BELENGGU BIRAHI - SEASON 3

 

GENRE : HIJAB EROTIS - MILF - CUCKOLD - INCEST
JUMLAH HALAMAN : 280 HALAMAN
HARGA: Rp 30.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


PART 1

 

Wajah Safiya masih membara, memanas seperti besi ditempa. Ia menyelinap mundur dari celah pagar tangga, melangkah sehalus bayangan. Adegan tadi terpateri di benaknya bak lukisan tak terlupakan. Kakaknya, Damar, menarik kontol yang masih basah oleh cairan kental dari vagina Sabrina. Yang membuat dadanya sesak, Arlo baru saja mencabut kontolnya dari kemaluan ibunya.

Pintu kamar tertutup senyap saat Safiya membantingkan punggungnya ke kayu solid. Nafasnya tersengal, pikiran bergegas mencerna pemandangan tak terduga itu. Tangannya mencengkeram rambut sendiri, masih tak percaya

"Bangsat," desis Safiya, suaranya terdengar serak.

Ibunya yang selama ini dikenal sebagai dosen terhormat, istri setia, dan ibu yang baik ternyata wanita binal. Bau anyir yang sempat ia endus kemarin kini jelas sumbernya. Ibunya pulang dengan tubuh masih basah oleh sperma lelaki lain.

Anehnya, alih-alih muak, Safiya justru merasakan gemuruh hangat di selangkangannya. Rasa penasaran yang menggoda. Ia sendiri bukan perawan suci, sudah dari setahun lalu dia terjebak jerat dalam hubungan gelap dengan Pak Malik, salah satu ustadz di pondok yang tak lain adalah suami dari Zahra, tetangganya sendiri. Kini ibunya ternyata sama bejatnya.

Suara derap kaki menapaki anak tangga. Pasti ibunya naik untuk membersihkan diri, diikuti langkah lebih berat milik Damar. Safiya menahan nafas sampai bunyi pintu kamar ibunya terbuka. Saat langkah kedua melewati depan kamarnya, ia menyentak keluar hingga pintu terbuka.

"Eh?!"

Damar tersentak kaget saat kerah bajunya ditarik kasar. Safiya menyeret kakaknya itu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu hingga tertutup rapat. Damar menelan ludah. Dari tatapan tajam adiknya, ia tahu jika Safiya sudah melihat semuanya.

Safiya berdiri mematung di depan pintu dengan tangan bersedekap. Wajah manisnya kini berubah total, dingin, datar, dan tanpa emosi. Namun, sorot matanya tajam menusuk, seolah sedang menguliti isi kepala Damar untuk mencari kebenaran di balik dosa-dosa kakaknya itu.

"Dek ,Mas bisa jelasin," Damar memulai dengan gagap, wajahnya pucat pasi. Safiya menatapnya dingin, tatapannya berkilat penuh selidik.

"Jelasin apa? Mau jelasin kenapa Ummi dan Mas Damar baru saja melakukan pesta seks di ruang tamu sama Tante Sabrina dan Arlo?" tembak Safiya langsung. Damar terdiam, bahunya merosot. Tidak ada gunanya menyangkal.

"Aku cuma mau tanya satu hal," lanjut Safiya, suaranya melunak tapi penuh rasa ingin tahu.

 "Sudah berapa lama kalian seperti ini?" Damar menghela napas panjang, kakinya lemas. Ia duduk di tepi kasur, menunduk menatap lantai.

"Sejak kita pindah ke komplek perumahan ini Dek…”

Safiya menarik napas dalam-dalam mendengar pengakuan itu. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah Damar. Ia menggelengkan kepala pelan, bukan karena jijik, tapi karena takjub betapa munafiknya keluarga mereka termasuk dirinya sendiri yang ternyata sama-sama rusak.

"Abi tau semua ini?" tanya Safiya lagi. Damar menggeleng pelan.

"Jelas enggak lah. Bisa mati jantungan Abi kalau tahu Ummi kayak gitu."

Safiya menatap wajah Damar dari samping lekat-lekat. Ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Sesuatu yang lebih tabu daripada sekadar perselingkuhan.

"Hmm…Satu lagi. Aku tadi melihat semuanya, dan baru menyadari sesuatu. Mas Damar pengen ngewe sama Ummi ya?" Safiya memajukan wajahnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka. Matanya menatap tajam langsung ke manik mata Damar.

"Jujur sama Safiya, Mas. Apa Mas Damar pengen ngewe sama Ummi?" Tanya Safiya sekali lagi kali ini dengan penekanan yang lebih jelas.

Wajah Damar memerah padam mendengar pertanyaan vulgar itu keluar dari mulut adiknya. Jantungnya berdegup kencang, merasa ditelanjangi untuk kedua kalinya. Ia refleks memundurkan tubuhnya.

"Nggak mungkin lah! Tadi cuma kebawa suasana aja! Mana mungkin aku punya keinginan gila kayak gitu?!" elak Damar, berbohong dengan nada panik yang kurang meyakinkan. Alis Safiya terangkat sebelah. Ia terlalu mengenal kakaknya. Ia tahu persis kapan Damar panik dan berusaha mengelabuinya.

"Enggak usah bohong Mas, Safiya lihat semuanya tadi!" desak Safiya, mengabaikan penyangkalan Damar.

Damar menghela napas panjang, bahunya merosot kalah. Ia menarik kursi belajar dan duduk di hadapan adiknya yang duduk di tepi kasur. Mereka selalu dekat sejak kecil, dan entah kenapa di tengah kegilaan ini, Damar merasa hanya Safiya satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara jujur satu sama lain tanpa topeng kemunafikan.

"Mas nggak tau Dek…" Damar mengusap wajahnya dengan telapak tangan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.

"Ini semua terjadi setelah Mas melihat Ummi digarap Arlo secara langsung. Ummi yang kita kenal begitu alim dan tertutup ternyata…" Suara Damar berubah menjadi bisikan serak penuh frustrasi.

“Ternyata apa Mas?” Desak Safiya sekali lagi.

"Ya seperti yang kamu lihat tadi. Ummi berubah jadi wanita binal saat bercinta dan itu membuat aku makin sange. Kalo cowok lain bisa ngewein Ummi, kenapa aku nggak?"

Safiya menarik bantal, memeluknya di dada sambil bersandar di dinding. Ia mencerna pengakuan kakaknya yang gila namun jujur itu.

"Jadi intinya, Mas Damar sange karena lihat wanita alim dan tertutup berubah jadi liar?" simpul Safiya. Damar mengangguk malu.

"Ehmmm, jadi kalo misalnya Safiya kayak Ummi, apa Mas Damar juga sange sama aku?" Mata Damar membelalak, kaget setengah mati. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

"Hah? Kamu ngomong apa sih Dek?!" Safiya tidak gentar. Ia melanjutkan dengan nada dingin namun memancing.

"Bayangkan, Mas. Gimana kalo aku nungging di depan cowok lain, membiarkan cowok itu ngewein aku, masukin kontolnya ke mulutku, apa Mas Damar juga bakal sange dan pengen ngewe sama aku?"

Damar menggelengkan kepalanya cepat sambil tertawa canggung. Ia yakin adiknya hanya sedang menguji moralitasnya dengan pertanyaan hipotetis gila.

"Ish! Apaan sih, kamu itu beda kayak Ummi ato Tante Sabrina. Kamu itu masih…"

"Masih polos ya?" potong Safiya pelan, senyum tersungging di bibirnya.

Gadis cantik itu kemudian menarik napas panjang. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin menghancurkan imajinasi naif Damar yang menganggapnya masih seperti gadis kecil nan polos. Tangannya meraih ponsel dari meja nakas. Jari jempolnya dengan lincah membuka secure folder yang terkunci sandi, lalu masuk ke galeri tersembunyi.

Ia menggulir layar sebentar, lalu berhenti pada sebuah thumbnail video. Di layar ponsel, terlihat video Safiya masih mengenakan seragam sekolah dengan rok panjang, sedang berada di sebuah ruangan, terlihat seperti sebuah ruang kantor. Safiya menekan tombol play lalu menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah kakaknya. Damar merebut ponsel dari tangan Safiya. Matanya terbelalak lebar, nyaris tak berkedip menatap layar kecil itu.

Di sana, terlihat jelas adiknya yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap sedang dipeluk posesif oleh sepasang tangan kekar dan berbulu lebat. Kulit tangan itu gelap, kontras sekali dengan kulit lengan Safiya yang putih mulus. Pria itu jelas jauh lebih tua, berbadan tegap tinggi besar. Detik berikutnya, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang intim penuh nafsu.

"Siapa bajingan ini?" tanya Damar dengan suara tercekat masih tak percaya.

"Itu Pak Malik, salah satu ustadz di pondok. FYI dia tetangga kita juga loh." jawab Safiya santai, suaranya terdengar datar tanpa rasa bersalah. Damar kembali terpaku pada layar.

“Hah? Serius???” Pekik Damar makin tak percaya. Safiya hanya mengangguk dan tertawa kecil.

Dalam video itu, Safiya mulai berlutut di hadapan pria tua tersebut. Tangan Pak Malik membuka ritsleting celananya, mengeluarkan kontol berwarna hitam yang sudah mengeras. Safiya menyambutnya dengan antusias. Jemarinya bergerak membelai alat kawin Pak Malik, menggosoknya sebentar sebelum kemudian mulut Safiya terbuka lebar menyambut daging segar berwarna hitam. Bayangan siluet orang yang lalu-lalang di balik kaca ruanga memberitahu Damar satu fakta gila bahwa mereka melakukannya saat jam sekolah!

Damar menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menolak realitas yang terpampang di layar. Namun, matanya tak bisa berpaling. Ia melihat bibir mungil adiknya terbuka lebar, lalu melahap kepala kontol hitam itu tanpa ragu. Safiya tampak kesulitan menelan seluruh batang kontol yang ukurannya jauh melebihi kapasitas mulunya, tetapi tangan Pak Malik menekan kepala gadis itu, memaksanya menelan lebih dalam hingga nyaris tersedak.

"Ka-Kalian sudah se-sering melakukan i-ini..?" tanya Damar gagap, suaranya nyaris hilang.

Tanpa sadar, kontolnya bereaksi akibat menyaksikan adiknya mengoral kemaluan orang lain. Otak Damar mendadak korslet. Safiya yang dia kenal sebagai sosok gadis manis, polos, dan pemalu kini justru sedang menyedot kemaluan pria yang usianya jauh lebih tua, bahkan pria itu merupakan ustadznya sendiri layaknya pelacur profesional.

"Hmm, hampir setahun mungkin." jawab Safiya acuh tak acuh dari samping, seolah sedang membicarakan hal sepele. Jawaban itu menghantam Damar telak.

Di layar ponsel, adegan berubah. Pak Malik menarik tubuh Safiya sampai berdiri. Mereka berciuman, ciuman bibir yang begitu intim. Melibatkan lidah dan air liur basah. Tangan berbulu Pak Malik bergerak ke belakang meremas bokong Safiya yang padat di balik rok sekolah abu-abunya, lalu dengan gerakan cepat,  jemari Pak Malik melucuti seragam Safiya satu per satu. Dalam sekejap, adik Damar itu telanjang bulat.

Satu-satunya yang tersisa di tubuh Safiya hanyalah seutas jilbab berwarna putih dan sepasang kaus kaki yang masih membungkus betis serta kakinya. Damar tanpa sadar menelan ludahnya berkali-kali kala menyaksikan tubuh mulus Safiya kini terekspos begitu jelas.

"Ahhh….Aaahhhh…Pak…."

Suara desahan Safiya terdengar jernih dan manja dari speaker ponsel, menusuk telinga Damar. Di video, Safiya kini dibungkukkan paksa di atas meja kerja mahoni yang besar. Wajahnya sangat dekat dengan lensa kamera ponsel yang berada di antara tumpukan berkas.

Wajah Safiya menatap lurus ke arah kamera. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka basah, lidahnya sedikit terjulur keluar dengan air liur menetes. Di belakangnya, tanpa aba-aba Pak Malik melesakkan kontolnya menuju liang senggama. Dari gerakan kasar yang terlihat, Damar meyakini jika Pak Malik memasukkan seluruh kontolnya tanpa ampun hingga membuat tubuh Safiya terhentak maju mundur di atas meja.

Safiya menatap lensa kamera dengan sorot mata menantang, seolah-olah ia tahu bahwa suatu hari videonya akan dilihat oleh orang lain. Safiya menyadari jika semua adegan cabulnya bersama Pak Malik terekam dengan sangat jelas dan itu sama sekali tak membuatnya risih sedikitpun. Damar disajikan sebuah tontonan video bokep, tapi yang memerankannya adalah adiknya sendiri!

"Aaahhhh! Terus Pak! Entotin memekku Pak! Aaahh! Enak Pak! Kontolmu enak Pak!"

Suara erangan Safiya berubah jadi racauan cabul, dahi gadis itu berkerut, ekspresi campuran antara menahan nyeri dan kenikmatan yang memuncak. Jelas terlihat ukuran kontol Pak Malik terlalu besar bagi liang vagina Safiya yang mungil. Namun anehnya, Safiya tidak meminta berhenti. Ia justru mendesah semakin liar, sengaja memprovokasi pria tua itu untuk menusuknya lebih dalam lagi.

"Kok ka-kamu bisa mau ngewe sama di-dia…?" tanya Damar gagap. Jakunnya naik turun. Matanya seolah tak mau lepas dari layar ponsel, tak sanggup berkedip.

"Awalnya Safiya nggak sengaja lihat Pak Malik lagi ngewein santri lain di gudang olahraga. Pak Malik tau kalo aku mengintip dan mengancamku untuk nggak cerita ke siapa-siapa…” Safiya menjeda sebentar, membiarkan Damar mencerna ceritanya.

“Jadi kamu dipaksa melakukan ini???” Darah muda Damar mendidih membayangkan adiknya dijadikan budak seks oleh ustadnya sendiri. Namun Safiya justru menggeleng santai.

“Awalnya iya, tapi lama-lama Safiya ketagihan sama kontol Pak Malik. Lagipula Pak Malik melakukan ini nggak gratisan, dia selalu ngasih Safiya uang yang cukup banyak.”

Napas Damar memburu berat, dadanya sesak mendengar pengakuan dari adiknya. Di layar ponsel, adegan berubah semakin intens. Safiya yang awalnya menungging membelakangi Pak Malik kini berbalik badan duduk mengangkang di atas meja. Kontol Pak Malik terlihat kekar menjulang basah mengkilat akibat cairan kewanitaan.

Pria tua itu kembali mendekat, diarahkannya ujung kontol tepat di celah sempit Safiya sebelum kemudian mendorong pinggulnya maju ke depan. Tubuh Safiya terhentak ke belakang, beruntung tangannya sigap memeluk leher Pak Malik. Dalam sepersekian detik vagina Safiya kembali dikoyak berkali-kali oleh keperkasaan kontol Pak Malik.

“Ouuchhhh! Paak!”

“Kenapa..? Kamu suka kan dientot kasar kayak gini?”

“I-Iya Pak! Aku suka! Aaahh!!”

“Hhehehe, dasar lonte kecil….Ssshhh..”

Terdengar bisikan cabul dan dengusan napas berat dari mulut Pak Malik bercampur dengan suara tumbukan kulit. Damar menonton dengan perasaan campur aduk, kontolnya di balik celana makin mengeras. Tak lama, Pak Malik melepas keluar kontolnya. Safiya turun dari meja dan kembali berlutut. Kali ini Pak Malik mengambil ponsel  mengubah sudut pandang menjadi dari atas.

Layar ponsel kini penuh dengan wajah Safiya secara close-up. Dengan tatapan penuh nafsu, lidahnya menjilati kontol Pak Malik, membersihkannya sejenak sebelum memasukkannya kembali ke dalam mulut. Tangan Pak Malik mencengkram erat kepala Safiya yang masih terbungkus hijab, pinggulnya bergerak maju mundur, kontolnya melesak keluar masuk di dalam mulut Safiya.

Darah Damar mendidih karena lewat wkspresi wajah dan tatapan mata Safiya, terlihat jelas jika adiknya itu begitu menikmati menjadi tempat pelampiasan nafsu bejat Pak Malik, seolah begitu bangga diperlakukan layaknya seorang pelacur bagi ustadznya sendiri.

"HAAAHHH! HAAAHHHH!”

Selang beberapa menit, Safiya melepas kulumannya dan mengocok kontol Pak Malik dengan cepat menggunakan tangan. Pak Mlaik mendengus, kponsel di tangannya bergetar beberapa saat sebelum kemudian semburan sperma kental meluncur deras, mendarat tepat di wajah Safiya. Cairan berwarna putih itu meleleh di pipi, bahkan muncrat hingga menodai kain hijab yang dikenakan oleh Safiya.

“AARGHHTTT! ANJING! AARRGHHTT!”

Safiya memejamkan mata, menerima pancutan demi pancutan lahar kenikmatan dari lubang kencing Pak Malik dengan sukarela, lalu menjulurkan lidah untuk menjilati sisa sperma di bagian ujung kontol. Video berakhir. Layar ponsel menjadi gelap.

Safiya mengambil kembali ponselnya dari tangan Damar. Pemuda itu menatap adiknya dengan pandangan kosong. Safiya kini berdiri di hadapannya, kembali terlihat normal. Ekspresi wajahnya begitu polos seolah tanpa dosa begitu kontras dengan apa yang baru saja dilihat Damar beberapa saat lalu. Safiya melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga Damar bisa mencium aroma tubuhnya.

"Jadi gimana Mas?" bisik Safiya dengan nada menggoda.

“Gi-Gimana apanya?” Damar bertanya balik, makin gugup.

"Mas yakin nggak mau ngewe sama aku?”

“Hah? Udah gila kamu ya?” Pekik Damar tak percaya dengan tawaran Safiya barusan.

"Safiya mirip Ummi, kan? Pake jilbab, alim, pendiam, tapi ternyata nafsu banget sama kontol gede.”

Damar menelan ludah yang terasa kesat seperti pasir. Lututnya lemas, tak bertulang. Ia bangkit berdiri perlahan, berusaha keluar dari kamar adiknya namun Safiya malah menghalangi langkah kakinya.

"Lebih baik aku keluar saja sekarang.” Safiya tidak membiarkannya lolos. Ia mendesak maju, memangkas jarak hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.

"Kenapa sih Mas? Apa karena aku bukan tipe wanita kesukaanmu? Atau Mas Damar udah terlanjur sange sama Ummi aja?” Jari telunjuk Safiya menyentuh dada Damar, menekannya pelan namun penuh intimidasi.

Pertanyaan itu menampar kesadaran Damar. Ia terpojok,  napasnya tercekat, keringat dingin mengucur di pelipis. Gairah dan rasa bersalah bertarung hebat di kepalanya, menciptakan kekacauan yang memusingkan.

"A-Aku nggak tau Saf…A-Aku bingung…" desis Damar frustrasi, matanya menatap bibir adiknya yang merekah, bingung harus lari atau melumatnya.

"Nggak usah bingung Mas, biar aku aja yang kerja kali ini..” bisik Safiya dengan halus.

Tanpa menunggu lama, Safiya perlahan menekuk lututnya. Tubuhnya melorot ke lantai dengan gerakan anggun. Kini, ia berlutut tepat di antara kedua kaki Damar yang berdiri di depannya. Damar terhenyak namun sama sekali tak menghindar. Dari tempatnya berdiri dia biasa melihat wajah cantik Safiya yang nampak begitu binal.

"Kalo Mas mau, boleh kok bayangin Ummi yang nglakuin ini…”

Safiya memang bisa dikatakan sebagai duplikat kekal ibunya. Dari cara bicara, gerak tubuh, hingga kecantikan wajah diwarisi dari sosok Kalila. Satu-satunya yang berbeda dari keduanya hanyalah postur tubuh saja. Jika Kalila memiliki bentuk tubuh semok nan berisi, tubuh Safiya terlihat lebih langsing. Isi kepala Damar kini perlahan berkabut birahi, batas-batas norma antara kakak beradik normal hilang berganti dengan cambukan nafsu setan.

Tangan Safiya bergerak cekatan. Ia membuka kancing celana Damar, lalu menurunkan ritsletingnya perlahan hingga membuat kontol Damar mencuat angkuh tepat di hadapan matanya. Jari-jari lentik Safiya langsung merayap mengusap kontol Damar, merasakan hangat dan kerasnya daging haram itu.

"Mas pengen ngrasain tangan Ummi yang megang kontol ini kan?" bisik Safiya, terus memanaskan imajinasi liar Damar dengan skenario terlarang. Napas kakak kandungnya itu tersengal berat.

“Eeemmchhh…Eeemmchhh…”

"Rileks Mas…Nikmatin aja…” Desis Safiya, nafas hangat dari mulut mungil menerpa ujung kontol, membuat bulu kuduk Damar meremang hebat.

“Ka-Kamu yakin mau nglakuin ini…?” Tanya Damar sekali lagi masih tak percaya dengan yang dilakukan tangan Safiya pada batang kontolnya.

“Mas mau aku berhenti…?” Safiya balas bertanya seolah tau jika Damar juga menginginkan hal yang sama. Damar terdiam.

Tau jika kakaknya sama sekali tak menolak, Safiya memajukan bibirnya mendekati bagian ujung kontol. Dikecupinya berkali-kali hingga membuat tubuh Damar menggelinjang. Kecupan itu kemudian berganti dengan ciuman lembut di sekujur batang, mulia dari ujung hingga pangkal.

“Ouucchh! Safiya…”

Lidah Safiya kini mengular menjilati sekujur batang kontol. Sesaat lidahnya menari-nari tepat di lubang kencing membuat Damar melenguh kegelian. Tangan Safiya yang bebas tak tinggal diam, sembari lidahnya terus bekerja, tangannya ikut mengocok kontol kakaknya. Damar jadi mengerti kenapa Pak Malik begitu ketagihan merasakan tubuh Safiya karena harus diakui jika adiknya itu sudah sangat terlatih memuaskan birahi seorang pria dewasa.

"Eeemmcchh…Gimana rasanya Mas? Enak?" bisik Safiya sedikit serak. Batang kontol Damar yang ada digenggamannya sengaja ditempelkan dan digesek-gesek ke pipinya.

“En-Enak…”

"Kalo ini pipi Ummi pasti Mas Damar makin sange ya..?” Safiya seolah punya seribu cara untuk membangkitkan fantasi terliar dari Damar.

Untuk kedua kalinya Safiya menggesekkkan ujung kontol Damar pada pipinya tapi kali ini tekanannya lebih kuat dan masih ditambah ekspresi nakal pada wajahnya. Damar makin tak tahan, dua tangannya meremas gemas rambut adiknya itu dari atas.

"Eeemmcchhhh…Bayangin ini wajah Ummi Mas…” Napas Damar menderu kencang, dadanya naik turun tak beraturan. Visual di bawah tubuhnya terlalu kuat untuk ditolak.

"Ouucchhh…Ummi…" desah Damar parau, matanya terpejam erat, menyerah pada ilusi yang sedang diusahakan oleh Safiya.

Alis Safiya terangkat mendengar akhirnya Damar menyebut ibu mereka. Tawa Senyum mengembang di bibir Safita, senyum kemenangan yang dingin. Tanpa ragu, lidah nya terjulur keluar guna menjilati lubang kencing kontol Damar.

"Eeemmchhh…Sekarang bayangin ini adalah lidah Ummi…" bisik Safiya di sela-sela jilatannya pada ujung kontol.

"Ouucchh! Anjing….Shit!” Desis Damar menahan ledakan birahi yang makin menjalar di dekujur tubuhnya.

Safiya mulai menjilati kontol kakaknya dengan penuh dedikasi. Lidahnya mengecap rasa asin dan amis yang familiar, rasa sisa cairan kewanitaan milik Sabrina. Alih-alih mual atau bahkan muntah, gairah Safiya justru makin meledak liar. Di bawah, vaginanya sendiri sudah mulai basah cenderung becek merespons rasa tabu yang kini lumer di mulutnya.

“Eeemmchhhh…Eeemmchhhh…”

Napas Damar memburu makin kencang, nyaris putus asa. Mulut Safiya kini mulai mengulum alat kawinnya. Menghisap, menjilat, bahkan sampai menyedot dilakukan oleh Safiya dengan sangat baik. Safiya menyeringai nakal melihat Damar yang sudah di ambang batas kewarasan.

Mulutnya terbuka lebih lebar,  membenamkan kontol Damar makin dalam. Kepalanya bergerak secara teratur mengikuti iraha hisapannya, menciptakan gesekan basah yang mematikan. Mata Safiya melirik ke atas tanpa berkedip. Ia menatap lekat wajah Damar yang sulit menghilangkan ekspresi keenakan.

"Ouuccchh! Ummi! Terus Ummi! Sedot kontolku Ummi!” racau Damar tak karuan dengan kedua mata sudah terpejam erat. Dalam benaknya saat ini yang sedang memberikan blowjob pada kontolnya adalah Kalila, ibunya sendiri.

"Damar cemburu ngliat Ummi dipake terus sama Arlo anjing! Aaachh!”

Safiya tersenyum di sela hisapannya mendengar pengakuan tabu dari Damar. Ia mempercepat tempo hisapannya, sementara itu tangan Damar kembali terulur, meraih kepala sang adik. Jari-jarinya membelai kepala adiknya sambil terus menikmati sensasi hangat sekaligus basah pada alat kawinnya yang tengah dikulum mesra.

"Ouucchhh…Ummi…Ummi…Ssshhh…"  Damar mengerang frustrasi saat Safiya tiba-tiba menghentikan aksi blowjob dan mengeluarkan batang kontol dari mulutnya.

“Mas beneran cemburu kalo Ummi dipake Arlo ya?" goda Safiya dengan suara mendesis, napasnya hangat menerpa kulit kontol Damar.

“Bukan hanya Arlo, Ummi juga udah pernah dipake sama Rama!” Pekik Damar frustasi.

Informasi barusan menyengat otak Safiya seperti listrik. Rasa malu bercampur bangga yang aneh tiba-tiba menjalari tubuh gadis cantik itu. Ternyata, pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya"  benar adanya. Ibunya yang selama ini selalu menampilkan citra alim dan tertutup, rupanya sangat binal, bahkan lebih dari satu pria muda yang pernah mencicipi tubuhnya. Fakta itu membuat Safiya semakin terangsang. Ada ikatan genetik kotor yang menghubungkan nafsu mereka.

Safiya kembali membuka mulutnya. Kali ini ia memasukkan kontol kakaknya lebih dalam, lebih rakus, dan lebih antusias dari sebelumnya. Imajinasinya liar ikut membayangkan ibunya dalam posisi yang sama melayani kontol sosok pria terlarang. Meskipun ukuran kontol Damar tidak sebesar Pak Malik, tapi tetap saja masih bisa membuat birahi gadis muda itu meledak-ledak dari dalam.

"Ahhhh!! Ummiiii!! Aku mau crot Ummi!"

Damar berteriak, memanggil ibunya saat tubuhnya mengejang hebat. Safiya buru-biri mengeluarkan alat kawin kakaknya dari dalam mulut ketika merasakan denyutan hebat. Tangan Safiya mengambil alih tugas, mengocok batang kontol Damar dan mengarahkan bagian ujungnya tepat ke wajah dan lidahnya yang terjulur keluar.

“Ouucchh! Anjing! Aku keluar!” Pekik Damar sekali lagi kala tak bisa lagi menahan ejakulasi lebih lama.

“Eeemmchhhh! Eeemmchhhh!”

Semburan deras sperma kental menghantam wajah Safiya, sebagian lagi menyasar lidah dan mulutnya. Damar menatap takjub wajah adiknya masih bersimpuh di bawah tubuhnya dengan wajah belepotan sperma.

"Eeemmchhh…Enak banget pejunya Mas Damar…" desis Safiya nakal.

Lidah Safiya bergerak menjilati sisa sperma yang menetes dari lubang kencing, lalu menyapu cairan yang ada di sekitar bibirnya sendiri seolah itu adalah madu. Damar terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan. Ia menatap adiknya dengan pandangan kosong tak percaya. Safiya kemudian bangkit berdiri dan duduk di tepi tempat tidur. Ia membersihkan wajahnya dengan jari, lalu menjilatinya hingga bersih di depan mata Damar.

"So, Mas Damar masih punya cita-cita buat ngewein Ummi…?” Goda Safiya.

Damar tidak menjawab. Ia hanya menatap adiknya dengan napas yang masih memburu. Namun di dalam ruangan yang penuh aroma dosa itu, sorot mata Damar memberikan jawaban jelas,

YA!

 

 

 

 

 

PART 2

 

Kalila membeku. Telapak tangannya menekan dada kirinya kuat-kuat, seolah berusaha menahan jantungnya agar tidak meledak keluar dari rusuk. Ia berdiri kaku di depan pintu kamar Safiya. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, namun setebal apa pun kayunya, tak cukup untuk meredam kebenaran gila yang baru saja diungkapkan dari dalam. Telinga Kalila menangkap segalanya dengan jernih, bahkan terlalu jernih.

Mulai dari pengakuan Safiya tentang skandal bersama Pak Malik, hingga yang paling menghantam ulu hati Kalila adalah pengakuan Damar. Darah daging yang ia susui sedari kecil, ternyata menyimpan obsesi birahi yang liar terhadap dirinya.

"Ahhhh!! Ummiiii!!"

Teriakan itu menembus dinding, menghantam gendang telinga Kalila. Teriakan klimaks Damar terdengar samar namun penuh tekanan, disusul suara kecipak basah yang familiar. Kalila tahu persis apa artinya. Putranya baru saja menunstaskan hajat birahi di dalam mulut adiknya sendiri.

Lutut Kalila terasa lemas, seolah tulangnya dilolosi satu per satu. Perlahan, dengan langkah gontai seperti orang mabuk, ia berbalik. Ia menyeret kakinya menjauh untuk kembali ke kamarnya sendiri. Ia menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan lalu menghempaskan tubuhny ke atas kasur. Kalila menatap kosong langit-langit kamarnya.

Di antara kedua pahanya, rasa nyeri masih berdenyut kencang. Itu adalah jejak basah sisa-sisa gempuran brutal Arlo tadi di ruang tamu. Sensasi penuh itu masih tertinggal, mengingatkannya betapa ia menikmati peran barunya sebagai wanita binal pecandu kontol brondong.

Tangannya turun ke bawah meraba perut. Untunglah ia rutin menelan pil kontrasepsi yang dibelikan oleh Arlo. Setidaknya, satu kekhawatiran bisa dicoret dari daftar dosa panjangnya. Matanya kemudian tertumbuk pada sebuah benda di atas meja kecil dekat ranjang. Bingkai foto keluarga. Di dalam foto itu, suaminya tersenyum wibawa, dirinya tersenyum anggun dengan balutan gamis syar'i, sementara Damar dan Safiya tersenyum polos mengapit mereka. Sebuah potret keluarga bahagia. Sebuah kebohongan yang sempurna.

Safiya, putri kecil yang selalu ia banggakan ternyata memiliki sisi kelam tersendiri. Tak pernah sedetik pun terlintas di benak Kalila jika gadis manis itu telah bertransformasi menjadi pemuas nafsu bagi ustadznya sendiri. Dan yang paling menyakitkan bagi Kalila bukanlah faktanya, melainkan alasannya.

Jelas bahwa Safiya melakukan itu bukan karena paksaan. Ia melakukannya karena rasa penasaran. Karena dorongan liar seperti halnya yang Kalila rasakan kala bersama Arlo. Citra siswi polos hanyalah topeng porselen sempurna untuk menutupi retakan di dalamnya.

Lalu Damar, putra sulungnya pun tak kalah bejat. Kalila bisa mendengar sendiri bahwa putranya itu memendam hasrat seksual terhadap tubuhnya! Itu adalah level kegilaan yang berbeda. Darah Kalila mendidih. Ia ingin berteriak. Ia ingin mendobrak pintu kamar Safiya sekarang juga, menyeret kedua anaknya keluar, dan menghukum mereka habis-habisan atas dosa incest dan perzinahan mereka.

Tapi langkahnya terhenti. Siapa dia yang berhak menghakimi? Pertanyaan itu menampar kesadarannya. Kalila menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih, menahan isak tangis yang mendesak keluar. Jari telunjuknya gemetar mengusap wajah suaminya di balik kaca bingkai foto.

Ia sadar, ia tidak punya hak moral sedikit pun saat ini. Tubuhnya sendiri masih lengket oleh jejak sentuhan Arlo. Ia baru saja selesai melakukan dosa dengan pria lain di ruang tamu rumahnya sendiri. Ia sendiri yang membuka gerbang kehancuran ini. Di hadapan foto suaminya, Kalila akhirnya mengakui satu hal bahwa dia adalah ibu yang munafik.

Ada hal yang jauh lebih mengerikan bagi Kalila daripada sekadar mengetahui dosa anak-anaknya. Itu adalah pengkhianatan tubuhnya sendiri. Saat telinganya mendengar Damar meneriakkan namanya dalam puncak klimaks tadi, selangkangan Kalila justru bereaksi. Cairan hangat merembes keluar tanpa izin, membasahi celana dalamnya yang memang sudah lembap.

Birahi itu seperti virus, dan ia sudah terinfeksi parah. Mulanya, liang senggamanya hanya terbuka untuk Arlo. Lalu Rama ikut mencicipinya. Dan sekarang? Bayangan tubuh Damar mulai menyusup ke dalam fantasi liarnya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi. Wajah Baskara di foto masih tersenyum tulus, potret seorang suami yang banting tulang demi menjaga keluarga ternyata justru ditikam habis-habisan dari belakang dengan sebuah pengkhianatan.

"Ma-Maafkan aku Mas…" bisik Kalila, suaranya serak dan patah-patah.

"Maafkan istrimu. Aku gagal Mas. Aku kotor…."

Namun ironisnya, di sela isak tangis dan permohonan ampun itu, tangan Kalila justru bergerak turun. Jemarinya menyusup ke balik rok, mencari pusat denyutan di antara kedua pahanya. Ia butuh pelepasan. Ia butuh menuntaskan gairah yang baru saja dibangunkan oleh dosa kedua anaknya di kamar sebelah.

 

***

 

Safiya mencium punggung tangan Kalila dengan hormat, hidungnya menyentuh kulit halus Kalila, lalu beralih mengecup kedua pipi wanita cantik itu.

"Makasih ya, Mi. Sarapannya enak banget," ucap Safiya sambil membetulkan hijabnya.

Matanya menyapu penampilan ibunya, daster rumahan berbahan rayon yang jatuh mencetak tubuh, kontras dengan setelan dosen yang biasanya kaku.

 "Ummi beneran nggak ngajar hari ini?" Kalila menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya.

"Enggak, Sayang. Ummi lagi kurang enak badan, mau istirahat di rumah saja hari ini."

"Mas Damar mana?" tanya Safiya lagi, matanya menyasar anak tangga di lantai dua yang lenggang.

"Masih tidur paling jam segini.”

Safiya mengangguk paham. Sebelum masuk ke mobil, ekor matanya melirik tajam ke arah jendela lantai dua. Bibirnya melengkung, memberikan senyuman penuh rahasia seolah tahu persis kakaknya sedang mengintip di balik tirai dengan napas tertahan.

"Oke, Abi mana?"

"Di sini!!"

Sosok Baskara muncul dari dapur dengan wajah ceria, tangan kirinya masih memegang potongan sandwich tebal sisa sarapan.

"Udah siap tuan puteri?"

 "Udah Bi, perut juga udah kenyang.”

“Oke, ayo kita berangkat! Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya sekalian nganterin Safiya balik ke pondok.” Baskara mengecup kening Kalila.

“Iya Mas, hati-hati ya. Nggak usah ngebut di jalan.”

“Siaapp bosss!” Balas Baskara dengan senyum jenaka.

Tawa mereka pecah di pagi yang cerah. Sebuah potret keluarga harmonis yang sempurna dan palsu. Tak lama kemudian, suara mesin mobil menderu halus. Tangan Baskara dan Safiya melambai dari jendela, lalu kendaraan itu melaju keluar gerbang, meninggalkan rumah besar yang menyimpan terlalu banyak dosa.

Begitu gerbang otomatis tertutup rapat dan suara mobil menghilang di tikungan, senyum di wajah Kalila luntur seketika. Topeng ibu periang itu retak, digantikan wajah dingin dan kaku. Ia berbalik badan, langkahnya tegas masuk ke dalam rumah. Matanya langsung menangkap sosok Damar yang baru saja hendak mengendap-endap menuju dapur.

"Damar! Ke sini." Suara Kalila terdengar rendah, tegas, namun ada getaran serak di sana yang sulit diartikan.

"Ummi mau bicara sama kamu. Sekarang!"

Tanpa menunggu bantahan, Kalila berjalan lurus menuju meja makan. Damar menelan ludah yang terasa pahit. Kakinya terasa berat seperti dibebani beton saat mengekor ibunya. Ia tahu betul arah pembicaraan ini, ia hanya tidak menyangka "sidang"-nya akan digelar terlalu cepat.

Kalila duduk di kursi ujung. Damar, dengan ragu, menarik kursi di sampingnya, posisi menyiku yang intim namun konfrontatif. Untuk menutupi kegugupan, tangan Damar asal menyambar sisa sandwich di piring, menggigitnya pelan tanpa nafsu.

"Ada apa, Mi?" tanya Damar basa-basi, suaranya terdengar kering. Kalila menatap putranya lekat-lekat, seolah sedang membaca isi kepalanya yang kotor.

"Nggak usah pura-pura. Ummi dengar semuanya kemarin sore," ucap Kalila langsung pada intinya, tanpa tedeng aling-aling.

"Ummi tau apa yang kamu lakukan sama Safiya di kamar!”

“Uhuk!”

Damar tersedak. Ia terbatuk keras, matanya melebar kaget, wajahnya memerah padam. Kalila menghela napas panjang, tangannya gemetar meraih cangkir kopi sisa sarapan suaminya yang sudah dingin, lalu menyesapnya sedikit untuk menenangkan saraf yang menegang.

"Ummi dengar jelas apa yang kalian omongin. Safiya nyuruh kamu bayangin kalau itu mulut Ummi, kan? Dan kamu menikmati itu." Suara Kalila bergetar hebat, campuran antara kemarahan, rasa malu, dan sesuatu yang lain.

"Sebegitu pengennya kamu sama Ummi? Kamu nggak sadar kalau itu salah besar? Dosa besar! Ummi ini ibu kandungmu, Damar! Ummi yang melahirkanmu!"

Damar terdiam sejenak. Suasana di meja makan berubah jadi mencekam. Ia meletakkan sandwich perlahan. Alih-alih menunduk takut seperti anak kecil yang ketahuan mencuri, ia justru mendongak. Menatap balik mata Kalila dengan sorot mata berbeda, sorot mata seorang laki-laki dewasa yang terusik harga dirinya.

"Damar ngerti, Mi. Damar tahu itu salah. Tapi..." Damar memberanikan diri.

"Damar rasa kita semua sudah terlalu jauh. Ummi main sama Arlo, sama Rama... Damar main sama Tante Sabrina, Tante Mey..."

"Cukup!" potong Kalila cepat, tangannya memukul meja.

"Enggak, Mi. Damar harus terusin!" desak Damar.

"Ummi nggak bisa bohong lagi karena kemarin kita sudah sama-sama terbuka. Ummi juga menikmatinya!”

Wajah Kalila memerah padam seketika, seperti tertampar kenyataan. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia membuka mulut untuk membantah keras tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Lidahnya kelu. Ia menggelengkan kepala lemah, mencoba menyangkal fakta yang justru tubuhnya sendiri rasakan saat ini.

"Kemarin itu…" Kalila tergagap, pertahanan dirinya sebagai seorang ibu runtuh berantakan di depan putranya sendiri.

"Mungkin Ummi cuma khilaf. Terbawa suasana sesaat. Tapi bukan berarti kita harus menuruti nafsu gila itu." sanggah Kalila, suaranya terdengar putus asa.

"Kita harus tahu batasan sebelum semuanya hancur berantakan."

Kalila berusaha terdengar bijak, mati-matian memungut sisa-sisa wibawanya yang berserakan. Damar hanya mengangguk pelan, pura-pura paham meskipun dalam hatinya tak pernah padam keinginan untuk menyetubuhi Kalila.

"Oke, Damar ngerti. Jadi intinya kita berhenti total? Ummi sanggup berhenti ngewe sama Arlo?"

Kalila membeku, wajahnya pias. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, bingung dan frustrasi mencari alasan pembenar. Tepat pada detik itu, suara pintu depan terbuka lebar tanpa diketuk.

"Assalamualaikum."

Suara bariton yang familiar imembuat jantung Kalila mencelos. Arlo berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang, santai seolah ini adalah rumahnya sendiri.

"Waalaikumsalam. Masuk!" jawab Kalila. Arlo melangkah masuk, matanya menyapu tubuh Kalila sekilas lalu beralih ke Damar.

"Eh, Mar. Pas banget lo masih di sini," kata Arlo santai sambil mengunyah permen karet.

"Nyokap gue butuh bantuan lo deh kayaknya sekarang.”

Alis Damar terangkat sebelah. Itu adalah undangan terbuka. Kode keras. Tante Sabrina sedang kesepian dan butuh pelampiasan. Kalila terdiam kaku. Ia melihat Arlo berjalan mendekatinya tanpa ragu. Dengan santai dan posesif, pemuda itu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang, tepat di depan mata Damar.

"Ayo, Bu Dosen. Katanya mau dipijitin." bisik Arlo mesra di telinga Kalila, sengaja menekankan kata pijit dengan nada nakal.

Petuah bijak Kalila soal membatasi diri dan tatanan moral serta dosa pada Damar beberapa saat lalu menguap begitu saja. Tubuhnya mengkhianati akal sehatnya, merespons sentuhan Arlo dengan patuh seperti kerbau dicocok hidungnya. Kalila berdiri, wajahnya memalingkan muka, tak berani menatap mata Damar.

"Nanti Kita lanjutin ngobrolnya lagi." ujar Kalila lemah, nyaris tak terdengar.

Tanpa menoleh lagi, Kalila membiarkan dirinya dituntun Arlo menaiki tangga menuju kamar utama, kamar suci tempat ia seharusnya menjaga kehormatan suaminya. Damar menatap punggung ibunya dan Arlo yang menghilang di balik pintu lantai atas. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ada rasa kecewa yang perih, cemburu yang membakar, namun di atas segalanya ada pembenaran yang mutlak.

“Kalau Ummi aja nggak bisa berhenti, kenapa aku harus?” batinnya.

Damar bangkit dari kursi, Dengan langkah mantap, ia berjalan keluar rumah menuju rumah Arlo, tempat dimana Sabrina sudah menunggunya saat ini.

 

***

 

"Bu Dosen sengaja bolos ngajar cuma buat ngewe seharian sama Arlo, kan?"

Pertanyaan Sabrina meluncur tajam, membelah keheningan sore itu tanpa basa-basi. Mereka sedang duduk santai di bangku taman kompleks, rutinitas joging seperti biasa. Bedanya, kali ini Mey absen. Wanita keturunan tionghoa itu sedang datang bulan dan moodnya berantakan.

Di hadapan mereka, tersaji ironi yang telanjang. Beberapa meter dari bangku itu, anak-anak balita tertawa riang bermain perosotan, didampingi ibu-ibu muda yang normal. Sementara di sini, di sudut yang agak terlindung pohon rindang, dua wanita matang sedang membicarakan dosa ranjang yang paling tabu. Kalila nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia buru-buru menggeleng, berusaha menyangkal tuduhan Sabrina meski hatinya mencelos.

"Enggak kok! A-Aku cuma lagi nggak enak badan saja hari ini." sanggah Kalila defensif.

Meski bibirnya menyangkal, selangkangannya yang masih terasa nyeri mengingatkan bahwa rojokan batang kontol Arlo tadi pagilah yang membuatnya enggan beranjak dari kasur seharian. Sabrina hanya mengangguk-angguk, tidak terlalu peduli dengan alibi Kalila. Tatapan matanya menerawang jauh ke arah ayunan kosong yang berderit ditiup angin.

"Hmmm, sebenarnya aku juga butuh waktu untuk bicara sama Arlo soal kejadian tempo hari di rumahmu.” Sabrina menjeda kalimatnya, menarik napas berat.

“Ya, aku setuju. Tadi pagi sebelum Arlo datang, aku juga sudah membicarakannya dengan Damar.” Sahut Kalila, meskipun obrolannya tadi pagi sama sekali tak menghasilkan solusi apapun.

"Hmm, aku mau jujur sama kamu Kal. Dulu, aku pernah tidur sama abangnya Arlo."

Leher Kalila kaku seketika mendengar pengakuan santai dari Sabrina. Rahangnya seperti jatuh, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Hah? Ka-Kamu pernah tidur sama anak kandungmu sendiri?" desis Kalila, suaranya tercekat di tenggorokan.

Sabrina menunduk, memainkan ujung bajunya dengan gelisah. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena gairah memori itu kembali menyengat.

"Iya, harusnya waktu itu aku menolaknya. Tapi entah setan apa yang merasukiku, aku malah meladeni birahi anakku sendiri." Sabrina menatap Kalila dengan tatapan putus asa namun jujur.

"Jujur, Kal. Malam itu, kenikmatannya beda banget. Rasanya salah, kotor, tapi ikatan batin kami bikin orgasmenya luar biasa. Kalau saja aku nggak buru-buru kirim dia kuliah ke luar negeri karena ketakutan, mungkin aku sudah hamil benih anakku sendiri sekarang."

Hening mencekam menyelimuti mereka berdua. Angin sore berhembus pelan, menyingkap sedikit rambut Kalila di balik hijab.

"Terus Arlo?" tanya Kalila pelan, nyaris tak terdengar.

 "Apa kamu juga tertarik nyicipin Arlo juga sekarang?" Sabrina menoleh, tatapannya tajam dan lapar.

"Setiap saat, Kal. Tiap kali aku lihat Arlo jalan keluar kamar mandi. Tiap kali aku lihat tatapan matanya, rahimku bergetar. Aku pengen dia. Aku pengen dientotin kontolnya."

Pengakuan blak-blakan itu menghantam pertahanan Kalila hingga hancur lebur. Ia mendongak, menatap awan putih yang berarak di langit biru, mencoba mencari sisa kewarasan yang sudah hilang. Pikirannya melayang pada Damar. Pada tatapan memuja putranya tadi pagi. Pada fakta bahwa seluruh keluarganya telah rusak total. Kalila menggigit bibir bawahnya hingga perih, lalu menatap lurus ke manik mata Sabrina. Tidak ada gunanya lagi berpura-pura  di depan wanita yang sama rusaknya.

"Aku juga…" bisik Kalila gemetar.

"Aku juga pengen ngrasain kontol Damar….."

 

 

 

 

 

 

PART 3

 

"Ummph…Masss! Aaahhhhh!"

Kalila mendesah lembut, menikmati sentuhan suaminya. Vaginanya yang basah mencengkeram kontol Baskara. Tidak ada kekasaran, tidak ada jambakan rambut, atau kata-kata kotor yang merendahkan. Semuanya terasa penuh cinta dan penghormatan.

Mata Kalila terpejam, membiarkan tubuhnya terombang-ambing mengikuti dorongan pinggul suaminya. Tangan Baskara meremas payudaranya dengan gemas namun penuh kasih, sementara napas hangatnya menyapu leher Kalila.

"Ummph!! Ummph!! Sayang!! Ahh!! Ahh!! Ahhh!!"

Suaminya mengerang panjang, tubuhnya menegang. Sebelum mencapai puncak, ia menarik kontolnya keluar dengan cepat. Cairan hangat itu menyembur di atas perut Kalila, bukan di dalam vagina. Selesai menunaikan ibadah persetubuhan halal, tubuh Baskara jatuh terkulai di samping, napasnya memburu.

"Kenapa dikeluarin di luar Mas…?" tanya Kalila pura-pura polos, sambil mengatur napasnya. Baskara tersenyum lembut sambil mengusap keringat di dahi Kalila.

"Kamu sekarang kan lagi masa subur. Nanti kalo jadi malah kita yang repot, udah cukup dua anak aja. Lagian Damar sama Safiya udah gede-gede, malu mereka kalo punya adek lagi.” Jelas Baskara panjang lebar.

Kalila hanya tersenyum mendengar penjelasan Baskara. Namun dalam hati, ia merasa geli melihat betapa hati-hatinya Baskara. Padahal, rahimnya sudah aman terkendali berkat pil kontrasepsi yang rutin dibelikan oleh Arlo sebagai persiapan jika sewaktu-waktu pemuda itu memuntahkan spermanya di dalam rahim Kalila.

Dosen cantik itu kemudian bangkit dari tempat tidur, meraih tissu di atas nakas. Matanya menatap sekilas ke arah selangkangan suaminya. Batang kontol Baskara kini perlahan mulai menyusut, layu, dan lemas. Meskipun suaminya mampu memuaskannya secara emosional dan finansial, secara fisik, stamina pria paruh baya itu tidak bisa dibohongi. Satu ronde, dan selesai.

Pikiran Kalila sontak melayang liar. Membandingkan kemampuan Baskara saat bercinta dengan Arlo yang seperti kuda liar, atau membayangkan tenaga muda Damar yang pasti meledak-ledak dan tak kenal lelah. Kalila menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran kotornya sendiri.

"Aku mandi sebentar ya Mas…"

Baskara hanya mengangguk pelan, matanya sudah berat karena kantuk pasca-orgasme. Kalila melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dari keringat dan cairan sperma. Setelah segar, ia memilih pakaian tidur yang sedikit berbeda malam ini. Ia mengenakan kaos oversize, dipadukan dengan hotpants mini sebatas paha. Saat ia keluar, Baskara sudah mendengkur halus, tertidur pulas. Kalila menyelimuti tubuh suaminya dengan penuh kasih sayang. Namun, rasa kantuk belum menghampirinya. Adrenalinnya masih tersisa.

Kalila melangkah keluar dari kamar tidur lalu menyusuri koridor yang remang-remang. Matanya tertuju pada pintu kamar Damar. Celah di bawah pintu menunjukkan lampu kamar itu masih menyala. Damar belum tidur. Jantung Kalila berdegup kencang. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kayu itu. Tangannya terangkat, siap mengetuk. Imajinasinya liar membayangkan apa yang sedang dilakukan putranya di dalam sana. Apakah Damar sedang memikirkannya? Apakah Damar sedang melakukan onani sambil membyangkan tubuhnya?

Hanya selembar pintu yang memisahkan mereka. Namun sedikit ketakutan menarik kembali akal sehat Kalila. Tangannya yang menggantung di udara perlahan turun kembali. Ia menggelengkan kepala, menarik napas panjang untuk menenangkan rahimnya yang bergejolak, lalu memutar tumitnya, kembali ke kamarnya sendiri.

 

***

 

"Sumpah, gue kek busuk banget seminggu ini cuma bengong doang di rumah," gumam Damar sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik Arlo. Matanya menatap bosan ke langit-langit kamar.

 "Jakarta isinya mall doang, anjir. Gue butuh lihat alam, cari udara segar." Di meja belajar, Arlo tampak sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.

"Ya keluar lah kalo bosan," sahut Arlo tanpa menoleh.

"Mau ke mana coba? Macet di mana-mana," keluh Damar lagi.

"Ke Sea World sana. Kan bisa lihat ikan. Itu alam juga namanya," celetuk Arlo asal. Damar melirik sinis ke punggung Arlo. Tak lama, jari Arlo menekan tombol Enter dengan gaya dramatis.

"Hah! Kelar juga akhirnya, KRS buat semester depan udah beres!" kata Arlo sambil memutar kursinya menghadap Damar.

 "Jadi, lo beneran nggak ada kuliah hari ini?"

"Nggak ada. Yah, sebenarnya dua kelas pagi dibatalin gara-gara dosennya ada rapat senat. Ada satu kelas lagi sih habis makan siang tadi, tapi gue malas. Titip absen sekali-kali aman lah," jawab Arlo santai sambil menyalakan sebatang rokok. Damar mengangguk paham. Ia sudah hafal betul tabiat Arlo.

"Eh, kalau lo segabut itu gimana kalau weekend ini kita cabut?" usul Arlo tiba-tiba, matanya berbinar licik.

"Ke Anyer, yuk? Atau Carita?" Damar menaikkan sebelah alisnya, ragu.

"Anyer? Dih, malas ah, airnya butek, banyak bocil main pasir. Nggak asyik tempatnya."

"Hmm, benar juga sih. Kalau gitu..." Arlo berpikir sejenak, menghembuskan asap rokoknya ke udara.

"Tanjung Lesung? Pantainya memang nggak sebagus di Bali sih, tapi gue tahu ada satu resort privat di sana yang oke punya. Sepi, jauh dari keramaian, dan private."

"Hmm…boleh juga tuh!" Damar mulai tertarik.

 "Terus, kita ngajak siapa? Cewek-cewek kampus?" Arlo menyeringai penuh arti.

"Gimana kalo nyokap kita berdua aja?” Damar langsung bangun dari posisi tidurnya, duduk tegak di tepi kasur. Adrenalinnya terpacu seketika.

"Anjir, ide gila. Tapi bagus." Damar berpikir cepat.

"Terus gimana sama bokap lo? Kalau bokap gue tiba-tiba mau ikut gabung gimana?"

"Tenang saja. Bokap gue lagi ada perjalanan dinas ke Surabaya seminggu ini, jadi dia nggak bakal pulang weekend nanti," jelas Arlo yakin.

"Sekarang tinggal tergantung bokap lo. Lo bisa nggak kondisiin dia biar nggak ikut?" Damar mengangguk-angguk, otaknya mulai menyusun strategi alibi.

"Hmm, kayaknya bisa diatur.”

"Sip. Kabarin gue nanti hasilnya," ujar Arlo dengan senyum lebar.

Mata Damar berkilat nakal membayangkan apa yang bisa terjadi di resort nanti. Arlo tertawa kecil melihat antusiasme temannya itu.

 "Dasar lo, otaknya langsung traveling ke mana-mana. Buruan bujukin Bu dosen, kalo Mamaku pasti mau ikut.”

"Eh? Hahaha. Oke, siap!" jawab Damar, menyandarkan punggungnya kembali dengan perasaan lega sekaligus tegang.

Ada rasa gugup bercampur gairah yang meledak di dadanya. Jika rencana liburan ke Tanjung Lesung ini berhasil, itu akan menjadi kesempatan emas. Jauh dari rumah, suasana liburan yang santai, dan berdasarkan reaksi ibunya beberapa hari lalu, Damar yakin batas antara ibu dan anak akan benar-benar runtuh sepenuhnya.

 

***

Kalila meletakkan koper berukuran sedang miliknya di sisi dinding. Roda koper itu berbunyi pelan saat bergesekan dengan lantai kayu vinyl kamar resort yang mewah. Di belakangnya, terdengar suara sepatu heels milik Sabrina dilepas dan diletakkan sembarangan. Wanita cantik itu melangkah masuk lebih dalam tanpa alas kaki, namun langkahnya terhenti mendadak di sebuah pintu kayu di dinding samping, sebuah connecting door menuju kamar sebelah. Sabrina menoleh sambil menunjuk pintu itu dengan dagunya.

"Bu Dosen tahu nggak pintu ini tembus ke mana?" tanya Sabrina sok polos.

Kalila mengikuti arah pandang Sabrina, lalu menggelengkan kepala pelan. Namun sedetik kemudian, matanya menyipit. Ia menyadari implikasi nakal dari keberadaan pintu itu.

"Hmmm, ini pasti akal-akalannya Arlo.” gumam Kalila.

Sabrina tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala memaklumi kelicikan putrany yang sudah merancang liburan kali ini dengan rapi. Tanpa rasa canggung, Sabrina mulai melepas lilitan selendang pashmina dari kepalanya, membiarkan rambut hitamnya terurai jatuh ke bahu.

"Gerah banget, aku mandi dulu ya.” kata Sabrina santai sambil mulai membuka kancing blus sutranya satu per satu.

Kalila berjalan menuju pintu kaca geser yang menghadap ke balkon. Ia membukanya sedikit. Angin laut yang kencang dan berbau asin langsung menerobos masuk. Kain gamis dan jilbab panjang Kalila tersibak liar, menempel ketat mencetak bentuk payudaranya yang penuh. Secara refleks, tangan Kalila langsung menyilang di dada untuk menahan kain itu agar tidak menyingkap lekuk tubuhnya, meskipun balkon di depan sana kosong melompong, hanya ada hamparan laut biru berkilauan ditimpa matahari siang.

"Kita ada rencana khusus nggak sih habis ini?" tanya Kalila sambil sedikit menyipitkan mata karena silau.

"Nggak ada deh kayaknya. Tadi di mobil si Arlo cuma bilang mau santai lihat sunset di pantai saja," jawab Sabrina santai dari dalam kamar.

Sabrina sudah menanggalkan seluruh pakaiannya. Kini tubuhnya yang sintal hanya terlilit handuk. Kulitnya tampak sedikit berkeringat.

"Tutup gih pintunya, Kal. Panasnya masuk, AC-nya jadi nggak kerasa dingin," keluh Sabrina sambil berjalan melenggang menuju kamar mandi.

Kalila mengangguk. Ia kembali masuk, menutup pintu geser itu rapat-rapat hingga suara deburan ombak teredam. Hawa dingin AC kembali menyelimuti kulitnya. Perlahan, jari-jari Kalila bergerak ke bawah dagu, mulai melepas peniti hijabnya satu per satu. Namun sebelum ia benar-benar melepasnya ia teringat sesuatu.

Kalila meraih ponsel dari dalam tas. Detik berikutnya, jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Mengetikkan sebuah pesan pada Baskara yang berada di rumah.

Assalamualaikum, Mas. Alhamdulillah, kami sudah sampai hotel. Sinyal agak susah di sini, putus-putus. Nanti dikabarin lagi ya kalau sudah dapat sinyal bagus. Baik-baik di rumah.

Sebuah kebohongan klasik tentang sinyal susah untuk menghindari telepon atau video call dari pasangan. Setelah menekan tombol kirim dan melihat tanda centang satu berubah menjadi dua, Kalila meletakkan ponselnya di nakas dengan layar tertelungkup. Ia menghela napas panjang, siap untuk membersihkan diri dan bersiap untuk apa pun permainan gila yang direncanakan oleh Arlo serta Damar.

 

***

 

Sore itu dihabiskan dengan kegiatan turis yang klise namun menyenangkan. Mereka berjalan menyusuri garis pantai, bermain cipratan air di perairan dangkal, dan mengambil puluhan foto lewat ponsel dengan latar matahari terbenam. Setelah kembali ke kamar mereka bersiap untuk makan malam.

Penampilan mereka malam itu sangat kontras. Kalila tampil sangat anggun dan tertutup. Ia mengenakan hijab panjang berwarna merah muda cerah yang menjuntai menutupi dada, dipadukan dengan dress gamis longgar yang menyamarkan lekuk tubuhnya.

Sementara itu Sabrina tampil jauh lebih berani. Wanita cantik itu menanggalkan segala atribut kesopanannya. Ia hanya mengenakan tanktop bertali tipis berwarna hitam yang memamerkan belahan dada montok dan kulit bahunya yang mulus.  Bawahannya lebih parah lagi. Sabrina hanya memakai celana hotpants denim belel yang potongannya sangat pendek, nyaris sebatas pangkal paha. Kaki jenjangnya terekspos penuh, menantang angin malam dan mata siapa saja yang melihat.

Makan malam di restoran seafood tepi pantai berlangsung meriah. Aroma udang bakar madu dan cumi saus padang, ditambah iringan musik live acoustic dan deburan ombak, membuat mereka tertawa lepas. Untuk sesaat, mereka melupakan status anak dan ibu.

Namun, atmosfer berubah drastis saat perjalanan pulang. Alih-alih lewat jalan utama yang terang benderang, mereka sengaja memilih jalan memutar melewati jalur setapak yang sepi untuk kembali ke cottage. Langit sudah gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan samar dan lampu taman resort yang remang-remang di kejauhan.

Suara deburan ombak yang keras mengisi keheningan, menyamarkan suara napas yang mulai memburu. Memanfaatkan kegelapan dan sepinya jalan, Arlo langsung bertindak. Tanpa basa-basi, ia menarik pinggang Kalila kasar, merapatkan tubuh dosen cantik itu ke sisinya layaknya sepasang kekasih.

Tangan Arlo meluncur turun ke bokong bulat Kalila yang tersembunyi di balik gamis longgar. Jari-jarinya mencengkeram kuat, meremas daging empuk itu dengan gerakan memutar posesif, seolah ingin memastikan bahwa di balik kain syar'i itu, tubuh Kalila hanyalah miliknya.

"Ahhh….Arlo…" desah Kalila pelan, kaget namun pasrah.

Sabrina dan Damar yang berjalan di belakang menjadi saksi mata aksi nakal itu. Mereka bertukar pandang dan tersenyum geli. Tak mau kalah, Damar menarik pinggang ramping Sabrina yang terbuka bebas. Kulit ketemu kulit. Namun, tangannya jauh lebih agresif.

Alih-alih bokong, tangan Damar langsung merayap naik dan meremas payudara Sabrina yang menyembul di balik tanktop bertali tipis. Jemarinya memijat gundukan empuk itu dengan ritme pelan namun sangat intens, merasakan teksturnya tanpa halangan apapun.

"Mmmhh...Dasar nakal…" desis Sabrina, namun tubuhnya justru bersandar manja ke dada Damar, menikmati remasan jemari pemuda itu di dadanya.

"Kalian memang sudah rencanain ini dari awal ya? Pakai nyeret kita jauh-jauh ke Banten segala..." Celetuk Sabrina. Damar hanya terkekeh pelan, napas hangatnya menyapu leher jenjang Sabrina yang terekspos.

Sesampainya di koridor resort yang sunyi, pembagian kamar terjadi secara natural tanpa perlu kata-kata. Damar menarik tangan Sabrina menuju kamarnya. Sementara Arlo berdiri santai dengan tangan di saku, menunggu Kalila membuka pintu kamar sebelah dengan kartu kuncinya.

Damar memberikan kedipan nakal terakhir pada ibunya dan Arlo, sebelum pintu kamar tertutup, memisahkan dua pasangan itu ke dunia dosa masing-masing. Begitu pintu terkunci dan lampu indikator berubah merah, Sabrina tidak membuang waktu. Ia langsung memutar tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di leher Damar, menarik wajah pemuda itu ke bawah. Bibir mereka bertemu dalam ciuman basah, liar, dan penuh nafsu.

Sabrina menekan tubuhnya rapat-rapat. Payudaranya yang montok dan padat di balik kain tanktop tipis tergencet dada bidang Damar. Sabrina menggeseknya dengan gerakan naik turun yang provokatif.

"Ummph...Tante..."

Damar mendesah di sela ciumannya. Tangannya mulai merayap di punggung mulus Sabrina yang terbuka lebar tidak menemukan halangan apa pun. Tidak ada pengait, tidak ada tali. Tangannya kemudian beralih ke depan, meremas gundukan payudara.

Sabrina tidak memakai bra. Putingnya yang keras langsung mencetak jelas di telapak tangan Damar. Jari-jari Damar bisa merasakan teksturnya. Tanpa busa, tanpa kawat. Hanya daging empuk yang hangat dan kenyal. Gairah Damar meledak seketika. Ia meremas payudara itu dengan nafsu yang membara, sementara tangannya yang lain turun meremas bokong Sabrina yang terekspos jelas di balik hotpants denimnya.

Lidah mereka saling membelit, bertarung memperebutkan dominasi. Namun, Sabrina jelas memegang kendali. Ia mendorong dada Damar kuat-kuat hingga pemuda itu jatuh telentang di kasur empuk. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Sabrina merangkak naik, mengangkangi pinggul Damar. Paha mulusnya menjepit tubuh sang pejantan. Ia melumat bibir Damar sekali lagi dengan rakus.

Di tengah ciuman panas, Sabrina menarik kedua pergelangan tangan Damar ke atas kepala. Damar menurut saja, mengira ini hanya variasi posisi biasa agar ciumannya lebih dalam. Tangannya menyentuh kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.

Tiba-tiba...

Klik! Klik!

Suara logam dingin terkunci mengejutkan Damar. Ia tersentak membuka matanya. Kedua tangannya kini terpasung erat pada tralis kayu kepala tempat tidur oleh sepasang borgol besi yang entah sejak kapan disiapkan Sabrina.

Sabrina duduk tegak di atas perut Damar, menatap hasil karyanya dengan senyum penuh kemenangan. Napasnya memburu, dadanya naik turun di balik tanktop ketatnya yang basah oleh keringat. Tangannya perlahan membelai dada bidang Damar yang kini tak berdaya.

"Tante mau ngapain?" tanya Damar gugup. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara panik dan birahi. Sabrina tertawa kecil, tawa yang terdengar nakal dan dominan.

"Lho, kenapa? Bukannya anak muda zaman now suka permainan gila kayak gini?" godanya sambil mencolek hidung Damar.

"Nikmatin saja sayang…."

Damar mencoba menarik tangannya. Sia-sia. Borgol itu terkunci mati, dan kepala tempat tidur itu tertanam kuat di dinding. Jika ia memaksa menarik, pergelangan tangannya akan lecet. Ia pasrah total.

"Jadi Tante mau main kasar nih ceritanya?" tantang Damar, mencoba terdengar berani meski nyalinya sedikit ciut.

Sabrina hanya tersenyum misterius. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, lalu tangannya merogoh saku belakang hotpants-nya yang ketat. Ia mengeluarkan sebuah kain penutup mata satin berwarna hitam. Mata Damar membelalak lebar.

"Buat apa itu?"

"Sssttt... Rahasia," bisik Sabrina tepat di telinga Damar.


Posting Komentar

0 Komentar