SANG PEMUAS

 

GENRE : HIJAB EROTIS - MILF - GANGBANG - INCEST
JUMLAH HALAMAN : 324 HALAMAN
HARGA: Rp 40.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


PART 1

 

Pagi di Perumahan Griya Asri selalu dimulai dengan rutinitas kebisingan yang sama. Kokok ayam dari kejauhan kalah telak oleh deru mesin motor bebek tua milik Pak RT yang sedang dipanaskan di ujung gang sempit. Aroma bumbu nasi goreng dari dapur Bu Ratna, tetangga sebelah, menyusup tanpa permisi lewat ventilasi udara yang kawat nyamuknya sudah berlubang.

Di perumahan subsidi padat penduduk yang ironisnya terjepit di tengah hiruk-pikuk pusat kota ini, privasi adalah sebuah kemewahan tak terjangkau. Dinding-dinding batako yang berdempetan nyaris tanpa jarak membuat suara sekecil apa pun, dari bantingan pintu hingga pertengkaran suami-istri di rumah sebelah, terdengar jelas bagai siaran radio pagi.

Salma baru saja keluar dari kamar mandi sempit yang pintunya terbuat dari plastik biru dengan engsel yang mulai berkarat. Uap air yang masih menempel di kulitnya membawa sensasi segar, mengusir sisa-sisa penat setelah nyaris semalaman ia terjaga memikirkan tumpukan tagihan.

                     Di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun, waktu seolah berbaik hati pada Salma. Wajahnya masih sangat cantik dengan gurat kedewasaan yang memikat, kulitnya kuning langsat dan terawat meski tanpa sentuhan salon mahal. Tubuhnya masih kencang dengan ukuran payudara dan bokong besar memanjakan tiap mata yang memandang. Ia mengeringkan rambut sejenak sebelum meraih pakaian kerjanya yang sudah disetrika rapi sejak semalam.

Setiap hari, Salma selalu memastikan dirinya tampil tertutup rapat. Sebuah seragam guru berpotongan longgar sopan dan hijab instan berukuran sedang yang menjuntai menutupi dada menjadi benteng pelindung utamanya. Namun, ada hal-hal dari takdir biologis yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya oleh helaian kain.

Tubuh Salma terlalu proporsional, membentuk siluet jam pasir dengan lekuk pinggul yang padat dan payudara yang terisi penuh. Bahkan dalam balutan pakaian yang paling tak berbentuk sekalipun, kemolekannya sebagai seorang janda yang matang tetap memancarkan aura menggoda.

Pesona itu tanpa sengaja sering kali membuat pandangan para pria di sekitar perumahan selalu tertahan lebih lama dari seharusnya saat ia melintas. Salma menyadari tatapan-tatapan liar itu, dan ia membencinya. Oleh karena itu, ia selalu menundukkan pandangan, memasang wajah sedingin mungkin setiap kali melangkah keluar dari pagar rumahnya.

Pekerjaannya sebagai tenaga pengajar di SMA Bakti Nusa, sebuah sekolah menengah atas swasta yang seluruh muridnya adalah laki-laki, menuntutnya untuk memiliki mental baja. Menghadapi ratusan remaja pria dengan hormon yang sedang meledak-ledak bukanlah perkara mudah. Salma harus menebalkan tembok otoritasnya, menjadi sosok guru yang tegas, alim, dan tak tersentuh. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Gaji dari yayasan, meski pas-pasan, adalah satu-satunya penopang hidupnya setelah almarhum suaminya pergi meninggalkan segunung beban utang dan seorang anak laki-laki yang menjadi pusat semestanya.

Mengingat hal itu, Salma menghela napas panjang. Ia melirik jam dinding yang jarum detiknya berdetak nyaring. Pukul enam kurang lima belas menit. Sudah waktunya. Ia merapikan lipatan hijabnya di depan cermin kecil yang sedikit buram, lalu bersiap membangunkan anaknya.

Rumah tipe tiga puluh enam yang mereka tempati ini memang tak seberapa luas. Tata letaknya sangat sederhana, sebuah ruang tamu kecil di area depan, dua kamar tidur yang posisinya bersebelahan, serta satu dapur sempit dan kamar mandi di sudut paling belakang. Dinding temboknya memagari ruangan dengan cat yang sudah mulai mengelupas di bagian bawah, lembap karena kurangnya sirkulasi udara akibat rapatnya jarak antar bangunan.

Salma melangkah pelan memutar kenop pintu kamar anaknya. Engselnya berderit, menguakkan udara pengap yang bercampur dengan aroma khas kamar remaja laki-laki. Di sanalah putranya, Aldo, tertidur. Usia Aldo baru menginjak enam belas tahun, namun tidak seperti anak laki-laki sebayanya yang aktif, pandai bergaul, atau hobi nongkrong, Aldo justru tumbuh menjadi remaja yang kelewat pendiam dan kikuk.

Kacamatanya yang tebal dan kebiasaannya yang sering menunduk membuat Aldo terlihat jauh lebih muda dari usianya. Kipas angin kecil di sudut ruangan berputar berderak malas, mencoba mengusir gerah sisa semalam. Di atas kasur busa tipis yang seprainya sudah pudar warnanya, Aldo masih tertidur lelap dengan posisi meringkuk membelakangi pintu. Selimut tipisnya terkuak hingga sebatas lutut, memperlihatkan celana kolor longgar yang kusut.

Hati Salma meremang setiap kali menatap putranya dalam diam. Ada desir kecemasan saat melihat betapa sunyinya dunia remaja Aldo. Di saat anak-anak seusianya sering membuat kegaduhan atau bercerita tentang teman sekelas, putranya lebih sering mengurung diri di kamar, tenggelam dalam diamnya sendiri. Salma sering bertanya-tanya, apakah sifat tertutup anaknya ini murni karena watak bawaan, atau dampak kehilangan sosok ayah di usia yang terlalu dini.

Satu-satunya hal yang sedikit menenangkan hati Salma adalah fakta bahwa Aldo bersekolah di tempat yang sama dengannya. Ia selalu berasumsi bahwa dengan berada di bawah satu atap tempatnya mengajar, ia bisa memantau dan memastikan putranya aman. Salma sama sekali tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di luar pantauannya, ia tidak tahu menahu tentang neraka kecil yang setiap hari harus ditelan mentah-mentah oleh Aldo di sudut-sudut sepi sekolah tersebut.

Langkah Salma terhenti dekat tepi ranjang saat tanpa sengaja memperhatikan bagian tengah celana kolor anaknya yang tercetak jelas. Sebuah bentuk penis yang menonjol di balik kain longgar itu, tanda tubuh remaja Aldo yang mulai dewasa. Dan untuk sesaat, dalam hening pagi yang canggung, Salma merasa ada sesuatu yang asing mengalir di dadanya, sesuatu yang tak ingin ia beri nama.

Salma masih berdiri terpaku, menatap selangkangan Aldo yang menonjol jelas di balik celana kolor longgarnya. Entah kenapa mendadak udara di dalam kamar Aldo terasa berubah, menjadi lebih berat, seolah dinding-dinding kamar ini tiba-tiba merapat tanpa permisi.

Di tengah kekakuan itu, tanpa diduga, tangan kanan Aldo bergerak. Sebuah gerakan yang dilakukan dalam alam bawah sadar, saat kesadaran masih terbenam dalam mimpi. Perlahan, tangan itu merayap ke bawah, masuk ke dalam celana kolornya, jari-jarinya menggaruk batang penisnya dengan malas. Bukan gerakan penuh nafsu, melainkan refleks tubuh yang tak terkendali, sesuatu yang wajar dan manusiawi. Namun bagi Salma yang menyaksikannya secara langsung, gerakan tangan Aldo menyerangnya seperti sambaran petir di siang bolong.

Punggung Salma menegang. Dadanya sesak oleh debaran yang tiba-tiba tak karuan. Ia ingin segera membuang muka, mengalihkan pandangan, ke kipas angin yang berderak, ke poster pelajaran fisika yang mulai menguning di dinding. Namun entah kenapa, lehernya terasa kaku. Matanya seperti terpaku, tak bisa lepas dari pemandangan di hadapannya. Ia masih melihat tangan anaknya bergerak, menggaruk, meremas penisnya sendiri. Lalu, secara perlahan, tangan itu menarik sesuatu ke luar dalam kondisi mata Aldo masih terpejam rapat, napasnya masih teratur seperti bayi yang tak berdosa.

Celana kolor itu turun sedikit, dan batang penis Aldo menyembul, setengah ereksi. Mungkin karena efek pagi, mungkin juga karena mimpinya. Panjangnya sudah cukup mengejutkan untuk anak seusianya. Kulitnya masih bersih, pucat, belum matang sepenuhnya. Dan di sana, di ujung penis, ada sedikit cairan bening mengkilat, tanda tubuh muda itu sedang bersiap memasuki fase kedewasaan.

Salma menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, padahal tadi ia baru saja minum segelas air putih setelah mandi. Jantungnya berdebar makin tak karuan, dadanya naik turun dengan cepat. Separuh kesadarannya berteriak bahwa ia harus segera keluar, menutup pintu, kembali ke kamarnya sendiri dan melupakan apa pun yang baru saja ia lihat saat ini. Tapi separuh lagi, separuh yang tidak ingin ia akui, membuatnya diam di tempat, membiarkan matanya menangkap tiap gerakan tangan Aldo, merekamnya di memori tanpa bisa dia cegah sedikitpun.

Salma bisa melihat bagian tubuh anaknya yang paling intim, tubuh yang dulu ia mandikan, ia bedaki dengan telaten. Dulu, ia terbiasa mencuci kelamin mungil itu dengan sabun, tanpa beban, tanpa pikiran aneh. Hanya tugas seorang ibu yang merawat anaknya. Tapi sekarang, penis itu sudah besar, sudah dewasa. Bukan lagi untuk dimandikan, bukan lagi untuk dibedaki. Bukan lagi miliknya.

Sebuah pikiran yang aneh, sensual, dan terlarang melintas di sudut hati Salma, membuatnya tersentak. Salma segera menggelengkan kepala, seolah bisa mengusir pikiran itu dengan gerakan fisik. Jilbabnya berayun pelan mengikuti gerakannya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Malu pada apa yang baru saja terbersit dalam benak wanita dewasa yang ia sangka sudah mati hasratnya sejak suaminya tiada.

Seluruh logika dan moralitas yang selama ini ia pegang erat bagai tali kehidupan, berperang melawan sesuatu yang lebih primal, rasa penasaran yang membara di dadanya. Lima detik. Sepuluh detik. Mungkin lebih. Napas Salma tersengal, dangkal, dan cepat. Ia menyaksikan putranya masih dalam posisi yang sama. Tangan kanan Aldo telah berhenti bergerak, meninggalkan batang kemaluannya yang setengah ereksi menjulur keluar dari celana kolor begitu saja.

Penis itu teronggok begitu saja, polos tak berdosa, di pangkuan remaja yang masih terlelap. Hening. Hanya derak kipas angin yang menemani detak jantung Salma yang seperti genderang perang. Dan kemudian, dari dalam dadanya, suara naluri keibuan yang paling murni berteriak.

“Dia anakmu, Salma. Kau harus membangunkannya. Dia harus sekolah!”

Salma menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa kewarasan yang mulai tercerai-berai. Perlahan langkah kakinya mendekati sisi ranjang. Kakinya terasa ringan. Matanya sengaja ia arahkan ke wajah anaknya, bukan ke selangkangan. Ia menjulurkan tangan dan menyentuh bahu Aldo dengan lembut.

"Aldo...Nak, bangun. Sudah pagi," suara Salma keluar lebih berbisik dari yang ia rencanakan. Serak. Tidak seperti biasanya. Tidak ada jawaban, Aldo masih nyenyak dalam tidurya.

"Aldo…." Salma menaikkan volume suaranya sedikit,

"Bangun, Nak. Kamu nanti kesiangan." Tubuh Aldo tersentak kaget. Matanya mendadak terbuka lebar, masih merah karena kantuk.

 "Hah? I-Ibu?" Aldo masih belum sepenuhnya sadar. Ia mengucek mata dengan punggung tangan.

Salma berdiri di samping kasur sang anak, menunggu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Tak lama, kesadaran Aldo kembali secara perlahan. Dan kemudian, tubuhnya menegang. Ia merasakan hawa dingin di selangkangan. Merasakan celananya melorot. Merasakan penisnya menjulur bebas di udara terbuka.

Pandangan Aldo jatuh ke bawah. Seketika, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dengan gerakan kilat, tangannya meraih batang penisnya yang masih setengah tegak dan memasukkannya kembali ke dalam celana kolor dengan gerakan tergesa-gesa. Ia hampir tersedak oleh air liurnya sendiri.

"Ma-Maaf Bu... aku... itu..." Aldo terbata-bata, tidak bisa merangkai kata.

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak berani menatap ibunya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, memperhatikan seprai kasurnya yang pudar seolah itu adalah hal paling menarik di dunia saat ini. Salma menelan ludah. Ia bisa merasakan pipinya sendiri menghangat, tapi ia berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. Ia adalah ibu. Ia harus menjadi ibu sekarang. Bukan wanita lain yang sempat terpaku beberapa saat lalu karena melihat batang penis seorang pria dewasa.

"Udah, ngga papa. Untuk anak seusiamu hal kayak tadi wajar banget kok…" kata Salma, suaranya bergetar sedikit namun ia berusaha mengontrolnya.

Aldo masih diam, kepalanya semakin tertunduk. Telinganya merah membara, tembus hingga ke daun telinga. Salma menghela napas. Ia menepuk puncak kepala Aldo pelan, sebuah gestur keibuan yang biasa ia lakukan sejak dulu. Tapi kali ini, tangannya terasa sedikit lebih berat. Dan ia tahu, mungkin Aldo juga merasakan keanehan itu.

"Ya sudah, lekas mandi sana. Nanti kita berangkat bareng ke sekolah." ucap Salma. Aldo  mendongak cepat, menatap ibunya dengan raut panik tertahan.

 "Aldo berangkat sendiri saja, Bu. Naik angkot seperti biasa." Salma mengerutkan kening, menatap putranya penuh keheranan.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini selalu nolak kalo Ibu aja berangkat bareng?” Tanya Salma.

"Nggak apa-apa, Bu. Aldo malu kalau dilihat teman-teman. Nanti dibilang anak mami," jawab Aldo cepat. Ia menelan ludah susah payah.

Bukan predikat anak mami sebenarnya menjadi akar ketakutannya. Berangkat bersama Salma sama saja menyerahkan lehernya sendiri ke tiang gantungan. Aldo tahu persis bagaimana tatapan lapar serta komentar kotor para berandalan sekolah setiap kali melihat ibunya melintas. Jika mereka melihatnya membonceng Salma, siksaan di sekolah hari itu pasti akan berlipat ganda. Para pembully itu akan menggunakan hal tersebut sebagai bahan lecehan baru.

Salma terdiam sejenak. Ia mencoba mencari kebenaran di mata putranya, tapi hanya menemukan dinding pertahanan rapat seorang remaja puber. Timbul sebersit rasa ngilu di dadanya. Apakah putranya mulai malu memiliki ibu sepertinya? Namun, Salma memilih menelan prasangka itu dalam-dalam. Mungkin ini hanya fase wajar remaja laki-laki mencari jati diri.

"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan sampai telat." pesan Salma akhirnya, memaksakan seulas senyum sebelum beranjak keluar meninggalkan kamar.

Salma berbalik dan berjalan keluar dari kamar Aldo. Langkahnya cepat, hampir seperti kabur. Begitu mencapai dapur sempit di belakang, ia menempelkan kedua telapak tangannya ke wajah, merasakan panas yang menjalar di pipinya. Di kamar, Aldo masih duduk diam di atas kasur, memandangi celananya yang berantakan. Wajahnya merah padam. Dalam hati ia bergumam,

"Duh! Ngapain pake ngaceng segala sih?!"

Aldo duduk diam di tepi kasur setelah ibunya pergi. Pintu kamar sudah tertutup rapat, namun ia masih bisa mendengar suara langkah kaki Salma yang menjauh. Detak jantungnya belum juga kembali normal. Tangannya masih gemetar saat ia merapikan celana kolornya ke posisi semula. Ia menghela napas panjang, lalu menekan kedua telapak tangannya ke wajah. Dunianya terasa jungkir balik dalam sepuluh menit terakhir.

Sejak kecil, Aldo bukanlah tipe remaja yang populer. Ia tumbuh sebagai anak yang pendiam, terlalu pemalu untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya. Di sekolah, ia adalah target empuk para pembully, diejek kutu buku, disebut culun, diolok-olok karena kacamata tebalnya yang membuat matanya tampak lebih kecil dari seharusnya. Ia terbiasa makan siang sendirian di perpustakaan, lebih akrab dengan buku pelajaran dan komputer tua peninggalan bapaknya daripada dengan manusia. Apalagi dengan perempuan.

Gadis-gadis di sekolahnya? Jangan ditanya. Aldo bahkan tidak pernah bisa menatap mata mereka lebih dari dua detik. Setiap kali ada siswi yang lewat, ia akan menundukkan kepala, mempercepat langkah, dan menjauh seolah mereka adalah mahluk yang harus dihindari. Rasa takutnya bukan main. Ia merasa kecil, jelek, dan tidak layak berada di dekat mereka.

Akibatnya, satu-satunya figur perempuan yang paling dekat dengannya, satu-satunya yang ia lihat setiap hari, yang mendekatinya tanpa rasa jijik, yang menyentuhnya dengan lembut adalah ibunya sendiri, Salma. Aldo sadar itu salah. Tapi di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, ketika hormon-hormonnya mengamuk seperti badai tak bisa dibendung, naluri kerap menang atas logika. Bayangan ibunya sering kali datang tanpa diundang.

Tubuh ibunya. Lekuk pinggulnya yang padat. Payudaranya yang membusung sempurna meski tertutup hijab longgar. Wajahnya yang cantik dengan gurat kedewasaan yang memikat. Wangi yang menempel di kulitnya setiap selesai mandi, aroma itu terus menghantuinya, merasuk ke dalam mimpinya. Semua itu adalah beban yang harus ia pikul seorang diri. Bahkan semalam Aldo kembali melakukan onani sembari melihat foto-foto Ibunya yang sering dia ambil diam-diam.

“Aldo! Ibu berangkat dulu ya! Buruan mandi!”

“I-Iya Bu!”

Aldo tersentak dari lamunannya kala mendengar teriakan suara Ibunya dari ruang tamu. Tak lama terdengar suara deru motor lalu perlahan menjauh pergi. Aldo bangkit dari sisi ranjang, menyeret kakinya menuju kamar mandi. Ia memutar kran air, membiarkan air mengalir memenuhi bak mandi semen. Namun ia tak segera menyiramkan air ke tubuhnya. Sebaliknya, ia berdiri di depan cermin kecil yang buram.

Ia memandangi wajahnya sendiri. Penampilannya memang jauh dari kata menarik. Wajah bulat dengan jerawat di dagu. Bibir yang cenderung terlalu tebal. Tak heran jika tak satu pun gadis di sekolahnya yang pernah meliriknya dua kali. Tapi tubuhnya mulai berubah. Bahunya melebar. Dadanya mulai bidang. Dan di bawah sana, penisnya kini tumbuh menjadi lebih besar, ukuran yang membuatnya kadang malu sendiri.

Perlahan Aldo membuka celana kolornya dan meletakkannya di gantungan baju dekat cermin. Saat tubuhnya sudah telajang bulat mendadak bayangan sosok Ibunya kembali menyeruak memeuhi isi kepalanya. Pikirannya mulai membayangkan fantasi yang sama seperti semalam saat melakukan onani. Penisnya merespon khayalan cabul itu, alat kawinnya mengeras, mengacung tegak.

Tangannya terjulur ke bawah, meraih penisnya dengan genggaman nyaman sebelum kemudian bergerak perlahan, menocoknya naik turun. Aldo memejamkan mata, punggungnya bersandar pada dinding kamar mandi. Napasnya mulai memburu seiring gerakan mengocok tangan kanannya pada batang penis.

“Ouucchhhh..Ibu…” Aldo mendesah, penisnya makin mengeras dalam genggaman.

Ia memejamkan mata, membayangkan Salma sedang berdiri tepat di hadapannya. Dalam imajinasinya, Salma mengenakan daster tipis yang melekat ketat di tubuh, memperlihatkan lekuk payudara yang besar dan pinggul yang menggoda. Aldo bisa membayangkan aroma tubuh ibunya yang khas, bercampur dengan aroma keringat.

Gerakan tangan Aldo semakin cepat. Setiap gesekan memberikan sensasi nikmat yang membakar, namun nafsu di benaknya jauh lebih besar. Ia membayangkan tangan lembut Salma menyentuhnya, membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa membenamkan wajahnya di antara payudara ibunya yang empuk, atau merasakan lidah hangat Salma bermain di ujung penisnya.

“Ah… Ibu…” desah Aldo pelan, suaranya parau tertahan di tenggorokan.

Pikirannya semakin liar. Ia membayangkan Salma menatapnya dengan tatapan penuh gairah, mengundang Aldo untuk melakukan lebih dari sekadar sentuhan. Ia membayangkan Salma berlutut di hadapannya, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menghisap penisnya dengan rakus hingga ia tak mampu lagi menahan diri.

Keringat mulai bercucuran di dahi Aldo. Ritme kocokan tangannya kini menjadi sangat cepat dan kasar. Otot-otot perutnya menegang, dan napasnya tersengal-sengal. Sensasi hangat menjalar dari pangkal paha menuju seluruh tubuh. Saat puncak gairah itu mencapai titik tertinggi, Aldo membayangkan Salma membisikkan kata-kata nakal tepat di telinganya.

“Ayo sayang…Pejuin Ibu…”

Dengan satu sentakan kuat dan erangan panjang, Aldo akhirnya mencapai klimaks. Cairan kental putih menyemprot deras dari lubang kencingnya, membasahi dinding kamar mandi dan lantai. Ia terengah-engah, tubuhnya melemas, sementara bayangan Salma perlahan memudar, meninggalkan Aldo dalam kepuasan yang terlarang namun sangat memuaskan.

 


PART 2

 

SMA Bakti Nusa berdiri megah di balik pagar besi yang menjulang tinggi, seolah menjadi benteng yang mengurung ratusan testosteron liar di dalamnya. Bangunan tiga lantai berdesain modern tersebut tidak pernah sepi dari kebisingan. Sejak pagi, udara sudah dipenuhi oleh teriakan kasar, tawa lantang, umpatan-umpatan tanpa filter, serta deru bising mesin motor modifikasi yang saling adu kencang di area parkir.

 Sebagai sekolah khusus laki-laki paling bergengsi di kota, tempat ini jauh dari kesan akademis yang tertib. Bakti Nusa lebih menyerupai arena gladiator berbalut seragam putih abu-abu. Begitu langkah kakimu melewati gerbangnya, aroma maskulinitas, keringat asam, asap rokok sembunyi-sembunyi langsung menguar memenuhi setiap sudut koridor kelas. Di sini, hukum rimba berlaku mutlak, yang kuat berkuasa, yang lemah menjadi mangsa.

Aldo tahu betul posisinya di rantai makanan itu. Ia berada di kasta paling dasar. Pagi ini, ia melangkah masuk melewati gerbang utama dengan kepala menunduk dalam-dalam seperti biasa, matanya terpaku pada ujung sepatu ketsnya yang sudah mulai pudar. Tangannya menggenggam erat tali tas ransel di pundak dengan cukup kuat.

Ia berusaha berjalan secepat dan setenang mungkin, merayap menelusuri tepian lorong, berharap wujudnya bisa menyatu dengan tembok bercat krem di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang yang ditabuh brutal. Setiap tatapan mata dari murid lain, sekecil apa pun itu, terasa bagai sayatan silet di kulitnya. Namun, sial bagi Aldo, hari ini keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.

Langkahnya baru mencapai ujung tangga lantai dasar menuju deretan kelas sepuluh ketika sebuah tangan besar mencengkeram kerah belakang seragamnya. Tarikan kuat itu datang tiba-tiba, seketika menghentikan langkah pemuda berkacamata tebal tersebut hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.

Napas Aldo tercekat di tenggorokan. Ia tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui siapa sosok penarik paksa itu. Bau tembakau yang pekat bercampur aroma peppermint tajam langsung menusuk hidungnya, tanda mutlak kehadiran mimpi terburuknya.

Revan.

Pemuda berpostur atletis itu berdiri menjulang di belakang Aldo, memamerkan senyum tipis yang selalu berhasil membuat nyali siapa pun ciut. Seragam putihnya dikeluarkan berantakan, tiga kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus hitam ketat yang mencetak otot dadanya. Sebagai anak kandung Kepala Sekolah SMA Bakti Nusa, Revan memiliki privilege yang membuatnya nyaris tak tersentuh oleh aturan mana pun. Guru-guru menutup mata, satpam menunduk hormat, dan murid-murid menyingkir dari jalannya.

Di belakang Revan, tiga bayangan lain ikut mendekat. Dimas, Lukas, dan Seno. Mereka berempat adalah penguasa absolut sekolah ini, sekawanan predator yang sudah menyeringai layaknya anjing liar menemukan mangsa empuk di pagi hari.

"Mau ke mana lu buru-buru?" bisik Revan pelan, tepat di telinga Aldo.

Nada suaranya terdengar datar, nyaris seperti sapaan santai kawan lama, tapi cengkeraman tangannya di kerah belakang Aldo semakin menguat, nyaris mencekik leher pemuda kurus itu. Aldo menelan ludah dengan susah payah.

 "G-gue ada jadwal piket kelas. Tolong lepasin..." Revan terkekeh pelan.

"Piket? Rajin bener. Gimana kalau lu piket bersihin sepatu gue dulu?" Tanpa menunggu balasan, Revan menyentak kerah baju itu kasar ke arah belakang.

"Bawa dia," perintah Revan singkat.

Dua kroco di belakangnya, Dimas dan Lukas, segera maju. Mereka menyambar lengan kanan dan kiri Aldo tanpa ampun. Tubuh kurus itu diseret paksa menjauh dari keramaian koridor utama.

"Lepasin gue! Kalian mau bawa gue ke mana?!" Aldo meronta pelan, suaranya bergetar menahan panik. Ia memohon, namun tenaga dua pemuda berotot di sisinya terlalu besar untuk dilawan oleh fisik ringkihnya.

"Diem lu, bangsat! Jangan banyak bacot kalau nggak mau gigi lu rontok di sini!" desis Lukas sambil mengapit leher Aldo dengan lengannya.

Beberapa murid lain yang sedang asyik mengobrol di koridor sempat melihat kejadian tersebut. Namun, melihat siapa yang menyeret Aldo, mereka serempak membuang muka. Ada yang pura-pura sibuk membaca buku, ada yang menatap layar ponsel, mendadak buta dan tuli, menolak keras ikut campur urusan Revan dan komplotannya.

Rombongan kecil itu terus berjalan cepat membelah area belakang sekolah yang mulai sepi. Tujuan mereka berakhir di sebuah bangunan kecil yang terpisah jauh dari gedung utama. Gudang penyimpanan perlengkapan olahraga yang lama tidak terpakai. Tempat itu terletak di sudut paling ujung, tersembunyi di bawah bayangan rimbun pohon beringin besar yang daunnya menutupi atap, nyaris luput dari jangkauan patroli guru mana pun. Tempat yang sempurna untuk sebuah eksekusi.

Dimas melangkah maju dan menendang pintu kayu gudang itu dengan sol sepatunya hingga berdebum terbuka lebar. Tubuh Aldo langsung didorong masuk dengan dorongan yang luar biasa keras. Pemuda malang itu kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung ambang pintu, dan ia tersungkur keras menabrak tumpukan matras berdebu di lantai semen yang lembap. Kacamata tebalnya terlempar sejengkal dari wajahnya.

BRAK!

Pintu terbanting tertutup rapat di belakangnya. Suara kunci diputar dari dalam. Akses cahaya matahari pagi terputus, menyisakan keremangan berbau apek debu, keringat kering, dan karet tua. Bersamaan dengan tertutupnya pintu itu, terkunci rapat pula harapan Aldo untuk bisa melarikan diri.

Dalam keremangan gudang, Revan melangkah maju perlahan. Ia mematah-matahkan lehernya ke kiri dan kanan, lalu meretak-retakkan buku jarinya hingga terdengar bunyi gemeletuk yang mengerikan. Ia menatap mangsanya yang sedang merangkak mencari kacamata di lantai sambil menyunggingkan senyum sadis.

"Pemanasan pagi dulu kita, Boys," ucap Revan ringan. Belum sempat Aldo meraih kacamatanya, sebuah tendangan keras mendarat telak di tulang rusuknya.

BUGHT!

"Akh!" Aldo menjerit tertahan, tubuhnya meringkuk seketika.

Itu tendangan dari Dimas. Belum usai rasa nyeri yang menyengat dadanya, Lukas maju, menjambak rambut Aldo dan menarik wajahnya ke atas, lalu melayangkan satu pukulan mentah ke arah ulu hati. Napas Aldo seakan terkuras habis dari paru-parunya. Ia terbatuk-batuk keras, memuntahkan sedikit air liur bercampur debu lantai, sementara perutnya melilit hebat.

“Uhuk…! Uhuk…!”

Revan berjongkok di depan Aldo yang sudah terkapar tak berdaya. Ia menepuk-nepuk pipi Aldo dengan punggung tangannya, mengejek.

"Lemah banget lu, anjing. Gini doang udah mau nangis? Coba mana liat muka melas lu."

Sementara Revan, Dimas, dan Lukas sibuk menjadikan tubuh Aldo sebagai samsak hidup, Seno yang sejak tadi hanya berdiri bersandar di dinding rak bola mulai merasa bosan. Matanya menangkap sesuatu yang menonjol dari saku celana abu-abu Aldo yang robek di bagian jahitan samping. Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Sambil bersiul pelan, Seno melangkah mendekat, berjongkok, dan merampas kasar ponsel tersebut dari saku Aldo.

"Woi, hape gue!" pekik Aldo tertahan, mencoba meraih kaki Seno meski tubuhnya remuk redam.

"Santai, elah. Gue pinjem bentar. Lagian lu nggak bakal sempet main hape sekarang," kekeh Seno. Ia menyalakan layar.

"Wah, bodoh banget nih anak, nggak dikunci password hapenya. Polos amat idup lu, Do."

"Jangan dibuka! Balikin hape gue!" Aldo mulai panik.

Nada suaranya berubah drastis, bukan lagi sekadar ketakutan karena rasa sakit, melainkan kepanikan yang bersumber dari sesuatu yang sangat rahasia. Revan yang menyadari perubahan intonasi Aldo justru semakin tertarik. Ia menendang paha Aldo untuk mendiamkannya.

"Buka, Sen. Liat ada apaan di situ. Palingan juga foto-foto cewek cosplay anime seksi."

Seno menyeringai nakal. Jarinya dengan lincah membuka menu ponsel Aldo dan langsung menuju ke ikon Galeri. Ia menggeser layar perlahan, melewati foto-foto tugas sekolah dan gambar-gambar pemandangan yang membosankan. Namun, saat ia masuk ke sebuah folder tersembunyi yang tidak dikunci oleh Aldo, gerakan jempol Seno mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, sebelum perlahan membentuk seringai tidak percaya.

"Anjing..." gumam Seno pelan, matanya masih terpaku pada layar.

"Bro! Sini lu pada. Lu harus liat ini, sumpah lu semua nggak bakal nyangka."

Melihat ekspresi Seno yang luar biasa terkejut, ketiga temannya menghentikan siksaan mereka pada Aldo. Mereka berkerumun mengelilingi Seno. Di layar ponsel berukuran enam inci tersebut, terpampang puluhan, bahkan mungkin ratusan, foto seorang wanita dewasa berparas cantik dan bertubuh sintal. Wanita itu tidak lain adalah Bu Salma, ibu kandung Aldo sekaligus salah satu guru mereka yang memang terkenal sebagai janda kembang di lingkungan sekolah.

Namun, yang membuat napas keempat berandal itu tertahan bukanlah sekadar karena kecantikan wajah Bu Salma, melainkan pose dan pakaian yang dikenakannya dalam foto-foto tersebut. Bu Salma mengenakan berbagai macam daster rumahan berbahan sutra tipis dan satin yang sangat ketat, mencetak jelas setiap lekuk tubuh dewasanya yang menggoda.

Ada foto saat Bu Salma sedang menunduk mengambil sesuatu di lantai hingga belahan dadanya terekspos jelas dari balik daster berpotongan rendah. Ada pula foto saat wanita itu sedang tidur miring, daster yang terangkat memperlihatkan paha mulusnya.

Sangat jelas terlihat bahwa semua foto ini tidak diambil tanpa persetujuan. Bingkai hitam di pinggiran beberapa foto menunjukkan bahwa pengambilan gambar dilakukan dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Beberapa foto lain diambil dari balik lemari, atau dari sudut rendah di bawah meja makan. Ini adalah karya seorang voyeur, pengintip obsesif yang diam-diam merekam setiap momen privasi Bu Salma di dalam rumahnya sendiri.

Keheningan menggantung sesaat di antara mereka, hanya diselingi napas memburu Aldo yang masih terkapar di lantai. Revan perlahan mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Ia menatap Aldo dengan tatapan campur aduk antara takjub dan geli yang luar biasa. Tawanya kemudian pecah, menggema keras memantul di dinding-dinding gudang, disusul oleh tawa lepas dari Dimas, Lukas, dan Seno.

"Gila... wah, gila lu, Do!" Revan tertawa hingga memegangi perutnya.

"Ini nyokap lu kan?! Bu Salma?! Bangsat, lu ngintipin nyokap lu sendiri di rumah?!"

"Sakit jiwa nih anak, anjir!" seru Lukas menimpali sembari menampar pelan pipi Aldo dengan nada merendahkan.

"Pantesan lu di sekolah culun mampus, ternyata di rumah kelakuan lu kayak anjing. Nyokap sendiri lu jadiin bahan bacol?!"

"Liat nih!  Anglenya dari bawah meja pas nyokapnya lagi nyapu. Edan bener emang si Aldo. Diam-diam menghanyutkan," Seno terus menggeser layar, memamerkan setiap aib yang tersimpan di sana.

Aldo merasakan darahnya mendidih. Wajahnya memerah padam, telinganya berdenging hebat. Rahasia tergelapnya, obsesi terlarang yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik kacamata tebal dan sikap pendiamnya, kini dipertontonkan dan ditertawakan oleh para bajingan ini. Rasa malu yang luar biasa bercampur dengan amarah dan keputusasaan meledak di dalam dadanya.

"BANGSAT! KEMBALIKAN HAPE GUE!"

Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Aldo tiba-tiba melompat menerjang Seno. Tangannya terulur putus asa berusaha merampas kembali ponselnya. Kukunya sempat menggores lengan Seno hingga pemuda itu mengaduh kaget. Namun, perlawanan Aldo hanyalah sebuah bunuh diri. Sebelum jarinya sempat menyentuh ponsel itu, sebuah pukulan keras dari arah samping menghantam rahang kirinya.

BUGHT!

Aldo terpental kembali ke lantai, darah segar seketika menetes dari sudut bibirnya yang pecah. Pandangannya berputar.

"Berani lu ngelawan, hah?!" bentak Dimas yang baru saja melontarkan pukulan tersebut.

Tanpa ampun, hukuman sesungguhnya pun dimulai. Kali ini tidak ada lagi tawa atau ejekan meremehkan. Keempat berandal itu menghujani tubuh Aldo dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Sepatu keras mendarat di perut, punggung, dan rusuk Aldo secara bergantian.

Aldo hanya bisa meringkuk, menutupi kepalanya dengan kedua lengan yang memar, terisak menangis dalam kesakitan dan rasa malu yang menghancurkan harga dirinya hingga tak bersisa. Di sela-sela hantaman brutal yang mengaburkan kesadarannya, telinga Aldo masih sempat menangkap suara Revan.

"Kirim semua fotonya ke hape gue. Kita punya mainan baru sekarang. Nyokapnya si culun ternyata barang bagus."

Suara denting notifikasi dari ponsel Revan menandakan proses transfer berkas nirkabel telah selesai. Seno tersenyum puas, lalu menyodorkan ponsel itu kepada Revan yang langsung menerimanya dengan binar mata penuh kemenangan. Di layar ponsel milik Revan, kini berpindah ratusan foto privasi Bu Salma, sebuah amunisi baru yang jauh lebih berharga daripada sekadar uang jajanan harian yang biasa mereka peras dari murid-murid lemah.

Revan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu melangkah pelan mendekati tubuh Aldo yang masih meringkuk di atas matras berdebu. Napas Aldo terdengar satu-satu, berat dan pendek, diselingi rintihan pelan menahan rasa sakit yang menjalar dari perut hingga ke rahangnya. Kacamata tebalnya yang tergeletak tak jauh dari kepalanya, merefleksikan keremangan cahaya gudang.

Revan berjongkok tepat di samping kepala Aldo. Ia menjambak pelan rambut bagian belakang Aldo, memaksa pemuda yang babak belur itu untuk sedikit mengangkat wajahnya yang berlumuran darah dan debu.

"Dengerin gue baik-baik," bisik Revan. Nada suaranya mendadak berubah santai, nyaris ramah, namun justru hal itu yang membuat bulu kuduk Aldo meremang.

"Karena lu udah kasih hadiah yang luar biasa, gue mau balas budi." Aldo menatap Revan dengan ketakutan. Ia tidak bisa bersuara, hanya tenggorokannya yang mengeluarkan bunyi tercekat.

"Nanti sepulang sekolah, Gue, Dimas, Lukas, ama Seno mau main ke rumah lu. Belajar kelompok, biar nilai lu bagus. Gimana? Setuju, kan?" Revan menepuk-nepuk pipi Aldo yang memar dengan ujung jarinya.

Mendengar kata-kata itu, jantung Aldo seakan berhenti berdetak. Seluruh rasa sakit di tubuhnya mendadak mati rasa, tergantikan oleh gelombang kejutan dan rasa ngeri yang luar biasa. Ia terhenyak. Otaknya yang cerdas langsung menangkap maksud terselubung di balik kalimat "belajar kelompok" tersebut. Mereka tidak peduli pada tugas sekolah. Target mereka adalah ibunya. Bu Salma.

Revan dan komplotannya berniat mendatangi ibunya setelah melihat foto-foto daster seksi yang selama ini ia koleksi secara rahasia. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dada Aldo. Monster-monster ini kini mengincar ibunya, dan itu semua terjadi karena kelakuan bejatnya sendiri yang gemar mengintip dan mendokumentasikan sang ibu diam-diam.

"V-Van... jangan... gue mohon, jangan ke rumah gue..." bisik Aldo parau, air matanya menetes bercampur darah di pipi.

"Hajar gue lagi aja di sini... tapi jangan rumah gue..."

Revan bangkit berdiri, mengabaikan tatapan memohon dari korbannya. Ia terkekeh pelan sambil merapikan kembali seragamnya yang sedikit kusut.

"Nggak usah banyak bacot, pokoknya nanti sepulang sekolah kami maen ke rumahmu. Yuk, cabut, Boys."

Dimas, Lukas, dan Seno tertawa girang mengikuti langkah Revan keluar dari gudang. Pintu kayu itu kembali ditutup dengan sentakan keras, meninggalkan Aldo sendirian dalam kegelapan, meratapi kebodohan dan malapetaka besar yang baru saja ia lepaskan ke arah ibunya sendiri.

 

***

 

Sementara itu, di gedung utama lantai dua, atmosfer terasa jauh berbeda. Ruang guru SMA Bakti Nusa yang ber-AC tampak rapi dan tenang. Beberapa guru terlihat sibuk memeriksa lembar jawaban, sementara yang lain asyik mengobrol ringan ditemani cangkir kopi pagi.

Di sudut ruangan dekat jendela yang menghadap ke taman sekolah, Bu Salma sedang berdiri di depan mejanya. Wanita cantik itu tampak anggun dengan pakaian batik kerja yang pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuh yang matang dan terjaga dengan baik. Wajahnya yang cantik dipoles riasan tipis natural. Ia sedang merapikan beberapa buku paket sosiologi dan menyusun lembar kerja siswa ke dalam tas jinjingnya, bersiap untuk masuk ke kelas jam pertama.

Saat sedang fokus menyusun buku, Salma tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Aroma minyak wangi maskulin yang menyengat, khas parfum mahal berharga jutaan langsung memenuhi indra penciumannya. Salma tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri sedekat itu di belakang punggungnya. Pak Amran. Kepala Sekolah SMA Bakti Nusa, sekaligus ayah kandung dari Revan.

"Pagi, Bu Salma. Seger bener kelihatannya hari ini," sebuah suara berat dan serak menyapa tepat di dekat pundaknya.

Salma tersentak kecil, lalu perlahan membalikkan tubuhnya. Ia segera mengambil langkah mundur satu tapak untuk memberi jarak, menciptakan batasan profesional. Di depannya, Pak Amran berdiri dengan setelan rapi, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara matanya bergerak liar, menelusuri tubuh Salma dari atas hingga bawah tanpa rasa malu.

"Pagi, Pak Amran," jawab Salma seformal mungkin.

 Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang sopan, meski di dalam hati ia merasakan ketidaknyamanan yang mendalam. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan guru-guru perempuan bahwa Pak Amran terkenal mesum dan suka memanfaatkan jabatannya untuk menggoda staff wanita. Pak Amran maju selangkah, kembali memangkas jarak yang baru saja dibuat Salma. Ia condong ke depan, bersandar ringan pada tepi meja Salma.

"Saya perhatikan, baju yang Ibu pakai hari ini pas sekali ya di badan. Makin hari, semakin padat. Maksud saya, padat jadwal mengajarnya." Amran tersenyum penuh arti, matanya sengaja tertuju pada bagian dada Salma yang terbalut kain batik dengan ketat.

Salma menahan napas sejenak. Kalimat menjurus mesum seperti itu sudah sering ia dengar dari mulut sang kepala sekolah. Sebagai seorang janda yang membesarkan anak seorang diri, Salma tahu betul posisinya sangat rentan. Ia tidak ingin memicu keributan atau melakukan konfrontasi terbuka yang bisa mengancam pekerjaannya di sekolah bergengsi ini. Ia hanya ingin bertahan demi masa depan Aldo.

"Terima kasih Pak. Ini baju lama, mungkin saya sedikit gemukan," jawab Salma datar, berusaha mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang aman. Tangannya dengan cepat melanjutkan aktivitas memasukkan sisa buku ke dalam tas. Pak Amran tidak menyerah. Ia justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar menjijikkan di telinga Salma.

"Ah, masa? Justru kalau agak berisi begini kelihatan makin hot, Bu Salma. Lebih berisi, lebih menggoda buat dilihat. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama Ibu menjanda? Sendirian di rumah terus, apa nggak ngerasa kesepian?"

Pertanyaan itu sudah melewati batas, namun Pak Amran mengucapkannya dengan nada santai seolah itu hanya obrolan biasa. Ia bahkan berani mengulurkan tangan kanannya, berpura-pura ingin mengambil pulpen di meja Salma, namun sengaja membiarkan lengannya bergesekan dengan punggung tangan Salma.

Salma dengan refleks menarik tangannya menjauh, berpura-pura sibuk mengancingkan tas jinjingnya. Dadanya bergemuruh oleh rasa kesal dan penghinaan, namun ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan profesional.

"Saya rasa itu urusan pribadi saya, Pak." ujar Salma dengan nada suara yang sedikit ditegaskan, namun tetap menjaga agar tidak terdengar seperti bentakan yang bisa memancing perhatian guru-guru lain.

"Hahahaha, saya mengerti. Tapi seperti yang sering saya bilang, kalau Bu Salma butuh bantuan, apapun itu jangnan sungkan buat menghubungi saya ya.” Pak Amran mengedipkan sebelah matanya, sebuah godaan murah yang menjijikkan dari seorang pria paruh baya.

Salma menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang dipicu oleh rasa muak. Ia melirik jam dinding di ruang guru yang menunjukkan waktu kurang dua menit sebelum bel masuk berbunyi. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk lolos.

"Terima kasih atas tawarannya Pak." kata Salma sambil mengangkat tas jinjingnya dan memeluk beberapa buku sosiologi di dadanya, menggunakan buku-buku tersebut sebagai tameng fisik antara dirinya dan Pak Amran.

"Jam mengajar saya sudah mau dimulai. Saya permisi dulu, Pak."

Tanpa menunggu jawaban atau izin lebih lanjut dari Pak Amran, Salma memberikan anggukan kepala singkat lalu segera melangkah cepat meninggalkan meja kerjanya. Ia berjalan setengah berlari melewati lorong ruang guru, mengabaikan tatapan mata Pak Amran yang terus mengawasi langkahnya dari belakang dengan senyuman penuh nafsu.

Salma mengembuskan napas lega begitu kakinya melangkah keluar dari pintu ruang guru menuju koridor kelas yang ramai. Ia merasa beruntung bisa lolos pagi ini dari gangguan sang kepala sekolah. Namun, di balik rasa leganya, Salma sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya yang jauh lebih besar dan mengerikan, yang dibawa oleh anak kandung dari pria yang baru saja menggodanya, sedang mengintai rumah dan kesuciannya nanti siang.


Posting Komentar

0 Komentar