TRUTH OR DARE
PART 1
VANIA berdiri di depan cermin
seukuran tubuh yang menempel pada dinding kamar kosnya, mematut diri sejenak
sebelum berangkat. Mahasiswi fakultas hukum semester tiga ini memang selalu
punya cara tersendiri untuk membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas.
Sebagai cewek asli Jakarta yang kini menimba ilmu di Malang, Vania membawa aura metropolitan yang berpadu dengan pesona fisik yang sulit untuk diabaikan. Ia bukan sekadar cantik dengan wajah oval, hidung bangir, dan bibir penuh yang selalu tampak menggoda meski tanpa lipstik tebal, tapi daya tarik utama Vania terletak pada proporsi tubuhnya yang seolah dipahat dengan perhitungan kelewat sempurna.
Bentuk tubuhnya adalah anugerah yang
sering kali membuat teman-teman sekampusnya, baik cowok maupun cewek, salah
fokus. Payudaranya berukuran besar, padat, dan membusung dengan sempurna,
menciptakan siluet menantang dari balik pakaian apa pun yang ia kenakan.
Pinggangnya cukup besar kemudian melekuk turun menuju panggul lebar dan bokong semok serta bahenol.
Setiap kali ia berjalan, ada gerakan
alami dari tubuhnya yang memancarkan sensualitas tanpa perlu dibuat-buat. Vania
sangat menyadari aset molek yang dimilikinya, dan meski ia tidak selalu berniat
memamerkannya, ia juga tidak pernah repot-repot menyembunyikannya di balik
pakaian-pakaian longgar yang membosankan. Baginya, wajah cantik dan bentuk
tubuh indah adalah sebuah previlege dan tak perlu disembunyikan.
Siang itu, udara terasa cukup gerah,
tipikal cuaca yang membuat tubuh cepat berkeringat. Memilih kenyamanan, Vania
mengenakan t-shirt lengan pendek berwarna putih.
Bahannya cukup tipis dan sejuk,
menempel pas di tubuhnya, memeluk lekuk payudara besarnya yang menggoda. Saking
tipisnya bahan t-shirt tersebut, tekstur dan warna kontras dari bra hitam yang
ia kenakan sesekali menerawang samar, terutama saat dadanya membusung saat mengambil
napas panjang.
Untuk bawahannya, Vania mengenakan
celana jins berwarna biru pudar yang sangat ketat. Celana itu membungkus
tungkai kakinya dengan sempurna, mengunci bagian pinggang, dan menonjolkan
bentuk pantat yang penuh dan sintal. Penampilannya hari itu sederhana, kasual,
namun entah bagaimana justru memancarkan aura seksi yang sanggup membuat pria
mana pun menelan ludah.
Tujuan Vania hari ini hanya satu,
pergi ke rumah Nadin, salah satu sahabat terdekatnya di kampus. Di dalam tote
bag kanvas tebal yang kini disampirkan di bahunya, terdapat sebuah laptop milik
Nadin. Selama satu minggu terakhir, Vania terpaksa meminjam laptop tersebut
untuk menyelesaikan tugas-tugas paper hukum perdatanya yang menumpuk, lantaran
laptopnya mendadak mati total dan masih menginap di tempat servis. Kini,
setelah semua tugasnya selesai Vania merasa harus segera mengembalikan laptop
tersebut.
Vania melangkah keluar dari pagar
kosnya tepat ketika sebuah motor matic Honda Vario yang dikendarai oleh seorang
sopir ojek online berhenti di depan pagar. Pria berjaket hijau khas ojol itu
membuka kaca helmnya untuk memastikan titik penjemputan. Namun, ketika matanya
menangkap sosok Vania yang berjalan menghampirinya, pria itu seketika terpaku.
Tatapan sopir ojol berusia 30 tahunan
itu langsung tersedot pada t-shirt putih tipis yang dikenakan Vania. Kain
t-shit mencetak jelas dua gundukan besar di dada Vania yang bergerak berirama
seiring langkah kakinya. Pria itu buru-buru berdeham, menetralkan raut wajahnya
yang mendadak memerah, dan menyodorkan helm hijau kepada Vania.
"Sesuai titik ya, Kak?"
tanyanya dengan suara sedikit bergetar, berusaha keras menjaga pandangannya
agar tidak terus-terusan merayap ke arah dada dan pinggul mahasiswi cantik di
hadapannya itu.
"Iya, Pak. Sesuai aplikasi. Agak
ngebut ya, kayaknya mau hujan ini.” sahut Vania dengan nada suara seraknya yang
khas. Ia menerima helm, menaikkan kaki panjangnya ke atas footstep, dan
menghenyakkan bokong bahenolnya di jok belakang.
Begitu motor mulai melaju membelah
jalanan, ketegangan mulai terbangun. Jalanan siang itu cukup padat, memaksa
laju motor sering kali tersendat. Di sinilah si sopir ojol mulai menyadari
bahwa ia baru saja mendapatkan rezeki nomplok. Setiap kali ia menarik tuas rem,
entah karena ada kendaraan yang memotong jalan atau karena ia memang sengaja
sedikit memperlambat laju secara mendadak, tubuh Vania otomatis terdorong ke
depan.
Vania, yang tangannya sibuk memegangi
tote bag kesulitan menjaga jarak. Alhasil, dalam beberapa kali pengereman, dada
besarnya tak sengaja menabrak dan menempel pada punggung si sopir ojol. Sensasi
empuk yang tiba-tiba menekan punggungnya membuat darah sang sopir berdesir
hebat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari putaran mesin motor. Sopir ojol
itu bahkan mulai berani mencuri pandang melalui kaca spion, menikmati
pemandangan wajah cantik Vania dan bentuk payudara besar yang terekspos sempurna.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja
dimulai. Sekitar sepuluh menit perjalanan, tepat ketika mereka baru saja
memasuki jalan raya besar, langit yang tadinya hanya mendung abu-abu mendadak
menumpahkan isinya. Hujan deras turun begitu saja, tanpa gerimis perantara seolah
ribuan galon air ditumpahkan serentak dari atas awan.
"Eh, Pak! Hujan! Ada jas hujan
nggak?!" seru Vania di tengah suara rintik hujan yang menghantam helm dengan
keras. Ia buru-buru memeluk tote bag erat-erat ke perut, berusaha melindungi
laptop Nadin dengan tubuhnya.
"Tanggung, Kak! Bentar lagi
nyampek kok, paling lima menit lagi.” balas si sopir ojol dengan suara lantang.
Sebenarnya, jika ia mau, ada beberapa
ruko dengan kanopi lebar yang bisa mereka gunakan untuk berteduh atau
setidaknya berhenti sejenak untuk mengambil jas hujan di jok motor. Tapi mana
mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan ini? Pengemudi ojol itu terus memacu
motornya menembus tirai hujan yang semakin lebat. Air hujan dengan cepat
membasahi tubuh mereka berdua. Udara yang tadinya gerah berubah menjadi dingin
menusuk kulit dalam hitungan detik.
Bagi Vania, hujan ini adalah bencana
kecil. Ia menggigil pelan, merapatkan pahanya dan sedikit membungkuk untuk
memeluk tote bag. Namun bagi si sopir ojol, hujan deras ini adalah hadiah besar
dari langit mengingat sedari tadi dia tak pernah mendapatkan penumpang semolek
Vania.
Melalui kaca spion si sopir
memperhatikan perubahan menakjubkan pada penampilan Vania. T-shirt putih tipisnya
kini benar-benar sudah basah kuyup. Guyuran air hujan membuat t-shit seketika
kehilangan fungsinya sebagai penutup dan berubah menjadi transparan. Kain basah
itu menjeplak lengket, menempel bak kulit kedua pada tubuh Vania.
Pemandangan itu sungguh membuat napas
si sopir terasa makin berat. Dari balik t-shirt basah yang kini menerawang
jelas, bra hitam penyangga payudara besar Vania terpampang dengan sangat nyata,
menciptakan pemandangan erotis.
Lekuk penuh payudaranya, belahan
dadanya yang dalam, hingga tali bra yang menegang menahan beban, semuanya
terlihat seolah Vania sengaja memamerkannya. Udara dingin membuat tubuh Vania
sedikit menegang, dan gestur tubuhnya yang merapatkan lengan justru membuat
dadanya semakin membusung ke depan.
Tak hanya itu, celana jins ketat yang
tadinya berwarna biru pudar kini berubah menjadi biru pekat karena menyerap
air. Kain denim basah itu mencengkeram bokong semok dan paha berisi Vania
dengan sangat ketat, mencetak anatomi tubuh bagian bawahnya dengan garis-garis memabukkan.
"Pak! Ayo buruan ngebut! Malah
pelan banget bawa motornya!” tegur Vania dengan nada sedikit judes, menyadarkan
sang sopir ojol dari lamunan jorok.
Vania sama sekali tidak menyadari
bahwa pemandangan tubuh basahnya di kaca spion telah membuat sang sopir ojol konal
luar biasa, bahkan penisnya sudah menegang meskipun dihajar udara dingin. Yang
ada di pikiran Vania hanyalah bagaimana memastikan laptop di pelukannya tidak
ikut kebasahan.
"I—iya, Kak! Maaf, jalanannya
licin!" sahut si sopir dengan suara agak serak. Ia menelan ludah yang
terasa kering di tenggorokannya.
Hujan memang deras, udara memang
dingin, tapi anehnya, tubuh sang sopir justru terasa panas terbakar. Motor
akhirnya berhenti tepat di depan pagar besi bercat hitam menjulang tinggi,
rumah Nadin. Hujan masih turun dengan derasnya, membentur aspal dan menciptakan
cipratan air yang menari-nari di sekitar ban motor. Vania buru-buru melepas
kaitan helm dari dagunya, merapatkan tote bag ke dada, lalu turun dari boncengan
dengan gerakan sedikit kaku karena pakaiannya yang basah kuyup menempel ketat,
membatasi ruang geraknya.
Saat Vania menyerahkan helm, si sopir
ojol tak segera mengambilnya. Pria itu justru terpaku. Posisinya yang masih
duduk di atas jok motor, sementara Vania berdiri tegak di sampingnya, membuat
pandangan pria itu berada tepat sejajar dengan payudara Vania.
Vania yang menyadari arah tatapan tak
senonoh itu seketika mendengus kasar. Darahnya yang sedari tadi kedinginan
mendadak mendidih. Ia sengaja mengayunkan helm
dengan agak keras hingga membentur pelan lengan si sopir ojol,
memaksanya tersentak kaget dari lamunan cabul.
"Biasa aja kali Pak matanya!
Nggak usah sampai mau copot gitu ngelihatinnya!" sembur Vania dengan nada
tinggi, raut wajah cantiknya kini berubah judes dan sinis.
"Eh... a-anu Kak. Nggak, ini...
ngecek tali helmnya takut basah dalemnya," kilahnya asal-asalan, tangannya
gemetar saat menerima helm dari Vania dan buru-buru mengaitkannya di setir
motor.
"Halah, alasan! Dari tadi pas di
jalan juga lo sengaja kan ngerem-ngerem biar gue nabrak punggung lo kam? Nggak
usah ngira gue bego ya, Pak. Udah sana jalan!” rutuk Vania tanpa ampun. Matanya
menatap tajam, membuat si sopir ojol seketika ciut dan tak berani membalas.
"M-maaf Kak, kalo nanti mau
balik pulang saya bisa anterin lagi Kak."
“Nggak usah, gue nggak mau sedekah
tetek ke lo! Buruan cabut sebelum gue kasih bintang satu!” Sahut Vania masih
dengan judes.
“O-Oke Kak.” Si sopir ojol bergegas
menarik tuas gas motor dan berlalu pergi.
"Vania! Lo ngapain marah-marah
sama ojol? Buruan masuk sini!”
Suara teriakan itu memecah
ketegangan. Nadin, yang ternyata sudah membuka pintu pagar sejak tadi, berlari
kecil menyusul ke tepi jalan. Sahabat Vania itu membawa sebuah payung besar
berwarna merah marun, buru-buru memayungi tubuh Vania yang sudah basah kuyup
dari ujung rambut hingga kaki.
"Kenapa nggak ngabarin dulu sih
kalo mau ke sini? Kan gue bisa jemput lo pake mobil, nggak perlu kehujanan
kayak gini.” omel Nadin sambil menarik lengan Vania untuk segera masuk ke area
teras rumah.
“Tadi kirain nggak bakal hujan, eh
ternyata di tengah jalan kayak gini.” Runtuk Vania sedikit kesal.
Begitu sampai di teras yang aman dari
rintik hujan, Vania langsung menghela napas panjang. Ia meletakkan tote bag
kanvasnya dengan hati-hati di atas meja teras.
“Lo bawa apaan itu?” Tanya Nadin saat
melihat Vania masih mendekap totebag di dadanya.
"Nih laptop lo, gue lindungin
dengan segenap jiwa dan raga gue tadi. Sampek tetek gue diliatin mulu sama ojol
brengsek tadi.” ucap Vania sambil mengusap wajahnya yang basah dengan telapak
tangan, mengibaskan sisa air dari rambutnya.
Namun, bukannya merespons soal
laptop, Nadin justru melongo menatap sahabatnya dari atas sampai bawah.
Pandangan Nadin berhenti lama di bagian payudara Vania. Sedetik kemudian, tawa
Nadin meledak.
"Pantesan aja, coba lo ngaca deh
sekarang!" Nadin tertawa puas sambil menunjuk ke arah tubuh sahabatnya itu.
“Emang kenapa dah?” Tanya Vania
bingung sembari memperhatikan bagian tubuhnya dari atas sampai bawah seolah
biasa saja.
"Lo udah kayak nggak pake
apa-apa bego! BH lo tu nyeplak banget, apalagi tetek lo yang gede banget.
Pantesan aja tu sopir ojol kegirangan boncengin lo. Dapet durian runtuh dia!”
Vania mendelik pelan, refleks melipat
kedua tangannya di depan dada untuk sedikit menutupi payudaranya yang
terekspos.
"Sialan lo, Din, temen lagi kedinginan
malah diketawain! Sumpah ya, tuh ojol bener-bener mesum banget. Sepanjang jalan
ngerem melulu, dikira gue nggak kerasa apa tetek gue kegesek-gesek
punggungnya."
"Ya lagian lo juga sih. Cuaca
begini malah nekat pakai kaos tipis. Udah tahu aset lo overload," goda
Nadin sambil masih cengengesan sambil berjalan mendekati Vania untuk memeriksa
laptopnya di dalam tas.
"Yeeee, suka-suka gue lah mau
pake apa. Hih masih sebel banget gue sama ojol tadi. Gue kasih bintang satu
kali ya?”
“Jangan, kasihan dia lagi nyari
nafkah buat keluarganya. Anggap aja tadi lo lagi sedekah, hehehehehe…”
"Biarin aja! Biar tahu rasa,
otak kok isinya selangkangan doang. Risih banget gue diliatin kayak gitu. Kalo
nggak ingat gue lagi bawa laptop lo, udah gue keplak tuh kepalanya dari
belakang pakai helm," gerutu Vania kesal. Ia mulai menarik-narik ujung kaosnya
yang menempel lengket di kulit perut, berusaha melonggarkannya walau sia-sia.
“Sabar…Sabar…Hihihihi…”
"Udah ah, gue kedinginan banget
nih. Gue pinjem baju lo ya? Kalo gue masuk angin gara-gara ngelindungin laptop
lo, awas aja."
"Ada, tenang aja. Ayo masuk
dulu.” kekeh Nadin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nadin merangkul bahu sahabatnya,
menuntun Vania masuk ke dalam rumah. Begitu pintu utama terbuka, udara sejuk
dari pendingin ruangan sentral langsung menyapa kulit Vania yang masih basah,
membuatnya kembali meremang. Melangkah masuk ke dalam rumah Nadin selalu sukses
membuat siapa pun merasa sedang berada di lobi sebuah hotel.
Berada di salah satu kawasan
perumahan elit, rumah megah berlantai tiga itu mengusung arsitektur bergaya
Eropa. Pilar-pilar besar menjulang kokoh menyangga langit-langit, lampu gantung
kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan di tengah ruangan, dan lantai marmer
berwarna putih gading memantulkan kemewahan di setiap sudutnya.
Vania tahu betul latar belakang
keluarga Nadin. Ayah Nadin adalah seorang pejabat tinggi di salah satu instansi
BUMN raksasa yang lebih sering terbang ke luar kota atau rapat maraton di
berbagai daerah daripada bersantai di rumah.
Sementara itu, sang ibu adalah
seorang desainer busana ternama yang butik dan studionya berpusat di Jakarta,
membuat wanita sosialita itu lebih sering menetap di ibu kota. Alhasil, rumah
super besar dan mewah ini terasa agak sepi karena sehari-hari hanya dihuni oleh
Nadin dan adik laki-lakinya, Rio, yang baru menginjak bangku kelas tiga SMA.
Untuk urusan rumah tangga, ada Bi
Sumi, seorang asisten rumah tangga paruh baya yang dipekerjakan untuk menMahasiswis
segala hal dari dapur hingga kebersihan rumah. Selain itu, keamanan dan
perawatan taman diserahkan pada Pak Asep. Pria tua itu biasanya baru datang
saat senja menjelang untuk berjaga sepanjang malam. Praktis, di siang bolong
seperti ini, rumah mewah ini seolah menjadi teritori pribadi Nadin dan adiknya.
"Tunggu sini bentar, gue ambilin
handuk dulu.” ucap Nadin sambil berjalan menuju sebuah lorong di dekat ruang
keluarga.
Vania hanya mengangguk sambil memeluk
lengannya sendiri, berdiri agak canggung di dekat tangga utama yang melingkar
elegan ke lantai dua. Namun, belum sempat Nadin kembali, pintu geser yang
menghubungkan ruang keluarga dengan area dapur terbuka. Rio, yang berpostur jangkung
dan atletis, berjalan keluar sambil menenggak sekaleng soda dingin.
Langkah cowok berusia delapan belas
tahun itu seketika terhenti. Matanya membulat sempurna, nyaris membuat kaleng
soda di tangannya terlepas. Di depannya, berjarak tak sampai tiga meter,
berdiri Vania yang diam-diam selalu menjadi objek fantasinya setiap kali coli.
Mata Rio seketika terpaku dan
terkunci rapat pada bagian payudara Vania. T-shirt putih basah yang menempel
ketat dan menjadi transparan itu tak memberikan ruang sedikit pun bagi
imajinasi. Cetakan bra hitam yang menyangga payudara berukuran besar terpampang
begitu jelas, menggelitik birahi sang cowok muda.
Lekuk dada Vania yang membusung
penuh, belahan dada menantang, hingga pinggang dan bokong semok yang terbungkus
celana jins basah, semuanya seakan menghantam kewarasan Rio telak di siang
bolong. Jakun cowok itu naik-turun menelan ludah dengan susah payah.
"Eh... K-Kak Vania," sapa
Rio dengan terbata-bata.
Ia buru-buru menurunkan kaleng
sodanya, berusaha menetralkan wajahnya yang merah padam, namun matanya
jelas-jelas kesulitan untuk menatap lurus ke wajah Vania. Pandangannya
terus-menerus jatuh kembali ke arah gundukan kenyal di dada cewek cantik itu.
“Hai juga Rio.” Sahut Vania santai
seolah mengabaikan tatapan jalang mata adik sahabatnya itu.
"H-hujan-hujanan Kak?"
Vania, yang sangat sadar menjadi
objek tontonan gratis, hanya mendengus pelan sambil tersenyum. Ia sama sekali
tidak repot-repot menutupi dadanya, justru sedikit membusungkan posturnya
secara refleks.
"Iya nih. Kehujanan pas di jalan tadi. Tumben
nggak nongkrong?" balas Vania santai, suaranya yang serak-serak basah
terdengar begitu menggoda.
"E-enggak, Kak. Lagi pengen di
rumah aja," jawab Rio gelagapan. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak
gatal. Ia merasa suhu ruangan mendadak jadi sangat panas.
"Y-ya udah, Kak. Aku... masuk
kamar dulu ya. Mari, Kak."
Rio membalikkan badan dan berjalan
sedikit tergesa menuju kamarnya di lantai dua. Tepat saat itu, Nadin kembali
dengan sebuah handuk tebal dan langsung melemparkannya ke wajah Vania.
"Nih, keringin dulu rambut
lo!" seru Nadin. Ia melirik sekilas ke arah tangga, punggung adiknya baru
saja menghilang.
"Barusan ada Rio?”
Vania menangkap handuk dan
mengeringkan rambutnya sambil berjalan menaiki tangga berdampingan dengan
Nadin. Sudut bibir mahasiswi hukum itu melengkung membentuk senyum geli.
"Adik lo tuh, Din. Matanya
sampai mau copot melototin tetek gue." celetuk Vania.
Mendengar itu, tawa Nadin langsung
meledak di sepanjang anak tangga. Bukannya marah, Nadin justru menimpali dengan
candaan mesum.
"Hahahaha! Ya ampun Van,
maklumin aja napa! Rio tuh masih SMA kelas tiga, hormon testosteronnya lagi
meledak-ledak! Lagian, cowok mana coba yang nggak tegak otongnya ngelihat lo
berdiri pakai baju basah transparan ngecap BH hitam begitu?" kekeh Nadin
tanpa saringan. Ia menyenggol pinggul Vania dengan sikunya.
"Paling habis ini dia coli
sambil bayangin tetek lo.”
"Sialan lo, Din! Mulut lo lemes
banget, adek sendiri diomongin begitu," balas Vania sambil ikut tertawa,
sama sekali tidak merasa tersinggung.
"Tapi beneran, matanya tadi udah
kayak mau lepas. Gue sih yakin otongnya juga ngaceng banget.”
"Bagus dong, berarti pesona lo
emang mematikan untuk segala rentang usia," goda Nadin saat mereka
akhirnya tiba di depan pintu kamar. Nadin membuka pintu dan mempersilakan Vania
masuk.
"Udah mending sekarang lo mandi.
Gue cariin baju gantinya dulu.”
Kamar Nadin sangat luas, ukurannya
mungkin setara dengan tiga kamar kos Vania digabung menjadi satu. Terdapat
ranjang king size di tengah ruangan, meja rias elegan, walk-in closet mini, dan
sebuah kamar mandi dalam yang tak kalah mewah. Vania langsung masuk ke dalam
kamar mandi. Ia melepaskan pakaian basahnya satu per satu, membiarkan semuanya
teronggok di lantai.
Begitu ia melangkah di bawah shower
dan menyalakan air hangat, Vania mendesah lega. Suhu air yang pas perlahan
mengusir rasa dingin yang sedari tadi menusuk tulangnya. Uap hangat mulai
memenuhi ruang kaca shower, merilekskan otot-ototnya yang menegang. Ia
membersihkan diri dengan saksama, menikmati aroma sabun mandi cair beraroma
vanila dan menenangkan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Vania
keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar, wangi, dan dililit
handuk putih tebal sebatas paha. Di atas kasur, Nadin sudah menyiapkan sepasang
pakaian ganti untuknya.
Vania mengambil pakaian dalam yang
disiapkan Nadin, namun keningnya langsung berkerut saat melihat bra yang
diberikan sahabatnya itu. Ia mencoba memakainya, namun usahanya sia-sia. Cup
bra milik Nadin terlalu kecil, tak mampu menampung volume payudaranya yang
berukuran jauh lebih besar. Saat dipaksakan, payudaranya justru tumpah di
bagian atas dan samping, membuat dadanya terasa sesak dan nyeri karena kawat
bra menekan di posisi yang salah.
"Din, ini BH lo nggak ada yang
size-nya lebih gede apa? Sesak banget, dada gue kayak mau meledak dijepit
begini," keluh Vania dari dalam area closet.
Nadin yang sedang merebahkan diri di
kasur sambil memainkan ponsel langsung menyahut santai,
"Yaelah, sadar diri dong. Ukuran
tetek lo kan abnormal, beda kasta sama gue! Ya kali gue punya koleksi cup D
atau E di lemari. Udah, kalau nggak muat mah lepas aja, nggak usah pakai BH
segala. Di rumah gue ini, santai aja kali."
Mendengar saran sahabatnya, Vania
akhirnya menyerah. Ia melepaskan kembali bra yang kekecilan dan memutuskan
untuk tidak memakainya sama sekali. Sebagai gantinya, ia langsung mengenakan kaos
oblong berwarna abu-abu muda. Karena tidak memakai penyangga, dua gundukan
kenyal di dadanya kini menggantung bebas, bergerak dan membal mengikuti gerakan
tubuh. Suhu kamar yang cukup dingin membuat kedua puting payudara Vania mengeras
dan tercetak sangat jelas dari balik kain.
Untuk bawahan, Vania mengenakan
celana hotpants berpotongan sangat pendek dan ketat. Pinggang Nadin
mungkin sedikit lebih kecil, sehingga saat Vania memakainya, kancing celana itu
terasa mengunci pas di perutnya. Kain tipis itu membungkus pinggul dan pantat
bahenol Vania dengan sangat ketat, mencetak siluet bokongnya dengan sempurna,
sementara bagian paha hingga tungkai kakinya terekspos nyaris seluruhnya. Begitu
Vania melangkah keluar dari walk-in closet, Nadin seketika mengangkat wajah
dari layar ponselnya. Mata cewek cantik itu memicing, lalu disusul dengan
gelengan kepala dramatis.
"Buset dah... perasaan itu baju
biasa aja kalau gue yang pakai. Kenapa pas nempel di badan lo jadi kelihatan
kayak hot banget sih?” komentar Nadin sambil berdecak kagum.
“Halah, lebay lo Din.” Sahut Vania
cuek.
"Itu pentil lo ngecap banget.
Asli, lo mending jangan turun keluar kamar dulu deh. Kalau si Rio sampai
ngelihat lo kayak gini, gue yakin seratus persen tu anak bisa mimisan."
Vania tertawa, melangkah santai
menuju cermin meja rias sambil merapikan rambutnya yang masih setengah basah.
Sesekali ia sengaja membusungkan dadanya ke arah Nadin, membuat payudaranya
yang tak tertahan bra itu berguncang pelan, memamerkan ukuran yang sangat besar.
"Salah sendiri baju lo kekecilan semua.” balas
Vania penuh percaya diri, menikmati sensasi nyaman dan sedikit nakal dari
penampilannya sore itu.
PART 2
SEMENTARA itu di tempat lain, Rio
berbaring di atas ranjangnya dengan gelisah. Pendingin ruangan sudah diatur
pada suhu paling rendah, tetapi sekujur tubuh remaja itu justru terasa mendidih
bak dipanggang di atas bara api. Ia memejamkan mata berulang kali, mencoba
keras mengusir bayangan sensual tubuh Vania beberapa menit lalu. Semua usahanya
sia-sia belaka. Siluet tubuh basah Vania terus-menerus berputar bagaikan kaset
rusak di dalam kepalanya.
Setiap kali kelopak matanya terpejam,
pemandangan siluet payudara besar Vania menari-nari di dalam kepalanya. Cetakan
bra hitam berpadu dengan dua gundukan penuh payudara milik sahabat kakaknya itu
benar-benar membuatnya konak bukan main. Hormon masa muda Rio bergejolak hebat,
mendesak aliran darah, mengalir deras langsung menuju selangkangannya.
Rio berusaha menggeser tubuhnya
berulang kali untuk mencari posisi paling nyaman. Penisnya sudah mengeras,
bahkan sejak tadi saat dia bertemu dengan Vania. Dadanya naik-turun menahan
napas, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri. Perlahan tangannya
bergerak turun, melucuti celana pendeknya hingga terlepas. Di antara kedua pahanya, batang penis sudah
mengeras sempurna, mengacung tegak menantang langit-langit kamar. Ujungnya pun sudah
memerah, mengeluarkan sedikit cairan pre-cum bening.
Pikiran Rio terbang jauh. Ia
memejamkan mata, membayangkan sosok Vania. Bayangan tubuh bahenol Vania kini
terwujud jelas dalam benaknya. Payudara besar berisi, pinggul lebar, serta
bokong montok menggoda. Rio mulai menggerakkan tangan kanannya, menggenggam
erat batang penisnya, lalu mengocoknya naik-turun dengan ritme perlahan.
“Ahh… Vania…” desahnya lirih.
Setiap gesekan telapak tangannya pada
kulit sensitif batang penis memberikan sensasi nikmat luar biasa. Rio
membayangkan Vania sedang telanjang di hadapannya, membusungkan dada, lalu
memintanya untuk mengisapnya. Imajinasi itu membuat gairahnya memuncak. Ia
mempercepat gerakan tangannya, mengocok batang penis dengan penuh semangat,
membayangkan mulutnya tengah sibuk mengulum dan menghisap putting Vania secara
bergantian.
“Ouuchhhh…Vania…”
Namun, di tengah aksi onani itu, pintu
kamarnya tiba-tiba terbuka. Rio membuka mata dan seketika jantungnya seolah
berhenti berdetak. Di ambang pintu, Nadin berdiri mematung. Nadin yang mengenakan
piyama tipis tanpa bra, masih diam. Matanya menatap tajam, tertuju tepat pada
batang penis Rio yang masih tegak mengeras dalam genggaman tangan.
“LU NGAPAIN KAK?! KEBIASAAN NGGAK
PERNAH KETOK PINTU DULU!” Rio tersentak, refleks melepas genggaman meski
penisnya masih berdenyut kencang dan menutupi bagian bawah tubuhnya menggunakan
selimut. Wajahnya memerah padam, campuran antara malu dan terkejut.
“Berisik! Gue mau ambil charger
Iphone.” Dengan santainya Nadin melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa dia
juga menutup pintu kamar terlebih dahulu.
“Tuh di meja. Udah buruan keluar!”
Ujar Rio masih sedikit panik. Saat Nadin melangkah mendekati meja belajar,
matanya kembali tertuju pada gundukan keras di selangkangan adiknya.
“Lu pasti coli sambil bayangin tetek
Vania kan?” Ujar Nadin.
“Isshh! Apaan sih Kak? Udah itu ambil
chargernya terus keluar.” Rio mencoba mengikis rasa canggung di antara mereka
berdua.
Bukannya mengambil charger Iphone
miliknya, Nadin justru mendekati sisi ranjang. Tangannya dengan cepat meraih
ujung selimut yang menutupi tubuh Rio lalu satu sentakan kuat membuatnya
kembali terbuka. Penis Rio yang masih tegang menjulang kembali terlihat.
“KAKAK!” Pekik Rio panik.
“Ssshh! Nggak usah munak lu, daripada
ngocok pake tangan sendiri, mending gue yang kocokin.” Nadin berbisik. Tanpa
peringatan, cewek cantik itu mengulurkan tangannya. Jemari lentiknya menyentuh
batang penis Rio, menggenggamnya dengan erat. Rio tersentak, tubuhnya menegang.
“Lu mau ngapain sih kak?” Rio mencoba
menolak, meski napasnya kembali memburu dan penisnya semakin mengeras akibat
sentuhan jemari sang kakak.
“Sshhh… Diem! Kayak baru pertama kali
aja gue kocokin kontol lu!” balas Nadin sedikit ketus.
“I-Iya tapi kan…”
“Tapi apa? Hmmm…?” Nadin mempererat
genggaman tangannya pada batang penis adiknya sembari menambah irama kocokan
naik turun.
“Aaachhhh…Kaakk…” Rio mendesah keras.
Penolakan itu perlahan sirna, digantikan oleh kobaran api birahi.
Melihat ekspresi kepasrahan dari sang
adik membuat nadin makin di atas angin. Gerakan tangan yang awalnya begitu
cepat kini sengaja diperlambat. Sesekali dia mainkan permukaan ujung jempolnya
untuk menggesek serta menekan lubang kencing hingga membuat Rio tak henti
merintih.
“Ouucchhh Kak…Lo apain kontol gue?”
Protes Rio sembari melihat jemari lentik Nadin masih betah memainkan alat
kawinnya.
“Kenapa? Enak kan?” Goda Nadin.
“Anjing! Enak banget sumpah!” Rio
kembali mengerang.
“Kalo diginiin makin enak nggak…?”
Perlahan kepala Nadin mendekati
selangkangan Rio. Mulutnya terbuka lebar sebelum kemudian mulai mengulum ujung
gundul kejantanan sang adik. Nadin menghisapnya perlahan sambil tangannya
bergerak turun meremasi kantong pelir. Sontak saja tubuh Rio menggelinjang,
pinggulnya terlonjak ke atas berusaha memasukkan seluruh batang penisnya ke
dalam mulut sang kakak, namun Nadin menahannya.
“Ssshhhh…Anjing, mentokin dong kak…”
Rio sampai harus memohon.
Alih-alih menuruti permintaan sang
adik, nadin justru melepas kulumannya dari bagian ujung penis dan beralih
menyusur ke bawah. Sasarannya kali ini adalah kantong pelir yang menggantung
bebas. Tanpa peringatan, cewek cantik itu bergegas mengulumnya bergantian,
menghisapnya perlahan sembari tangan kanannya mengocok batang penis naik turun.
Tubuh Rio makin blingsatan, apalagi
kala hisapan pelan mulut Nadin di kantong pelirnya berubah jadi sedotan yang
cukup kuat. Sensasi geli bercampur ngilu membuat tubuh remaja SMA itu makin
gelisah. Hanya erangan serta desahan saja yang terdengar keluar dari mulutnya
sebagai bentuk ekspresi kenikmatan.
“Dasar bocah sangean….”
PLAK!
“Awwhhh!!!”
Rio memekik kasar kala Nadin dengan
sengaja menampar permukaan batang penisnya yang kini sudah basah kuyup akibat lendir
air liur. Tak mau dijadikan kelinci percobaan birahi saja, Rio beranjak dari
atas ranjang dan berdiri di sampingnya. Nadin yang sudah hapal dengan keinginan
sang adik segera bersimpuh di bawah tubuh Rio.
Batang penis Rio masih berdenyut-denyut,
mengarah tepat ke bibir kakaknya. Nadin menatap alat kelamin itu dengan penuh
gairah, lalu perlahan kembali mengocoknya dengan tangan sembari lidahnya mulai
menjelajahi tiap jengkal permukaan kulit batang penis.
“Ahhh…Kakak!”
Nadin tidak berhenti, mulutnya kini terbuka lebar dan langsung melahap ujung penis Rio. Ia memasukkan batang penis makin dalam, menghisapnya sekuat mungkin hingga mencapai pangkal tenggorokan.Suara decakan lidah bercampur air liur memenuhi kamar, berpadu dengan napas berat Rio. Nadin memainkan lidahnya, memutar-mutar di sekitar kepala penis, memberikan sensasi hangat dan basah yang membuat erangan Rio makin nyaring.
Rio menggenggam rambut Nadin, pinggulnya
mulai bergerak maju mundur, mendorong penisnya masuk lebih dalam. Nadin mengerang,
mulutnya kini tersumpal seutuhnya. Penis Rio terasa semakin mengeras dan terus
membesar di dalam mulutnya, membuat Nadin hampir tidak bisa bernafas. Tapi
cewek cantik itu terus mengulumnya. Kegiatan itu baru terasa benar-benar
melelahkan setelah 5 menit berlalu dan belum ada tanda-tanda Rio akan orgasme
dalam waktu dekat.
“Hah…Hah…Tumben lama banget crot lu?”
Ujar Nadin saat melepas batang penis Rio dari dalam mulutnya dengan nafas
terengah-engah.
“Jangan berhenti Kak! Sepongin lagi!”
Rio seolah ingin memperkosa mulut
kakaknya. Belum sempat Nadin bereaksi, mulutnya kembali disumpal batang penis.
Untuk kesekian kalinya Nadin kembali mengulum dan menghisap daging kenyal yang
makin membesar itu. Beberapa kali Rio sengaja menekan pinggulnya ke depan lebih
kuat, membuat ujung penisnya melesak makin dalam dan membuat Nadin tersedak,
nyaris kehabisan nafas. Setelah beberapa saat, Rio kemudian menarik tangan
Nadin dan merebahkan tubuh cewek cantik itu di atas ranjang.
Rio melepas kaosnya, sementara jemari
Nadin sibuk mempreteli kancing-kancing piyama serta menarik celana tipis yang
ia kenakan, melucutinya hingga terlepas sepenuhnya dan terlempar ke lantai.
Kini, tubuhnya benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Rio naik ke atas
ranjang, pemandangan payudara Nadin yang ranum dengan kedua puting menegang
jadi santapan matanya. Meskipun tak sebesar milik Vania tapi bentuknya yang
bulat kencang tetap saja bisa memancing api birahi.
“Ssshhhh…Isepin aja, nggak usah
digigit kayak semalem.” Ujar Nadin kala bibir Rio sudah mencaplok payudaranya.
“Eemmchh..Kenapa?” Tanya Rio.
“Sakit goblok!”
“Biasanya kakak suka kalo dikasarin
kayak gitu.” Rio masih berusaha menentang perintah Nadin.
“Udah nggak usah banyak nanya, buruan
ewein gue! Keburu Vania nyariin gue!”
“Iya…Iya…”
“Ouuchh! Anjing! Fuck!”
Tubuh Nadin menegang seketika,
pinggulnya terangkat tinggi-tinggi saat mulut rakus Rio melumat kedua putingnya
secara bergantian. Tangan kanan Rio yang bebas tak pasif, dia bergerilya
meremasi gundukan payudara milik sang kakak. Tak jarang Rio mengkombinasikan
hisapan mulutnya dengan jilatan lidah di area lingkar aereloa, sensasi geli dan
basah sekaligus hangat sukses membuat tubuh Nadin belingsatan bak cacing
kepanasan.
“Ouuchhhh…Shit! Eemmchhhh…”
Erangan Nadin terhenti karena bibir
teab Rio bergerak cepat menutupnya. Remaja SMA itu melumat bibir Nadin dengan
sangat ganas. Lidahnya terjulur keluar, menguas seluruh permukaan bibir. Nadin
tak tinggal diam, dia membalas pagutan-pagutan panas itu dengan lukan lidah
yang tak kalah panas. Pasangan adik dan kakak itu bercumbu bibir layaknya
sepasang kekasih, sekat-sekat tabu diantara keduanya hilang tersapu kabut nafsu
terlarang.
“Aaacchhhhh! Fuck!”
Nadin memekik kencang saat merasakan
permukaan vaginanya yang basah sedang dimainkan oleh jemari Rio. Sambil terus
menciumi bibir sang kakak, remaja SMA itu mulai merangsang alat kawin Nadin
dengan bagian tubuhnya yang lain. Gesekan perlahan naik turun di sekitar bibir
vagina pelan namun pasti berubah jadi kobelan bertenaga.
“Ouuchhhh! Ouucchhh! Anjing!”
Tanpa aba-aba, dua ruas jari Rio
menelusup masuk lalu mulai bergerak maju mundur, mengocok seluruh bagian dalam
vagina sang Kakak. Nadin tak kuasa menahan serangan seperti itu, pinggulnya
beberapa kali terangkat tinggi sebagai respon sodokan jemari Rio yang makin
cepat dan kasar.
“Aaaacchhh! Anjing! Fuck!!!”
Rio melepas kedua jari tangannya yang
berlumuran lendir cairan kewanitaan. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia kemudian
menjilatinya hingga tandas. Tak mau kehilangan momen, Rio merubah posisinya.
Vagina Nadin sudah sepenuhnya siap untuk menerima penetrasi menggunakan penis.
Rio beringsut mendekati selangkang, penisnya yang tegang mengacung tegak
mengarah tepat ke liang senggama. Sejenak dia basahi permukaan batang penisnya
menggunakan air liur.
“Lu nggak ada kondom?” Tanya Nadin.
Rio menggeleng santai.
“Kan semalem udah abis kak kita
pake.”
“Duh gimana nih, gue lagi masa subur
kayaknya.” Gumam Nadin.
“Terus gimana nih? Mau udahan aja?” Gerakan
tubuh Rio terhenti, matanya memandang tubuh bugil Nadin dengan raut kekecewaan.
“Gas aja tapi jangan lu keluarin di
dalem ya?!” Nafsu yang sudah di ubun-ubun membuat Nadin mengambil keputusan
cepat tanpa pikir panjang.
“Beres kak!”
Rio memegang pangkal penisnya,
mengarahkan ujungnya tepat ke lubang vagina yang becek. Dengan satu hentakan
kuat, Rio menghujamkan batang penisnya itu masuk sepenuhnya.
“AAHHH! Anjing gede banget kontol lu
bangsat!” Nadin menjerit keras, kepalanya mendongak ke atas, matanya terpejam
rapat merasakan robekan nikmat saat penis Rio mengisi seluruh rongga vaginanya.
Rio tidak memberi jeda. Ia mulai
memompa dengan ritme cepat dan kasar. Suara kulit bertemu kulit terdengar
nyaring di seluruh kamar. Setiap kali Rio menghujamkan penisnya, ia bisa
merasakan dinding vagina Nadin menjepit batang penisnya dengan sangat erat.
“Ahh… ahh… anjing, sempit banget
memek lu Kak! Aaachhh!” Rio mendesah kasar, keringat mulai bercucuran dari
keningnya. Meskipun ini bukanlah kali pertama mereka bercinta tapi sensasi
sempit nan hangat cengkraman vagina Nadin tetap sukses membuat Rio keenakan.
“Aaahhh! Brengsek! Kontol brengsek!”
Nadin mengerang liar, tangannya mencengkeram kain sprei hingga kusut, sementara
kakinya melingkar erat di pinggang Rio, menarik tubuh adiknya agar penisnya semakin
masuk ke dalam.
Rio semakin menggila. Ia menghujam
Nadin dengan tenaga penuh, membuat ranjang berderit kencang. Setiap gesekan
memberikan sensasi panas yang membakar. Rio bisa merasakan cairan pelumas alami
dari vagina meluap, membuat setiap tumbukan terdengar basah dan vulgar.
“Lu sambil bayangin Vania ya?
Aaahhh!” Tanya Nadin di sela pertempuran birahi mereka. Mata Rio seketika
membelalak, sedari tadi dia sebenarnya sudah nyaris lupa akan sosok sahabat
kakaknya itu.
“Eeemmchhhhh…Kalo iya kenapa Kak?”
Ujar Rio santai sembari terus menggerakkan pinggulnya naik turun.
“Nggak apa-apa bayangin aja asal
kontol lu tetep keras kayak gini! Aaachhh!”
“Kontolku enak ya Kak? Lu suka banget
kan sama kontol gue Kak? Lebih enak mana dibanding kontol Papa?” bisik Rio
kasar tepat di telinga Nadin.
“Ahhh, iya…Mentokin kontol lo anjing!
Aaachhh! Enakkan kontol lo bangsat! Kontol Papa gampang crot, nggak pernah
bikin gue puas anjing!” balas Nadin dengan suara serak, ia semakin merapatkan
paha-pahanya, menjepit penis Rio agar terasa lebih ketat di dalam vaginanya.
Rio mempercepat tempo genjotannya. Ia
tidak lagi peduli dengan kelembutan. Penisnya menghujami vagina Nadin dengan
ganas, setiap dorongan membuat tubuh Nadin terdorong ke belakang. Suara desahan
Nadin berubah menjadi erangan keras, campuran antara rasa nikmat serta tekanan
yang hampir membuatnya gila.
“Ahhh! Ahhh! Ya Tuhan, Rio…Ahhh,
terusin! Jangan berhenti!”
Rio terus memompa, keringat mulai
bercucuran dari dahi hingga dadanya, membasahi kulit Nadin. Mereka berdua
tenggelam dalam ritme gairah, saling memburu puncak kenikmatan. Rio bisa
merasakan dinding vagina Nadin menjepit batang penisnya dengan sangat kuat,
seolah-olah organ itu ingin menghisap seluruh cairannya.
“Aaachh! Anjing memek lo jepit banget
Kak!” geram Rio sambil terus menggenjot dengan kecepatan tinggi.
“Nghhh…Ahhh! Mentokin kontol lo
bangsat!” Nadin menjerit, matanya terpejam erat, merasakan gelombang orgasme
mulai mendekat.
Setelah beberapa menit pergulatan
panas dalam posisi Man on Top, Rio menarik penisnya keluar dengan satu
sentakan kasar. Cairan putih bening bercampur lendir vagina terlihat mengkilap
di batang penisnya. Sebelum Rio sempat bernapas lega, Nadin dengan sigap
bergerak. Ia mendorong tubuh Rio hingga telentang, lalu dengan gerakan lincah,
ia naik ke atas.
Kini posisi berubah menjadi Woman
on Top. Nadin duduk di atas perut Rio, memposisikan vaginanya tepat di atas
ujung penis . Dengan satu gerakan turun yang cepat, Nadin menduduki batang itu,
menelan seluruh bagian penis ke dalam rahimnya.
“Ahhh! Anjing enak banget rasanya
Kak…” desah Rio, tangannya refleks memegang pinggang Nadin, membantunya untuk
bergerak lebih stabil.
Nadin tidak menjawab dengan
kata-kata, melainkan dengan gerakan pinggul yang memutar. Ia mulai menggenjot
ke atas dan ke bawah, memberikan tekanan maksimal pada titik sensitif di dalam
vaginanya. Wajah cantiknya terlihat sangat terangsang, bibirnya sedikit
terbuka, mengeluarkan napas pendek-pendek.
Sambil terus menggenjot, Nadin
membungkuk ke depan. Ia menciumi bibir Rio dengan rakus, lidah mereka saling
bertautan, bertukar air liur dalam ciuman panas. Nadin tidak berhenti di situ, kepalanya
kemudian turun lebih rendah, menjilati puting Rio dengan lidahnya, memberikan rangsangan
ganda yang membuat Rio mengerang keras.
“Nghhh…Ahhh, kontol lu masih kuat
kan?” bisik Nadin di sela-sela ciumannya.
“Ma-Masih kak…Aaahhh..” Balas Rio dengan nafas terengah.
Tangan Nadin kemudian bergerak ke
payudaranya sendiri. Ia meremasi kedua payudaranya dengan kuat, memutar
putingnya sendiri sambil terus menggenjot penis Rio dari atas. Pemandangan itu
membuat Rio makin bernafsu. Melihat sang kakak kini di atasnya dalam keadaan telanjang
bulat, meremasi payudara sendiri sambil menggenjot penisnya dengan ganas,
adalah stimulasi visual terbaik.
“Ahhh, terus Kak! Genjot terus yang
lebih kenceng!” perintah Rio. Nadin tertawa kecil, suara desahannya semakin
menjadi.
Nadin mempercepat gerakannya. Ia
tidak lagi hanya naik-turun, tapi juga memutar pinggulnya, memastikan setiap
saraf di vaginanya bergesekan dengan batang penis. Suara kulit mereka yang
saling beradu terdengar semakin nyaring, menciptakan simfoni gairah di dalam
kamar. Rio hanya bisa mendongak, menikmati setiap gerakan Nadin, sementara
tangannya kini mulai menjelajahi lekuk tubuh Nadin, meremas pantatnya yang
kenyal.
“Ahhh! Ahhh! Rio, aku mau… aku mau
keluar!” teriak Nadin, tubuhnya mulai bergetar hebat.
Namun, sebelum mencapai puncak, Nadin
melakukan gerakan mendadak yang membuat Rio terengah. Masih dalam posisi Woman
on Top, Nadin memutar tubuhnya hingga membelakangi wajah Rio, sehingga kini
punggungnya menghadap sang adik. Posisi ini membuat penetrasi penis terasa jauh
lebih dalam dan sudut gesekannya berubah.
Nadin kembali menggenjot dengan lebih
ganas. Dua tangannya melabuh ke belakang, bertumpu pada perut Rio, sementara
pinggulnya mulai bergerak maju mundur, naik turun, membenamkan seluruh batang
penis Rio dalam liang senggama. Ia mendorong pantatnya ke belakang, menghujam
penis dengan kekuatan penuh. Rio terkejut, ia bisa merasakan batang penisnya
tertekan hingga ke pangkal.
“Nghhh! Ahhh! Gila, posisi ini lebih enak!” teriak Nadin. Suaranya bergema, penuh dengan gairah yang tak terbendung. Rio mencoba meraih pinggang Nadin, menariknya agar lebih rapat.
Nadin terus memompa, menggenjot
dengan ritme yang tidak beraturan, kadang cepat, kadang lambat namun terus menekan.
Setiap kali tubuhnya turun, ia bisa merasakan penis Rio berdenyut di dalam vagina,
seolah-olah adiknya juga sedang berjuang menahan ejakulasi. Erangan dan desahan
mereka kini menyatu, memenuhi ruangan dengan atmosfer seksual yang sangat
kental.
“Ahhh! Ahhh! Mentokin Rio! Hantam
dari bawah!” Nadin menjerit, tubuhnya berguncang hebat.
Rio tidak bisa menahan lagi. Sensasi
jepitan vagina Nadin yang sangat ketat, ditambah dengan gerakan memutar yang
agresif, membuat alat kawinnya mencapai titik batas. Otot-otot di seluruh tubuhnya
menegang, napasnya tertahan.
“Ahhh…Gue mau crot! Gue keluar!”
raung Rio.
Dalam satu hentakan terakhir yang
sangat dalam, Rio ejakulasi. Sperma kental menyemprot deras ke dalam rahim
Nadin. Nadin merasakan gelombang panas menyambar bagian dalamnya, membuatnya
menjerit keras sebelum akhirnya ia buru-buru bangkit dari atas tubuh Rio,
terengah-engah dengan wajah yang memerah.
“Anjing! Ngapain lu keluarin di
dalem?!” Nadin berjongkok dekat ranjang dengan kedua lutut melebar berusaha
mengeluarkan sisa sperma Rio yang sempat bersarang di dalam vagina.
Rio masih terbaring, namun gairahnya
belum sepenuhnya padam. Ia bangkit berdiri dengan cepat. Nadin yang masih
berjongkok di bawah ranjang masih belum sepenuhnya menyadari jika penis adiknya
kini mengarah ke wajahnya. Rio meraih batang penisnya yang masih berdenyut.
Dengan gerakan cepat, ia mengocok batang penisnya menggunakan tangan,
memberikan rangsangan terakhir untuk mengeluarkan sisa-sisa spermanya.
“Liat sini Kak!” Nadin mendongak
pasrah. Wajahnya hanya berjarak sekian senti dari ujung penis.
“UUGGHHHTT!!!!”
“Anjing! Peju lu kenapa jadi pait
gini sih? Habis ngrokok ya?” Protes Nadin, Rio hanya tertawa kecil sembari
merebahkan tubuhnya di atas ranjang kembali.

Posting Komentar
0 Komentar