BELENGGU BIRAHI - SEASON 1
PART 1
"Mas... Apa ini?" tanya Kalila
terbata-bata. Mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya.
Suaminya, Baskara, tersenyum, lalu
mendekat perlahan dari belakang dan memeluk tubuh Kalila dengan hangat. Sebuah
kecupan lembut mendarat di bahu dosen cantik itu.
"Ini rumah baru kita, Sayang. Aku
sudah membelinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita." bisik Baskara
dengan nada mesra.
Kalila masih ternganga. Matanya tak
berkedip menatap rumah mewah dua lantai di hadapannya. Rumah itu begitu indah,
lengkap dengan kolam renang di sisi samping, sebuah gazebo mungil, dan taman
yang ditata dengan desain unik nan cantik.
Pikiran Kalila melayang ke masa lalu.
Dulu, ia sering menggoda suaminya setiap kali mereka melewati kawasan perumahan
elit. Meski hanya bercanda, seperti layaknya wanita pada umumnya yang bermimpi
punya istana sendiri, ia sering berkata,
"Mas rumah itu bagus banget ya?
Mas tamannya cantik deh. Mas pasti asyik ya kalau kita punya kolam renang
sendiri..." Lamunan Kalila buyar saat suaminya kembali berbicara.
"Aku baru dapet bonus gede dari
proyek di kantor. Alhamdulillah hasilnya bisa ngasih kamu hadiah kayak gini. Yuk,
kita masuk.” Baskara terkekeh pelan.
Kalila melangkah mengikuti suaminya, masih setengah sadar seolah sedang bermimpi. Sejak menikah, mereka hanya tinggal di rumah sederhana satu lantai di pinggiran kota. Dengan dua anak yang semakin besar, mereka memang sempat terpikir untuk pindah, tapi belum pernah benar-benar serius merencanakannya. Sampai hari ini. Begitu pintu terbuka, Kalila disambut ruang tamu yang luas dan sudah dilengkapi perabotan mewah. Pemandangan ini persis seperti set rumah orang kaya yang sering ia lihat di sinetron.
"Aku nggak tahu harus bilang
apa, Mas..." ucap Kalila dengan suara bergetar, sebelum air mata haru
mulai menetes di pipinya.
"Hehe...Bagaimana kalo terima
kasih?” goda Baskara sambil mengedipkan sebelah mata. Kalila tersenyum lebar,
lalu berbalik dan memeluk leher suaminya erat-erat.
"Terima kasih banyak,
Mas..."
***
"Gimana rumah barunya Umi?
Suka?” seru
putrinya, Safiya, lewat sambungan telepon.
Sudah jadi kebiasaan sejak dulu saat pagi hari
Safiya selalu menelepon dari asrama untuk sekadar menyapa. Sejak masuk SMA,
putri bungsunya itu memang tak lagi tinggal bersama karena harus menempuh
pendidikan di pondok pesantren Darussalam, sebuah ponpes modern yang mewajibkan
peserta didiknya untuk menetap di asrama. Safiya biasanya baru bisa pulang ke
rumah sebulan sekali.
"Alhamdulillah lebih nyaman di
sini sayang.” ujar Kalila sambil mengaduk adonan pisang goreng dengan satu
tangan. Ia sedang menyiapkan camilan sore kesukaan suaminya.
"Ah jadi nggak sabar pengen
cepet-cepet pulang, biar bisa menikmati kemewahan kayak Umi. Hehehehe.” Ujar Safiya dengan tawa kecil.
"Hus, nggak boleh ngomong gitu.
Safiya nggak boleh sombong ya, ini semua karena rejeki dari Allah, lewat kerja
keras Abimu."
"Hehehe, bercanda Umi. Ya udah, Safiya
pamit dulu. Mau lanjut kegiatan di asrama. Oh ya, bilangin Abi dong, uang jajan
Safiya udah menipis, hehe. Dah Umi! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Baru saja Kalila meletakkan ponselnya
di meja dapur, terdengar suara seorang wanita mengucapkan salam dari arah depan
rumah. Kalila buru-buru mencuci tangannya yang terkena tepung, mengelapnya
sebentar, lalu berjalan ke depan. Ia tahu suaminya masih mandi di lantai atas.
"Iya, tunggu sebentar!"
sahut Kalila sambil menekan tombol pembuka gerbang otomatis di dinding dekat
pintu.
Di balik gerbang, berdiri dua orang
wanita yang tampak sedang menunggu. Satu mengenakan hijab, sementara yang
satunya berawajah oriental dan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Keduanya
memakai setelan baju olahraga yang menurut pandangan Kalilla terlihat agak
terlalu ketat dan membentuk tubuh. Namun, Kalila hanya menyimpan komentar itu
dalam hati mencoba tetap tersenyum ramah. Kedua wanita itu usianya tak jauh
berbeda dengan Kalila sekitar 40 tahunan.
"Halo, Mbak. Kenalin, saya Sabrina,
dan ini Mey. Mbak baru pindah ke sini, kan?" tanya wanita berhijab itu
membuka percakapan.
"Oh, iya benar, Mbak. Kami baru
pindah minggu lalu. Saya Kalila." jawab Kalila memperkenalkan diri sambil
menyalami mereka bergantian.
"Oh, pantes. Kami memang sempat
lihat truk barang keluar-masuk seminggu ini, tapi kok nggak kelihatan
orangnya... Hehe," kata Sabrina ramah.
"Rumahku persis di depan situ. Kalau
Mey rumahnya di ujung jalan. Kami sengaja mampir sebentar buat kenalan sama
tetangga baru. Biar akrab." Mey mengangguk setuju di sebelahnya.
"Iya, Mbak. Biasanya kan orang
bilang kalau di komplek perumahan elit kayak gini warganya individualis, nggak
kenal tetangga. Tapi kami nggak begitu, kok. Yah, walaupun nggak semua warga
mau gabung, seenggaknya kami berusaha untuk akrab." tambah Mey.
"Wah, senangnya. Soalnya di
tempat tinggalku yang lama, kekeluargaannya erat banget. Senang deh kalau di
sini juga begitu," jawab Kalila antusias.
"Eh, ayo masuk dulu? Kebetulan aku lagi
goreng pisang, nih."
"Waduh, makasih lho tawarannya,
Mbak Kalila. Tapi kami mau jogging. Nanti kekenyangan malah nggak jadi
lari," tolak Sabrina halus sambil tersenyum.
"Gimana kalau Mbak Kalila gabung
sama kami? Besok atau lusa mungkin?" Mey mengangguk antusias.
"Hmm... Boleh juga tuh. Besok
ya? Kira-kira jam berapa?" tanya Kalila.
“Nggak tentu sih Mbak, biasanya
setelah adzan Ashar.”
“Ah boleh deh.”
"Oke, sip! Kami tunggu ya besok.
Duluan ya, Mbak Kalila! Dah!"
Mereka melambaikan tangan sebelum
berbalik arah. Kalila memandangi mereka yang mulai mempercepat langkah, lalu
berlari kecil menjauh menyusuri jalanan komplek yang asri. Kalila tersenyum
sendiri. Sudah lama sekali rasanya ia tidak olahraga.
"Siapa mereka?" tanya Baskara
yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, rambutnya masih basah setelah mandi.
"Itu Sabrina sama Mey, tetangga
kita." jawab Kalila pelan sambil menutup gerbang.
"Oh... Itu kan istrinya Pak Fuad
sama Pak Hendro. Suami mereka itu komisaris besar di perusahaan-perusahaan
bonafide, lho," komentar Baskara santai.
"Eh? Waduh, Aku jadi minder nih.
Aku kan bukan ibu-ibu sosialita kayak mereka."
"Ngapain minder? Kamu kan punya
gelar banyak, dosen lagi. Rendah hati boleh, tapi kalo rendah diri jangan, yang
penting selalu bersikap baik sama orang lain, khususnya sama tetangga.” Ujar
Baskara memberi nasehat.
Kalila menghela napas lega. Ia
bersyukur suaminya punya prinsip seperti itu. Di lingkaran orang kaya, terlalu
banyak gosip dan intrik yang menyertai sebuah jabatan mentereng, dan Kalila
lebih suka hidup tenang.
"Iya deh, Mas. Yaudah, besok aku
mau ikut mereka jogging," kata Kalila sambil beranjak kembali ke dapur.
"Wah... Mas boleh ikutan
nggak?" goda Baskara dengan nada jahil.
Kalila sontak berhenti dan memberikan
tatapan tajam setajam silet ke arah suaminya. Melihat kilatan mata istrinya,
sang suami buru-buru memalingkan wajah ke arah TV, berpura-pura sibuk mencari
remote dan berakting seolah pertanyaan itu tidak pernah keluar dari mulutnya.
***
Kalila menarik napas dalam-dalam
sebelum tangannya meraih batang pohon di pinggir jalan sebagai tumpuan.
Istirahat sejenak. Sabrina dan Mey tersenyum padanya, meski mereka sendiri
tampak berkeringat deras dengan napas memburu.
"Hmmm…Inilah akibatnya kalau
sudah terlalu lama nggak olahraga. Baru lari sebentar saja sudah mau
pingsan," gumam Kalila pada dirinya sendiri sambil mencoba mengatur napas.
Ia kemudian memilih duduk di bangku taman
terdekat. Sabrina dan Mey ikut menyeka keringat di kening mereka sebelum duduk
di sisi kanan dan kiri Kalila.
"Aku nggak tahu kalau Mbak
Kalila ternyata pakai jilbab syar'i. Kemarin pas kita kenalan, aku lihat Mbak cuma
pakai kerudung biasa," komentar Sabrina.
Hari ini Sabrina mengenakan jilbab olahraga
yang sangat rapi dan pas di leher, menonjolkan bentuk dadanya di balik kaos
merah ketat berlengan panjang. Sementara itu, Mey tetap menguncir rambutnya
dengan gaya ekor kuda. Kalila mengangguk ramah.
"Dari dulu aku sudah nyaman
berpenampilan kayak gini. Apalagi kan kita lagi di luar rumah, harus jaga
aurat.” jelas Kalila.
Kalila mengenakan jilbab panjang hingga
menutupi dada, dipadukan dengan kaos longgar lengan panjang dan celana training
yang juga tak kalah longgar. Kontras sekali dengan Sabrina dan Mey dimana
keduanya mengenakan celana yoga sangat ketat.
“Ngomong-ngomong kesibukan kalian apa
tiap harinya?” Tanya Kalila.
"Aku punya butik di tengah kota.
Sekadar buat mengisi waktu luang saja sih, biar ada kegiatan. Tapi ya lumayan,
uangnya bisa buat beli apa pun yang aku mau tanpa harus minta suami," kata
Sabrina sedikit pamer.
"Nah, kalau Mey ini dulunya
dokter gigi. Sekarang dia punya klinik sendiri, udah jadi bos dokter-dokter
lain.” Mey mengangguk setuju dengan senyum tipis.
"Wah... luar biasa ya
kalian," puji Kalila tulus.
"Eh tunggu, ngomong-ngomong
berapa umur kalian berdua?" tanya Kalila penasaran.
"Aku 38, kalo Sabrina udah 40
kan?" jawab Mey santai sambil menunjuk Sabrina.
Kalila hampir saja tersedak karena
terkejut. Ia memperhatikan wajah dan tubuh Sabrina sekali lagi. Sabrina
benar-benar terlihat jauh lebih muda dari usianya, tubuhnya terawat, kencang,
dan seksi, ditambah kulitnya yang cerah dengan wajah yang tampak baby face.
"Hehe... Biasa saja kali Mbak.
Nanti mulutnya kemasukan lalat lho kalau melongo terus," goda Sabrina.
"Kalau Mbak Kalila umur berapa?"
"Mm... aku... 42 tahun,"
jawab Kalila agak malu-malu.
"Aduh, jangan minder gitu dong! Jadi wanita di usia matang kayak kita ini justru lagi bagus-bagusnya. Dan kalau kulihat, badan Mbak Kalila sebenarnya masih oke banget lho, tinggal dipoles dikit bisa jadi MILF seksi. Hehehehehe." Sabrina menggoda sambil mengerling nakal.
"MILF? Apa itu?" tanya Kalila
polos karena sedikit bingung dengan istilah asing itu. Sabrina dan Mey saling
berpandangan.
"Eh, ah... itu...bukan apa-apa kok! Cuma
istilah gaul anak zaman sekarang aja. Hehe..." jawab Sabrina gugup.
"Hmm... gimana kalau kita lanjut
lari lagi?" usul Mey, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum Kalila
bertanya lebih jauh. Mereka semua mengangguk, lalu bangkit berdiri dan mulai
berlari kecil kembali.
***
Sore itu, suasana di komplek
perumahan terasa cukup tenang. Taman bermain mulai ramai dengan tawa anak-anak,
sementara para orang tua berkumpul untuk mengobrol santai sambil tetap
mengawasi buah hati mereka yang sedang asyik bermain. Kalila meneguk air
mineralnya perlahan, lalu menyeka butiran keringat yang menetes di dahi.
"Ah...Kadang-kadang kalau lihat
pemandangan begini, aku jadi kangen punya anak lagi. Tapi kalau ingat repotnya
menghadapi mereka pas lagi tantrum, mending nggak dulu deh, hehe,"
komentar Sabrina, Kalila tersenyum.
"Kalian udah punya anak berapa?”
Tanya Kalila kemudian.
“Anakku baru satu Mbak, usianya juga
baru sepuluh tahun.” Jawab Mey sembari meneguk air mineral dari botolnya.
“Oh gitu, kalo kamu Sab? Berapa anakmu?” Tanya Kalila lagi, kali ini tatapan matanya mengarah pada Sabrina.
"Aku punya tiga anak, laki-laki
semua. Yang paling tua lagi kuliah di Malaysia. Yang kedua di rumah, baru masuk
kuliah tahun ini. Nah, yang bungsu sekolah di SMA Taruna Nusantara," jawab
Sabrina bangga.
"Wah, Taruna Nusantara? Luar
biasa..." sahut Kalila kagum, mengingat sekolah itu begitu terkenal karena
prestasi para siswanya.
“Kamu sendiri gimana Kal?” Sabrina
balik bertanya.
“Anakku dua, yang pertama cowok,
sekarang dia lagi kuliah semester 2 di Surabaya. Sedangkan yang bungsu aku
masukin ke pesantren Al-Husna, baru kelas 2 SMA.”
"Oh ya? Wah hebat bisa masuk ke
Al-Husna, aku denger seleksinya ketat ya di sana? Pasti anakmu pinter-pinter.”
Ujar Sabrina.
“Alhamdulillah…” Balas Kalila sambil
tersenyum.
Ketiganya terdiam sejenak, memandangi
tingkah lucu anak-anak di taman sambil mengatur napas. Namun, tak lama kemudian
Kalila menyadari ada yang aneh. Sabrina dan Mey tampak saling melempar
pandangan penuh arti, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi mereka
ragu.
"Kenapa...? Ada apa?" tanya
Kalila bingung melihat tingkah kedua temannya.
"Emm... Nggak ada apa-apa, kok.
Cuma, sebenarnya aku ingin tanya," Sabrina berdehem sebentar.
"Besok siang ada acara arisan di
rumah Marissa, itu loh yang rumahnya di deket pintu masuk komplek. Nggak banyak
orang kok, paling cuma sekitar enam orang. Kamu mau datang?" Kalila
menatap Mey dan Sabrina bergantian.
"Boleh, tapi aku ijin suamiku
dulu ya? Nanti aku kabari lewat WA."
"Oke, sip!" jawab Sabrina
bersemangat.
***
Jika rumah Kalila terasa seperti
lokasi syuting sinetron prime time, maka kediaman Marissa berada di level
berbeda. Rumah itu sangat megah. Setiap sudut dipenuhi perabotan antik berkilau
memantulkan cahaya. Saking mewahnya, Kalila sempat curiga semua benda di ruang
tamu ini hanya pajangan museum tak boleh disentuh.
"Oh jadi kamu dosen di
Universitas Tribuana?” Tanya Marissa pada Kalila.
“Betul Bu, Insyaallah, minggu depan
sudah mulai aktif di sana."
“Wah jadi kita kalo manggil kamu
harus pake sebutan Bu Dosen dong?” Seloroh Marissa, Kalila tersenyum sopan.
“Ah nggak perlu seperti itu, Kalila
saja.”
“Tapi kalo kamu jadi dosen di
Tribuana, itu artinya kamu satu kampus dengan Niken. Dia kan jdai dosen di
sana. Iya kan?” Marissa melirik ke arah Niken, wanita cantik itu langsung
mengangguk setuju.
“Nanti aku ajak keliling kampus,
ngliatin brondong-brondong ganteng. Hihihihihi.” Celetuk Niken yang langsung
disambut tawa wanita-wanita lain.
Siang itu, total ada enam wanita yang
berkumpul di rumah Marissa. Mereka
adalah, Kalila, Sabrina, Mey, Niken, Zahra, dan tentu saja sang tuan rumah,
Marissa. Suasana mencair lewat obrolan ringan. Mereka saling bertukar cerita
untuk lebih mengenal satu sama lain. Sesekali fokus pembicaraan mengarah ke
Kalila, lantas berganti membahas kehidupan para nyonya sosialita
Sudah jadi kebiasaan mereka untuk
berkumpul di akhir pekan seperti ini mengingat para suami sedang tidak berada
di rumah. Sebagai salah satu satu bagian dari anggota komunitas perumahan elit
para pejabat itu ada yang pergi main golf, perjalanan bisnis, atau kesibukan
lainnya.
"By the way, gimana kabar
mahasiswa yang minggu lalu kamu pamerin Ken? Udah bisa kamu dapetin?” tanya
Marissa pada Niken.
Kalila hanya menyimak tanpa menaruh
curiga sedikit pun. Niken, yang tampil memukau dalam balutan hijab modis dan
dress panjang yang memeluk ketat tubuhnya, menonjolkan siluet seksi namun tetap
terlihat mewah, hanya tersenyum sopan kepada teman-temannya, lalu mengangguk
pelan.
"Jelas udah dong, dan luar biasa
enak. Nggak cuma ganteng, tapi dia juga hebat banget mainnya. Pantes aja dia
jadi salah satu playboy di kampus.” ujar Niken dengan nada santai namun
penuh kemenangan. Alis Kalila sedikit terangkat. Ia mendengar kalimat tersebut,
namun otaknya belum sepenuhnya memproses makna di baliknya.
"Kapan-kapan bawa mahasiswamu
itu ke sini dong. Kenalin pada kami." sahut Zahra. Wanita keturunan India
itu menyibakkan rambut sebahu. Rantai emas sederhana melingkar di lehernya,
berkilau memancarkan aura kemewahan tak terbantahkan.
"Kita lihat saja nanti,"
jawab Niken penuh teka-teki.
"Halah, bilang saja kamu masih
mau menikmatinya sendirian," goda Sabrina.
Seketika, seluruh wanita di ruangan
itu tertawa renyah, kecuali tentu saja Kalila. Keningnya berkerut, merasa ada
sesuatu yang janggal dari maksud obrolan barusan.
"Bagaimana denganmu, Sab? Ada
kemajuan?" tanya Marissa mengalihkan topik, bibir Sabrina menyunggingkan
senyum nakal sebelum mengangguk.
"Yah lumayan, setidaknya minggu
lalu aku udah ngasih serviz blowjob ke dia. Gila, barangnya gede banget!
Mulutku sampek sesek! Nggak bayangin deh gimana kalo masuk ke bawah…” Sabrina
bercerita frontal tanpa malu-malu.
Tawa nakal kembali pecah, lebih keras
dari sebelumnya. Detik itu juga, kepingan percakapan tadi tersusun rapi di
kepala Kalila. Ia mulai mengerti arah pembicaraan mereka. Melihat perubahan
ekspresi Kalila, Marissa tersenyum geli.
"Bu Dosen? Kenapa jadi pucat
begitu?"
"Maaf... tapi apa sebenarnya
yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kalila terbata-bata. Kelima sosialita
itu saling bertukar pandang penuh arti. Marissa bangkit, berjalan mendekat,
lantas duduk tepat di samping Kalila.
"Bu Dosen, tolong jangan
menghakimi kami," bisik Marissa lembut, namun tatapannya tajam.
"Kami ini istri-istri pejabat.
Ada yang sudah berumur, ada juga yang masih muda seperti suami Mey. Kebanyakan
dari mereka sudah tidak menginginkan kami lagi. Entah karena terlalu sibuk,
atau karena 'senjata' mereka memang sudah nggak seenak dulu lagi." Marissa
mendekatkan wajahnya sedikit.
"Jadi, sebagai wanita yang masih punya
kebutuhan seks, kami mencari cara lain untuk memuaskan birahi kami." Mata
Kalila membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Asal kamu tahu aja, anak-anak
muda zaman sekarang seleranya beda. Mereka justru tergila-gila pada wanita
matang seperti kita," celoteh Sabrina penuh semangat.
"Istilah kerennya MILF. Jadi,
begitu lihat ada brondong yang tertarik, langsung saja kita sikat." Kalimat
itu disambut tawa genit teman-temannya.
"Kalau Bu Dosen bagaimana? Apa
pernah 'jajan' di luar?" tanya Mey santai, seolah sedang menanyakan menu
makan siang. Kalila menggigit bibir bawah, wajahnya pias. Ia buru-buru
menggeleng.
"Nggak. Saya hanya melayani
suami saja." Marissa tersenyum mendengar jawaban polos itu. Ia meraih
tangan Kalila, lantas menepuknya pelan.
"Kami dulu juga sepertimu, Bu
Dosen. Setia dan penurut. Tapi setelah sekali saja mencicipi 'daging muda',
rasanya beda."
Kalila hanya tersenyum tipis, tidak
berani menjawab. Baginya, gaya hidup para istri pejabat ini benar-benar di luar
nalar. Namun, ia memilih diam. Ia tidak ingin menghakimi mereka, apalagi ini
pertemuan pertamanya. Suasana hening sejenak.
"Eh ya, kalo kamu gimana?
Brondong yang kemarin jadi ngajak staycation?” tanya Zahra pada Sabrina sambil menyesap jus apel segar.
"Aku?"
Belum sempat Marissa menjawab, bel
pintu berbunyi. Senyum lebar langsung merekah di wajah tuan rumah. Marissa
langsung bangkit antusias untuk membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri seorang
pemuda berusia dua puluhan. Penampilannya sangat kasual, hanya mengenakan
jersey dan celana jins.
"Wah beneran dteng ya kamu. Ayo
masuk jangan malu-malu," ajak Marissa.
Pemuda itu melangkah masuk, sempat kaget saat melihat lima wanita lain di ruang tamu. Pandangannya menyapu ruangan. Para wanita itu tampak sangat menggoda. Meski usianya jelas jauh di atasnya, tubuh mereka terlihat kencang dan terawat. Wajah pemuda itu sedikit memerah karena gugup. Marissa dengan sigap menggenggam tangannya, seolah memamerkan trofi baru.
"Kalian semua silakan nikmati
makanannya dulu, ya? Anggap saja rumah sendiri. Aku mau ke atas sebentar,
'mengurus' tamu yang ini dulu. Nanti aku turun lagi," pamit Marissa sambil
melirik nakal ke arah Kalila.
"Kenapa nggak di sini saja sih?
Biar kita bisa tonton rame-rame" goda Niken.
"Hush, jangan gila. Kasihan
Kalila, dia belum terbiasa dengan kebiasaabn kita.” balas Marissa sambil
terkekeh. Ia menarik tangan pemuda itu menaiki tangga menuju lantai atas. Kalila
menatap punggung mereka dengan bingung.
"Siapa laki-laki itu?" tanyanya
polos.
"Yang barusan? Oh, itu driver
Grab, kan?" tebak Sabrina sambil menoleh ke arah Mey, wanita keturunan
Tionghoa itu mengangguk mantap sambil tertawa kecil.
"Iya, benar. Aku sudah lupa ini
driver Grab keberapa yang dia coba sampai akhirnya ketagihan sama yang satu
itu."
Mata Kalila membelalak tak percaya.
Belum sempat rasa terkejutnya reda, sayup-sayup mulai terdengar suara desahan
dan erangan tertahan dari lantai atas. Jelas sekali, Marissa dan pemuda itu
sudah mulai memuaskan birahi mereka.
"Duh, berisik sekali. Sepertinya
mereka sengaja nggak nutup pintu biar kita semua bisa denger," ujar Zahra
sambil tertawa kecil.
"Ah, iya! Terus, Sayang! Aku
kangen banget sama kontol kamu!"
Kalila bisa mendengar dengan sangat
jelas setiap teriakan liar yang meluncur dari mulut Marissa. Wajahnya terasa panas
membara. Dosen cantik itu sampai harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat,
sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berdiri.
"Aku permisi pulang duluan.
Tolong sampaikan terima kasihku sama Marissa atas undangannya," pamit
Kalila dengan suara bergetar.
Kalila memaksakan sebuah senyum
sopan, lantas bergegas keluar dari rumah itu. Sementara suara desahan nakal
Marissa masih terus membayanginya hingga ke pintu depan. Sepeninggal Kalila,
Sabrina, Mey, Zahra, dan Niken saling bertukar pandang penuh arti. Tawa kecil
meledak dari bibir mereka.
Mereka teringat bahwa dulu Marissa
juga menunjukkan reaksi polos yang sama saat pertama kali mengenal dunia ini.
Namun lihatlah sekarang. Marissa yang tadinya haus belaian, kini sedang sibuk
menikmati 'batang' muda yang tengah memuaskan lubangnya di atas sana.
PART 2
Kelas bubar. Suara derit kursi
bergesekan dengan lantai dan riuh rendah obrolan mahasiswa seketika memenuhi
ruangan. Kalila sibuk merapikan kabel proyektor, lantas memasukkan laptop ke
dalam tas kerjanya. Sebagian besar mahasiswa langsung berhamburan keluar pintu,
hanya satu-dua orang yang mengangguk sopan dan menyapanya.
"Permisi, Bu" saat melewati meja
dosen. Kalila membalasnya dengan senyum tipis. Baginya, gestur sederhana itu
sudah cukup menghargai.
Begitu kelas kosong, ponsel di atas
meja bergetar pendek. Layar menyala menampilkan notifikasi pesan masuk. Kalila
segera meraih benda pipih itu. Pesan dari Niken, tetangga barunya, sekaligus
rekan kerjanya di kampus.
"Hai, Kalila. Siang ini aku
kosong. Mau makan siang bareng? Sekalian aku ajak keliling kampus dan tunjukin
tempat makan enak di sekitar sini."
Kalila teringat janji Niken tempo
hari. Kemarin wanita itu bilang sedang sibuk. Sejujurnya, kemarin pun Kalila
merasa agak sungkan jika diajak keluar karena rekan-rekan dosen di prodi sudah
lebih dulu mengajaknya makan siang bersama. Namun karena ini sudah hari
kedua, rasanya tidak masalah jika ia absen sebentar. Mereka pasti maklum. Kalila
melirik arloji di pergelangan tangan kiri. Masih ada jeda satu jam sebelum
jadwal mengajar berikutnya. Waktu yang cukup untuk makan siang tanpa
terburu-buru.
"Boleh. Ketemu di mana?" ketik Kalila singkat.
***
Matahari hampir berada tepat di atas
kepala saat mobil Kalila menepi di parkiran dekat Fakultas Sastra, tempat Niken
mengajar. Tak lama menunggu, sosok wanita cantik bertubuh mungil itu muncul
dengan berlari-lari kecil. Ia membuka pintu mobil, lantas menghempaskan
tubuhnya di kursi penumpang depan.
"Hai! Maaf aku telat," sapa
Niken dengan napas sedikit terengah.
Niken adalah wanita cantik bertubuh
mungil, tingginya mungkin sekitar 155 cm dengan bentuk badan yang
proposorsional. Dosen mata kuliah Bahasa Inggris itu mengenakan kerudung segi
empat yang dililit agak rendah. Namun, pakaiannya hari ini cukup berani, blus
ketat yang membalut tubuhnya membuat lekuk payudaranya tercetak jelas mendesak
kain. Cara berjalannya menuju mobil tadi, dengan pinggul melenggak-lenggok,
pasti cukup untuk memancing mata pria mana pun di parkiran. Kalila hanya
menggeleng heran melihat penampilan rekannya itu.
"Nggak kok. Aku juga baru
sampai," jawab Kalila.
"Jadi kita mau ke mana?" Kalimat
Kalila terhenti. Matanya menangkap sesuatu yang janggal di kerudung Niken.
"Nanti kita lurus terus belok
kiri saja, aku tunjukkan jalan ke arah kantin teknik." jawab Niken dengan
wajah berseri-seri. Bibirnya tampak basah sensual, seolah baru saja dipulas
ulang lipstik dengan terburu-buru. Melihat tatapan Kalila yang terpaku, ia
bingung.
"Eh? Kenapa?"
"Itu... ada noda di
jilbabmu," tunjuk Kalila ragu. Ia segera mengambil kotak tisu dari dasbor,
lalu menyodorkannya.
Niken menerimanya dan segera
menurunkan cermin di sun visor. Seketika matanya terbelalak melihat noda
putih kental yang dimaksud Kalila.
"Aduh, dasar mahasiswa goblok,
kalo muncrat suka belepotan kemana-mana.” gerutu Niken kesal.
Meski bergumam pelan, suara itu
terdengar sangat jelas di telinga Kalila di sela deru halus mesin mobil. Wajah
dosen cantik itu langsung memerah padam. Otaknya seketika mengenali tekstur
noda lengket itu dan menyambungkannya dengan bibir Niken yang basah. Tanpa rasa
bersalah, Niken sibuk mengelap cairan itu dari ujung kerudungnya dengan tisu
basah. Setelah merasa cukup bersih, ia kembali menunjuk jalan.
"Yuk jalan, lurus aja."
ucapnya santai. Kalila menelan ludah, lantas melajukan mobil dengan perasaan
campur aduk.
***
Nasi campur pesanan Kalila tampak
menggiurkan. Benar saja, sambal cumi rekomendasi Niken membuat mata Kalila
berbinar begitu mencicipinya. Sementara itu, Niken asyik menyantap semangkuk
Mie Yamin pedas di hadapannya.
Mereka duduk di area outdoor kantin.
Pemandangannya menghadap langsung ke Fakultas Teknik yang rimbun dikelilingi
pepohonan besar. Suasananya teduh, nyaris seperti di pinggir hutan, meski
sesekali deru kendaraan dari jalan besar di balik barisan pohon masih terdengar
samar. Setelah beberapa suap dan basa-basi ringan, rasa penasaran Kalila tak
terbendung. Ia ingin bertanya soal insiden 'noda' di mobil tadi, juga tentang
gosip panas yang ia dengar Sabtu lalu.
"Ada yang mau kutanyakan.
Boleh?" tanya Kalila hati-hati. Niken mengangguk cepat sambil menelan
makanannya.
"Boleh. Mau tanya apa?"
"Maaf kalau aku lancang dan
jangan salah paham. Soal obrolan orang-orang minggu lalu. Apa benar kamu
menjalin hubungan dengan mahasiswamu?" tanya Kalila pelan. Niken tersenyum
nakal, lalu memajukan tubuhnya sedikit agar lebih dekat. Ia mengangguk mantap.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Jadi, noda tadi...?"
"Iya. Itu tadi peju," jawab
Niken enteng.
"Tadi aku sempat ngewe sebentar
di parkiran. Aku udah bilang dikeluariin di mulut aja, eh malah dia ngecrot di
mukaku. Jadi ya belepotang kayak gitu.” Niken mengaduk mienya santai, lalu
melanjutkan,
"Entahlah, aku heran kenapa
cowok-cowok zaman sekarang justru sange kalau lihat kita tetap pakai jilbab pas
lagi ngewe."
Kalila tertegun. Matanya mengerjap
pelan, otaknya berusaha mencerna informasi frontal yang baru saja ia terima. Ngewe
di parkiran? Peju muncrat di wajah? Kalila memang rajin melayani suaminya,
namun Baskara selalu menumpahkan benihnya di dalam rahim, tidak pernah di
wajah.
Tunggu dulu. Cowok-cowok?
Lebih dari satu cowok?
"Cowok-cowok? Maksudmu ini bukan
skandal pertamamu?" tanya Kalila kaget. Kata 'skandal' rasanya terlalu
halus, padahal ia tahu kenyataannya pasti jauh lebih liar dari itu. Niken
menggeleng pelan. Keningnya berkerut, wajahnya makin merona merah.
"Kalau aku cerita, kamu janji nggak
cerita ke siapa-siapa ya? Di lingkungan rumah kita mungkin sudah jadi rahasia
umum, tapi jangan sampai bocor ke luar. Oke?" pinta Niken dengan nada
manja.
***
Kalila berlari kecil, berusaha
menyejajarkan langkah dengan Sabrina dan Mey di depannya. Pikirannya masih
tertinggal pada pengakuan Niken tadi siang. Ia sungguh tak menyangka ternyata
kerusakan moral Niken bermula sejak wanita berusia 28 tahun itu pindah ke
lingkungan ini setahun lalu. Sabrina dan Mey adalah 'racun' yang mengenalkan
Niken pada kepuasan liar di luar pernikahan. Selang beberapa saat ketiganya
berhenti tepat di depan gerbang megah rumah Sabrina.
"Hah... Cukup deh buat hari
ini," keluh Sabrina sambil menyeka keringat di leher.
"Mampir dulu yuk ke rumahku?
Minum sebentar sebelum Magrib."
Mey langsung mengangguk setuju.
Kalila sempat ragu. Ia sadar betapa buruk pengaruh pergaulan tetangganya ini.
Namun, egonya membantah, meyakinkan diri bahwa imannya jauh lebih kuat
dibanding Niken. Ia tak akan mudah goyah. Lagi pula, mereka hidup bertetangga.
Menolak ajakan hanya akan membuat Kalila terkesan sombong. Akhirnya, dengan sedikit
terpaksa, Kalila ikut mengangguk.
Mereka bertiga duduk di kursi rotan
teras samping, dekat kolam ikan koi. Gemericik air memberi sedikit ketenangan.
Sabrina bangkit, berjalan mendekati pintu kaca geser yang terbuka lebar.
"Arlo! Kamu di dalam?"
teriak Sabrina. Tak lama, seorang laki-laki muda berusia 20 tahunan muncul dari
dalam rumah.
"Apa sih, Ma?" sahutnya
malas. Di tangannya masih tergenggam stik PlayStation. Namun, ekspresi pemuda
itu berubah drastis begitu matanya menangkap sosok Mey. Wajah malasnya lenyap,
berganti senyum cerah dengan sorot mata nakal yang tak bisa disembunyikan.
"Ambilin air dingin dong buat
Tante-tante cantik ini.” pinta Sabrina.
Arlo menurut tanpa banyak protes. Ia
masuk, lalu kembali membawa teko berisi air es dan tiga gelas. Dengan cekatan
ia menuangkan air ke gelas masing-masing. Mata remaja itu sesekali mencuri
pandang ke arah dada Mey yang masih naik-turun karena lelah berlari.
"Oh ya, Bu Dosen. Kenalkan, ini
Arlo. Anak keduaku," kata Sabrina memperkenalkan.
"Arlo, ini Tante Kalila. Beliau
dosen di kampusmu, lho." Kalila tersenyum ramah. Arlo membalas dengan
senyum yang tak kalah sopan, namun ada kilatan nakal di matanya yang sulit
diartikan.
"Oh ya? Kuliah jurusan
apa?" tanya Kalila.
"Desain, semester dua,"
jawab Arlo singkat. Tiba-tiba wajahnya berubah, seolah mengingat sesuatu.
"Eh, sebentar. Sepertinya aku
ada kelas Bu Dosen hari Kamis ini. Tadi sempat lihat di jadwal."
"Nah, pas banget. Kalau dia
nakal atau bolos, jewer saja kupingnya, Bu!" celetuk Sabrina sambil
tertawa. Kalila hanya tersenyum canggung sambil mengangguk sopan.
"Ah, masa dijewer? Arlo kan
sudah besar, hukumannya harus lebih enak dong. Iya kan?" goda Mey. Arlo
mengangkat alis. Ia melirik sekilas ke arah Kalila, memberi kode pada Mey bahwa
ada dosennya di situ.
"Halah, Bu Dosen nggak bakal
keberatan kok.." sahut Mey santai. Ia menatap Sabrina dengan senyum nakal.
"Boleh nggak nih?" Tanya
Mey, Sabrina tersenyum lebar menatap putranya.
"Papamu belum pulang kan?" Tanya
Sabrina, Arlo menggeleng antusias dengan senyum lebar.
Kalila terpaku di tempat duduknya.
Matanya membelalak kaget saat melihat tangan Mey dengan lancang meremas
gundukan di balik celana Arlo. Tanpa ragu sedikitpun, wanita keturunan Tionghoa
itu menarik ritsleting dan memelorotkan celana pendek Arlo hingga sebatas
lutut. Sementara di tempat lain Sabrina menonton adegan cabul dengan santai,
seolah sebuah rutinitas harian.
"Jadi, bagaimana hari pertama
mengajarnya, Bu? Hari ini hari kedua kan?" tanya Sabrina dengan nada
datar, seolah tak ada kejadian mesum di depan mata mereka.
Mata Kalila terkunci pada tangan Mey
yang sedang membelai kontol Arlo. Batang itu mulai menegang keras. Ia tersentak
kaget saat mendengar suara Sabrina, lalu buru-buru mengalihkan pandangan
kembali ke wajah sang tuan rumah.
"Eh... E-eng... baik kok.
Mahasiswanya sopan-sopan. Dosen dan staf lain juga ramah. Niken juga sempat
ajak keliling kampus, terus makan siang," jawab Kalila terbata-bata.
Matanya tak bisa diajak kompromi.
Sesekali ia mencuri pandang ke arah Mey yang kini mulai menjilati sisi batang
kontol milik Arlo yang makin keras. Kalila sadar, Arlo juga sesekali menatap
lurus ke arahnya dengan napas memburu.
"Makan siang di kantin Teknik
kan? Di sana emang enak tempatnya..Eemmcchhh…" gumam Mey dengan suara tak
jelas karena mulutnya sibuk memainkan lidah di area sensitif Arlo.
"Tante Mey... ah, fokus
dong," desah Arlo. Tangannya terulur, menjambak pelan rambut Mey untuk
mengatur ritme kepala wanita itu. Kalila menelan ludah susah payah.
Tenggorokannya terasa kering. Ia mengangguk kaku.
"I-iya, kemarian diajak ke sana.
Sambal cuminya enak." Ujar Kalila makin gugup. Sabrina tersenyum penuh
arti, menyadari betapa sulitnya Kalila berkonsentrasi.
"Cuminya besar-besar ya?"
goda Sabrina ambigu.
"B-besar..." jawab Kalila
lirih. Matanya tak bisa lepas menatap kepala kontol Arlo yang perlahan lenyap
ditelan mulut Mey.
Sabrina mengangkat alis dengan
tatapan menggoda, menyadari arah mata Kalila. Tertangkap basah, Kalila
buru-buru membuang muka, berpura-pura sibuk mengamati ikan di kolam.
"Bu Dosen, kalau mau lihat,
lihat saja. Nggak usah malu-malu," celetuk Arlo dengan nada nakal.
"Arlo…" tegur Sabrina.
Namun nadanya terdengar main-main, sama sekali tidak marah.
Kalila menggigit bibir bawah,
wajahnya panas. Telinganya menangkap suara kecipak basah dari arah Mey. Dari
sudut mata, ia bisa melihat kepala Mey mulai bergerak maju-mundur dengan irama
teratur.
"Aku suka banget lihat Tante
pakai baju ini…Ouucchh…" desah Arlo, suaranya memberat karena nikmat.
"Dadanya nyeplak banget. Bokong
Tante juga…Eemmchh…" lanjut anak Sabrina itu.
Arlo merasakan hhisapan Mey semakin
kencang. Lidah wanita Cina itu membelit batangnya dengan lincah. Mata Arlo
menatap lapar tubuh Mey yang berbalut kaos ketat, memperlihatkan cetakan sport
bra di baliknya, serta legging yang menonjolkan kaki rampingnya.
Sabrina menonton tanpa risih sedikit
pun saat sahabatnya melahap kontol putranya. Gerakannya kian lama kian cepat.
Tangan Arlo mencengkeram rambut Mey, menekan kepala wanita itu, memaksa batang
kontonya masuk lebih dalam ke rongga mulut.
"Bu Dosen sering juga ya
ngemutin kontol suami kayak gini?”
Pertanyaan tiba-tiba Sabrina
menyentak Kalila dari lamunan. Ia menoleh ke arah Sabrina, namun matanya tak
sengaja kembali menangkap aksi Mey dan Arlo. Cepat-cepat ia memalingkan wajah.
"Ya... kadang-kadang. Kalau dia
minta," jawabnya pelan.
"Ooh, ternyata Bu Dosen nakal
juga ya," goda Sabrina.
Wajah Kalila makin merah padam.
Sabrina kembali menoleh ke arah putranya. Arlo kini mulai menggerakkan pinggul,
memaju-mundurkan batang kontolnya ke dalam mulut Mey. Mata Mey melirik ke atas,
menatap langsung ke mata Arlo. Hujaman pinggul Arlo makin cepat, membuat kepala
Mey terguncang-guncang mengikuti irama kasar itu.
"Ugh! Mmph! Mmph!" Mey
melenguh tertahan. Mulutnya penuh sesak, namun ia terus menghisap dengan
semangat.
"Itu... nggak sakit?" bisik
Kalila, ngeri sekaligus takjub melihat kontol Arlo menghujam kasar di dalam
mulut Mey. Sabrina tersenyum mendengar kepolosan pertanyaan itu.
"Nggak dong. Awalnya mungkin nggak
nyaman kalo belum terbiasa. Tapi lama-lama nikmat banget. Apalagi kalau penuh
di mulut sampai mentok ke tenggorokan."
Seketika Pikiran Kalila melayang pada
sang suami. Ia ingat rasanya saat melayani kontol Baskar dengan mulutnya.
Namun, kontol suaminya hanya setengah ukuran Arlo. Itu pun ia sering merasa
mual dan tidak nyaman. Melihat betapa rakus dan nikmatnya Mey melahap kontol
Arlo yang besar, tiba-tiba terbersit keinginan liar di benak Kalila. Rasanya ia
ingin mencoba sesuatu yang baru malam ini.
Perlahan namun pasti Kalila tidak
memalingkan wajah lagi. Ia terpaku, menonton Arlo memperlakukan mulut Mey
sebagai pelampiasan nafsu tanpa ampun. Meski mulut Mey terlihat penuh sesak,
wanita itu terus menghisap tanpa henti. Sesekali Arlo tersenyum santai menyadari
Kalila sedang menonton pertunjukannya.
"Tante... Ah, sial. Aku sudah
mau keluar. Siap-siap," desis Arlo dengan napas memburu. Cengkeraman
tangan Arlo pada rambut Mey mengeras. Gerakan pinggulnya semakin liar dan
brutal, tak peduli air liur Mey mulai menetes membasahi dagu.
"Ahh, bangsat!" erang Arlo
keras.
Ia menekan kepala Mey, membenamkan kontolnya
dalam-dalam ke tenggorokan wanita Cina itu, lalu menyemburkan cairan kentalnya
bertubi-tubi. Mey tampak berusaha keras menelannya, namun sperma Arlo terlalu
banyak hingga membuatnya meluber keluar. Sisa cairan putih itu muncrat
membasahi wajah Mey yang mendongak pasrah.
"Hah...gila! Kentel banget
pejumu! Habis makan apa sih?" tanya Mey dengan napas tersengal. Lidahnya
menjulur, menjilati kepala kontol Arlo yang masih berdenyut meneteskan sisa sperma.
"Man biasa aja kok tante, nggak
yang aneh-aneh." jawab Arlo enteng. Ia membiarkan kontolnya tetap dijilati
Mey meski perlahan mulai melemas.
Di tengah deru nafasnya, mata Arlo
menangkap tatapan Kalila. Pandangan mereka terkunci sesaat. Panik dan salah
tingkah, dosen cantik itu kemudian buru-buru menoleh dan menyambar gelasnya,
meneguk air dengan gugup.
"Sudah, masukin lagi kontolmu.
Sana lanjut main game lagi," perintah Sabrina, Arlo tersenyum puas, lalu
menuruti perintah ibunya menaikkan celana kembali.
"Makasih ya buat pejunya…"
seru Mey riang. Mey menyeka sisa sperma dari wajah dengan jari, lalu
menjilatinya nikmat seolah itu madu.
Melihat tingkah binal Mey, sempat
terlintas di benak Kalila, seumur-umur menikah, ia belum pernah mencicipi sperma
suaminya.
"Mau ngrasain peju Arlo juga, Bu
Dosen?" goda Sabrina.
"Eh? E-enggak! Nggak usah,"
tolak Kalila panik sambil menggeleng cepat. Ia kembali meneguk air minum untuk
menyembunyikan rasa malu.
Sabrina dan Mey saling bertukar
pandang penuh arti. Sabrina kemudian segera mengalihkan topik pembicaraan,
bersikap seolah tidak ada kejadian gila yang baru saja berlangsung di depan
mata. Namun, pikiran Kalila kini kacau balau. Otaknya berputar liar,
mencampuradukkan pengakuan Niken tadi siang dengan adegan panas antara Mey dan
Arlo yang baru saja ia saksikan.
PART 3
Kalila menyisir rambutnya yang masih
setengah basah di depan cermin. Pikirannya tak bisa lepas dari pemandangan liar
di teras rumah Sabrina sore tadi. Rasanya itu sudah jauh melampaui kata nakal
atau iseng. Apalagi jika mengingat apa yang dilakukan Marissa beberapa hari
lalu, jelas itu lebih dari sekadar main-main.
"Nyepongin kontol…."
gumamnya pelan.
Kalila menggelengkan kepala, mencoba
mengusir bayangan cabul itu. Namun, tenggorokan dan bibirnya tiba-tiba terasa
kering. Bukan air yang ia inginkan saat ini, melainkan sesuatu yang lain. Ia
melirik ke arah tempat tidur. Suaminya sedang bersandar santai di kepala
ranjang, sibuk membaca artikel lewat tablet dengan kacamata baca bertengger di
hidung. Sosok yang aman, tenang, dan biasa saja. Kalila menggigit bibir bawah
sebelum memantapkan hati untuk beranjak menghampiri ranjang.
"Mas, lagi sibuk nggak?"
tanya Kalila dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan. Baskara menggeleng
pelan, lalu menatap heran.
"Enggak kok. Kenapa,
Sayang?"
Kalila tersenyum malu-malu. Seumur
usia pernikahan mereka, ia belum pernah meminta duluan seperti ini. Namun hari
ini berbeda. Gairah asing itu menuntut pelampiasan. Perlahan, Kalila naik ke
atas kasur dan merangkak mendekati suaminya. Tangannya terulur, menyusup ke
balik ikatan sarung yang dikenakan sang suami. Mata Baskara membelalak kaget
merasakan sentuhan nakal tangan istrinya, lalu pandangannya beralih menelusuri
tubuh Kalila yang hanya berbalut gaun malam tipis.
"Sudah lama ya aku nggak begini
sama Mas," bisik Kalila seraya memelorotkan kain sarung itu sampai sebatas
pinggang.
Tangannya menggenggam dan membelai kontol
Baskara yang masih tertidur lemas. Namun mendadak bayangan sosok wajah Arlo
melintas, pemuda dengan batang kontol yang keras, berurat, dan besar. Kalila
cepat-cepat menggelengkan kepala, menepis bayangan itu. Ia harus fokus pada
'batang halal' di hadapannya sekarang!
"Iya... Kamu tumben banget. Tapi
Mas suka," ujar Baskara sambil tersenyum lebar. Pria itu segera meletakkan
tabletnya di meja samping, bersiap menikmati pelayanan sang istri.
Kalila mulai mendekatkan wajah.
Bibirnya mendarat di pangkal paha Baskara, lalu mengecup dan mengelus kontol
sang suami lembut untuk merangsangnya bangun. Prosesnya memang agak lambat,
tidak seinstan reaksi kontol Arlo yang langsung tegang tadi sore. Namun
perlahan, Kalila bisa merasakan kejantanan di genggamannya mulai mengeras dan
membesar.
Kalila menjulurkan lidah, mulai
menjilati batang kontol Baskara penuh kasih sayang dari pangkal hingga ujung.
Napasnya memburu. Didorong gairah yang memuncak, Kalila mulai membuka mulutnya
lebar-lebar dan memasukkan kepala kontol sang suami yang sudah menegang ke
dalam. Kalila mengulumnya perlahan sambil memainkan lidah, mencoba meniru
teknik Mey tadi sore.
"Ah... Sayang..." erang Baskara.
Seingatnya, Kalila belum pernah melakukan blowjob senikmat dan seagresif
ini sebelumnya.
Kontol Baskara perlahan namun pasti
terasa makin keras di dalam rongga mulutnya. Kalila mulai menggerakkan kepalanya
naik-turun. Hhisapannya kian kuat dan berani.
"Mmph... Slrrp... Mmph..."
desah Kalila tertahan di sela-sela mulut.
Kalila hampir melupakan sosok suaminya
sendiri. Pikirannya melayang liar. Jari-jarinya mencengkeram erat pangkal kontol,
sementara kepalanya bergerak makin cepat. Ini bukan Kalila yang biasanya. Baskara
sampai harus menyandarkan kepala ke belakang, berusaha sekuat tenaga mengatur
napas demi menahan klimaks yang akan datang terlalu cepat.
Ingatan Kalila kembali pada ganasnya kontol
Arlo menghujam mulut Mey. Tanpa sadar, Kalila meniru ritme kasar itu. Ia
memaksa dirinya sendiri, mendorong wajahnya turun lebih dalam, membiarkan batang
kintol sang suami menembus hingga mentok ke tenggorokan. Lebih dalam lagi,
hingga bibirnya menyentuh pangkal kejantanan.
"Ugh! Mmph! Mmph!"
Kalila merasakan rongga mulut dan
tenggorokannya terisi penuh. Setiap dorongan suaminya yang makin liar terasa
menumbuk dinding kerongkongan. Rasanya menyiksa dan membuatnya ingin tersedak,
namun Kalila membiarkannya. Ucapan Sabrina ternyata benar. Rasanya nikmat. Ada
kepuasan tersendiri yang menjalar di tubuhnya saat ia berhasil menelan seluruh
batang kontol suaminya.
“Hmmm..Andai saja kontol ini sebesar
dan sepanjang milik Arlo, pasti rasanya makin nikmat..” Batin Kalila memberontak.
"Ah! Sayang... Ah! Kamu kok
nakal banget sih malam ini..." desah Baskara. Napas pria itu makin tak
beraturan, tanda puncak sudah sangat dekat.
Namun Kalila seolah tuli. Ia terus
menghisap dan memanjakan batang itu, nyaris lupa apa yang akan terjadi
selanjutnya. Matanya terpejam rapat, menikmati sensasi penuh di mulut, mengulum
sekuat tenaga seolah ingin menelan jiwa suaminya bulat-bulat.
"Sayang! Mas nggak tahan! Awas,
Mas mau keluar!" erang suaminya keras memberi peringatan.
Namun, peringatan itu terlambat.
Tepat saat Kalila hendak menarik wajah menjauh, suaminya sudah meledak. Cairan
hangat menyembur deras, memenuhi rongga mulutnya seketika. Kalila segera
menarik kepalanya mundur. Tangan kanannya dengan sigap mengocok batang suaminya
untuk memerah sisa pelepasan. Sisa-sisa sperma kembali menyembur, menciprat ke
wajah cantik Kalila sebelum akhirnya menetes deras membasahi tangan.
Tanpa sadar, refleks dia menelan sperma
yang sempat singgah di mulutnya. Ia merasakan tekstur kental dan hangat cairan
suaminya mengalir melewati tenggorokan. Napasnya memburu. Matanya menatap nanar
pada cairan berwarna putih yang melumuri tangannya. Ketika batang suaminya
mulai melemas dan menyusut, barulah kesadaran Kalila kembali.
"Aku... Aku mau bersih-bersih
sebentar Mas," ucapnya gugup, lantas bergegas setengah berlari menuju
kamar mandi.
Suaminya menatap kepergian Kalila
dengan bingung. Tapi di dalam hati Baskara masih tak percaya jika Kalila bisa
seliar dan sebinal itu dengan mulutnya. Ini adalah blowjob terbaik dan terenak
yang pernah diberikan Kalila padanya selama usia pernikahanh mereka.
Seemntara itu di depan cermin
wastafel, Kalila menatap pantulan wajahnya yang basah setelah terkena air
beberapa saat lalu. Pikirannya kembali melayang liar. Membayangkan bagaimana
jika tadi yang dipuaskannya adalah kontol milik Arlo. Kalila buru-buru
menggelengkan kepala kuat-kuat. Berusaha mengusir pikiran kotor itu, ia segera
membasuh wajah dengan air dingin sekali lagi.
"Sadar Kalila!" batinnya berperang.
***
Kalila melangkah masuk ke ruang
kuliah dengan jantung berdebar. Ia sadar betul jadwal hari ini adalah mengajar
mahasiswa Desain Grafis, kelas tempat Arlo berada. Sebenarnya tadi pagi Kalila
nyaris izin sakit demi menghindari pertemuan dengan anak Sabrina itu namun
mengurungkan niat tersebut karena mengingat dia adalah dosen baru, rasanya tak
bijak jika belum satu minggu sudah absen mengajar.
Hari ini, Kalila mengenakan kerudung
hitam lebar yang menjuntai rapi menutupi dada. Atasannya kemeja putih longgar
yang sopan. Namun, masalah ada pada bawahannya. Ia memakai rok hitam panjang
berbahan kain. Ternyata, potongannya model span yang cukup ketat, mencetak
jelas bentuk pinggul, paha, serta bokongnya yang semok.
Sepanjang jam kuliah, pandangan
Kalila dan Arlo beberapa kali bertemu tanpa sengaja. Setiap kali itu terjadi,
Kalila harus berjuang mati-matian mengusir bayangan liar tentang kontol Arlo
yang berukuran besar. Untungnya, ia cukup profesional menahan ekspresi dan
tetap fokus mengajar.
"Baik, materi hari ini cukup
sampai di sini. Jangan lupa tugas minggu depan dikumpulkan tepat waktu,"
tutup Kalila mengakhiri kuliah.
Suara riuh seketika memenuhi ruangan.
Terdengar bunyi derit kursi bergesekan dengan lantai dan suara ritsleting tas
yang dibuka-tutup. Para mahasiswa sibuk berkemas. Sebagian besar langsung
bergerombol keluar pintu sambil meributkan menu makan siang, hanya beberapa
yang mengangguk sopan atau melempar senyum sekilas saat melewati meja Kalila.
Saat ruangan sudah sepi dan ia
mengira semua orang telah pergi, sesosok tubuh tegap tiba-tiba berdiri di depan
mejanya. Kalila mendongak. Arlo berdiri di sana sambil tersenyum, satu tangan
dimasukkan ke saku celana jeans-nya.
"Iya, Arlo? Ada materi yang
kurang jelas?" tanya Kalila berusaha formal, meski jantungnya mulai
berdetak tak karuan.
"Nggak ada, Bu. Saya cuma kagum
saja sama cara Ibu mengajar, dan penampilan Ibu hari ini," komentar Arlo
santai.
Matanya dengan terang-terangan
menelanjangi lekuk paha dan pinggul Kalila yang tercetak jelas di balik rok
span ketat itu. Tatapan mata Arlo terlihat lapar seolah ingin menerkam Kalila
saat itu juga. Wajah Kalila seketika memerah, campuran antara marah dan malu
karena dilecehkan sedemikian rupa oleh mahasiswanya sendiri.
"Arlo! Jaga ucapanmu,"
tegur Kalila tajam.
"Saya tahu pergaulan di lingkungan
rumahmu bebas, tapi ingat, saya tidak seperti mereka. Tolong tunjukkan rasa
hormat. Saya ini dosenmu." Arlo terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat
takut atau menyesal.
"Santai aja kali Bu, kalo Bu
Kalila tersinggung boleh kok menghukum saya. Hmmm…Hukumannya disepoong sampek
muncrat di mulut…” Arlo menaikkan alis, tatapannya penuh arti dan provokatif.
Wajah Kalila makin merah padam
mendengar kalimat itu. Napasnya tercekat. Tanpa menjawab lagi, ia segera
menyambar tas kerjanya dan bergegas melangkah keluar melewati Arlo. Mahasiswa
itu hanya berdiri diam sambil tersenyum puas. Matanya tak lepas menikmati
pemandangan bokong padat Kalila yang bergoyang seirama dengan langkah kaki
terburu-buru meninggalkan kelas.
***
Rambut setengah basah Kalila tergerai
di bahu. Ia mengenakan kaos polos yang ukurannya sedikit kekecilan. Kainnya
menempel ketat, menonjolkan lekuk tubuh padat berisi. Meski bukan penggila gym,
Kalila sangat menjaga pola makan dan jam tidur, apalagi sekarang dia juga mulai
rutin berolahraga. Hasilnya, tubuh ibu dua anak ini tetap kencang dan sintal. tipe
tubuh matang yang menjadi fantasi banyak pria.
Untuk bawahan, ia memakai celana
training pemberian putrinya, Safiya. Modelnya agak ngepas, mencetak jelas
bentuk bokong dan pinggulnya yang lebar. Kalila hanya berani memakainya di
dalam rumah.
"Mas, kamu lupa beli butter,
ya? Gimana aku mau masak menu western kalau bahannya kurang?" keluh
Kalila saat membuka pintu lemari es.
Sejak pagi ia sudah berencana membuat
makan malam spesial. Daftar belanjaan pun sudah ia titipkan ke suaminya. Baskara
melongok dari meja makan dengan wajah bersalah.
"Aduh, iya. Mas lupa tadi. Pakai
margarin atau minyak goreng saja nggak bisa, ya?" Kalila menghela napas
panjang.
"Ya bedalah, Mas. Rasanya nggak
bakal sama." Baskara hanya bisa nyengir kuda. Kembali ke supermarket sama
sekali bukan jadi prioritasnya saat ini.
"Kalo minta ke tetangga depa
gimana sayang? Siapa namaya? Sabrina bukan?" Usul Baskara, matanya kembali
menatap layar laptop.
“Hmmm, iya deh aku coba minta dia aja
kalo gitu.”
Kalila menyambar hijab yang
tergantung di dekat tangga. Dengan asal, ia menyarungkannya ke kepala. Karena
buru-buru, kain kerudung itu agak pendek dan tidak menutup sempurna. Akibatnya,
sepasang payudara Kalila yang penuh dan bulat terlihat menonjol jelas di balik
kaos ketatnya. Tanpa menyadari penampilannya yang mengundang itu, ia melangkah
keluar rumah.
Jarak rumah Sabrina hanya terpisah
oleh sebrang jalan. Tak butuh waktu lama, Kalila sudah berada di depan pintu
rumah tetangganya itu. Kalila mengetuk pintu setelah sebelumnya membuka gerbang
rumah Sabrina. Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka. Alis Kalila
terangkat heran melihat penampilan Sabrina.
Ibu Arlo itu hanya mengenakan tank top tali
tipis yang ketat berwarna putih, nampak sudah basah oleh keringat hingga
putingnya menjiplak jelas. Bawahannya hanya celana hotpants denim super pendek,
nyaris tak menutupi pangkal paha. Rambut Sabrina pun digelung asal-asalan
dengan anak rambut yang basah menempel di pelipis. Napasnya pun tampak sedikit
memburu.
"Oh, Bu Dosen. Ada apa, Bu?
Tumben pagi-pagi udah mampir? sapa Sabrina sambil menyeka keringat di leher.
"Kamu punya stok butter nggak?
Aku lagi butuh banget nih. Dikit aja kok." Cerocos Kalila. Sabrina tersenyum
sambil membuka pintu rumah lebar-lebar.
"Masuk aja, Bu. Cek sendiri di kulkas ya.
Aku lagi agak sibuk nih,"
Tanpa curiga, Kalila melangkah masuk
mengekor menuju dapur. Namun begitu sampai di sana, jantung Kalila nyaris
copot. Tak dinyana mendadak Sabrina menarik tank top-nya melewati kepala, lalu
memelorotkan hotpants-nya hingga ke mata kaki dalam sekali gerakan. Kini, tubuh
Sabrina telanjang bulat di tengah dapur.
Kalila mematung. Matanya terbelalak
melihat pemandangan di sudut dapur. Di sana berdiri seorang remaja laki-laki
keturunan India. Tubuhnya agak gempal dan berbulu lebat, berdiri tanpa sehelai
benang pun. Mata mereka bertemu. Kalila bingung harus kabur atau tetap berada
di situ.
"Sorry, Bu Dosen. Kenalin, ini
Rama. Anaknya Zahra," kata Sabrina santai, seolah telanjang di depan tamu
adalah hal lumrah. Ia berjalan mendekati remaja itu.
"Nah, Rama... sampai mana kita
tadi?"
Sabrina membungkuk, menyandarkan
kedua tangan di meja dapur, lantas menungging tinggi-tinggi memamerkan bokong
sintalnya ke arah Rama. Remaja itu menatap Kalila dengan kaget bercampur
takjub. Tangannya sibuk mengocok kontolnya yang hitam, tebal, dan sudah tegang
sempurna.
"Halo Bu Dosen, kami lanjut dulu
ya…" sapa Rama dengan suara berat. Matanya liar memindai tubuh Kalila yang
berbalut pakaian ketat.
"Butter-nya ada di rak pintu
kulkas Kal. Cari saja... Ahhh!"
Kalimat Sabrina terputus menjadi
teriakan panjang. Tanpa aba-aba, Rama membenamkan kontol hitamnya ke dalam vagina
dari belakang. Tubuh Sabrina seketika terguncang menerima sodokan mendadak itu. Rama mencengkeram pinggang Sabrina
kuat-kuat, lalu mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo cepat. Suara
kulit bersadu kulit terdengar nyaring memenuhi dapur.
"Ugh! Mmph! Sempit banget,
Tante!" desis Rama menahan nikmat.
Mata remaja itu terpaku pada bokong
Sabrina yang berguncang hebat akibat dorongannya. Namun sesekali, matanya
melirik nakal ke arah Kalila yang masih mematung di dekat pintu dapur. Wajah
Kalila merah padam, panas dingin menyaksikan adegan zina vulgar di depan mata.
Parah. Benar-benar gila. Sabrina bersetubuh dengan pria yang usianya jauh lebih
muda, bahkan mungkin seusia anaknya sendiri.
Kalila menggelengkan kepala, berusaha
mengusir kenyataan gila itu. Ia kemudian bergegas menuju lemari es. Matanya
menyapu rak pendingin dengan panik, mencari butter atau apa pun yang mirip itu agar
bisa segera pulang ke rumahnya. Kalila berusaha keras mengabaikan suara desahan
Sabrina yang makin liar beradu dengan napas berat Rama.
"Ah! Sial! Gila kamu, Rama!
Ah!" rintih Sabrina di sela-sela kenikmatannya.
Kalila memejamkan mata sejenak,
lantas kembali menunduk mencari butter di rak paling bawah. Dalam hati dia
mengutuki dirinya sendiri kenapa harus mendatangi rumah Sabrina hari ini, tapi
semua sudah terjadi, sekarang fokusnya hanya ingin segera pergi.
Saat Kalila membungkuk cukup dalam
untuk melihat ke rak bawah, celana training ketatnya tertarik kencang. Kain
tipis itu mencetak jelas belahan serta bentuk bokongnya yang bulat dan padat,
menyuguhkan pemandangan indah tepat ke arah Rama.
"Ugh... Bu Dosen...Manteb banget
bokongnya…" desah Rama pelan. Matanya tak berkedip menatap gundukan sintal
di depannya.
Sabrina mendengar desahan itu.
Bukannya marah, ia malah menyeringai. Rama memacu pinggulnya lebih ganas.
Tangan pemuda berusia 19 tahun itu kini mencengkeram leher Sabrina dari
belakang, memaksa tubuhnya membungkuk lebih dalam menerima hujama kontol.
"Ah! Ya! Kamu ganas banget sih,
Rama! Ah! Kamu suka ya lihat pantat Bu Dosen, hmm?! Ah!"
Mendengar namanya disebut dalam
konteks persetubuhan, tubuh Kalila menegang kaku. Panik, ia refleks menarik
ujung kaosnya ke bawah untuk menutupi bokong sebisa mungkin. Namun percuma,
celananya terlalu ketat dan kaosnya terlalu pendek.
Beruntung ia bisa menemukan bongkahan butter terselip
di antara botol saos. Kalila menyambarnya, menutup pintu kulkas, lantas
berbalik badan. Niatnya ingin mengucapkan terima kasih singkat lalu kabur.
Namun, lidahnya kelu saat melihat tubuh Sabrina terhentak kasar akibat dorongan
brutal Rama. Mulut Sabrina terbuka lebar, lidahnya sesekali menjilat bibirnya
sendiri dengan sensual. Di tengah gempuran, Sabrina sempat-sempatnya
melemparkan senyuman puas ke arah Kalila.
Kalila bungung harus melakukan apa,
wajahnya panas. Matanya tak sengaja menatap tubuh Rama yang cukup kekar,
kulitnya sedikit gelap dengan bulu lebat. Mata mereka bertemu lagi. Rama
tersenyum nakal. Kalila tersentak, seolah baru sadar dari hipnotis. Ia
menggelengkan kepala cepat.
"Aku pamit dulu! Makasih butter
nya!" ucap Kalila tergesa.
"O... Oke, Bu Dosen... Ah! Ah!
Ah!" Jeritan Sabrina meninggi. Tubuhnya mengejang hebat, menandakan ia
mencapai puncak sementara kontol Rama masih memacu cepat di dalam liang
senggama.
Tanpa menoleh lagi, Kalila setengah
berlari menuju ruang tamu. Namun, baru saja hendak mencapai pintu depan,
sesosok tubuh menuruni tangga dan hampir menabraknya.
Arlo.
"Eh, Bu Dosen?"
Kalila terkejut, Arlo hanya
mengenakan celana pendek dan kaos press body yang sangat ketat, menonjolkan
otot dada dan lengan kekarnya. Di tangannya tergenggam kunci mobil.
"Sa-Saya pulang dulu…"
gumam Kalila cepat. Ia menggeser tubuh, lalu bergegas menuju pintu keluar.
Namun belum sampai melangkah mendadak
Arlo menghalangi jalannya. Kini mereka berdu saling berhadapan. Mata Arlo
leluasa menyapu tubuh Kalila dari ujung kaki ke ujung kepala. Wanita itu
terlihat sangat seksi. Tubuhnya kencang dan sintal, persis fantasi MILF di
film-film dewasa. Ini pertama kalinya Arlo melihat dosennya berpakaian seketat
ini. Biasanya, Kalila selalu tampil tertutup dengan kemeja longgar.
"Arlo...Tolong minggir, Ibu mau
pulang." pinta Kalila gugup.
Arlo tidak langsung menjawab. Matanya
lapar menyapu tubuh dosennya itu, berhenti sejenak di bagian dada yang mencuri
perhatian. Senyum nakal tersungging di bibir, sebelum akhirnya tubuhnya sedikit
minggir untuk memberi akses jalan pada Kalila. Tanpa pikir panjang Kalila
bergegas menyelinap keluar. Arlo terkekeh pelan melihat tingkah panik dosennya
itu.
Dari ruang dapur sayup-sayup
terdengar erangan Mamanya. Arlo menggeleng sambil tertawa kecil. Ia berjalan
santai menuju dapur untuk mengambil botol minum sebelum berangkat ke gym. Suara
desahan keras tadi kini sudah berganti menjadi napas berat yang terengah-engah.
"Busyet! Rajin banget lo ngewein
nyokap gue!" sindir Arlo santai saat melihat Rama memunguti pakaian di
lantai dapur. Rama hanya tertawa kecil sambil mengenakan celana.
"Mumpung lagi sange bro. Lagian dulu yang
ngajarin kan lo sendiri.”
Arlo tertawa renyah. Matanya
menangkap handuk bersih di kursi makan. Ia memungutnya, lantas menghampiri
ibunya yang masih duduk di atas meja dapur. Sabrina tampak berantakan. Wajahnya
belepotan sperma, sesekali ia jilat dengan nikmat. Melihat putranya menyodorkan
handuk, Sabrina menerima sambil tersenyum.
"Makasih, Sayang," ucap
Sabrina. Ia turun dari meja, melilitkan handuk ke tubuh polosnya.
"Eh, tadi ketemu Bu Kalila nggak di
depan?"
"Ketemu kok, Mama harus bisa
ajak Bu Dosen gabung sama kita. Aku pengen banget ngewein dia." ucap Arlo
penuh tekad. Matanya menerawang, membayangkan tubuh sintal Kalila.
"Wah, kalau Bu Dosen mau ikutan,
jangan lupa kabarin gue juga! Gue cabut dulu deh. Bye!" sela Rama cepat.
Ia melambaikan tangan, lalu pergi lewat pintu samping. Sabrina tersenyum geli
melihat semangat putranya. Ia mencubit lengan Arlo gemas.
"Tenang aja, Sayang. Pasti dapet
kok. Kayaknya semua wanita di kompleks ini bakal jadi lontemu semua." goda
Sabrina. Arlo tersenyum bangga, dadanya membusung.

Posting Komentar
0 Komentar