SANG PEMUAS
PART 1
Pagi di Perumahan Griya Asri selalu
dimulai dengan rutinitas kebisingan yang sama. Kokok ayam dari kejauhan kalah
telak oleh deru mesin motor bebek tua milik Pak RT yang sedang dipanaskan di
ujung gang sempit. Aroma bumbu nasi goreng dari dapur Bu Ratna, tetangga
sebelah, menyusup tanpa permisi lewat ventilasi udara yang kawat nyamuknya
sudah berlubang.
Di perumahan subsidi padat penduduk
yang ironisnya terjepit di tengah hiruk-pikuk pusat kota ini, privasi adalah
sebuah kemewahan tak terjangkau. Dinding-dinding batako yang berdempetan nyaris
tanpa jarak membuat suara sekecil apa pun, dari bantingan pintu hingga
pertengkaran suami-istri di rumah sebelah, terdengar jelas bagai siaran radio
pagi.
Salma baru saja keluar dari kamar mandi sempit yang pintunya terbuat dari plastik biru dengan engsel yang mulai berkarat. Uap air yang masih menempel di kulitnya membawa sensasi segar, mengusir sisa-sisa penat setelah nyaris semalaman ia terjaga memikirkan tumpukan tagihan.
Di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun, waktu seolah berbaik hati pada Salma. Wajahnya masih sangat cantik dengan gurat kedewasaan yang memikat, kulitnya kuning langsat dan terawat meski tanpa sentuhan salon mahal. Tubuhnya masih kencang dengan ukuran payudara dan bokong besar memanjakan tiap mata yang memandang. Ia mengeringkan rambut sejenak sebelum meraih pakaian kerjanya yang sudah disetrika rapi sejak semalam.
Setiap hari, Salma selalu memastikan
dirinya tampil tertutup rapat. Sebuah seragam guru berpotongan longgar sopan
dan hijab instan berukuran sedang yang menjuntai menutupi dada menjadi benteng
pelindung utamanya. Namun, ada hal-hal dari takdir biologis yang tak bisa
disembunyikan sepenuhnya oleh helaian kain.
Tubuh Salma terlalu proporsional, membentuk
siluet jam pasir dengan lekuk pinggul yang padat dan payudara yang terisi
penuh. Bahkan dalam balutan pakaian yang paling tak berbentuk sekalipun,
kemolekannya sebagai seorang janda yang matang tetap memancarkan aura menggoda.
Pesona itu tanpa sengaja sering kali
membuat pandangan para pria di sekitar perumahan selalu tertahan lebih lama
dari seharusnya saat ia melintas. Salma menyadari tatapan-tatapan liar itu, dan
ia membencinya. Oleh karena itu, ia selalu menundukkan pandangan, memasang
wajah sedingin mungkin setiap kali melangkah keluar dari pagar rumahnya.
Pekerjaannya sebagai tenaga pengajar
di SMA Bakti Nusa, sebuah sekolah menengah atas swasta yang seluruh muridnya
adalah laki-laki, menuntutnya untuk memiliki mental baja. Menghadapi ratusan
remaja pria dengan hormon yang sedang meledak-ledak bukanlah perkara mudah.
Salma harus menebalkan tembok otoritasnya, menjadi sosok guru yang tegas, alim,
dan tak tersentuh. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Gaji dari yayasan,
meski pas-pasan, adalah satu-satunya penopang hidupnya setelah almarhum
suaminya pergi meninggalkan segunung beban utang dan seorang anak laki-laki
yang menjadi pusat semestanya.
Mengingat hal itu, Salma menghela
napas panjang. Ia melirik jam dinding yang jarum detiknya berdetak nyaring.
Pukul enam kurang lima belas menit. Sudah waktunya. Ia merapikan lipatan
hijabnya di depan cermin kecil yang sedikit buram, lalu bersiap membangunkan
anaknya.
Rumah tipe tiga puluh enam yang
mereka tempati ini memang tak seberapa luas. Tata letaknya sangat sederhana, sebuah
ruang tamu kecil di area depan, dua kamar tidur yang posisinya bersebelahan,
serta satu dapur sempit dan kamar mandi di sudut paling belakang. Dinding
temboknya memagari ruangan dengan cat yang sudah mulai mengelupas di bagian
bawah, lembap karena kurangnya sirkulasi udara akibat rapatnya jarak antar
bangunan.
Salma melangkah pelan memutar kenop
pintu kamar anaknya. Engselnya berderit, menguakkan udara pengap yang bercampur
dengan aroma khas kamar remaja laki-laki. Di sanalah putranya, Aldo, tertidur.
Usia Aldo baru menginjak enam belas tahun, namun tidak seperti anak laki-laki
sebayanya yang aktif, pandai bergaul, atau hobi nongkrong, Aldo justru tumbuh
menjadi remaja yang kelewat pendiam dan kikuk.
Kacamatanya yang tebal dan kebiasaannya
yang sering menunduk membuat Aldo terlihat jauh lebih muda dari usianya. Kipas
angin kecil di sudut ruangan berputar berderak malas, mencoba mengusir gerah
sisa semalam. Di atas kasur busa tipis yang seprainya sudah pudar warnanya,
Aldo masih tertidur lelap dengan posisi meringkuk membelakangi pintu. Selimut
tipisnya terkuak hingga sebatas lutut, memperlihatkan celana kolor longgar yang
kusut.
Hati Salma meremang setiap kali
menatap putranya dalam diam. Ada desir kecemasan saat melihat betapa sunyinya
dunia remaja Aldo. Di saat anak-anak seusianya sering membuat kegaduhan atau
bercerita tentang teman sekelas, putranya lebih sering mengurung diri di kamar,
tenggelam dalam diamnya sendiri. Salma sering bertanya-tanya, apakah sifat
tertutup anaknya ini murni karena watak bawaan, atau dampak kehilangan sosok
ayah di usia yang terlalu dini.
Satu-satunya hal yang sedikit
menenangkan hati Salma adalah fakta bahwa Aldo bersekolah di tempat yang sama
dengannya. Ia selalu berasumsi bahwa dengan berada di bawah satu atap tempatnya
mengajar, ia bisa memantau dan memastikan putranya aman. Salma sama sekali tak
menyadari apa yang sebenarnya terjadi di luar pantauannya, ia tidak tahu menahu
tentang neraka kecil yang setiap hari harus ditelan mentah-mentah oleh Aldo di
sudut-sudut sepi sekolah tersebut.
Langkah Salma terhenti dekat tepi
ranjang saat tanpa sengaja memperhatikan bagian tengah celana kolor anaknya
yang tercetak jelas. Sebuah bentuk penis yang menonjol di balik kain longgar
itu, tanda tubuh remaja Aldo yang mulai dewasa. Dan untuk sesaat, dalam hening
pagi yang canggung, Salma merasa ada sesuatu yang asing mengalir di dadanya, sesuatu
yang tak ingin ia beri nama.
Salma masih berdiri terpaku, menatap
selangkangan Aldo yang menonjol jelas di balik celana kolor longgarnya. Entah
kenapa mendadak udara di dalam kamar Aldo terasa berubah, menjadi lebih berat,
seolah dinding-dinding kamar ini tiba-tiba merapat tanpa permisi.
Di tengah kekakuan itu, tanpa diduga,
tangan kanan Aldo bergerak. Sebuah gerakan yang dilakukan dalam alam bawah
sadar, saat kesadaran masih terbenam dalam mimpi. Perlahan, tangan itu merayap
ke bawah, masuk ke dalam celana kolornya, jari-jarinya menggaruk batang penisnya
dengan malas. Bukan gerakan penuh nafsu, melainkan refleks tubuh yang tak
terkendali, sesuatu yang wajar dan manusiawi. Namun bagi Salma yang
menyaksikannya secara langsung, gerakan tangan Aldo menyerangnya seperti
sambaran petir di siang bolong.
Punggung Salma menegang. Dadanya
sesak oleh debaran yang tiba-tiba tak karuan. Ia ingin segera membuang muka,
mengalihkan pandangan, ke kipas angin yang berderak, ke poster pelajaran fisika
yang mulai menguning di dinding. Namun entah kenapa, lehernya terasa kaku.
Matanya seperti terpaku, tak bisa lepas dari pemandangan di hadapannya. Ia
masih melihat tangan anaknya bergerak, menggaruk, meremas penisnya sendiri.
Lalu, secara perlahan, tangan itu menarik sesuatu ke luar dalam kondisi mata
Aldo masih terpejam rapat, napasnya masih teratur seperti bayi yang tak berdosa.
Celana kolor itu turun sedikit, dan
batang penis Aldo menyembul, setengah ereksi. Mungkin karena efek pagi, mungkin
juga karena mimpinya. Panjangnya sudah cukup mengejutkan untuk anak seusianya.
Kulitnya masih bersih, pucat, belum matang sepenuhnya. Dan di sana, di ujung
penis, ada sedikit cairan bening mengkilat, tanda tubuh muda itu sedang bersiap
memasuki fase kedewasaan.
Salma menelan ludah. Tenggorokannya
terasa kering, padahal tadi ia baru saja minum segelas air putih setelah mandi.
Jantungnya berdebar makin tak karuan, dadanya naik turun dengan cepat. Separuh
kesadarannya berteriak bahwa ia harus segera keluar, menutup pintu, kembali ke kamarnya
sendiri dan melupakan apa pun yang baru saja ia lihat saat ini. Tapi separuh
lagi, separuh yang tidak ingin ia akui, membuatnya diam di tempat, membiarkan
matanya menangkap tiap gerakan tangan Aldo, merekamnya di memori tanpa bisa dia
cegah sedikitpun.
Salma bisa melihat bagian tubuh
anaknya yang paling intim, tubuh yang dulu ia mandikan, ia bedaki dengan
telaten. Dulu, ia terbiasa mencuci kelamin mungil itu dengan sabun, tanpa
beban, tanpa pikiran aneh. Hanya tugas seorang ibu yang merawat anaknya. Tapi
sekarang, penis itu sudah besar, sudah dewasa. Bukan lagi untuk dimandikan,
bukan lagi untuk dibedaki. Bukan lagi miliknya.
Sebuah pikiran yang aneh, sensual,
dan terlarang melintas di sudut hati Salma, membuatnya tersentak. Salma segera
menggelengkan kepala, seolah bisa mengusir pikiran itu dengan gerakan fisik.
Jilbabnya berayun pelan mengikuti gerakannya. Ia merasa malu pada dirinya
sendiri. Malu pada apa yang baru saja terbersit dalam benak wanita dewasa yang
ia sangka sudah mati hasratnya sejak suaminya tiada.
Seluruh logika dan moralitas yang
selama ini ia pegang erat bagai tali kehidupan, berperang melawan sesuatu yang
lebih primal, rasa penasaran yang membara di dadanya. Lima detik. Sepuluh
detik. Mungkin lebih. Napas Salma tersengal, dangkal, dan cepat. Ia menyaksikan
putranya masih dalam posisi yang sama. Tangan kanan Aldo telah berhenti
bergerak, meninggalkan batang kemaluannya yang setengah ereksi menjulur keluar dari
celana kolor begitu saja.
Penis itu teronggok begitu saja,
polos tak berdosa, di pangkuan remaja yang masih terlelap. Hening. Hanya derak
kipas angin yang menemani detak jantung Salma yang seperti genderang perang. Dan
kemudian, dari dalam dadanya, suara naluri keibuan yang paling murni berteriak.
“Dia anakmu, Salma. Kau harus
membangunkannya. Dia harus sekolah!”
Salma menarik napas panjang,
mengumpulkan sisa-sisa kewarasan yang mulai tercerai-berai. Perlahan langkah
kakinya mendekati sisi ranjang. Kakinya terasa ringan. Matanya sengaja ia
arahkan ke wajah anaknya, bukan ke selangkangan. Ia menjulurkan tangan dan
menyentuh bahu Aldo dengan lembut.
"Aldo...Nak, bangun. Sudah
pagi," suara Salma keluar lebih berbisik dari yang ia rencanakan. Serak.
Tidak seperti biasanya. Tidak ada jawaban, Aldo masih nyenyak dalam tidurya.
"Aldo…." Salma menaikkan
volume suaranya sedikit,
"Bangun, Nak. Kamu nanti
kesiangan." Tubuh Aldo tersentak kaget. Matanya mendadak terbuka lebar,
masih merah karena kantuk.
"Hah? I-Ibu?" Aldo masih belum
sepenuhnya sadar. Ia mengucek mata dengan punggung tangan.
Salma berdiri di samping kasur sang
anak, menunggu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Tak lama, kesadaran
Aldo kembali secara perlahan. Dan kemudian, tubuhnya menegang. Ia merasakan
hawa dingin di selangkangan. Merasakan celananya melorot. Merasakan penisnya menjulur
bebas di udara terbuka.
Pandangan Aldo jatuh ke bawah.
Seketika, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dengan gerakan kilat,
tangannya meraih batang penisnya yang masih setengah tegak dan memasukkannya
kembali ke dalam celana kolor dengan gerakan tergesa-gesa. Ia hampir tersedak
oleh air liurnya sendiri.
"Ma-Maaf Bu... aku...
itu..." Aldo terbata-bata, tidak bisa merangkai kata.
Keringat dingin mulai membasahi
pelipisnya. Ia tidak berani menatap ibunya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam,
memperhatikan seprai kasurnya yang pudar seolah itu adalah hal paling menarik
di dunia saat ini. Salma menelan ludah. Ia bisa merasakan pipinya sendiri
menghangat, tapi ia berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. Ia adalah ibu.
Ia harus menjadi ibu sekarang. Bukan wanita lain yang sempat terpaku beberapa
saat lalu karena melihat batang penis seorang pria dewasa.
"Udah, ngga papa. Untuk anak
seusiamu hal kayak tadi wajar banget kok…" kata Salma, suaranya bergetar
sedikit namun ia berusaha mengontrolnya.
Aldo masih diam, kepalanya semakin
tertunduk. Telinganya merah membara, tembus hingga ke daun telinga. Salma
menghela napas. Ia menepuk puncak kepala Aldo pelan, sebuah gestur keibuan yang
biasa ia lakukan sejak dulu. Tapi kali ini, tangannya terasa sedikit lebih
berat. Dan ia tahu, mungkin Aldo juga merasakan keanehan itu.
"Ya sudah, lekas mandi sana.
Nanti kita berangkat bareng ke sekolah." ucap Salma. Aldo mendongak cepat, menatap ibunya dengan raut
panik tertahan.
"Aldo berangkat sendiri saja, Bu. Naik
angkot seperti biasa." Salma mengerutkan kening, menatap putranya penuh
keheranan.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini
selalu nolak kalo Ibu aja berangkat bareng?” Tanya Salma.
"Nggak apa-apa, Bu. Aldo malu
kalau dilihat teman-teman. Nanti dibilang anak mami," jawab Aldo cepat. Ia
menelan ludah susah payah.
Bukan predikat anak mami sebenarnya
menjadi akar ketakutannya. Berangkat bersama Salma sama saja menyerahkan
lehernya sendiri ke tiang gantungan. Aldo tahu persis bagaimana tatapan lapar
serta komentar kotor para berandalan sekolah setiap kali melihat ibunya
melintas. Jika mereka melihatnya membonceng Salma, siksaan di sekolah hari itu
pasti akan berlipat ganda. Para pembully itu akan menggunakan hal tersebut
sebagai bahan lecehan baru.
Salma terdiam sejenak. Ia mencoba
mencari kebenaran di mata putranya, tapi hanya menemukan dinding pertahanan
rapat seorang remaja puber. Timbul sebersit rasa ngilu di dadanya. Apakah
putranya mulai malu memiliki ibu sepertinya? Namun, Salma memilih menelan
prasangka itu dalam-dalam. Mungkin ini hanya fase wajar remaja laki-laki
mencari jati diri.
"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi
jangan sampai telat." pesan Salma akhirnya, memaksakan seulas senyum
sebelum beranjak keluar meninggalkan kamar.
Salma berbalik dan berjalan keluar
dari kamar Aldo. Langkahnya cepat, hampir seperti kabur. Begitu mencapai dapur
sempit di belakang, ia menempelkan kedua telapak tangannya ke wajah, merasakan
panas yang menjalar di pipinya. Di kamar, Aldo masih duduk diam di atas kasur,
memandangi celananya yang berantakan. Wajahnya merah padam. Dalam hati ia
bergumam,
"Duh! Ngapain pake ngaceng
segala sih?!"
Aldo duduk diam di tepi kasur setelah
ibunya pergi. Pintu kamar sudah tertutup rapat, namun ia masih bisa mendengar
suara langkah kaki Salma yang menjauh. Detak jantungnya belum juga kembali
normal. Tangannya masih gemetar saat ia merapikan celana kolornya ke posisi
semula. Ia menghela napas panjang, lalu menekan kedua telapak tangannya ke
wajah. Dunianya terasa jungkir balik dalam sepuluh menit terakhir.
Sejak kecil, Aldo bukanlah tipe
remaja yang populer. Ia tumbuh sebagai anak yang pendiam, terlalu pemalu untuk
bergaul dengan teman-teman sebayanya. Di sekolah, ia adalah target empuk para
pembully, diejek kutu buku, disebut culun, diolok-olok karena kacamata tebalnya
yang membuat matanya tampak lebih kecil dari seharusnya. Ia terbiasa makan
siang sendirian di perpustakaan, lebih akrab dengan buku pelajaran dan komputer
tua peninggalan bapaknya daripada dengan manusia. Apalagi dengan perempuan.
Gadis-gadis di sekolahnya? Jangan
ditanya. Aldo bahkan tidak pernah bisa menatap mata mereka lebih dari dua
detik. Setiap kali ada siswi yang lewat, ia akan menundukkan kepala,
mempercepat langkah, dan menjauh seolah mereka adalah mahluk yang harus
dihindari. Rasa takutnya bukan main. Ia merasa kecil, jelek, dan tidak layak
berada di dekat mereka.
Akibatnya, satu-satunya figur
perempuan yang paling dekat dengannya, satu-satunya yang ia lihat setiap hari,
yang mendekatinya tanpa rasa jijik, yang menyentuhnya dengan lembut adalah
ibunya sendiri, Salma. Aldo sadar itu salah. Tapi di usianya yang menginjak
tujuh belas tahun, ketika hormon-hormonnya mengamuk seperti badai tak bisa
dibendung, naluri kerap menang atas logika. Bayangan ibunya sering kali datang
tanpa diundang.
Tubuh ibunya. Lekuk pinggulnya yang
padat. Payudaranya yang membusung sempurna meski tertutup hijab longgar.
Wajahnya yang cantik dengan gurat kedewasaan yang memikat. Wangi yang menempel
di kulitnya setiap selesai mandi, aroma itu terus menghantuinya, merasuk ke
dalam mimpinya. Semua itu adalah beban yang harus ia pikul seorang diri. Bahkan
semalam Aldo kembali melakukan onani sembari melihat foto-foto Ibunya yang
sering dia ambil diam-diam.
“Aldo! Ibu berangkat dulu ya! Buruan
mandi!”
“I-Iya Bu!”
Aldo tersentak dari lamunannya kala
mendengar teriakan suara Ibunya dari ruang tamu. Tak lama terdengar suara deru
motor lalu perlahan menjauh pergi. Aldo bangkit dari sisi ranjang, menyeret
kakinya menuju kamar mandi. Ia memutar kran air, membiarkan air mengalir memenuhi
bak mandi semen. Namun ia tak segera menyiramkan air ke tubuhnya. Sebaliknya,
ia berdiri di depan cermin kecil yang buram.
Ia memandangi wajahnya sendiri.
Penampilannya memang jauh dari kata menarik. Wajah bulat dengan jerawat di
dagu. Bibir yang cenderung terlalu tebal. Tak heran jika tak satu pun gadis di
sekolahnya yang pernah meliriknya dua kali. Tapi tubuhnya mulai berubah.
Bahunya melebar. Dadanya mulai bidang. Dan di bawah sana, penisnya kini tumbuh
menjadi lebih besar, ukuran yang membuatnya kadang malu sendiri.
Perlahan Aldo membuka celana kolornya
dan meletakkannya di gantungan baju dekat cermin. Saat tubuhnya sudah telajang
bulat mendadak bayangan sosok Ibunya kembali menyeruak memeuhi isi kepalanya.
Pikirannya mulai membayangkan fantasi yang sama seperti semalam saat melakukan
onani. Penisnya merespon khayalan cabul itu, alat kawinnya mengeras, mengacung
tegak.
Tangannya terjulur ke bawah, meraih
penisnya dengan genggaman nyaman sebelum kemudian bergerak perlahan, menocoknya
naik turun. Aldo memejamkan mata, punggungnya bersandar pada dinding kamar
mandi. Napasnya mulai memburu seiring gerakan mengocok tangan kanannya pada
batang penis.
“Ouucchhhh..Ibu…” Aldo mendesah,
penisnya makin mengeras dalam genggaman.
Ia memejamkan mata, membayangkan
Salma sedang berdiri tepat di hadapannya. Dalam imajinasinya, Salma mengenakan
daster tipis yang melekat ketat di tubuh, memperlihatkan lekuk payudara yang besar
dan pinggul yang menggoda. Aldo bisa membayangkan aroma tubuh ibunya yang khas,
bercampur dengan aroma keringat.
Gerakan tangan Aldo semakin cepat.
Setiap gesekan memberikan sensasi nikmat yang membakar, namun nafsu di benaknya
jauh lebih besar. Ia membayangkan tangan lembut Salma menyentuhnya,
membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa membenamkan wajahnya di antara
payudara ibunya yang empuk, atau merasakan lidah hangat Salma bermain di ujung
penisnya.
“Ah… Ibu…” desah Aldo pelan, suaranya
parau tertahan di tenggorokan.
Pikirannya semakin liar. Ia
membayangkan Salma menatapnya dengan tatapan penuh gairah, mengundang Aldo
untuk melakukan lebih dari sekadar sentuhan. Ia membayangkan Salma berlutut di
hadapannya, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menghisap penisnya dengan rakus
hingga ia tak mampu lagi menahan diri.
Keringat mulai bercucuran di dahi
Aldo. Ritme kocokan tangannya kini menjadi sangat cepat dan kasar. Otot-otot
perutnya menegang, dan napasnya tersengal-sengal. Sensasi hangat menjalar dari
pangkal paha menuju seluruh tubuh. Saat puncak gairah itu mencapai titik
tertinggi, Aldo membayangkan Salma membisikkan kata-kata nakal tepat di
telinganya.
“Ayo sayang…Pejuin Ibu…”
Dengan satu sentakan kuat dan erangan
panjang, Aldo akhirnya mencapai klimaks. Cairan kental putih menyemprot deras
dari lubang kencingnya, membasahi dinding kamar mandi dan lantai. Ia
terengah-engah, tubuhnya melemas, sementara bayangan Salma perlahan memudar,
meninggalkan Aldo dalam kepuasan yang terlarang namun sangat memuaskan.
PART 2
SMA Bakti Nusa berdiri megah di balik
pagar besi yang menjulang tinggi, seolah menjadi benteng yang mengurung ratusan
testosteron liar di dalamnya. Bangunan tiga lantai berdesain modern tersebut
tidak pernah sepi dari kebisingan. Sejak pagi, udara sudah dipenuhi oleh
teriakan kasar, tawa lantang, umpatan-umpatan tanpa filter, serta deru bising
mesin motor modifikasi yang saling adu kencang di area parkir.
Sebagai sekolah khusus laki-laki paling
bergengsi di kota, tempat ini jauh dari kesan akademis yang tertib. Bakti Nusa
lebih menyerupai arena gladiator berbalut seragam putih abu-abu. Begitu langkah
kakimu melewati gerbangnya, aroma maskulinitas, keringat asam, asap rokok
sembunyi-sembunyi langsung menguar memenuhi setiap sudut koridor kelas. Di
sini, hukum rimba berlaku mutlak, yang kuat berkuasa, yang lemah menjadi
mangsa.
Aldo tahu betul posisinya di rantai
makanan itu. Ia berada di kasta paling dasar. Pagi ini, ia melangkah masuk
melewati gerbang utama dengan kepala menunduk dalam-dalam seperti biasa,
matanya terpaku pada ujung sepatu ketsnya yang sudah mulai pudar. Tangannya
menggenggam erat tali tas ransel di pundak dengan cukup kuat.
Ia berusaha berjalan secepat dan
setenang mungkin, merayap menelusuri tepian lorong, berharap wujudnya bisa
menyatu dengan tembok bercat krem di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang
bak genderang perang yang ditabuh brutal. Setiap tatapan mata dari murid lain,
sekecil apa pun itu, terasa bagai sayatan silet di kulitnya. Namun, sial bagi
Aldo, hari ini keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
Langkahnya baru mencapai ujung tangga
lantai dasar menuju deretan kelas sepuluh ketika sebuah tangan besar
mencengkeram kerah belakang seragamnya. Tarikan kuat itu datang tiba-tiba,
seketika menghentikan langkah pemuda berkacamata tebal tersebut hingga tubuhnya
terhuyung ke belakang.
Napas Aldo tercekat di tenggorokan.
Ia tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui siapa sosok penarik paksa
itu. Bau tembakau yang pekat bercampur aroma peppermint tajam langsung menusuk
hidungnya, tanda mutlak kehadiran mimpi terburuknya.
Revan.
Pemuda berpostur atletis itu berdiri
menjulang di belakang Aldo, memamerkan senyum tipis yang selalu berhasil
membuat nyali siapa pun ciut. Seragam putihnya dikeluarkan berantakan, tiga
kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus hitam ketat yang
mencetak otot dadanya. Sebagai anak kandung Kepala Sekolah SMA Bakti Nusa,
Revan memiliki privilege yang membuatnya nyaris tak tersentuh oleh
aturan mana pun. Guru-guru menutup mata, satpam menunduk hormat, dan
murid-murid menyingkir dari jalannya.
Di belakang Revan, tiga bayangan lain
ikut mendekat. Dimas, Lukas, dan Seno. Mereka berempat adalah penguasa absolut
sekolah ini, sekawanan predator yang sudah menyeringai layaknya anjing liar
menemukan mangsa empuk di pagi hari.
"Mau ke mana lu buru-buru?"
bisik Revan pelan, tepat di telinga Aldo.
Nada suaranya terdengar datar, nyaris
seperti sapaan santai kawan lama, tapi cengkeraman tangannya di kerah belakang
Aldo semakin menguat, nyaris mencekik leher pemuda kurus itu. Aldo menelan
ludah dengan susah payah.
"G-gue ada jadwal piket kelas. Tolong
lepasin..." Revan terkekeh pelan.
"Piket? Rajin bener. Gimana
kalau lu piket bersihin sepatu gue dulu?" Tanpa menunggu balasan, Revan
menyentak kerah baju itu kasar ke arah belakang.
"Bawa dia," perintah Revan
singkat.
Dua kroco di belakangnya, Dimas dan
Lukas, segera maju. Mereka menyambar lengan kanan dan kiri Aldo tanpa ampun.
Tubuh kurus itu diseret paksa menjauh dari keramaian koridor utama.
"Lepasin gue! Kalian mau bawa
gue ke mana?!" Aldo meronta pelan, suaranya bergetar menahan panik. Ia
memohon, namun tenaga dua pemuda berotot di sisinya terlalu besar untuk dilawan
oleh fisik ringkihnya.
"Diem lu, bangsat! Jangan banyak
bacot kalau nggak mau gigi lu rontok di sini!" desis Lukas sambil mengapit
leher Aldo dengan lengannya.
Beberapa murid lain yang sedang asyik
mengobrol di koridor sempat melihat kejadian tersebut. Namun, melihat siapa
yang menyeret Aldo, mereka serempak membuang muka. Ada yang pura-pura sibuk
membaca buku, ada yang menatap layar ponsel, mendadak buta dan tuli, menolak
keras ikut campur urusan Revan dan komplotannya.
Rombongan kecil itu terus berjalan
cepat membelah area belakang sekolah yang mulai sepi. Tujuan mereka berakhir di
sebuah bangunan kecil yang terpisah jauh dari gedung utama. Gudang penyimpanan
perlengkapan olahraga yang lama tidak terpakai. Tempat itu terletak di sudut
paling ujung, tersembunyi di bawah bayangan rimbun pohon beringin besar yang
daunnya menutupi atap, nyaris luput dari jangkauan patroli guru mana pun.
Tempat yang sempurna untuk sebuah eksekusi.
Dimas melangkah maju dan menendang
pintu kayu gudang itu dengan sol sepatunya hingga berdebum terbuka lebar. Tubuh
Aldo langsung didorong masuk dengan dorongan yang luar biasa keras. Pemuda
malang itu kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung ambang pintu, dan ia
tersungkur keras menabrak tumpukan matras berdebu di lantai semen yang lembap.
Kacamata tebalnya terlempar sejengkal dari wajahnya.
BRAK!
Pintu terbanting tertutup rapat di
belakangnya. Suara kunci diputar dari dalam. Akses cahaya matahari pagi
terputus, menyisakan keremangan berbau apek debu, keringat kering, dan karet
tua. Bersamaan dengan tertutupnya pintu itu, terkunci rapat pula harapan Aldo
untuk bisa melarikan diri.
Dalam keremangan gudang, Revan
melangkah maju perlahan. Ia mematah-matahkan lehernya ke kiri dan kanan, lalu
meretak-retakkan buku jarinya hingga terdengar bunyi gemeletuk yang mengerikan.
Ia menatap mangsanya yang sedang merangkak mencari kacamata di lantai sambil
menyunggingkan senyum sadis.
"Pemanasan pagi dulu kita,
Boys," ucap Revan ringan. Belum sempat Aldo meraih kacamatanya, sebuah
tendangan keras mendarat telak di tulang rusuknya.
BUGHT!
"Akh!" Aldo menjerit
tertahan, tubuhnya meringkuk seketika.
Itu tendangan dari Dimas. Belum usai
rasa nyeri yang menyengat dadanya, Lukas maju, menjambak rambut Aldo dan
menarik wajahnya ke atas, lalu melayangkan satu pukulan mentah ke arah ulu
hati. Napas Aldo seakan terkuras habis dari paru-parunya. Ia terbatuk-batuk
keras, memuntahkan sedikit air liur bercampur debu lantai, sementara perutnya
melilit hebat.
“Uhuk…! Uhuk…!”
Revan berjongkok di depan Aldo yang
sudah terkapar tak berdaya. Ia menepuk-nepuk pipi Aldo dengan punggung
tangannya, mengejek.
"Lemah banget lu, anjing. Gini
doang udah mau nangis? Coba mana liat muka melas lu."
Sementara Revan, Dimas, dan Lukas
sibuk menjadikan tubuh Aldo sebagai samsak hidup, Seno yang sejak tadi hanya
berdiri bersandar di dinding rak bola mulai merasa bosan. Matanya menangkap
sesuatu yang menonjol dari saku celana abu-abu Aldo yang robek di bagian
jahitan samping. Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Sambil bersiul pelan,
Seno melangkah mendekat, berjongkok, dan merampas kasar ponsel tersebut dari
saku Aldo.
"Woi, hape gue!" pekik Aldo
tertahan, mencoba meraih kaki Seno meski tubuhnya remuk redam.
"Santai, elah. Gue pinjem
bentar. Lagian lu nggak bakal sempet main hape sekarang," kekeh Seno. Ia
menyalakan layar.
"Wah, bodoh banget nih anak,
nggak dikunci password hapenya. Polos amat idup lu, Do."
"Jangan dibuka! Balikin hape
gue!" Aldo mulai panik.
Nada suaranya berubah drastis, bukan
lagi sekadar ketakutan karena rasa sakit, melainkan kepanikan yang bersumber
dari sesuatu yang sangat rahasia. Revan yang menyadari perubahan intonasi Aldo
justru semakin tertarik. Ia menendang paha Aldo untuk mendiamkannya.
"Buka, Sen. Liat ada apaan di
situ. Palingan juga foto-foto cewek cosplay anime seksi."
Seno menyeringai nakal. Jarinya
dengan lincah membuka menu ponsel Aldo dan langsung menuju ke ikon Galeri. Ia
menggeser layar perlahan, melewati foto-foto tugas sekolah dan gambar-gambar
pemandangan yang membosankan. Namun, saat ia masuk ke sebuah folder tersembunyi
yang tidak dikunci oleh Aldo, gerakan jempol Seno mendadak terhenti. Matanya
membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, sebelum perlahan membentuk seringai
tidak percaya.
"Anjing..." gumam Seno
pelan, matanya masih terpaku pada layar.
"Bro! Sini lu pada. Lu harus
liat ini, sumpah lu semua nggak bakal nyangka."
Melihat ekspresi Seno yang luar biasa
terkejut, ketiga temannya menghentikan siksaan mereka pada Aldo. Mereka
berkerumun mengelilingi Seno. Di layar ponsel berukuran enam inci tersebut,
terpampang puluhan, bahkan mungkin ratusan, foto seorang wanita dewasa berparas
cantik dan bertubuh sintal. Wanita itu tidak lain adalah Bu Salma, ibu kandung
Aldo sekaligus salah satu guru mereka yang memang terkenal sebagai janda
kembang di lingkungan sekolah.
Namun, yang membuat napas keempat
berandal itu tertahan bukanlah sekadar karena kecantikan wajah Bu Salma,
melainkan pose dan pakaian yang dikenakannya dalam foto-foto tersebut. Bu Salma
mengenakan berbagai macam daster rumahan berbahan sutra tipis dan satin yang
sangat ketat, mencetak jelas setiap lekuk tubuh dewasanya yang menggoda.
Ada foto saat Bu Salma sedang
menunduk mengambil sesuatu di lantai hingga belahan dadanya terekspos jelas
dari balik daster berpotongan rendah. Ada pula foto saat wanita itu sedang
tidur miring, daster yang terangkat memperlihatkan paha mulusnya.
Sangat jelas terlihat bahwa semua
foto ini tidak diambil tanpa persetujuan. Bingkai hitam di pinggiran beberapa
foto menunjukkan bahwa pengambilan gambar dilakukan dari celah pintu kamar yang
sedikit terbuka. Beberapa foto lain diambil dari balik lemari, atau dari sudut
rendah di bawah meja makan. Ini adalah karya seorang voyeur, pengintip
obsesif yang diam-diam merekam setiap momen privasi Bu Salma di dalam rumahnya
sendiri.
Keheningan menggantung sesaat di
antara mereka, hanya diselingi napas memburu Aldo yang masih terkapar di
lantai. Revan perlahan mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Ia menatap Aldo
dengan tatapan campur aduk antara takjub dan geli yang luar biasa. Tawanya
kemudian pecah, menggema keras memantul di dinding-dinding gudang, disusul oleh
tawa lepas dari Dimas, Lukas, dan Seno.
"Gila... wah, gila lu, Do!"
Revan tertawa hingga memegangi perutnya.
"Ini nyokap lu kan?! Bu Salma?!
Bangsat, lu ngintipin nyokap lu sendiri di rumah?!"
"Sakit jiwa nih anak,
anjir!" seru Lukas menimpali sembari menampar pelan pipi Aldo dengan nada
merendahkan.
"Pantesan lu di sekolah culun
mampus, ternyata di rumah kelakuan lu kayak anjing. Nyokap sendiri lu jadiin
bahan bacol?!"
"Liat nih! Anglenya dari bawah meja pas nyokapnya lagi
nyapu. Edan bener emang si Aldo. Diam-diam menghanyutkan," Seno terus
menggeser layar, memamerkan setiap aib yang tersimpan di sana.
Aldo merasakan darahnya mendidih.
Wajahnya memerah padam, telinganya berdenging hebat. Rahasia tergelapnya,
obsesi terlarang yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik kacamata
tebal dan sikap pendiamnya, kini dipertontonkan dan ditertawakan oleh para
bajingan ini. Rasa malu yang luar biasa bercampur dengan amarah dan
keputusasaan meledak di dalam dadanya.
"BANGSAT! KEMBALIKAN HAPE
GUE!"
Dengan sisa tenaga yang entah datang
dari mana, Aldo tiba-tiba melompat menerjang Seno. Tangannya terulur putus asa
berusaha merampas kembali ponselnya. Kukunya sempat menggores lengan Seno
hingga pemuda itu mengaduh kaget. Namun, perlawanan Aldo hanyalah sebuah bunuh
diri. Sebelum jarinya sempat menyentuh ponsel itu, sebuah pukulan keras dari
arah samping menghantam rahang kirinya.
BUGHT!
Aldo terpental kembali ke lantai,
darah segar seketika menetes dari sudut bibirnya yang pecah. Pandangannya
berputar.
"Berani lu ngelawan, hah?!"
bentak Dimas yang baru saja melontarkan pukulan tersebut.
Tanpa ampun, hukuman sesungguhnya pun
dimulai. Kali ini tidak ada lagi tawa atau ejekan meremehkan. Keempat berandal
itu menghujani tubuh Aldo dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Sepatu
keras mendarat di perut, punggung, dan rusuk Aldo secara bergantian.
Aldo hanya bisa meringkuk, menutupi
kepalanya dengan kedua lengan yang memar, terisak menangis dalam kesakitan dan
rasa malu yang menghancurkan harga dirinya hingga tak bersisa. Di sela-sela
hantaman brutal yang mengaburkan kesadarannya, telinga Aldo masih sempat
menangkap suara Revan.
"Kirim semua fotonya ke hape
gue. Kita punya mainan baru sekarang. Nyokapnya si culun ternyata barang
bagus."
Suara denting notifikasi dari ponsel Revan
menandakan proses transfer berkas nirkabel telah selesai. Seno tersenyum puas,
lalu menyodorkan ponsel itu kepada Revan yang langsung menerimanya dengan binar
mata penuh kemenangan. Di layar ponsel milik Revan, kini berpindah ratusan foto
privasi Bu Salma, sebuah amunisi baru yang jauh lebih berharga daripada sekadar
uang jajanan harian yang biasa mereka peras dari murid-murid lemah.
Revan memasukkan ponselnya ke dalam
saku celana, lalu melangkah pelan mendekati tubuh Aldo yang masih meringkuk di
atas matras berdebu. Napas Aldo terdengar satu-satu, berat dan pendek,
diselingi rintihan pelan menahan rasa sakit yang menjalar dari perut hingga ke
rahangnya. Kacamata tebalnya yang tergeletak tak jauh dari kepalanya,
merefleksikan keremangan cahaya gudang.
Revan berjongkok tepat di samping
kepala Aldo. Ia menjambak pelan rambut bagian belakang Aldo, memaksa pemuda
yang babak belur itu untuk sedikit mengangkat wajahnya yang berlumuran darah
dan debu.
"Dengerin gue baik-baik,"
bisik Revan. Nada suaranya mendadak berubah santai, nyaris ramah, namun justru
hal itu yang membuat bulu kuduk Aldo meremang.
"Karena lu udah kasih hadiah
yang luar biasa, gue mau balas budi." Aldo menatap Revan dengan ketakutan.
Ia tidak bisa bersuara, hanya tenggorokannya yang mengeluarkan bunyi tercekat.
"Nanti sepulang sekolah, Gue,
Dimas, Lukas, ama Seno mau main ke rumah lu. Belajar kelompok, biar nilai lu
bagus. Gimana? Setuju, kan?" Revan menepuk-nepuk pipi Aldo yang memar
dengan ujung jarinya.
Mendengar kata-kata itu, jantung Aldo
seakan berhenti berdetak. Seluruh rasa sakit di tubuhnya mendadak mati rasa,
tergantikan oleh gelombang kejutan dan rasa ngeri yang luar biasa. Ia
terhenyak. Otaknya yang cerdas langsung menangkap maksud terselubung di balik
kalimat "belajar kelompok" tersebut. Mereka tidak peduli pada tugas
sekolah. Target mereka adalah ibunya. Bu Salma.
Revan dan komplotannya berniat
mendatangi ibunya setelah melihat foto-foto daster seksi yang selama ini ia
koleksi secara rahasia. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam
dada Aldo. Monster-monster ini kini mengincar ibunya, dan itu semua terjadi
karena kelakuan bejatnya sendiri yang gemar mengintip dan mendokumentasikan
sang ibu diam-diam.
"V-Van... jangan... gue mohon,
jangan ke rumah gue..." bisik Aldo parau, air matanya menetes bercampur
darah di pipi.
"Hajar gue lagi aja di sini...
tapi jangan rumah gue..."
Revan bangkit berdiri, mengabaikan
tatapan memohon dari korbannya. Ia terkekeh pelan sambil merapikan kembali
seragamnya yang sedikit kusut.
"Nggak usah banyak bacot,
pokoknya nanti sepulang sekolah kami maen ke rumahmu. Yuk, cabut, Boys."
Dimas, Lukas, dan Seno tertawa girang
mengikuti langkah Revan keluar dari gudang. Pintu kayu itu kembali ditutup
dengan sentakan keras, meninggalkan Aldo sendirian dalam kegelapan, meratapi
kebodohan dan malapetaka besar yang baru saja ia lepaskan ke arah ibunya
sendiri.
***
Sementara itu, di gedung utama lantai
dua, atmosfer terasa jauh berbeda. Ruang guru SMA Bakti Nusa yang ber-AC tampak
rapi dan tenang. Beberapa guru terlihat sibuk memeriksa lembar jawaban,
sementara yang lain asyik mengobrol ringan ditemani cangkir kopi pagi.
Di sudut ruangan dekat jendela yang
menghadap ke taman sekolah, Bu Salma sedang berdiri di depan mejanya. Wanita cantik
itu tampak anggun dengan pakaian batik kerja yang pas di tubuhnya,
memperlihatkan siluet tubuh yang matang dan terjaga dengan baik. Wajahnya yang
cantik dipoles riasan tipis natural. Ia sedang merapikan beberapa buku paket
sosiologi dan menyusun lembar kerja siswa ke dalam tas jinjingnya, bersiap
untuk masuk ke kelas jam pertama.
Saat sedang fokus menyusun buku,
Salma tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Aroma minyak
wangi maskulin yang menyengat, khas parfum mahal berharga jutaan langsung
memenuhi indra penciumannya. Salma tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa
yang berdiri sedekat itu di belakang punggungnya. Pak Amran. Kepala Sekolah SMA
Bakti Nusa, sekaligus ayah kandung dari Revan.
"Pagi, Bu Salma. Seger bener
kelihatannya hari ini," sebuah suara berat dan serak menyapa tepat di
dekat pundaknya.
Salma tersentak kecil, lalu perlahan
membalikkan tubuhnya. Ia segera mengambil langkah mundur satu tapak untuk
memberi jarak, menciptakan batasan profesional. Di depannya, Pak Amran berdiri
dengan setelan rapi, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara
matanya bergerak liar, menelusuri tubuh Salma dari atas hingga bawah tanpa rasa
malu.
"Pagi, Pak Amran," jawab
Salma seformal mungkin.
Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang
sopan, meski di dalam hati ia merasakan ketidaknyamanan yang mendalam. Sudah
menjadi rahasia umum di kalangan guru-guru perempuan bahwa Pak Amran terkenal
mesum dan suka memanfaatkan jabatannya untuk menggoda staff wanita. Pak Amran
maju selangkah, kembali memangkas jarak yang baru saja dibuat Salma. Ia condong
ke depan, bersandar ringan pada tepi meja Salma.
"Saya perhatikan, baju yang Ibu
pakai hari ini pas sekali ya di badan. Makin hari, semakin padat. Maksud saya,
padat jadwal mengajarnya." Amran tersenyum penuh arti, matanya sengaja
tertuju pada bagian dada Salma yang terbalut kain batik dengan ketat.
Salma menahan napas sejenak. Kalimat
menjurus mesum seperti itu sudah sering ia dengar dari mulut sang kepala
sekolah. Sebagai seorang janda yang membesarkan anak seorang diri, Salma tahu
betul posisinya sangat rentan. Ia tidak ingin memicu keributan atau melakukan
konfrontasi terbuka yang bisa mengancam pekerjaannya di sekolah bergengsi ini.
Ia hanya ingin bertahan demi masa depan Aldo.
"Terima kasih Pak. Ini baju
lama, mungkin saya sedikit gemukan," jawab Salma datar, berusaha
mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang aman. Tangannya dengan cepat
melanjutkan aktivitas memasukkan sisa buku ke dalam tas. Pak Amran tidak
menyerah. Ia justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar menjijikkan di
telinga Salma.
"Ah, masa? Justru kalau agak
berisi begini kelihatan makin hot, Bu Salma. Lebih berisi, lebih menggoda buat
dilihat. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama Ibu menjanda? Sendirian di rumah
terus, apa nggak ngerasa kesepian?"
Pertanyaan itu sudah melewati batas,
namun Pak Amran mengucapkannya dengan nada santai seolah itu hanya obrolan
biasa. Ia bahkan berani mengulurkan tangan kanannya, berpura-pura ingin
mengambil pulpen di meja Salma, namun sengaja membiarkan lengannya bergesekan
dengan punggung tangan Salma.
Salma dengan refleks menarik
tangannya menjauh, berpura-pura sibuk mengancingkan tas jinjingnya. Dadanya
bergemuruh oleh rasa kesal dan penghinaan, namun ia berusaha keras menjaga
ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan profesional.
"Saya rasa itu urusan pribadi
saya, Pak." ujar Salma dengan nada suara yang sedikit ditegaskan, namun
tetap menjaga agar tidak terdengar seperti bentakan yang bisa memancing
perhatian guru-guru lain.
"Hahahaha, saya mengerti. Tapi
seperti yang sering saya bilang, kalau Bu Salma butuh bantuan, apapun itu
jangnan sungkan buat menghubungi saya ya.” Pak Amran mengedipkan sebelah
matanya, sebuah godaan murah yang menjijikkan dari seorang pria paruh baya.
Salma menarik napas dalam-dalam,
mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang dipicu oleh
rasa muak. Ia melirik jam dinding di ruang guru yang menunjukkan waktu kurang
dua menit sebelum bel masuk berbunyi. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk
lolos.
"Terima kasih atas tawarannya Pak."
kata Salma sambil mengangkat tas jinjingnya dan memeluk beberapa buku sosiologi
di dadanya, menggunakan buku-buku tersebut sebagai tameng fisik antara dirinya
dan Pak Amran.
"Jam mengajar saya sudah mau
dimulai. Saya permisi dulu, Pak."
Tanpa menunggu jawaban atau izin
lebih lanjut dari Pak Amran, Salma memberikan anggukan kepala singkat lalu
segera melangkah cepat meninggalkan meja kerjanya. Ia berjalan setengah berlari
melewati lorong ruang guru, mengabaikan tatapan mata Pak Amran yang terus
mengawasi langkahnya dari belakang dengan senyuman penuh nafsu.
Salma mengembuskan napas lega begitu
kakinya melangkah keluar dari pintu ruang guru menuju koridor kelas yang ramai.
Ia merasa beruntung bisa lolos pagi ini dari gangguan sang kepala sekolah.
Namun, di balik rasa leganya, Salma sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya
yang jauh lebih besar dan mengerikan, yang dibawa oleh anak kandung dari pria
yang baru saja menggodanya, sedang mengintai rumah dan kesuciannya nanti siang.

Posting Komentar
0 Komentar