ludahnya sendiri berkali-kali, rasa hausnya mendadak naik ke ubun-ubun.
Sambil memeras rambutnya, Kalila melirik jam dinding di dalam rumah lewat kaca.
"Kamu nggak pengen nyobain
berenang? Seger banget loh.” Damar menggeleng pelan, berusaha menguasai dirinya
sendiri.
"Nanti aja kapan-kapan Ummi.
Ehmm…Emang nggak apa-apa Ummi pake bikini kayak gitu? Ntar kalo Arlo tiba-tiba
ke sini trus liat Ummi kayak gini gimana?” Kalila tertawa kecil mendengar
pertanyaan polos dari Damar.
"Ya nggak apa-apa dong, anggap
aja sedekah dari Ummi kan?” Suasana
mendadak menjadi canggung sekaligus panas.
"Aku masuk dulu deh..." Damar
buru-buru masuk masuk ke dalam rumah.
Namun, alih-alih naik ke kamarnya,
langkahnya berbelok mengendap-endap menuju pintu geser kaca yang tertutup tirai
tipis. Dia mendekatkan wajahnya, mengintip celah tirai. Di luar sana, ibunya
sedang mengeringkan badan dengan handuk. Posenya sedikit membungkuk, membuat
belahan pantat dan payudaranya terlihat makin menantang. Meskipun baru saja spermanya
dikuras habis oleh Mey, Damar merasakan kontolnya berdenyut keras lagi. Tanpa
pikir panjang, ia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera pada tubuh Kalila.
Beruntung jaraknya cukup dekat hingg
membuat Damar berhasil mendapatkan beberapa foto tubuh ibunya yang nyaris
telanjang dalam balutan bikini basah. Puas dengan hasil jepretannya, Damar
perlahan mundur dan naik ke kamarnya. Dia merebahkan diri di kasur, menyortir
foto-foto tadi. Ia menghapus yang buram, dan memilih satu foto yang paling
vulgar. Ia mengirimnya pada Arlo.
Nih, karena lu udah kirim foto nyokap
lu tadi. Barter, Bro.
Damar tersenyum nakal melihat status
typing Arlo yang panik. Ia kembali membuka galeri, memandangi foto pantat bulat
Sabrina, lalu beralih ke foto ibunya
sendiri. Kalau menuruti nafsu setannya, dia bisa saja langsung lari ke rumah
depan untuk menyetubuhi Sabrina. Tapi selangkangannya terasa ngilu, ia butuh
istirahat sejenak untuk mengisi ulang tenaganya. Tak lama pesan balasan dari Arlo
masuk.
Anjing... Haha... Mantab, Bro!
Damar menyeringai membaca balasan
pesan dari Arlo. Jempolnya kembali mengusap layar, menggulir percakapan ke
atas. Namun, tatapannya terhenti lama pada foto yang baru saja ia kirim, foto
ibunya sendiri. Otaknya mendadak konslet. Ia masih tidak habis pikir dengan
perubahan sikap dan tetntu saja penampilan sang Ibu. Sosok dosen alim yang
selalu menutup aurat dengan pakaian tertutup lengkap dengan hijab syar’I, kini
malah mengenakan bikini seksi yang nyaris tak bisa menutupi tubuh semok nan
menggoda milik Kalila.
Tapi bukan itu saja yang membuat
pikiran Damar bergerak liar saat ini. Respon Kalila tadi ketika membahas soal
Arlo memantik rasa penasaran mendalam pada diri Damar. Apakah ibunya sudah
benar-benar binal sekarang?
Tanpa sadar, tangan Damar merayap
turun ke bawah. Ia mulai mengelus gundukan di balik celananya yang kembali
menegang gara-gara menatap belahan dada ibunya di layar ponsel. Imajinasi liar
mulai merasuki kepalanya. Namun, baru saja ia hendak menikmati sensasi itu,
akal sehatnya seakan menamparnya keras.
“Woy, gila! Itu nyokap lu sendiri,
bangsat!”
Damar tersentak kaget. Ia buru-buru
menarik tangannya menjauh seolah tersengat listrik, lalu melempar ponselnya ke
sisi kasur. Jantungnya berdegup kencang, terjebak antara rasa bersalah dan
nafsu birahi yang makin menggila.

Posting Komentar
0 Komentar