BELENGGU BIRAHI - SEASON 3
PART 1
Wajah Safiya masih membara, memanas
seperti besi ditempa. Ia menyelinap mundur dari celah pagar tangga, melangkah
sehalus bayangan. Adegan tadi terpateri di benaknya bak lukisan tak terlupakan.
Kakaknya, Damar, menarik kontol yang masih basah oleh cairan kental dari vagina
Sabrina. Yang membuat dadanya sesak, Arlo baru saja mencabut kontolnya dari
kemaluan ibunya.
Pintu kamar tertutup senyap saat
Safiya membantingkan punggungnya ke kayu solid. Nafasnya tersengal, pikiran
bergegas mencerna pemandangan tak terduga itu. Tangannya mencengkeram rambut
sendiri, masih tak percaya
"Bangsat," desis Safiya,
suaranya terdengar serak.
Ibunya yang selama ini dikenal
sebagai dosen terhormat, istri setia, dan ibu yang baik ternyata wanita binal.
Bau anyir yang sempat ia endus kemarin kini jelas sumbernya. Ibunya pulang
dengan tubuh masih basah oleh sperma lelaki lain.
Anehnya, alih-alih muak, Safiya
justru merasakan gemuruh hangat di selangkangannya. Rasa penasaran yang
menggoda. Ia sendiri bukan perawan suci, sudah dari setahun lalu dia terjebak
jerat dalam hubungan gelap dengan Pak Malik, salah satu ustadz di pondok yang
tak lain adalah suami dari Zahra, tetangganya sendiri. Kini ibunya ternyata
sama bejatnya.
Suara derap kaki menapaki anak
tangga. Pasti ibunya naik untuk membersihkan diri, diikuti langkah lebih berat
milik Damar. Safiya menahan nafas sampai bunyi pintu kamar ibunya terbuka. Saat
langkah kedua melewati depan kamarnya, ia menyentak keluar hingga pintu
terbuka.
"Eh?!"
Damar tersentak kaget saat kerah
bajunya ditarik kasar. Safiya menyeret kakaknya itu masuk ke dalam kamar, lalu
menutup pintu hingga tertutup rapat. Damar menelan ludah. Dari tatapan tajam
adiknya, ia tahu jika Safiya sudah melihat semuanya.
Safiya berdiri mematung di depan
pintu dengan tangan bersedekap. Wajah manisnya kini berubah total, dingin,
datar, dan tanpa emosi. Namun, sorot matanya tajam menusuk, seolah sedang
menguliti isi kepala Damar untuk mencari kebenaran di balik dosa-dosa kakaknya
itu.
"Dek ,Mas bisa jelasin,"
Damar memulai dengan gagap, wajahnya pucat pasi. Safiya menatapnya dingin,
tatapannya berkilat penuh selidik.
"Jelasin apa? Mau jelasin kenapa
Ummi dan Mas Damar baru saja melakukan pesta seks di ruang tamu sama Tante
Sabrina dan Arlo?" tembak Safiya langsung. Damar terdiam, bahunya merosot.
Tidak ada gunanya menyangkal.
"Aku cuma mau tanya satu
hal," lanjut Safiya, suaranya melunak tapi penuh rasa ingin tahu.
"Sudah berapa lama kalian seperti ini?"
Damar menghela napas panjang, kakinya lemas. Ia duduk di tepi kasur, menunduk
menatap lantai.
"Sejak kita pindah ke komplek
perumahan ini Dek…”
Safiya menarik napas dalam-dalam
mendengar pengakuan itu. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah Damar. Ia
menggelengkan kepala pelan, bukan karena jijik, tapi karena takjub betapa
munafiknya keluarga mereka termasuk dirinya sendiri yang ternyata sama-sama
rusak.
"Abi tau semua ini?" tanya
Safiya lagi. Damar menggeleng pelan.
"Jelas enggak lah. Bisa mati
jantungan Abi kalau tahu Ummi kayak gitu."
Safiya menatap wajah Damar dari samping
lekat-lekat. Ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Sesuatu yang lebih
tabu daripada sekadar perselingkuhan.
"Hmm…Satu lagi. Aku tadi melihat
semuanya, dan baru menyadari sesuatu. Mas Damar pengen ngewe sama Ummi ya?"
Safiya memajukan wajahnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka. Matanya
menatap tajam langsung ke manik mata Damar.
"Jujur sama Safiya, Mas. Apa Mas
Damar pengen ngewe sama Ummi?" Tanya Safiya sekali lagi kali ini dengan
penekanan yang lebih jelas.
Wajah Damar memerah padam mendengar
pertanyaan vulgar itu keluar dari mulut adiknya. Jantungnya berdegup kencang,
merasa ditelanjangi untuk kedua kalinya. Ia refleks memundurkan tubuhnya.
"Nggak mungkin lah! Tadi cuma
kebawa suasana aja! Mana mungkin aku punya keinginan gila kayak gitu?!"
elak Damar, berbohong dengan nada panik yang kurang meyakinkan. Alis Safiya
terangkat sebelah. Ia terlalu mengenal kakaknya. Ia tahu persis kapan Damar panik
dan berusaha mengelabuinya.
"Enggak usah bohong Mas, Safiya
lihat semuanya tadi!" desak Safiya, mengabaikan penyangkalan Damar.
Damar menghela napas panjang, bahunya
merosot kalah. Ia menarik kursi belajar dan duduk di hadapan adiknya yang duduk
di tepi kasur. Mereka selalu dekat sejak kecil, dan entah kenapa di tengah
kegilaan ini, Damar merasa hanya Safiya satu-satunya orang yang bisa ia ajak
bicara jujur satu sama lain tanpa topeng kemunafikan.
"Mas nggak tau Dek…" Damar
mengusap wajahnya dengan telapak tangan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Ini semua terjadi setelah Mas
melihat Ummi digarap Arlo secara langsung. Ummi yang kita kenal begitu alim dan
tertutup ternyata…" Suara Damar berubah menjadi bisikan serak penuh
frustrasi.
“Ternyata apa Mas?” Desak Safiya
sekali lagi.
"Ya seperti yang kamu lihat
tadi. Ummi berubah jadi wanita binal saat bercinta dan itu membuat aku makin
sange. Kalo cowok lain bisa ngewein Ummi, kenapa aku nggak?"
Safiya menarik bantal, memeluknya di
dada sambil bersandar di dinding. Ia mencerna pengakuan kakaknya yang gila
namun jujur itu.
"Jadi intinya, Mas Damar sange
karena lihat wanita alim dan tertutup berubah jadi liar?" simpul Safiya. Damar
mengangguk malu.
"Ehmmm, jadi kalo misalnya
Safiya kayak Ummi, apa Mas Damar juga sange sama aku?" Mata Damar
membelalak, kaget setengah mati. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
"Hah? Kamu ngomong apa sih Dek?!"
Safiya tidak gentar. Ia melanjutkan dengan nada dingin namun memancing.
"Bayangkan, Mas. Gimana kalo aku
nungging di depan cowok lain, membiarkan cowok itu ngewein aku, masukin
kontolnya ke mulutku, apa Mas Damar juga bakal sange dan pengen ngewe sama aku?"
Damar menggelengkan kepalanya cepat
sambil tertawa canggung. Ia yakin adiknya hanya sedang menguji moralitasnya
dengan pertanyaan hipotetis gila.
"Ish! Apaan sih, kamu itu beda
kayak Ummi ato Tante Sabrina. Kamu itu masih…"
"Masih polos ya?" potong
Safiya pelan, senyum tersungging di bibirnya.
Gadis cantik itu kemudian menarik
napas panjang. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin menghancurkan imajinasi naif Damar
yang menganggapnya masih seperti gadis kecil nan polos. Tangannya meraih ponsel
dari meja nakas. Jari jempolnya dengan lincah membuka secure folder yang
terkunci sandi, lalu masuk ke galeri tersembunyi.
Ia menggulir layar sebentar, lalu
berhenti pada sebuah thumbnail video. Di layar ponsel, terlihat video
Safiya masih mengenakan seragam sekolah dengan rok panjang, sedang berada di
sebuah ruangan, terlihat seperti sebuah ruang kantor. Safiya menekan tombol play
lalu menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah kakaknya. Damar merebut
ponsel dari tangan Safiya. Matanya terbelalak lebar, nyaris tak berkedip
menatap layar kecil itu.
Di sana, terlihat jelas adiknya yang masih
mengenakan seragam sekolah lengkap sedang dipeluk posesif oleh sepasang tangan
kekar dan berbulu lebat. Kulit tangan itu gelap, kontras sekali dengan kulit
lengan Safiya yang putih mulus. Pria itu jelas jauh lebih tua, berbadan tegap
tinggi besar. Detik berikutnya, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang intim
penuh nafsu.
"Siapa bajingan ini?" tanya
Damar dengan suara tercekat masih tak percaya.
"Itu Pak Malik, salah satu
ustadz di pondok. FYI dia tetangga kita juga loh." jawab Safiya santai,
suaranya terdengar datar tanpa rasa bersalah. Damar kembali terpaku pada layar.
“Hah? Serius???” Pekik Damar makin
tak percaya. Safiya hanya mengangguk dan tertawa kecil.
Dalam video itu, Safiya mulai
berlutut di hadapan pria tua tersebut. Tangan Pak Malik membuka ritsleting
celananya, mengeluarkan kontol berwarna hitam yang sudah mengeras. Safiya
menyambutnya dengan antusias. Jemarinya bergerak membelai alat kawin Pak Malik,
menggosoknya sebentar sebelum kemudian mulut Safiya terbuka lebar menyambut
daging segar berwarna hitam. Bayangan siluet orang yang lalu-lalang di balik
kaca ruanga memberitahu Damar satu fakta gila bahwa mereka melakukannya saat
jam sekolah!
Damar menggelengkan kepalanya
kuat-kuat, berusaha menolak realitas yang terpampang di layar. Namun, matanya
tak bisa berpaling. Ia melihat bibir mungil adiknya terbuka lebar, lalu melahap
kepala kontol hitam itu tanpa ragu. Safiya tampak kesulitan menelan seluruh batang
kontol yang ukurannya jauh melebihi kapasitas mulunya, tetapi tangan Pak Malik
menekan kepala gadis itu, memaksanya menelan lebih dalam hingga nyaris tersedak.
"Ka-Kalian sudah se-sering
melakukan i-ini..?" tanya Damar gagap, suaranya nyaris hilang.
Tanpa sadar, kontolnya bereaksi
akibat menyaksikan adiknya mengoral kemaluan orang lain. Otak Damar mendadak
korslet. Safiya yang dia kenal sebagai sosok gadis manis, polos, dan pemalu kini
justru sedang menyedot kemaluan pria yang usianya jauh lebih tua, bahkan pria
itu merupakan ustadznya sendiri layaknya pelacur profesional.
"Hmm, hampir setahun mungkin."
jawab Safiya acuh tak acuh dari samping, seolah sedang membicarakan hal sepele.
Jawaban itu menghantam Damar telak.
Di layar ponsel, adegan berubah. Pak Malik
menarik tubuh Safiya sampai berdiri. Mereka berciuman, ciuman bibir yang begitu
intim. Melibatkan lidah dan air liur basah. Tangan berbulu Pak Malik bergerak
ke belakang meremas bokong Safiya yang padat di balik rok sekolah abu-abunya,
lalu dengan gerakan cepat, jemari Pak
Malik melucuti seragam Safiya satu per satu. Dalam sekejap, adik Damar itu
telanjang bulat.
Satu-satunya yang tersisa di tubuh
Safiya hanyalah seutas jilbab berwarna putih dan sepasang kaus kaki yang masih
membungkus betis serta kakinya. Damar tanpa sadar menelan ludahnya berkali-kali
kala menyaksikan tubuh mulus Safiya kini terekspos begitu jelas.
"Ahhh….Aaahhhh…Pak…."
Suara desahan Safiya terdengar jernih
dan manja dari speaker ponsel, menusuk telinga Damar. Di video, Safiya kini
dibungkukkan paksa di atas meja kerja mahoni yang besar. Wajahnya sangat dekat
dengan lensa kamera ponsel yang berada di antara tumpukan berkas.
Wajah Safiya menatap lurus ke arah
kamera. Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka basah, lidahnya sedikit terjulur
keluar dengan air liur menetes. Di belakangnya, tanpa aba-aba Pak Malik melesakkan
kontolnya menuju liang senggama. Dari gerakan kasar yang terlihat, Damar
meyakini jika Pak Malik memasukkan seluruh kontolnya tanpa ampun hingga membuat
tubuh Safiya terhentak maju mundur di atas meja.
Safiya menatap lensa kamera dengan
sorot mata menantang, seolah-olah ia tahu bahwa suatu hari videonya akan
dilihat oleh orang lain. Safiya menyadari jika semua adegan cabulnya bersama
Pak Malik terekam dengan sangat jelas dan itu sama sekali tak membuatnya risih
sedikitpun. Damar disajikan sebuah tontonan video bokep, tapi yang
memerankannya adalah adiknya sendiri!
"Aaahhhh! Terus Pak! Entotin
memekku Pak! Aaahh! Enak Pak! Kontolmu enak Pak!"
Suara erangan Safiya berubah jadi
racauan cabul, dahi gadis itu berkerut, ekspresi campuran antara menahan nyeri
dan kenikmatan yang memuncak. Jelas terlihat ukuran kontol Pak Malik terlalu
besar bagi liang vagina Safiya yang mungil. Namun anehnya, Safiya tidak meminta
berhenti. Ia justru mendesah semakin liar, sengaja memprovokasi pria tua itu
untuk menusuknya lebih dalam lagi.
"Kok ka-kamu bisa mau ngewe sama
di-dia…?" tanya Damar gagap. Jakunnya naik turun. Matanya seolah tak mau
lepas dari layar ponsel, tak sanggup berkedip.
"Awalnya Safiya nggak sengaja
lihat Pak Malik lagi ngewein santri lain di gudang olahraga. Pak Malik tau kalo
aku mengintip dan mengancamku untuk nggak cerita ke siapa-siapa…” Safiya
menjeda sebentar, membiarkan Damar mencerna ceritanya.
“Jadi kamu dipaksa melakukan ini???”
Darah muda Damar mendidih membayangkan adiknya dijadikan budak seks oleh
ustadnya sendiri. Namun Safiya justru menggeleng santai.
“Awalnya iya, tapi lama-lama Safiya
ketagihan sama kontol Pak Malik. Lagipula Pak Malik melakukan ini nggak
gratisan, dia selalu ngasih Safiya uang yang cukup banyak.”
Napas Damar memburu berat, dadanya
sesak mendengar pengakuan dari adiknya. Di layar ponsel, adegan berubah semakin
intens. Safiya yang awalnya menungging membelakangi Pak Malik kini berbalik
badan duduk mengangkang di atas meja. Kontol Pak Malik terlihat kekar menjulang
basah mengkilat akibat cairan kewanitaan.
Pria tua itu kembali mendekat,
diarahkannya ujung kontol tepat di celah sempit Safiya sebelum kemudian
mendorong pinggulnya maju ke depan. Tubuh Safiya terhentak ke belakang,
beruntung tangannya sigap memeluk leher Pak Malik. Dalam sepersekian detik vagina
Safiya kembali dikoyak berkali-kali oleh keperkasaan kontol Pak Malik.
“Ouuchhhh! Paak!”
“Kenapa..? Kamu suka kan dientot
kasar kayak gini?”
“I-Iya Pak! Aku suka! Aaahh!!”
“Hhehehe, dasar lonte
kecil….Ssshhh..”
Terdengar bisikan cabul dan dengusan
napas berat dari mulut Pak Malik bercampur dengan suara tumbukan kulit. Damar
menonton dengan perasaan campur aduk, kontolnya di balik celana makin mengeras.
Tak lama, Pak Malik melepas keluar kontolnya. Safiya turun dari meja dan
kembali berlutut. Kali ini Pak Malik mengambil ponsel mengubah sudut pandang menjadi dari atas.
Layar ponsel kini penuh dengan wajah
Safiya secara close-up. Dengan tatapan penuh nafsu, lidahnya menjilati kontol
Pak Malik, membersihkannya sejenak sebelum memasukkannya kembali ke dalam mulut.
Tangan Pak Malik mencengkram erat kepala Safiya yang masih terbungkus hijab,
pinggulnya bergerak maju mundur, kontolnya melesak keluar masuk di dalam mulut
Safiya.
Darah Damar mendidih karena lewat
wkspresi wajah dan tatapan mata Safiya, terlihat jelas jika adiknya itu begitu
menikmati menjadi tempat pelampiasan nafsu bejat Pak Malik, seolah begitu
bangga diperlakukan layaknya seorang pelacur bagi ustadznya sendiri.
"HAAAHHH! HAAAHHHH!”
Selang beberapa menit, Safiya melepas
kulumannya dan mengocok kontol Pak Malik dengan cepat menggunakan tangan. Pak
Mlaik mendengus, kponsel di tangannya bergetar beberapa saat sebelum kemudian semburan
sperma kental meluncur deras, mendarat tepat di wajah Safiya. Cairan berwarna
putih itu meleleh di pipi, bahkan muncrat hingga menodai kain hijab yang
dikenakan oleh Safiya.
“AARGHHTTT! ANJING! AARRGHHTT!”
Safiya memejamkan mata, menerima
pancutan demi pancutan lahar kenikmatan dari lubang kencing Pak Malik dengan
sukarela, lalu menjulurkan lidah untuk menjilati sisa sperma di bagian ujung
kontol. Video berakhir. Layar ponsel menjadi gelap.
Safiya mengambil kembali ponselnya
dari tangan Damar. Pemuda itu menatap adiknya dengan pandangan kosong. Safiya
kini berdiri di hadapannya, kembali terlihat normal. Ekspresi wajahnya begitu
polos seolah tanpa dosa begitu kontras dengan apa yang baru saja dilihat Damar
beberapa saat lalu. Safiya melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka
hingga Damar bisa mencium aroma tubuhnya.
"Jadi gimana Mas?" bisik
Safiya dengan nada menggoda.
“Gi-Gimana apanya?” Damar bertanya
balik, makin gugup.
"Mas yakin nggak mau ngewe sama
aku?”
“Hah? Udah gila kamu ya?” Pekik Damar
tak percaya dengan tawaran Safiya barusan.
"Safiya mirip Ummi, kan? Pake
jilbab, alim, pendiam, tapi ternyata nafsu banget sama kontol gede.”
Damar menelan ludah yang terasa kesat
seperti pasir. Lututnya lemas, tak bertulang. Ia bangkit berdiri perlahan,
berusaha keluar dari kamar adiknya namun Safiya malah menghalangi langkah
kakinya.
"Lebih baik aku keluar saja
sekarang.” Safiya tidak membiarkannya lolos. Ia mendesak maju, memangkas jarak
hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
"Kenapa sih Mas? Apa karena aku
bukan tipe wanita kesukaanmu? Atau Mas Damar udah terlanjur sange sama Ummi
aja?” Jari telunjuk Safiya menyentuh dada Damar, menekannya pelan namun penuh
intimidasi.
Pertanyaan itu menampar kesadaran
Damar. Ia terpojok, napasnya tercekat,
keringat dingin mengucur di pelipis. Gairah dan rasa bersalah bertarung hebat
di kepalanya, menciptakan kekacauan yang memusingkan.
"A-Aku nggak tau Saf…A-Aku
bingung…" desis Damar frustrasi, matanya menatap bibir adiknya yang
merekah, bingung harus lari atau melumatnya.
"Nggak usah bingung Mas, biar
aku aja yang kerja kali ini..” bisik Safiya dengan halus.
Tanpa menunggu lama, Safiya perlahan
menekuk lututnya. Tubuhnya melorot ke lantai dengan gerakan anggun. Kini, ia
berlutut tepat di antara kedua kaki Damar yang berdiri di depannya. Damar terhenyak
namun sama sekali tak menghindar. Dari tempatnya berdiri dia biasa melihat
wajah cantik Safiya yang nampak begitu binal.
"Kalo Mas mau, boleh kok
bayangin Ummi yang nglakuin ini…”
Safiya memang bisa dikatakan sebagai
duplikat kekal ibunya. Dari cara bicara, gerak tubuh, hingga kecantikan wajah
diwarisi dari sosok Kalila. Satu-satunya yang berbeda dari keduanya hanyalah
postur tubuh saja. Jika Kalila memiliki bentuk tubuh semok nan berisi, tubuh
Safiya terlihat lebih langsing. Isi kepala Damar kini perlahan berkabut birahi,
batas-batas norma antara kakak beradik normal hilang berganti dengan cambukan
nafsu setan.
Tangan Safiya bergerak cekatan. Ia
membuka kancing celana Damar, lalu menurunkan ritsletingnya perlahan hingga
membuat kontol Damar mencuat angkuh tepat di hadapan matanya. Jari-jari lentik
Safiya langsung merayap mengusap kontol Damar, merasakan hangat dan kerasnya
daging haram itu.
"Mas pengen ngrasain tangan Ummi
yang megang kontol ini kan?" bisik Safiya, terus memanaskan imajinasi liar
Damar dengan skenario terlarang. Napas kakak kandungnya itu tersengal berat.
“Eeemmchhh…Eeemmchhh…”
"Rileks Mas…Nikmatin aja…” Desis
Safiya, nafas hangat dari mulut mungil menerpa ujung kontol, membuat bulu kuduk
Damar meremang hebat.
“Ka-Kamu yakin mau nglakuin ini…?”
Tanya Damar sekali lagi masih tak percaya dengan yang dilakukan tangan Safiya
pada batang kontolnya.
“Mas mau aku berhenti…?” Safiya balas
bertanya seolah tau jika Damar juga menginginkan hal yang sama. Damar terdiam.
Tau jika kakaknya sama sekali tak
menolak, Safiya memajukan bibirnya mendekati bagian ujung kontol. Dikecupinya
berkali-kali hingga membuat tubuh Damar menggelinjang. Kecupan itu kemudian
berganti dengan ciuman lembut di sekujur batang, mulia dari ujung hingga
pangkal.
“Ouucchh! Safiya…”
Lidah Safiya kini mengular menjilati
sekujur batang kontol. Sesaat lidahnya menari-nari tepat di lubang kencing
membuat Damar melenguh kegelian. Tangan Safiya yang bebas tak tinggal diam,
sembari lidahnya terus bekerja, tangannya ikut mengocok kontol kakaknya. Damar jadi
mengerti kenapa Pak Malik begitu ketagihan merasakan tubuh Safiya karena harus
diakui jika adiknya itu sudah sangat terlatih memuaskan birahi seorang pria
dewasa.
"Eeemmcchh…Gimana rasanya Mas?
Enak?" bisik Safiya sedikit serak. Batang kontol Damar yang ada
digenggamannya sengaja ditempelkan dan digesek-gesek ke pipinya.
“En-Enak…”
"Kalo ini pipi Ummi pasti Mas
Damar makin sange ya..?” Safiya seolah punya seribu cara untuk membangkitkan
fantasi terliar dari Damar.
Untuk kedua kalinya Safiya
menggesekkkan ujung kontol Damar pada pipinya tapi kali ini tekanannya lebih
kuat dan masih ditambah ekspresi nakal pada wajahnya. Damar makin tak tahan,
dua tangannya meremas gemas rambut adiknya itu dari atas.
"Eeemmcchhhh…Bayangin ini wajah
Ummi Mas…” Napas Damar menderu kencang, dadanya naik turun tak beraturan.
Visual di bawah tubuhnya terlalu kuat untuk ditolak.
"Ouucchhh…Ummi…" desah
Damar parau, matanya terpejam erat, menyerah pada ilusi yang sedang diusahakan
oleh Safiya.
Alis Safiya terangkat mendengar akhirnya
Damar menyebut ibu mereka. Tawa Senyum mengembang di bibir Safita, senyum kemenangan
yang dingin. Tanpa ragu, lidah nya terjulur keluar guna menjilati lubang
kencing kontol Damar.
"Eeemmchhh…Sekarang bayangin ini
adalah lidah Ummi…" bisik Safiya di sela-sela jilatannya pada ujung kontol.
"Ouucchh! Anjing….Shit!” Desis
Damar menahan ledakan birahi yang makin menjalar di dekujur tubuhnya.
Safiya mulai menjilati kontol
kakaknya dengan penuh dedikasi. Lidahnya mengecap rasa asin dan amis yang
familiar, rasa sisa cairan kewanitaan milik Sabrina. Alih-alih mual atau bahkan
muntah, gairah Safiya justru makin meledak liar. Di bawah, vaginanya sendiri sudah
mulai basah cenderung becek merespons rasa tabu yang kini lumer di mulutnya.
“Eeemmchhhh…Eeemmchhhh…”
Napas Damar memburu makin kencang,
nyaris putus asa. Mulut Safiya kini mulai mengulum alat kawinnya. Menghisap,
menjilat, bahkan sampai menyedot dilakukan oleh Safiya dengan sangat baik. Safiya
menyeringai nakal melihat Damar yang sudah di ambang batas kewarasan.
Mulutnya terbuka lebih lebar, membenamkan kontol Damar makin dalam. Kepalanya
bergerak secara teratur mengikuti iraha hisapannya, menciptakan gesekan basah
yang mematikan. Mata Safiya melirik ke atas tanpa berkedip. Ia menatap lekat wajah
Damar yang sulit menghilangkan ekspresi keenakan.
"Ouuccchh! Ummi! Terus Ummi!
Sedot kontolku Ummi!” racau Damar tak karuan dengan kedua mata sudah terpejam
erat. Dalam benaknya saat ini yang sedang memberikan blowjob pada
kontolnya adalah Kalila, ibunya sendiri.
"Damar cemburu ngliat Ummi
dipake terus sama Arlo anjing! Aaachh!”
Safiya tersenyum di sela hisapannya
mendengar pengakuan tabu dari Damar. Ia mempercepat tempo hisapannya, sementara
itu tangan Damar kembali terulur, meraih kepala sang adik. Jari-jarinya
membelai kepala adiknya sambil terus menikmati sensasi hangat sekaligus basah
pada alat kawinnya yang tengah dikulum mesra.
"Ouucchhh…Ummi…Ummi…Ssshhh…" Damar mengerang frustrasi saat Safiya
tiba-tiba menghentikan aksi blowjob dan mengeluarkan batang kontol dari
mulutnya.
“Mas beneran cemburu kalo Ummi dipake
Arlo ya?" goda Safiya dengan suara mendesis, napasnya hangat menerpa kulit
kontol Damar.
“Bukan hanya Arlo, Ummi juga udah
pernah dipake sama Rama!” Pekik Damar frustasi.
Informasi barusan menyengat otak
Safiya seperti listrik. Rasa malu bercampur bangga yang aneh tiba-tiba
menjalari tubuh gadis cantik itu. Ternyata, pepatah "buah jatuh tak jauh
dari pohonnya" benar adanya. Ibunya
yang selama ini selalu menampilkan citra alim dan tertutup, rupanya sangat
binal, bahkan lebih dari satu pria muda yang pernah mencicipi tubuhnya. Fakta
itu membuat Safiya semakin terangsang. Ada ikatan genetik kotor yang
menghubungkan nafsu mereka.
Safiya kembali membuka mulutnya. Kali
ini ia memasukkan kontol kakaknya lebih dalam, lebih rakus, dan lebih antusias
dari sebelumnya. Imajinasinya liar ikut membayangkan ibunya dalam posisi yang
sama melayani kontol sosok pria terlarang. Meskipun ukuran kontol Damar tidak
sebesar Pak Malik, tapi tetap saja masih bisa membuat birahi gadis muda itu
meledak-ledak dari dalam.
"Ahhhh!! Ummiiii!! Aku mau crot
Ummi!"
Damar berteriak, memanggil ibunya
saat tubuhnya mengejang hebat. Safiya buru-biri mengeluarkan alat kawin
kakaknya dari dalam mulut ketika merasakan denyutan hebat. Tangan Safiya
mengambil alih tugas, mengocok batang kontol Damar dan mengarahkan bagian
ujungnya tepat ke wajah dan lidahnya yang terjulur keluar.
“Ouucchh! Anjing! Aku keluar!” Pekik
Damar sekali lagi kala tak bisa lagi menahan ejakulasi lebih lama.
“Eeemmchhhh! Eeemmchhhh!”
Semburan deras sperma kental
menghantam wajah Safiya, sebagian lagi menyasar lidah dan mulutnya. Damar
menatap takjub wajah adiknya masih bersimpuh di bawah tubuhnya dengan wajah
belepotan sperma.
"Eeemmchhh…Enak banget pejunya
Mas Damar…" desis Safiya nakal.
Lidah Safiya bergerak menjilati sisa
sperma yang menetes dari lubang kencing, lalu menyapu cairan yang ada di
sekitar bibirnya sendiri seolah itu adalah madu. Damar terengah-engah, dadanya
naik turun tak beraturan. Ia menatap adiknya dengan pandangan kosong tak
percaya. Safiya kemudian bangkit berdiri dan duduk di tepi tempat tidur. Ia
membersihkan wajahnya dengan jari, lalu menjilatinya hingga bersih di depan
mata Damar.
"So, Mas Damar masih punya
cita-cita buat ngewein Ummi…?” Goda Safiya.
Damar tidak menjawab. Ia hanya
menatap adiknya dengan napas yang masih memburu. Namun di dalam ruangan yang
penuh aroma dosa itu, sorot mata Damar memberikan jawaban jelas,
YA!
PART 2
Kalila membeku. Telapak tangannya
menekan dada kirinya kuat-kuat, seolah berusaha menahan jantungnya agar tidak
meledak keluar dari rusuk. Ia berdiri kaku di depan pintu kamar Safiya. Pintu
kayu jati itu tertutup rapat, namun setebal apa pun kayunya, tak cukup untuk
meredam kebenaran gila yang baru saja diungkapkan dari dalam. Telinga Kalila
menangkap segalanya dengan jernih, bahkan terlalu jernih.
Mulai dari pengakuan Safiya tentang
skandal bersama Pak Malik, hingga yang paling menghantam ulu hati Kalila adalah
pengakuan Damar. Darah daging yang ia susui sedari kecil, ternyata menyimpan
obsesi birahi yang liar terhadap dirinya.
"Ahhhh!! Ummiiii!!"
Teriakan itu menembus dinding,
menghantam gendang telinga Kalila. Teriakan klimaks Damar terdengar samar namun
penuh tekanan, disusul suara kecipak basah yang familiar. Kalila tahu persis
apa artinya. Putranya baru saja menunstaskan hajat birahi di dalam mulut
adiknya sendiri.
Lutut Kalila terasa lemas, seolah
tulangnya dilolosi satu per satu. Perlahan, dengan langkah gontai seperti orang
mabuk, ia berbalik. Ia menyeret kakinya menjauh untuk kembali ke kamarnya
sendiri. Ia menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan lalu menghempaskan
tubuhny ke atas kasur. Kalila menatap kosong langit-langit kamarnya.
Di antara kedua pahanya, rasa nyeri
masih berdenyut kencang. Itu adalah jejak basah sisa-sisa gempuran brutal Arlo tadi
di ruang tamu. Sensasi penuh itu masih tertinggal, mengingatkannya betapa ia
menikmati peran barunya sebagai wanita binal pecandu kontol brondong.
Tangannya turun ke bawah meraba
perut. Untunglah ia rutin menelan pil kontrasepsi yang dibelikan oleh Arlo.
Setidaknya, satu kekhawatiran bisa dicoret dari daftar dosa panjangnya. Matanya
kemudian tertumbuk pada sebuah benda di atas meja kecil dekat ranjang. Bingkai
foto keluarga. Di dalam foto itu, suaminya tersenyum wibawa, dirinya tersenyum
anggun dengan balutan gamis syar'i, sementara Damar dan Safiya tersenyum polos
mengapit mereka. Sebuah potret keluarga bahagia. Sebuah kebohongan yang
sempurna.
Safiya, putri kecil yang selalu ia
banggakan ternyata memiliki sisi kelam tersendiri. Tak pernah sedetik pun
terlintas di benak Kalila jika gadis manis itu telah bertransformasi menjadi
pemuas nafsu bagi ustadznya sendiri. Dan yang paling menyakitkan bagi Kalila
bukanlah faktanya, melainkan alasannya.
Jelas bahwa Safiya melakukan itu
bukan karena paksaan. Ia melakukannya karena rasa penasaran. Karena dorongan
liar seperti halnya yang Kalila rasakan kala bersama Arlo. Citra siswi polos
hanyalah topeng porselen sempurna untuk menutupi retakan di dalamnya.
Lalu Damar, putra sulungnya pun tak
kalah bejat. Kalila bisa mendengar sendiri bahwa putranya itu memendam hasrat
seksual terhadap tubuhnya! Itu adalah level kegilaan yang berbeda. Darah Kalila
mendidih. Ia ingin berteriak. Ia ingin mendobrak pintu kamar Safiya sekarang
juga, menyeret kedua anaknya keluar, dan menghukum mereka habis-habisan atas
dosa incest dan perzinahan mereka.
Tapi langkahnya terhenti. Siapa dia
yang berhak menghakimi? Pertanyaan itu menampar kesadarannya. Kalila menggigit
bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih, menahan isak tangis yang mendesak
keluar. Jari telunjuknya gemetar mengusap wajah suaminya di balik kaca bingkai
foto.
Ia sadar, ia tidak punya hak moral
sedikit pun saat ini. Tubuhnya sendiri masih lengket oleh jejak sentuhan Arlo.
Ia baru saja selesai melakukan dosa dengan pria lain di ruang tamu rumahnya
sendiri. Ia sendiri yang membuka gerbang kehancuran ini. Di hadapan foto
suaminya, Kalila akhirnya mengakui satu hal bahwa dia adalah ibu yang munafik.
Ada hal yang jauh lebih mengerikan
bagi Kalila daripada sekadar mengetahui dosa anak-anaknya. Itu adalah
pengkhianatan tubuhnya sendiri. Saat telinganya mendengar Damar meneriakkan
namanya dalam puncak klimaks tadi, selangkangan Kalila justru bereaksi. Cairan
hangat merembes keluar tanpa izin, membasahi celana dalamnya yang memang sudah
lembap.
Birahi itu seperti virus, dan ia
sudah terinfeksi parah. Mulanya, liang senggamanya hanya terbuka untuk Arlo.
Lalu Rama ikut mencicipinya. Dan sekarang? Bayangan tubuh Damar mulai menyusup ke
dalam fantasi liarnya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi. Wajah Baskara
di foto masih tersenyum tulus, potret seorang suami yang banting tulang demi
menjaga keluarga ternyata justru ditikam habis-habisan dari belakang dengan
sebuah pengkhianatan.
"Ma-Maafkan aku Mas…" bisik
Kalila, suaranya serak dan patah-patah.
"Maafkan istrimu. Aku gagal Mas.
Aku kotor…."
Namun ironisnya, di sela isak tangis
dan permohonan ampun itu, tangan Kalila justru bergerak turun. Jemarinya
menyusup ke balik rok, mencari pusat denyutan di antara kedua pahanya. Ia butuh
pelepasan. Ia butuh menuntaskan gairah yang baru saja dibangunkan oleh dosa kedua
anaknya di kamar sebelah.
***
Safiya mencium punggung tangan Kalila
dengan hormat, hidungnya menyentuh kulit halus Kalila, lalu beralih mengecup
kedua pipi wanita cantik itu.
"Makasih ya, Mi. Sarapannya enak
banget," ucap Safiya sambil membetulkan hijabnya.
Matanya menyapu penampilan ibunya, daster
rumahan berbahan rayon yang jatuh mencetak tubuh, kontras dengan setelan dosen
yang biasanya kaku.
"Ummi beneran nggak ngajar hari
ini?" Kalila menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya.
"Enggak, Sayang. Ummi lagi
kurang enak badan, mau istirahat di rumah saja hari ini."
"Mas Damar mana?" tanya
Safiya lagi, matanya menyasar anak tangga di lantai dua yang lenggang.
"Masih tidur paling jam segini.”
Safiya mengangguk paham. Sebelum
masuk ke mobil, ekor matanya melirik tajam ke arah jendela lantai dua. Bibirnya
melengkung, memberikan senyuman penuh rahasia seolah tahu persis kakaknya
sedang mengintip di balik tirai dengan napas tertahan.
"Oke, Abi mana?"
"Di sini!!"
Sosok Baskara muncul dari dapur
dengan wajah ceria, tangan kirinya masih memegang potongan sandwich tebal sisa
sarapan.
"Udah siap tuan puteri?"
"Udah Bi, perut juga udah kenyang.”
“Oke, ayo kita berangkat! Sayang, Mas
berangkat kerja dulu ya sekalian nganterin Safiya balik ke pondok.” Baskara
mengecup kening Kalila.
“Iya Mas, hati-hati ya. Nggak usah
ngebut di jalan.”
“Siaapp bosss!” Balas Baskara dengan
senyum jenaka.
Tawa mereka pecah di pagi yang cerah.
Sebuah potret keluarga harmonis yang sempurna dan palsu. Tak lama kemudian,
suara mesin mobil menderu halus. Tangan Baskara dan Safiya melambai dari
jendela, lalu kendaraan itu melaju keluar gerbang, meninggalkan rumah besar
yang menyimpan terlalu banyak dosa.
Begitu gerbang otomatis tertutup
rapat dan suara mobil menghilang di tikungan, senyum di wajah Kalila luntur
seketika. Topeng ibu periang itu retak, digantikan wajah dingin dan kaku. Ia
berbalik badan, langkahnya tegas masuk ke dalam rumah. Matanya langsung
menangkap sosok Damar yang baru saja hendak mengendap-endap menuju dapur.
"Damar! Ke sini." Suara
Kalila terdengar rendah, tegas, namun ada getaran serak di sana yang sulit
diartikan.
"Ummi mau bicara sama kamu.
Sekarang!"
Tanpa menunggu bantahan, Kalila
berjalan lurus menuju meja makan. Damar menelan ludah yang terasa pahit.
Kakinya terasa berat seperti dibebani beton saat mengekor ibunya. Ia tahu betul
arah pembicaraan ini, ia hanya tidak menyangka "sidang"-nya akan
digelar terlalu cepat.
Kalila duduk di kursi ujung. Damar,
dengan ragu, menarik kursi di sampingnya, posisi menyiku yang intim namun
konfrontatif. Untuk menutupi kegugupan, tangan Damar asal menyambar sisa
sandwich di piring, menggigitnya pelan tanpa nafsu.
"Ada apa, Mi?" tanya Damar
basa-basi, suaranya terdengar kering. Kalila menatap putranya lekat-lekat,
seolah sedang membaca isi kepalanya yang kotor.
"Nggak usah pura-pura. Ummi
dengar semuanya kemarin sore," ucap Kalila langsung pada intinya, tanpa
tedeng aling-aling.
"Ummi tau apa yang kamu lakukan
sama Safiya di kamar!”
“Uhuk!”
Damar tersedak. Ia terbatuk keras,
matanya melebar kaget, wajahnya memerah padam. Kalila menghela napas panjang,
tangannya gemetar meraih cangkir kopi sisa sarapan suaminya yang sudah dingin,
lalu menyesapnya sedikit untuk menenangkan saraf yang menegang.
"Ummi dengar jelas apa yang
kalian omongin. Safiya nyuruh kamu bayangin kalau itu mulut Ummi, kan? Dan kamu
menikmati itu." Suara Kalila bergetar hebat, campuran antara kemarahan,
rasa malu, dan sesuatu yang lain.
"Sebegitu pengennya kamu sama
Ummi? Kamu nggak sadar kalau itu salah besar? Dosa besar! Ummi ini ibu
kandungmu, Damar! Ummi yang melahirkanmu!"
Damar terdiam sejenak. Suasana di
meja makan berubah jadi mencekam. Ia meletakkan sandwich perlahan. Alih-alih
menunduk takut seperti anak kecil yang ketahuan mencuri, ia justru mendongak.
Menatap balik mata Kalila dengan sorot mata berbeda, sorot mata seorang
laki-laki dewasa yang terusik harga dirinya.
"Damar ngerti, Mi. Damar tahu
itu salah. Tapi..." Damar memberanikan diri.
"Damar rasa kita semua sudah terlalu
jauh. Ummi main sama Arlo, sama Rama... Damar main sama Tante Sabrina, Tante
Mey..."
"Cukup!" potong Kalila
cepat, tangannya memukul meja.
"Enggak, Mi. Damar harus terusin!"
desak Damar.
"Ummi nggak bisa bohong lagi
karena kemarin kita sudah sama-sama terbuka. Ummi juga menikmatinya!”
Wajah Kalila memerah padam seketika,
seperti tertampar kenyataan. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia membuka
mulut untuk membantah keras tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Lidahnya kelu. Ia menggelengkan kepala lemah, mencoba menyangkal fakta yang
justru tubuhnya sendiri rasakan saat ini.
"Kemarin itu…" Kalila
tergagap, pertahanan dirinya sebagai seorang ibu runtuh berantakan di depan
putranya sendiri.
"Mungkin Ummi cuma khilaf.
Terbawa suasana sesaat. Tapi bukan berarti kita harus menuruti nafsu gila itu."
sanggah Kalila, suaranya terdengar putus asa.
"Kita harus tahu batasan sebelum
semuanya hancur berantakan."
Kalila berusaha terdengar bijak,
mati-matian memungut sisa-sisa wibawanya yang berserakan. Damar hanya mengangguk
pelan, pura-pura paham meskipun dalam hatinya tak pernah padam keinginan untuk
menyetubuhi Kalila.
"Oke, Damar ngerti. Jadi intinya
kita berhenti total? Ummi sanggup berhenti ngewe sama Arlo?"
Kalila membeku, wajahnya pias. Ia
menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, bingung dan frustrasi mencari alasan
pembenar. Tepat pada detik itu, suara pintu depan terbuka lebar tanpa diketuk.
"Assalamualaikum."
Suara bariton yang familiar imembuat
jantung Kalila mencelos. Arlo berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang,
santai seolah ini adalah rumahnya sendiri.
"Waalaikumsalam. Masuk!"
jawab Kalila. Arlo melangkah masuk, matanya menyapu tubuh Kalila sekilas lalu
beralih ke Damar.
"Eh, Mar. Pas banget lo masih di
sini," kata Arlo santai sambil mengunyah permen karet.
"Nyokap gue butuh bantuan lo deh
kayaknya sekarang.”
Alis Damar terangkat sebelah. Itu
adalah undangan terbuka. Kode keras. Tante Sabrina sedang kesepian dan butuh
pelampiasan. Kalila terdiam kaku. Ia melihat Arlo berjalan mendekatinya tanpa
ragu. Dengan santai dan posesif, pemuda itu melingkarkan lengan kekarnya di
pinggang, tepat di depan mata Damar.
"Ayo, Bu Dosen. Katanya mau dipijitin."
bisik Arlo mesra di telinga Kalila, sengaja menekankan kata pijit dengan nada
nakal.
Petuah bijak Kalila soal membatasi
diri dan tatanan moral serta dosa pada Damar beberapa saat lalu menguap begitu
saja. Tubuhnya mengkhianati akal sehatnya, merespons sentuhan Arlo dengan patuh
seperti kerbau dicocok hidungnya. Kalila berdiri, wajahnya memalingkan muka,
tak berani menatap mata Damar.
"Nanti Kita lanjutin ngobrolnya lagi."
ujar Kalila lemah, nyaris tak terdengar.
Tanpa menoleh lagi, Kalila membiarkan
dirinya dituntun Arlo menaiki tangga menuju kamar utama, kamar suci tempat ia
seharusnya menjaga kehormatan suaminya. Damar menatap punggung ibunya dan Arlo
yang menghilang di balik pintu lantai atas. Ia menggigit bibir bawahnya
kuat-kuat. Ada rasa kecewa yang perih, cemburu yang membakar, namun di atas
segalanya ada pembenaran yang mutlak.
“Kalau Ummi aja nggak bisa berhenti,
kenapa aku harus?”
batinnya.
Damar bangkit dari kursi, Dengan
langkah mantap, ia berjalan keluar rumah menuju rumah Arlo, tempat dimana
Sabrina sudah menunggunya saat ini.
***
"Bu Dosen sengaja bolos ngajar
cuma buat ngewe seharian sama Arlo, kan?"
Pertanyaan Sabrina meluncur tajam,
membelah keheningan sore itu tanpa basa-basi. Mereka sedang duduk santai di
bangku taman kompleks, rutinitas joging seperti biasa. Bedanya, kali ini Mey
absen. Wanita keturunan tionghoa itu sedang datang bulan dan moodnya berantakan.
Di hadapan mereka, tersaji ironi yang
telanjang. Beberapa meter dari bangku itu, anak-anak balita tertawa riang
bermain perosotan, didampingi ibu-ibu muda yang normal. Sementara di sini, di
sudut yang agak terlindung pohon rindang, dua wanita matang sedang membicarakan
dosa ranjang yang paling tabu. Kalila nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia
buru-buru menggeleng, berusaha menyangkal tuduhan Sabrina meski hatinya
mencelos.
"Enggak kok! A-Aku cuma lagi nggak
enak badan saja hari ini." sanggah Kalila defensif.
Meski bibirnya menyangkal,
selangkangannya yang masih terasa nyeri mengingatkan bahwa rojokan batang
kontol Arlo tadi pagilah yang membuatnya enggan beranjak dari kasur seharian. Sabrina
hanya mengangguk-angguk, tidak terlalu peduli dengan alibi Kalila. Tatapan
matanya menerawang jauh ke arah ayunan kosong yang berderit ditiup angin.
"Hmmm, sebenarnya aku juga butuh
waktu untuk bicara sama Arlo soal kejadian tempo hari di rumahmu.” Sabrina
menjeda kalimatnya, menarik napas berat.
“Ya, aku setuju. Tadi pagi sebelum
Arlo datang, aku juga sudah membicarakannya dengan Damar.” Sahut Kalila,
meskipun obrolannya tadi pagi sama sekali tak menghasilkan solusi apapun.
"Hmm, aku mau jujur sama kamu
Kal. Dulu, aku pernah tidur sama abangnya Arlo."
Leher Kalila kaku seketika mendengar
pengakuan santai dari Sabrina. Rahangnya seperti jatuh, tak percaya dengan apa
yang baru saja didengarnya.
"Hah? Ka-Kamu pernah tidur sama
anak kandungmu sendiri?" desis Kalila, suaranya tercekat di tenggorokan.
Sabrina menunduk, memainkan ujung
bajunya dengan gelisah. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena gairah
memori itu kembali menyengat.
"Iya, harusnya waktu itu aku
menolaknya. Tapi entah setan apa yang merasukiku, aku malah meladeni birahi
anakku sendiri." Sabrina menatap Kalila dengan tatapan putus asa namun
jujur.
"Jujur, Kal. Malam itu,
kenikmatannya beda banget. Rasanya salah, kotor, tapi ikatan batin kami bikin
orgasmenya luar biasa. Kalau saja aku nggak buru-buru kirim dia kuliah ke luar
negeri karena ketakutan, mungkin aku sudah hamil benih anakku sendiri
sekarang."
Hening mencekam menyelimuti mereka
berdua. Angin sore berhembus pelan, menyingkap sedikit rambut Kalila di balik hijab.
"Terus Arlo?" tanya Kalila
pelan, nyaris tak terdengar.
"Apa kamu juga tertarik nyicipin Arlo
juga sekarang?" Sabrina menoleh, tatapannya tajam dan lapar.
"Setiap saat, Kal. Tiap kali aku
lihat Arlo jalan keluar kamar mandi. Tiap kali aku lihat tatapan matanya, rahimku
bergetar. Aku pengen dia. Aku pengen dientotin kontolnya."
Pengakuan blak-blakan itu menghantam
pertahanan Kalila hingga hancur lebur. Ia mendongak, menatap awan putih yang
berarak di langit biru, mencoba mencari sisa kewarasan yang sudah hilang.
Pikirannya melayang pada Damar. Pada tatapan memuja putranya tadi pagi. Pada
fakta bahwa seluruh keluarganya telah rusak total. Kalila menggigit bibir
bawahnya hingga perih, lalu menatap lurus ke manik mata Sabrina. Tidak ada
gunanya lagi berpura-pura di depan
wanita yang sama rusaknya.
"Aku juga…" bisik Kalila
gemetar.
"Aku juga pengen ngrasain kontol
Damar….."
PART 3
"Ummph…Masss! Aaahhhhh!"
Kalila mendesah lembut, menikmati
sentuhan suaminya. Vaginanya yang basah mencengkeram kontol Baskara. Tidak ada
kekasaran, tidak ada jambakan rambut, atau kata-kata kotor yang merendahkan.
Semuanya terasa penuh cinta dan penghormatan.
Mata Kalila terpejam, membiarkan
tubuhnya terombang-ambing mengikuti dorongan pinggul suaminya. Tangan Baskara
meremas payudaranya dengan gemas namun penuh kasih, sementara napas hangatnya
menyapu leher Kalila.
"Ummph!! Ummph!! Sayang!! Ahh!!
Ahh!! Ahhh!!"
Suaminya mengerang panjang, tubuhnya
menegang. Sebelum mencapai puncak, ia menarik kontolnya keluar dengan cepat. Cairan
hangat itu menyembur di atas perut Kalila, bukan di dalam vagina. Selesai
menunaikan ibadah persetubuhan halal, tubuh Baskara jatuh terkulai di samping,
napasnya memburu.
"Kenapa dikeluarin di luar Mas…?"
tanya Kalila pura-pura polos, sambil mengatur napasnya. Baskara tersenyum
lembut sambil mengusap keringat di dahi Kalila.
"Kamu sekarang kan lagi masa
subur. Nanti kalo jadi malah kita yang repot, udah cukup dua anak aja. Lagian
Damar sama Safiya udah gede-gede, malu mereka kalo punya adek lagi.” Jelas
Baskara panjang lebar.
Kalila hanya tersenyum mendengar
penjelasan Baskara. Namun dalam hati, ia merasa geli melihat betapa
hati-hatinya Baskara. Padahal, rahimnya sudah aman terkendali berkat pil
kontrasepsi yang rutin dibelikan oleh Arlo sebagai persiapan jika sewaktu-waktu
pemuda itu memuntahkan spermanya di dalam rahim Kalila.
Dosen cantik itu kemudian bangkit
dari tempat tidur, meraih tissu di atas nakas. Matanya menatap sekilas ke arah
selangkangan suaminya. Batang kontol Baskara kini perlahan mulai menyusut,
layu, dan lemas. Meskipun suaminya mampu memuaskannya secara emosional dan
finansial, secara fisik, stamina pria paruh baya itu tidak bisa dibohongi. Satu
ronde, dan selesai.
Pikiran Kalila sontak melayang liar.
Membandingkan kemampuan Baskara saat bercinta dengan Arlo yang seperti kuda
liar, atau membayangkan tenaga muda Damar yang pasti meledak-ledak dan tak
kenal lelah. Kalila menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran kotornya
sendiri.
"Aku mandi sebentar ya Mas…"
Baskara hanya mengangguk pelan,
matanya sudah berat karena kantuk pasca-orgasme. Kalila melangkah ke kamar
mandi, membersihkan tubuhnya dari keringat dan cairan sperma. Setelah segar, ia
memilih pakaian tidur yang sedikit berbeda malam ini. Ia mengenakan kaos
oversize, dipadukan dengan hotpants mini sebatas paha. Saat ia keluar, Baskara
sudah mendengkur halus, tertidur pulas. Kalila menyelimuti tubuh suaminya
dengan penuh kasih sayang. Namun, rasa kantuk belum menghampirinya.
Adrenalinnya masih tersisa.
Kalila melangkah keluar dari kamar
tidur lalu menyusuri koridor yang remang-remang. Matanya tertuju pada pintu
kamar Damar. Celah di bawah pintu menunjukkan lampu kamar itu masih menyala.
Damar belum tidur. Jantung Kalila berdegup kencang. Langkahnya terhenti tepat
di depan pintu kayu itu. Tangannya terangkat, siap mengetuk. Imajinasinya liar
membayangkan apa yang sedang dilakukan putranya di dalam sana. Apakah Damar
sedang memikirkannya? Apakah Damar sedang melakukan onani sambil membyangkan
tubuhnya?
Hanya selembar pintu yang memisahkan
mereka. Namun sedikit ketakutan menarik kembali akal sehat Kalila. Tangannya
yang menggantung di udara perlahan turun kembali. Ia menggelengkan kepala,
menarik napas panjang untuk menenangkan rahimnya yang bergejolak, lalu memutar
tumitnya, kembali ke kamarnya sendiri.
***
"Sumpah, gue kek busuk banget
seminggu ini cuma bengong doang di rumah," gumam Damar sambil merebahkan
tubuhnya di kasur empuk milik Arlo. Matanya menatap bosan ke langit-langit
kamar.
"Jakarta isinya mall doang, anjir. Gue
butuh lihat alam, cari udara segar." Di meja belajar, Arlo tampak sibuk
mengetik sesuatu di laptopnya.
"Ya keluar lah kalo bosan,"
sahut Arlo tanpa menoleh.
"Mau ke mana coba? Macet di
mana-mana," keluh Damar lagi.
"Ke Sea World sana. Kan bisa
lihat ikan. Itu alam juga namanya," celetuk Arlo asal. Damar melirik sinis
ke punggung Arlo. Tak lama, jari Arlo menekan tombol Enter dengan gaya
dramatis.
"Hah! Kelar juga akhirnya, KRS
buat semester depan udah beres!" kata Arlo sambil memutar kursinya
menghadap Damar.
"Jadi, lo beneran nggak ada kuliah hari
ini?"
"Nggak ada. Yah, sebenarnya dua
kelas pagi dibatalin gara-gara dosennya ada rapat senat. Ada satu kelas lagi
sih habis makan siang tadi, tapi gue malas. Titip absen sekali-kali aman
lah," jawab Arlo santai sambil menyalakan sebatang rokok. Damar mengangguk
paham. Ia sudah hafal betul tabiat Arlo.
"Eh, kalau lo segabut itu gimana
kalau weekend ini kita cabut?" usul Arlo tiba-tiba, matanya berbinar
licik.
"Ke Anyer, yuk? Atau
Carita?" Damar menaikkan sebelah alisnya, ragu.
"Anyer? Dih, malas ah, airnya
butek, banyak bocil main pasir. Nggak asyik tempatnya."
"Hmm, benar juga sih. Kalau
gitu..." Arlo berpikir sejenak, menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Tanjung Lesung? Pantainya
memang nggak sebagus di Bali sih, tapi gue tahu ada satu resort privat di sana
yang oke punya. Sepi, jauh dari keramaian, dan private."
"Hmm…boleh juga tuh!" Damar
mulai tertarik.
"Terus, kita ngajak siapa? Cewek-cewek
kampus?" Arlo menyeringai penuh arti.
"Gimana kalo nyokap kita berdua
aja?” Damar langsung bangun dari posisi tidurnya, duduk tegak di tepi kasur.
Adrenalinnya terpacu seketika.
"Anjir, ide gila. Tapi
bagus." Damar berpikir cepat.
"Terus gimana sama bokap lo?
Kalau bokap gue tiba-tiba mau ikut gabung gimana?"
"Tenang saja. Bokap gue lagi ada
perjalanan dinas ke Surabaya seminggu ini, jadi dia nggak bakal pulang weekend nanti,"
jelas Arlo yakin.
"Sekarang tinggal tergantung
bokap lo. Lo bisa nggak kondisiin dia biar nggak ikut?" Damar
mengangguk-angguk, otaknya mulai menyusun strategi alibi.
"Hmm, kayaknya bisa diatur.”
"Sip. Kabarin gue nanti
hasilnya," ujar Arlo dengan senyum lebar.
Mata Damar berkilat nakal
membayangkan apa yang bisa terjadi di resort nanti. Arlo tertawa kecil melihat
antusiasme temannya itu.
"Dasar lo, otaknya langsung traveling ke
mana-mana. Buruan bujukin Bu dosen, kalo Mamaku pasti mau ikut.”
"Eh? Hahaha. Oke, siap!"
jawab Damar, menyandarkan punggungnya kembali dengan perasaan lega sekaligus
tegang.
Ada rasa gugup bercampur gairah yang
meledak di dadanya. Jika rencana liburan ke Tanjung Lesung ini berhasil, itu
akan menjadi kesempatan emas. Jauh dari rumah, suasana liburan yang santai, dan
berdasarkan reaksi ibunya beberapa hari lalu, Damar yakin batas antara ibu dan
anak akan benar-benar runtuh sepenuhnya.
***
Kalila meletakkan koper berukuran
sedang miliknya di sisi dinding. Roda koper itu berbunyi pelan saat bergesekan
dengan lantai kayu vinyl kamar resort yang mewah. Di belakangnya, terdengar
suara sepatu heels milik Sabrina dilepas dan diletakkan sembarangan.
Wanita cantik itu melangkah masuk lebih dalam tanpa alas kaki, namun langkahnya
terhenti mendadak di sebuah pintu kayu di dinding samping, sebuah connecting
door menuju kamar sebelah. Sabrina menoleh sambil menunjuk pintu itu dengan
dagunya.
"Bu Dosen tahu nggak pintu ini
tembus ke mana?" tanya Sabrina sok polos.
Kalila mengikuti arah pandang
Sabrina, lalu menggelengkan kepala pelan. Namun sedetik kemudian, matanya
menyipit. Ia menyadari implikasi nakal dari keberadaan pintu itu.
"Hmmm, ini pasti akal-akalannya
Arlo.” gumam Kalila.
Sabrina tertawa sambil menggeleng-gelengkan
kepala memaklumi kelicikan putrany yang sudah merancang liburan kali ini dengan
rapi. Tanpa rasa canggung, Sabrina mulai melepas lilitan selendang pashmina
dari kepalanya, membiarkan rambut hitamnya terurai jatuh ke bahu.
"Gerah banget, aku mandi dulu
ya.” kata Sabrina santai sambil mulai membuka kancing blus sutranya satu per
satu.
Kalila berjalan menuju pintu kaca
geser yang menghadap ke balkon. Ia membukanya sedikit. Angin laut yang kencang
dan berbau asin langsung menerobos masuk. Kain gamis dan jilbab panjang Kalila
tersibak liar, menempel ketat mencetak bentuk payudaranya yang penuh. Secara
refleks, tangan Kalila langsung menyilang di dada untuk menahan kain itu agar
tidak menyingkap lekuk tubuhnya, meskipun balkon di depan sana kosong melompong,
hanya ada hamparan laut biru berkilauan ditimpa matahari siang.
"Kita ada rencana khusus nggak
sih habis ini?" tanya Kalila sambil sedikit menyipitkan mata karena silau.
"Nggak ada deh kayaknya. Tadi di
mobil si Arlo cuma bilang mau santai lihat sunset di pantai saja," jawab
Sabrina santai dari dalam kamar.
Sabrina sudah menanggalkan seluruh
pakaiannya. Kini tubuhnya yang sintal hanya terlilit handuk. Kulitnya tampak
sedikit berkeringat.
"Tutup gih pintunya, Kal.
Panasnya masuk, AC-nya jadi nggak kerasa dingin," keluh Sabrina sambil
berjalan melenggang menuju kamar mandi.
Kalila mengangguk. Ia kembali masuk,
menutup pintu geser itu rapat-rapat hingga suara deburan ombak teredam. Hawa
dingin AC kembali menyelimuti kulitnya. Perlahan, jari-jari Kalila bergerak ke
bawah dagu, mulai melepas peniti hijabnya satu per satu. Namun sebelum ia
benar-benar melepasnya ia teringat sesuatu.
Kalila meraih ponsel dari dalam tas. Detik
berikutnya, jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Mengetikkan sebuah
pesan pada Baskara yang berada di rumah.
Assalamualaikum, Mas. Alhamdulillah, kami
sudah sampai hotel. Sinyal agak susah di sini, putus-putus. Nanti dikabarin
lagi ya kalau sudah dapat sinyal bagus. Baik-baik di rumah.
Sebuah kebohongan klasik tentang
sinyal susah untuk menghindari telepon atau video call dari pasangan. Setelah
menekan tombol kirim dan melihat tanda centang satu berubah menjadi dua, Kalila
meletakkan ponselnya di nakas dengan layar tertelungkup. Ia menghela napas
panjang, siap untuk membersihkan diri dan bersiap untuk apa pun permainan gila
yang direncanakan oleh Arlo serta Damar.
***
Sore itu dihabiskan dengan kegiatan
turis yang klise namun menyenangkan. Mereka berjalan menyusuri garis pantai,
bermain cipratan air di perairan dangkal, dan mengambil puluhan foto lewat
ponsel dengan latar matahari terbenam. Setelah kembali ke kamar mereka bersiap
untuk makan malam.
Penampilan mereka malam itu sangat
kontras. Kalila tampil sangat anggun dan tertutup. Ia mengenakan hijab panjang
berwarna merah muda cerah yang menjuntai menutupi dada, dipadukan dengan dress
gamis longgar yang menyamarkan lekuk tubuhnya.
Sementara itu Sabrina tampil jauh
lebih berani. Wanita cantik itu menanggalkan segala atribut kesopanannya. Ia
hanya mengenakan tanktop bertali tipis berwarna hitam yang memamerkan belahan
dada montok dan kulit bahunya yang mulus.
Bawahannya lebih parah lagi. Sabrina hanya memakai celana hotpants denim
belel yang potongannya sangat pendek, nyaris sebatas pangkal paha. Kaki
jenjangnya terekspos penuh, menantang angin malam dan mata siapa saja yang
melihat.
Makan malam di restoran seafood tepi
pantai berlangsung meriah. Aroma udang bakar madu dan cumi saus padang,
ditambah iringan musik live acoustic dan deburan ombak, membuat mereka
tertawa lepas. Untuk sesaat, mereka melupakan status anak dan ibu.
Namun, atmosfer berubah drastis saat
perjalanan pulang. Alih-alih lewat jalan utama yang terang benderang, mereka
sengaja memilih jalan memutar melewati jalur setapak yang sepi untuk kembali ke
cottage. Langit sudah gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan samar
dan lampu taman resort yang remang-remang di kejauhan.
Suara deburan ombak yang keras
mengisi keheningan, menyamarkan suara napas yang mulai memburu. Memanfaatkan
kegelapan dan sepinya jalan, Arlo langsung bertindak. Tanpa basa-basi, ia
menarik pinggang Kalila kasar, merapatkan tubuh dosen cantik itu ke sisinya
layaknya sepasang kekasih.
Tangan Arlo meluncur turun ke bokong
bulat Kalila yang tersembunyi di balik gamis longgar. Jari-jarinya mencengkeram
kuat, meremas daging empuk itu dengan gerakan memutar posesif, seolah ingin
memastikan bahwa di balik kain syar'i itu, tubuh Kalila hanyalah miliknya.
"Ahhh….Arlo…" desah Kalila
pelan, kaget namun pasrah.
Sabrina dan Damar yang berjalan di
belakang menjadi saksi mata aksi nakal itu. Mereka bertukar pandang dan
tersenyum geli. Tak mau kalah, Damar menarik pinggang ramping Sabrina yang
terbuka bebas. Kulit ketemu kulit. Namun, tangannya jauh lebih agresif.
Alih-alih bokong, tangan Damar
langsung merayap naik dan meremas payudara Sabrina yang menyembul di balik
tanktop bertali tipis. Jemarinya memijat gundukan empuk itu dengan ritme pelan
namun sangat intens, merasakan teksturnya tanpa halangan apapun.
"Mmmhh...Dasar nakal…"
desis Sabrina, namun tubuhnya justru bersandar manja ke dada Damar, menikmati
remasan jemari pemuda itu di dadanya.
"Kalian memang sudah rencanain
ini dari awal ya? Pakai nyeret kita jauh-jauh ke Banten segala..." Celetuk
Sabrina. Damar hanya terkekeh pelan, napas hangatnya menyapu leher jenjang
Sabrina yang terekspos.
Sesampainya di koridor resort yang
sunyi, pembagian kamar terjadi secara natural tanpa perlu kata-kata. Damar
menarik tangan Sabrina menuju kamarnya. Sementara Arlo berdiri santai dengan
tangan di saku, menunggu Kalila membuka pintu kamar sebelah dengan kartu
kuncinya.
Damar memberikan kedipan nakal
terakhir pada ibunya dan Arlo, sebelum pintu kamar tertutup, memisahkan dua
pasangan itu ke dunia dosa masing-masing. Begitu pintu terkunci dan lampu
indikator berubah merah, Sabrina tidak membuang waktu. Ia langsung memutar
tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di leher Damar, menarik wajah pemuda itu
ke bawah. Bibir mereka bertemu dalam ciuman basah, liar, dan penuh nafsu.
Sabrina menekan tubuhnya rapat-rapat.
Payudaranya yang montok dan padat di balik kain tanktop tipis tergencet dada
bidang Damar. Sabrina menggeseknya dengan gerakan naik turun yang provokatif.
"Ummph...Tante..."
Damar mendesah di sela ciumannya. Tangannya
mulai merayap di punggung mulus Sabrina yang terbuka lebar tidak menemukan
halangan apa pun. Tidak ada pengait, tidak ada tali. Tangannya kemudian beralih
ke depan, meremas gundukan payudara.
Sabrina tidak memakai bra. Putingnya
yang keras langsung mencetak jelas di telapak tangan Damar. Jari-jari Damar
bisa merasakan teksturnya. Tanpa busa, tanpa kawat. Hanya daging empuk yang
hangat dan kenyal. Gairah Damar meledak seketika. Ia meremas payudara itu
dengan nafsu yang membara, sementara tangannya yang lain turun meremas bokong
Sabrina yang terekspos jelas di balik hotpants denimnya.
Lidah mereka saling membelit,
bertarung memperebutkan dominasi. Namun, Sabrina jelas memegang kendali. Ia
mendorong dada Damar kuat-kuat hingga pemuda itu jatuh telentang di kasur
empuk. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Sabrina merangkak naik,
mengangkangi pinggul Damar. Paha mulusnya menjepit tubuh sang pejantan. Ia
melumat bibir Damar sekali lagi dengan rakus.
Di tengah ciuman panas, Sabrina
menarik kedua pergelangan tangan Damar ke atas kepala. Damar menurut saja,
mengira ini hanya variasi posisi biasa agar ciumannya lebih dalam. Tangannya
menyentuh kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.
Tiba-tiba...
Klik! Klik!
Suara logam dingin terkunci
mengejutkan Damar. Ia tersentak membuka matanya. Kedua tangannya kini terpasung
erat pada tralis kayu kepala tempat tidur oleh sepasang borgol besi yang entah
sejak kapan disiapkan Sabrina.
Sabrina duduk tegak di atas perut
Damar, menatap hasil karyanya dengan senyum penuh kemenangan. Napasnya memburu,
dadanya naik turun di balik tanktop ketatnya yang basah oleh keringat.
Tangannya perlahan membelai dada bidang Damar yang kini tak berdaya.
"Tante mau ngapain?" tanya
Damar gugup. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara panik dan birahi. Sabrina
tertawa kecil, tawa yang terdengar nakal dan dominan.
"Lho, kenapa? Bukannya anak muda
zaman now suka permainan gila kayak gini?" godanya sambil mencolek hidung
Damar.
"Nikmatin saja sayang…."
Damar mencoba menarik tangannya.
Sia-sia. Borgol itu terkunci mati, dan kepala tempat tidur itu tertanam kuat di
dinding. Jika ia memaksa menarik, pergelangan tangannya akan lecet. Ia pasrah
total.
"Jadi Tante mau main kasar nih
ceritanya?" tantang Damar, mencoba terdengar berani meski nyalinya sedikit
ciut.
Sabrina hanya tersenyum misterius. Ia
merapikan rambutnya yang berantakan, lalu tangannya merogoh saku belakang
hotpants-nya yang ketat. Ia mengeluarkan sebuah kain penutup mata satin
berwarna hitam. Mata Damar membelalak lebar.
"Buat apa itu?"
"Sssttt... Rahasia," bisik
Sabrina tepat di telinga Damar.

Posting Komentar
0 Komentar