AFTER MEETING

 

GENRE : 3SOME - CUCKOLD - ROMANTIC SEX - MASSAGES
JUMLAH HALAMAN : 205 HALAMAN (ADA MULUSTRASI)
HARGA: Rp 35.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


PART 1

 

MALAM itu, rumah di kawasan Kemang terasa lebih sepi dari biasanya. Eva duduk di sofa ruang tamu, menatap layar laptop yang menampilkan draft kontrak ekspor yang sudah ia revisi tiga kali hari ini. Di kejauhan, terdengar suara pintu kamar terbuka, lalu langkah kaki Hargo keluar dengan koper di tangan.

"Berangkat lagi?" tanya Eva tanpa menoleh.

"Iya, mau ke Balikpapan tiga hari. Minggu depannya ke Makassar." Hargo menunduk, mengecek isi koper.

"Kamu yakin nggak mau aku temani ke Surabaya besok? Aku bisa tukar tiket pesawat kok." Ujar Hargo.

"Nggak usah. Kamu punya tugas kantor, aku bisa sendiri."

Tidak ada nada marah, tidak ada nada kecewa. Hanya pernyataan yang sederhana, jujur, dan sudah terucap ribuan kali selama hampir lima belas tahun pernikahan mereka. Eva dan Hargo sudah lama melewati fase canggung untuk saling bertanya kabar. Lima belas tahun tanpa anak, tanpa drama besar, tanpa pertengkaran berarti. Justru di situ letak keanehannya. Mereka hidup berdampingan seperti dua orang yang kebetulan berbagi alamat, saling menghormati, saling menjaga urusan masing-masing, tapi tidak benar-benar saling memiliki.

Di usia 42 tahun, Hargo Sanjaya bergelut dengan pekerjaannya sebagai manager di salah satu BUMN besar, sebuah posisi yang cukup mapan dan menuntut mobilitas tinggi. Hampir setiap minggu ia keluar kota. Dan Eva? Eva adalah perempuan yang tidak pernah bergantung.

Pemilik brand fashion wanita yang butiknya sudah tersebar di Jakarta dan Bandung. Bisnisnya terus berkembang pesat dan ia terbiasa menyelesaikan urusan bisnisnya sendiri tanpa bantuan orang lain termasuk dari Hargo. Sesuatu yang tak pernah ia ceritakan pada Hargo adalah tentang kebutuhan lain yang harus ia penuhi dengan cara yang lebih rumit. Seks.

Eva menutup laptop, menatap suaminya yang masih sibuk dengan koper. Hargo pria baik dan bertanggung jawab. Hargo juga tipe suami idaman bagi para ani-ani centil yang mendambakan kekayaan karena secara finansial suami Eva itu sangat bisa diandalkan. Hanya satu kekurangan hargo di mata Eva. Seks.

Pria itu tidak tahu bagaimana cara membuat Eva merasa terpuaskan dalam hal urusan ranjang. Kehidupan seks mereka sejak lima tahun terakhir sangat hambar. Sebulan sekali, itupun jika sempat, adalah potret besar kegagalan Hargo memenuhi nafkah batin pada sang istri. Eva sudah lama berhenti menunggu. Eva sudah bisa mencari kenikmatan seks dari sosok pria lain. Para gigolo muda yang selalu bisa memuaskannya kapanpun dan dimanapun.

 

***

 

Surabaya diguyur hujan deras sejak siang tadi. Pukul tujuh malam, sebuah mobil berhenti di depan loby hotel Sheraton. Setelah urusan check-in beres, Eva naik ke kamarnya, melepas semua beban yang menempel di bahunya. Air hangat di bathtub terasa seperti pelukan yang lama ia nantikan. Eva membiarkan tubuhnya tenggelam, menutup mata, merasakan setiap otot yang tegang perlahan mengendur setelah menempuh perjalanan panjang.

Suara dering ponsel membuyarkan ketenangan Eva, tapi wanita cantik itu mendiamkannya saja hingga bunyi dering berhenti dengan sendirinya. Lima belas menit kemudian ia menyudahi sesi berendam. Eva berjalan ke depan cermin besar di kamar hotel. Ia melepas handuk yang membungkus tubuhnya, membiarkannya jatuh ke lantai. Perlahan, ia menatap bayangannya sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Di usia 40 tahun, tubuhnya masih terlihat sangat menarik, membuat siapa pun sulit mempercayai jumlah usianya saat ini. Bahunya bidang, pinggangnya ramping, lalu melebar kembali ke pinggul yang penuh, membentuk lengkung sempurna. Payudaranya masih padat dan bulat, mengisi dadanya dengan penuh, tidak kendur sedikit pun meski tak memakai bra sekalipun. Di ujungnya, dua puting yang menggoda berdiri tegak, seolah ikut menegaskan kepercayaan diri.

Eva memutar tubuhnya pelan, mengamati lekukan punggung yang dalam, lalu turun ke pantatnya yang padat, bulat, dan kencang. Ia tersenyum puas. Masih bagus. Masih sangat layak untuk dipandang, disentuh, bahkan dinikmati. Jika ada orang menebak, mereka pasti mengira Eva masih berusia 27 tahun. Eva masih punya semua yang dibutuhkan untuk membuat pria mana pun menoleh ke arahnya, dan mungkin juga mengundang fantasy nakal bagi kaum Adam itu.

Eva mengangkat kedua tangannya, merapikan rambut yang masih sedikit basah, lalu menatap matanya sendiri di cermin. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang sudah lama ia pendam. Malam ini, Eva ingin mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih bisa menarik lawan jenis, bahwa ia masih perempuan seutuhnya. Ia kemudian tersenyum pada bayangannya sendiri. Lalu meraih ponselnya.

Sebuah  nama tertera di sana, bukan nama asing bagi Eva karena wanita cantik itu sudah sering bertatap muka dengan pria muda itu. Rio, pria berusia 24 tahun, pria keturunan Manado yang tiap harinya bekerja sebagai instruktur gym sekaligus seorang gigolo profesional. Sudah hampir 6 bulan terakhir, Rio rutin memberi pelayanan pada Eva.

"Halo sayang," sapanya ketika Rio mengangkat telepon.

"Mbak Eva! Aku udah kangen banget nih. Kita party yuk, aku yang siapin semua, dijamin puas!"

"Pesta apa nih?"

"Orgyparty dong. Dijamin nggak bakal nyesel. Mbak cuma perlu siapin tempatnya aja. Sisanya, aku yang urus."

"Berapa orang?"

"Rencananya aku sama dua temanku. Sisanya bebas, terserah Mbak Eva. Pokoknya, aku jamin party kali ini bakal gokil abis!" Eva terdiam sejenak. Gagasan itu menggelitik, vaginanya tanpa sadar berkedut pelan membayangkan banyak kontol antri menyesaki vaginanya.

"Tertarik sih, tapi sekarang aku lagi di Surabaya. Gimana kalo nanti aja pas aku udah balik ke Jakarta? Paling lusa aku udah ready."

"Yah, Mbak. Padahal aku lagi pengen sekarang..." rengek Rio di ujung telepon.

"Simpan dulu pejumu ya, kurang dua hari lagi kok."

"Hmmm, oke deh. Tapi janji ntar kalo udah di Jakarta langsung kabarin ya?"

"Beres, kamu tenang aja. Pasti aku kabarin." Eva hampir menutup telepon, tapi sebuah ide nakal tiba-tiba menyeruak di kepalanya.

"Eh ya, kamu punya temen di Surabaya nggak?"

"Nah kan, jadi mau bikin pesta sendiri nih di Surabaya..." Suara Rio berubah kecewa.

"Ada atau nggak?" desak Eva tak mau berbasa-basi.

"Ada sih, Mbak Eva mau yang kayak gimana? Biar aku cek stoknya."

"Kamu udah tau seleraku, nggak perlu kujelasin lagi."

"Hahahahaha! Siap deh Mbak, kirim aja alamat hotel sama nomor kamarnya, biar nanti dia langsung datengin Mbak Eva.”

“Boleh, eh tapi agak maleman bisa kan? Aku masih ada acara habis ini.”

“Aman Mbak, bisa diatur itu.”

“Sipp, oke habis ini kukirim alamat hotelku.”

“Siap Mbak!”

Eva menutup telepon, Ia menatap ponselnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Malam ini akan jadi malam panjang baginya. Vaginanya tanpa sadar berkedut-kedut karena membayangkan sosok gigolo yang nanti akan memuaskannya. Eva melirik jam di layar ponselnya, wanita cantik itu langsung bergegas berganti pakaian dan merias wajahnya. Ada janji makan malam dengan Pak Reza dan calon investor yang harus dia datangi.

Pertemuan dengan Pak Reza di restoran hotel sudah diatur sejak dua minggu lalu. Sebuah makan malam yang sengaja dihelat sehari sebelum penandatanganan kontrak. Eva memilih meja di pojok, posisi yang pas untuk mengamati pintu masuk. Beberapa saat kemudian, Pak Reza muncul, diiringi seorang pria asing. Eva meneguk anggurnya pelan, mengamati sebentar, lalu bangkit menghampiri.

"Malam, Pak Reza. Apa kabar?"

"Eh, Bu Eva! Ayo silahkan duduk. Kenalin, ini Edwin, buyer kita yang akan mengekspor barang ke China."

Eva menjabat tangan pria itu. Hangat. Matanya sempat menangkap kilas senyum dari Edwin, pria Chinese berusia sekitar 35 tahun dengan penampilan menawan. Rambutnya rapi dan klimis, kulitnya putih bersih dengan postur tubuh gegap. Edwin berdiri seraya mempersiapkan kursi untuk Eva, sebuah kesopanan yang memberi kesan positif.

“Terima kasih Edwin.” Ujar Eva seraya mengumbar senyum.

“Panggil Edwin aja biar lebih akrab.” Ujar pria itu.

“Loh, bisa Bahasa Indonesia rupanya?” Eva nampak terkejut mendengar kefasihan Edwin melafalkan bahasa Ibunya itu.

“Saya sudah sepuluh tahun bolak-balik Indonesia-China, semua rekan bisnis saya juga kebanyakan orang Indo. Jadi, ya sedikit-sedikit belajar lama-lama jadi lancar.” Ucap Edwin.

"Oh gitu." Sahut Eva singkat.

Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Reza memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga. Di sela-sela santap malam sesekali terlontar obrolan ringan. Dari situ, Eva tau jika Pak Reza dan Edwin sudah mengenal cukup lama, bahkan jauh sebelum Eva mulai terjun di dunia bisnis.

Eva menyadari sesekali Edwin melirik ke arah belahan payudaranya yang terbungkus gaun yang berpotongan rendah. Sebagai wanita normal yang kenyang akan dunia malam, Eva sadar betul ada kias ketertarikan dari sorot mata pria China itu. Bukannya risih, Eva justru begitu menikmati tatapan jalang dari calon rekan bisnisnya itu. Sesekali Eva sengaja menurunkan bagian kain di area dadanya, membuat daging lembut payudaranya menyembul menantang.

"Jadi, bagaimana dengan penandatanganan besok? Semua sudah siap?" tanya Pak Reza.

"Semua udah beres Pak, besok tinggal tanda tangan aja sama beresin beberapa detail kecil." jawab Eva sambil tersenyum, lirikan matanya menyasar Edwin yang duduk di hadapannya.

“Apa aku bilang, Bu Eva ini partner bisnis yang bisa diandalkan bro! sat-set nggak banyak drama, langsung eksekusi.” Puji Pak Reza, Edwin hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk setuju.

“Ah, Pak Reza bisa aja. Saya kan belajar dari ahlinya.” Ucap eva merendah.

“Ngomong-ngomong, suaminya nggak ikut?” Pancing Edwin. Eva tau arah pembicaraan dari pria China itu, senyum tipis mengembang di bibirnya.

“Wah…Wah…Mulai deh mode playboynya kumat. Dia ini duda Bu, maklumin kalo langsung ijo matanya pas liat wanita cantik seperti Bu Eva.” Kelakar Pak reza mengundang tawa ketiganya.

“Hahahahaha! Jangan bongkar rahasia dong bro!” Sahut Edwin dengan tawa lebar.

“Santai, aku nggak masalah kok. Suamiku lagi sibuk sama kerjaannya sendiri, aku juga udah biasa kemana-mana sendiri ngurusin bisnis.” Kata Eva.

“Tipe wanita tahan banting nih Bu Eva.” Ujar Pak Reza.

“Eitss, ya jangan dibanting dong Pak. Bisa sakit nanti badanku.”

“Liat-liat posisi bantingnya sih…” Celetuk Edwin dengan seringai mesum di wajahnya. Tawa kembali meledak di meja mereka.

Selesai makan malam, Edwin berinisiatif memesan satu botol red wine untuk menemani obrolan mereka. Saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Pak Reza pamit pulang terlebih dahulu sementara Eva dan Edwin masih betah duduk di kursi restoran. Pengaruh alkohol membuat obrolan dua orang yang baru bertemu itu mengalir begitu lancar. Tak hanya soal bisnis, mereka juga mulai membicarakan persoalan pribadi.

Entah karena pengaruh alkohol atau karena pesona Edwin yang cukup membuat Eva nyaman, wanita itu begitu terbuka menceritakan bagaimana pernikahannya yang mulai memasuki tahap kejenuhan. Edwin sama sekali tak menyela, pria berpostur gagah itu hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali singkat jika diperlukan. Edwin sudah paham bagaimana cara merebut perhatian wanita bebas seperti Eva.

“Duh, kepalaku pusing banget…” keluh Eva sembari memijat pelipisnya dengan jari.

“Mau aku antar ke kamar?” Tawar Edwin.

“Hmm…Boleh…”

Mereka pun beranjak beranjak dari kursi. Langkah Eva gontai. Sepatu hak tingginya yang biasanya menopang tubuh dengan anggun, kini justru terasa seperti beban yang sulit dikendalikan. Setiap langkahnya tak menentu, kadang terlalu ke kiri, kadang terlalu ke kanan. Suasana restoran yang tadi ramai dengan para pengunjung kini berangsur sepi.

Udara malam yang dingin tak banyak membantu menyegarkan kepala Eva. Matanya setengah terpejam, pandangannya berbayang, dan kepalanya berdenyut pelan. Aroma tubuh Edwin yang maskulin justru membuatnya semakin merasa linglung. Eva membiarkan sebagian tubuhnya bersandar penuh pada lengan pria itu.

"Pelan-pelan aja jalannya, nanti kamu jatuh…" ucap Edwin lembut saat melihat tubuh Eva berulang kali nyaris kehilangan keseimbangan.

Eva hanya menggumam pelan, terlalu mabuk untuk menjawab dengan jelas. Wanita cantik itu bahkan sempat tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan, matanya sesekali menatap kosong ke lantai hotel yang berkilau samar oleh cahaya lampu. Tak lama, mereka akhirnya sampai di depan pintu lift.

“Kamarmu di lantai berapa?” Tanya Edwin.

“Delapan kayaknya…” Jawab Eva setengah mengigau.

Edwin menekan tombol lift dengan tangan yang masih setengah memeluk tubuh Eva. Pintu lift terbuka beberapa saat kemudian, Edwin membimbing Eva masuk, membiarkan wanita itu bersandar pada dinding lift. Eva bisa merasakan hawa sejuk dari panel logam lift menempel di punggung dan lengannya, terasa menenangkan sekaligus membuat bulu kuduknya merinding. Perutnya sedikit mual, dan kepalanya terasa berputar pelan.

Edwin menekan tombol lantai 8. Lift bergerak naik dengan dengung lembut. Dalam ruang sempit yang sunyi itu, hanya suara napas Eva yang terdengar sedikit berat. Tubuhnya sesekali limbung, dan setiap kali itu terjadi, Edwin menahannya dengan cepat agar tak terjatuh.

"Kupikir kamu udah biasa minum…" kata Edwin.

“Ya, kadang-kadang. Tadi kayaknya kebanyakan deh.” Sahut Eva dengan suara serak.

“Gimana nggak kebanyakan, hampir setengah botol kamu habisin sendiri.” Ejek Edwin seraya tersenyum.

Eva mengangguk lemah, tapi sebenarnya ia tak sepenuhnya menangkap perkataan Edwin barusan. Pikirannya berenang di antara sadar dan tidak. Lamunan-lamunan pendek bercampur aduk dalam kepalanya, wajah Edwin yang samar, aroma wine yang masih terasa di lidahnya, dan rasa hangat yang aneh di perutnya.

Pintu lift terbuka di lantai 8. Koridor hotel lengang, hanya dipenuhi karpet tebal bermotif lembut dan lampu dinding yang temaram. Suasana sunyi, sesekali saja terdengar bunyi pintu kamar yang ditutup dari kejauhan. Edwin menggandeng Eva menyusuri koridor, langkah mereka pelan, nyaris tak bersuara di atas karpet.

“Kamarmu nomor berapa?” tanya Edwin di sela langkah kaki mereka. Eva merogoh tas tangannya, lalu menyerahkan kartu akses bernomor 8217.

Eva semakin berat bersandar. Kakinya terasa seperti bukan miliknya lagi. Sesampainya di depan kamar, Edwin langsug menempelkan kartu akses pada layar sensor. Dibukanya pintu itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain tetap menahan tubuh Eva agar tidak ambruk.

Suara pintu terbuka terasa lega bagi Edwin Edwin. Namun bagi Eva, dunia serasa berputar. Ia hampir tak ingat apa pun setelah itu, kecuali samar-samar merasakan tubuhnya diangkat dan dibaringkan dengan hati-hati di atas ranjang. Dengan hati-hati Edwin merebahkan tubuh Eva di ranjang, melepaskan sepatu hak dari kakinya, lalu perlahan membetulkan posisi tubuh wanita itu. Eva sudah tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.

Kesadarannya tiba-tiba muncul kembali ketika ia merasakan payudaranya sesak dan geli bercampur nikmat. Susah payah wanita cantik itu membuka mata. Di atas tubuhnya Edwin sedang menindihnya sambil mengulum kedua putingnya secara bergantian. Tubuh Eva sudah telanjang, entah sejak kapan pakaiannya dilepas, begitu pula Edwin yang kini hanya mengenakan celana dalam.

“Eeemmchhh…Kamu lagi ngapain…?”

“Ssshhh…Udah diem aja. Aku sange banget liat badanmu daritadi.” Bujuk Edwin sebelum kembali melanjutkan aksi cabulnya.

Bukannya memberontak begitu kesadarannya pulih, Eva malah mendesah penuh kenikmatan. Ia meremas rambut Edwin yang masih asyik bermain di payudaranya. Perlahan tangan pria itu mulai bergerak ke bawah, meraba area selangkangan. Eva hanya bisa pasrah dan bahkan membuka dua pahanya lebar-lebar seolah memberi akses penuh pada jemari nakal sang pejantan untuk menjamah vaginanya yang sudah lembab cenderung becek.

"Sshh.. Eehh.. Eegghh.." desah Eva, suara yang membuat gairah Edwin semakin membara.

 Pria itu kemudian mencium bibir Eva, sebuah cumbuan bibir yang disambut dengan sukarela oleh Eva. Bibir mereka saling mengecup, mencium, diselingi jilatan lidah dan pertukaran air liur. Di tengah cumbuan tersebut, tangan Eva meraba selangkangan Edwin dan mendapati tonjolan yang mengeras di balik celana dalamnya.

“Wah, lumayan juga kontolnya.” Bisik Eva dalam hati.

Sambil terus berciuman, Eva menurunkan celana dalam Edwin. Pria itu duduk sebentar untuk melepas penutup terakhir tubuhnya itu hingga telanjang bulat. Ternyata penisnya yang tegang tidak sedasyat yang dibayangkan Eva. Diameternya memang besar, tapi tidak terlalu panjang dan belum disunat. Ada sedikit rasa kecewa di hati Eva, namun ia pantang menghentikan permainan di saat birahinya telah meninggi. Eva hanya berharap jika Edwin menonjol secara skill, meskipun ukuran alat kawinnya tak masuk kriteria.

“Sori ya, aku belum sunat…” Ujar Edwin begitu menyadari raut keterkejutan di wajah Eva.

“No problem, namanya masih kontol kan?” Balas Eva vulgar.

Edwin kembali menindih tubuh Eva. Ia menciumi leher sang betina sambil mempermainkan lidahnya di sepanjang kulit leher dan pundak Wulan. Ciumannya lalu turun dan berputar-putar di area payudara. Puting Eva tak lepas dari jilatan dan kuluman yang ganas.

“Ouuchhhhh…Shit…” Lenguh Eva.

Jilatan Edwin lalu beralih ke perut, terus ke paha, sejenak berhenti dan menciumi lutut Eva. Rupanya jilatan di lutut yang belum pernah dialami Eva itu menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan menjadi terminal terakhir dari lidah Edwin. Pria itu menjilati klitoris dan bibir vagina  sambil jari-jarinya mulai mengocok bagian dalam vagina wanita itu.

"Sshh.. Eegghh.. Eehhmm..Ya terus!" desah Eva merasakan kenikmatan dari jilatan serta kocokan jari Edwin.

Suara bunyi kecipak lendir vagina yang sedang diobok-obok jari tengah berpadu dengan suara hisapan bibir Edwin, membentuk sebuah simfony gairah di dalam kamar. Apalagi desahan Eva yang mendayu manja makin menambah aura sensualitas. Setelah puas bermain-main di bawah sana, Edwin mengangkat kepalanya, wajah serta bibirnya basah oleh lendir vagina.

“Gimana? Enak nggak?”

“Emmchhh…Lumayan…” balas Eva sembari meremas payudaranya sendiri. Matanya menatap binal.

Edwin bergerak ke atas, selangkangannya kini bergerak mendekati wajah Eva. Pria China itu menyodorkan penisnya, bagian bawah pahanya menekan langsung payudara Eva. Tau apa yang diminta oleh partner sex nya, Eva membuka mulutnya lebar-lebar. Perlahan alat kawin Edwin mulai masuk.

“Eeemmchhh…Eeeemmmchhh…”

“Ouchhhh! Yes!” Sensasi hangat sekaligus basah menyergap batang penis Edwin. Lenguhannya terdengar parau.

Lidah Eva sesekali menjilati bagian lubang kencing. Jilatannya terus bergerak ke bawah menyusuri bagian batang. Tak lupa kantong buah zakar Edwin jadi sasaran kuluman berikutnya. Dalam posisi seperti ini, Edwin seolah sedang memperkosa mulut Eva. Pinggulnya mulai ikut bergerak naik turun, penisnya bergerak keluar masuk di dalam mulut sang betina.

“Ouuchhh! Yes!” Edwin kembali meraung. Tubuhnya bergidik geli tapi juga nikmat.

Meskipun sempat kewalahan menerima lesakan demi lesakan batang penis di dalam mulutnya, namun kelamaan Eva jadi makin terbiasa apalagi ukuran penis Edwin yang tak begitu besar. Puas memperkosa mulut sang betina, tubuh Edwin kembali berada di antara kedua paha Eva. Sesaat dia gunakan ujung penisnya ke bibir vagina, lalu mendorongnya perlahan masuk ke dalam. Eva merasa masih ada banyak ruang kosong di bagian dalam vaginanya.

"Ehh.. Sshh.. Eeghghgh…"

Eva mulai mendesah ketika Edwin mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tak seperti gigolo langganannya yang pandai memainkan ritme sodokan, Edwin terasa begitu simultan dan berantakan. Gerakannya keras bahkan cenderung kasar. Eva sama sekali tak bisa merasakan kenikmatan lebih, ditambah ukuran alat kawin pria China itu jauh dari standarnya.

“Aaahhh! Aaahhh!” Sambil terus memompa vagina, kedua tangan Edwin meremasi payudara Eva yang terbuka bebas.

“Eeemchhh…yes…yes..terusin…Entotin memekku!” Eva berusaha merangkai kata-kata mesum dengan tujuan merangsang birahi sang pejantan. Tentu saja desahannya hanyalah sebuah kepalsuan.

Gerakan pinggul Edwin makin tak beraturan, penisnya melesak bak piston mesin yang baru saja dilumuri oli. Cepat tapi sama sekali tak membuat dinding vagina Eva merasa nyaman apalagi nikmat. Setelah beberapa menit, tubuh  Edwin memeluk Eva. Bibirnya menciumi garis leher wanita cantik itu sementara di bawah pantat serta pinggulnya terus bergerak naik turun.

“Ouuchh! Ouuchhh! Yeess…”

Edwin menaikkan tubuhnya kembali, bertumpu pada lutut, lalu kembali menyodok vagina. Dengan posisi seperti ini, Eva bisa melihat ekspresi wajah pria itu yang kemerahan dibakar nafsu. Tampak sekali rona merah di wajah Edwin karena kulitnya yang putih khas orang Tionghoa. Keringat sudah membasahi tubuh pria itu meski belum terlalu lama bersetubuh. Eva ikut menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangi tusukan penis. Celakanya gerakan itu justru membuat Edwin tak bisa menahan ejakulasinya.

“AAACCHH! AKU CROT! AKU CROT!”

Kepala penis Edwin terasa membesar dan menekan dinding vagina, denyutnya bahkan terasa sampai di bibir vagina. Setelah menyemprotkan spermanya hingga habis, Edwin terkulai lemas. Eva dibuatnya kecewa. Terlalu cepat, tak lebih dari sepuluh menit.

"Sorry, aku crot duluan..." bisik Edwin, pria itu memeluk tubuh Eva dari samping dengan nafas kembang kempis.

"Hmmm, okey. Nggak apa-apa kok." kata Eva, menghibur dirinya sendiri.

Eva kemudian bangkit dari atas ranjang. Dengan langkah yang masih terhuyung akibat efek alkohol, wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Luberan sperma Edwin sempat membasahi pahanya saat berjalan. Di dalam kamar mandi, Eva langsung membersihkan sisa cairan lengket di vaginanya. Setelah bersih, Eva kembali keluar dan memutuskan untuk merokok. Edwin sudah mendengkur pelan, pelepasannya barusan membuat enrgi pria China itu lemas tak berdaya.

"I need another kontol…” Dengus Eva kesal sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

KLING!

Bunyi notifikasi pesan masuk dari ponselnya terdengar di dalam tas. Eva melangkah mendekati ranjang dan mengambilnya. Sebuah pesan dari Rio.

“Temenku lagi otw ke hotel Mbak. Udah ready belum?” Senyum langsung mengembang di bibir Eva.

 

 

 

 

 

 

 

 

PART 2

 

GEDUNG-gedung tinggi di pusat Kota Surabaya berkelebat dalam balutan lampu kuning redup. Dari balik kaca jendela kamar hotel, Eva memandangi lautan cahaya kota yang seolah tak pernah tidur. Pemandangan seperti ini harusnya bisa membuatnya tenang atau setidaknya bisa membuatnya terlelap dalam tidur.

Sayangnya malam ini tidak berjalan sesuai harapan. Birahinya yang tadi dibangunkan oleh Edwin ternyata tak tuntas akibat sesi persetubuhan singkat nyaris tanpa kepuasan. Rokok di sela jari Eva sudah hampir habis. Dihisapnya dalam-dalam, lalu asapnya dihembuskan perlahan, membentuk gumpalan tipis yang mengambang di udara kamar. Biasanya rokok selalu berhasil menenangkan pikirannya. Malam ini tidak.

Di balik punggungnya, Edwin tergeletak telentang di atas ranjang. Tubuhnya telanjang bulat, hanya ditutupi selimut yang melingkar di sekitar pinggangnya. Pria China itu tertidur pulas, napasnya teratur berirama. Wajahnya masih tampak tenang, sisa-sisa kelelahan setelah bercinta terukir halus di wajahnya.

Dadanya yang bidang naik-turun pelan, kulitnya tampak pucat di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Eva sempat menghela napas panjang. Ganteng, atletis, semuanya tampak sempurna. Sayang sekali performanya dalam hal urusan sex sama sekali tak memuaskan. Pikiran itu lewat cepat, lalu dibuangnya jauh-jauh. Tidak perlu memikirkan hal yang membuat suasana hati semakin buruk.

Eva menatap lagi ke luar jendela. Jalanan di bawah masih ramai oleh kendaraan yang melintas. Lampu-lampu kota memantul di kaca, menciptakan kilau samar yang menari-nari di depan matanya. Eva menarik napas lagi, berusaha membuang kekesalan yang mengganjal di dadanya. Lambat laun, ketenangan mulai kembali. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul satu dinihari. Sosok gigolo muda pesanannya masih belum juga datang, membawa rasa penasaran.

Eva kembali menyalakan rokok. Kepulan asapnya sekali lagi memenuhi paru-parunya. Eva bersandar malas pada bingkai jendela, membiarkan tubuhnya menikmati dinginnya kaca yang menyentuh kulit lengannya. Dalam heningnya suasana kamar, pikiran Eva kembali melayang pada sosok gigolo yang sebentar lagi akan datang.

Apakah dia akan sehebat Rio saat berhubungan seks? Atau malah kembali mengecewakannya seperti Edwin? Pikiran itu berubah jadi harapan, birahinya perlu dipuaskan malam ini juga. Asap rokok kembali mengepul keluar dari bibirnya yang tipis.

Terdengar suara ketukan halus dari arah pintu. Tiga kali, pelan tapi jelas. Eva menoleh cepat. Alisnya berkerut. Apakah ini gigolo yang akan melayaninya? Ragu-ragu, ia menjauh dari jendela, meletakkan batang rokoknya di asbak, lalu berjalan menghampiri pintu. Dilihatnya melalui lubang di atas pintu.

Di balik pintu berdiri seorang pemuda. Perawakannya tinggi dan tegap, bahunya bidang. Kulitnya sawo matang, khas orang Indonesia Timur. Rambutnya pendek, sedikit berantakan dengan gaya yang tampak alami. Wajahnya masih muda, kelihatannya berusia sekitar 21 tahun. Eva membuka rantai pengaman, lalu memutar knop. Perlahan pintu terbuka. Pemuda itu menatapnya dengan sopan, memperlihatkan sederet gigi putih dalam senyuman singkat.

"Kak Eva?" Sapanya kemudian, suaranya khas orang timur. Eva mengangguk hati-hati.

 "Iya, Kamu siapa?"

"Saya Marlon, saya disuruh Rio datang ke sini buat nemuin Kak Eva." Pemuda bernama Marlon itu menjawab dengan tenang, tanpa ragu.

Eva langsung paham. Ia mengangguk pelan, berusaha tidak tampak terlalu lega. Pandangannya meneliti pemuda di depannya sekali lagi. Sekilas Marlon memang menarik perhatian. Selain posturnya yang menjulang, sorot matanya terlihat tajam. Ada semacam ketenangan yang terpancar dari caranya berdiri, tidak canggung meski baru pertama kali bertemu.

"Asalmu dari mana? Dari cara bicaramu kutebak pasti bukan orang Surabaya kan?" tanya Eva, berusaha mencairkan suasana.

"Saya asal dari Flores. Lagi kerja di Surabaya, baru beberapa bulan," jawab Marlon dengan senyum mengembang di wajahnya.

“Ah benar dugaanku, agak meleset sedikit sih. Kupikir kamu dari Ambon.”

“Hehehehe, bukan Kak. Kalo Kak Eva sendiri asal mana?” Marlon balik bertanya.

"Aku asli Jakarta. Kebetulan lagi ada urusan bisnis di Surabaya. By the way sori ya kalo manggil kamu malem-malem kayak gini.”

“Ah, santai Kak. Saya udah biasa kok.”

"Oke deh, ayo masuk.”

Marlon melangkah masuk. Matanya sempat berkeliling menelusuri isi kamar hotel, masih dengan raut wajah yang tenang. Akan tetapi pandangannya tiba-tiba tertuju pada satu titik, lalu berhenti. Di atas ranjang, masih terbaring Edwin dalam keadaan telanjang bulat. Selimut sudah tak lagi menutupi tubuh pria China itu.

Marlon berhenti melangkah. Kedua matanya membelalak sesaat, alisnya naik, mulutnya setengah terbuka. Ia menoleh ke arah Eva dengan ekspresi yang campur aduk, antara kaget dan bingung. Eva yang melihat reaksi itu hanya tersenyum santai.

"Jangan kaget. Santai saja." Eva menepuk bahu pemuda itu pelan. Marlon berkedip beberapa kali, berusaha mencerna informasi itu. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

“Suaminya Kak…?” Tanya Marlon.

“Bukan, hanya temen bisnis aja.” Jawab Eva santai.

"Ooohhh…Kirain suaminya." Marlon tertawa kecil untuk menutupi kekagetan.

“Duduk dulu ya.” Eva menunjuk sofa panjang di depan ranjang.

Marlon mengangguk patuh. Namun ia masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah ranjang dengan ragu, seolah sedang menimbang apakah dirinya benar-benar perlu berada di ruangan ini. Rio sama sekali tak memberi informasi akan kehadiran pria lain sebelumnya. Meskipun sudah menggeluti dunia gigolo selama beberapa bulan terakhir, tapi kehadiran sosok lain saat dia akan melakukan pekerjaannya membuat Marlo sedikit canggung.

Di atas ranjang, tiba-tiba tubuh Edwin bergerak pelan. Pria China itu menggeliat sambil mengerjap-ngerjapkan mata, lalu menyandarkan dirinya pada bantal.  Tatapannya langsung jatuh pada sosok Marlo yang masih berdiri di dekat ranjang. Seketika Edwin bangun sepenuhnya. Kedua matanya membelalak begitu menyadari ada pria lain di dalam kamar. Refleks, Edwin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Loh, ini siapa?" tanya Edwin, suaranya masih serak karena kantuk. Eva melangkah tenang dengan senyum simpul di wajahnya yang cantik.

"Kenalin, dia Marlon temen lamaku. Kebetulan hari ini dia lagi ada di Surabaya jadi sekalian kusuruh mampir ke sini.” Ujar Eva beralasan.

Kedua pria itu saling menatap dengan kecanggungan yang nyata. Edwin masih memegang erat kain selimut yang menutupi tubuhnya. Marlon berdiri kaku dan tersenyum canggung. Beberapa detik hening terlewati sebelum kesadaran mendorong mereka untuk saling menyapa. Edwin lebih dulu mengulurkan tangan, masih dalam posisi setengah duduk.

"Eh... halo. Saya Edwin." Edwin tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. Marlon menerima uluran tangan itu, menjabatnya singkat dengan ragu.

"Halo juga Pak, saya Marlon.”

“Panggil Edwin aja, nggak usah Pak.”

“Siap.”

Marlon mengangguk, lelaki muda itu akhirnya melonggar juga. Ia bergeser menuju sofa lalu duduk dengan hati-hati. Edwin menghela napas pelan, merebahkan punggungnya kembali ke bantal dengan tatapan yang masih menyiratkan rasa penasaran. Ia menatap Eva dengan arti tertentu, bertanya-tanya ke mana arah malam ini akan melangkah. Eva berdiri di antara kedua pria itu, merasakan ketegangan tipis yang menggantung di udara.

“Kalo habis ini kita threesome nggak masalah kan?” Tanya Eva blak-blakan.

“Heh? Ngewe bertiga?” Pekik edwin dengan raut wajah antusias sekaligus tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Eva.

“Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Nggak apa-apa sih kalo nggak mau. Biar aku sama Marlon aja yang ngewe berdua.” Ujar Eva to the point.

“Eh, siapa bilang aku nggak mau? Wait, biar aku bersih-bersih badan sebentar!”

Tak mau melewatkan kesempatan emas, Edwin langsung melompat turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Melihat tingkah itu, Marlon dan eva hanya bisa tersenyum. Beberapa menit kemudian Edwin keluar dari kamar mandi, masih dalam keadaan telanjang. Pria itu mendekati Eva, menariknya ke dalam pelukan, lalu mencium bibirnya. Tanpa mempedulikan keberadaan Marlon, Edwin melepas kancing piyama Eva satu persatu hingga telanjang bulat.

Mereka kembali berpelukan dan berciuman. Tangan Edwin menjamah daging kenyal payudara wanita itu, meraba-raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leher hingga membuat kepala Eava mendongak kegelian. Kepala Edwin meluncur ke bawah, sasaran bibirnya kali ini adalah kedua puting Eva. Pria China itu menghisapnya perlahana sembari kedua tangannya meremasi daging payudara serta pantat Eva secara bersamaan.

“Ouuchhhh! Shit! Yess…” Tak tahan dengan cumbuan tersebut, kedua tangan Eva sampai harus meremasi rambut Edwin.

Marlon masih tetap duduk di sofa, mengamati dengan tenang percumbuan panas antara Edwin dan Eva. Selang beberapa saat pria asal Flores itu berdiri dan mulai melepas pakaian serta celananya, menyisakan celana dalam saja. Penisnya nampak sudah begitu tegang, tonjolan di balik celana dalam sungguh besar, seakan kain penutup itu tak mampu menampung ukuran penis Marlon.

 Badan marlon begitu atletis, lengannya kekar, otot perutnya berbentuk seperti roti sobek. Dengan perpaduan postur tinggi serta kulit eksotis makin menambah aura maskulinitas pria muda itu. Di tengah cumbuan, Eva sengaja menatap mata Marlon dengan binal. Tapi, hanya dengan melihat tubuh pria muda itu saja sudah membuat vaginanya terasa lembab.

“Aaachhhh! Aaachhh!” Eva sengaja mengencangkan suaranya, seperti ingin mengundang Marlon untuk segera bergabung.

Benar saja, saat Edwin sudah bersimpuh di bawah tubuh Eva sembari menjilati vagina wanita itu, Marlon beranjak mendekat. Marlon mengambil posisi di belakang tubuh Eva. Lengan kekarnya memeluk sang betina binal dari belakang. Jemarinya langsung lincah bekerka mencapit dan menarik gemas putting payudara.

“Ouuchhhhh! Fuck….” Desis Eva menikmati serangan  dari dua tempat sekaligus.

Sambil terus memilin kedua puting payudara dengan jarinya, bibir tebal Marlon menciui tengkuk serta leher jenjang Eva. Tubuh wanita itu seolah jadi hidangan pembuka yang manis gagi letupan gairah kedua pria yang baru saja dikenalnya itu. Kedua pahanya terbuka lebar, memberi akses pada lidah Edwin yang masih mahsyuk menjilati celah senggama, sementara kepalanya berkali-kali terlempar ke belakang akibat rasa geli dari cumbuan bibir serta jemari Marlon.

“Bro, kita pindah ke tempat tidur aja.” Ujar Edwin sembari mendongakkan kepala menatap Marlon dan Eva secara bersamaan. Bibirnya nampak basah kuyup campuran air liur dan lendir vagina.

“Siap!” Sahut Marlon antusias.

Mereka kemudian merebahkan tubuh Eva di atas ranjang. Edwin terlihat tak sabaran, dengan sedikit tergesa pria itu kembali membuka kedua paha Eva lebar-lebar sebelum kemudian kembali menjilati vagina wanita itu. Jilatan kasar nan dalam tersebut sontak membuat tubuh Eva menggelinjang. Namun serangan kedua kembali datang, kali ini giliran bibir marlon yang mengulum kedua putingnya secara bergantian. Tangan pemuda Timur itu juga tak mau melewatkan sesi meremas gundukan kenyal payudara sang betina.

“Aaacchh! Anjing kalian! Aaachhh!” Umpat Eva penuh nafsu. Tubuhnya kembali dikerubungi oleh dua sosok pria sekaligus.

Tak mau hanya sebagai objek saja, tangan kanan Eva meraih batang penis Marlon. Wanita cantik itu bisa merasakan bagaimana alat kawin Marlon berukuran jauh lebih besar dibanding milik Edwin, bahkan juga lebih panjang jika dibandingkan dengan penis Rio. Jemari lentiknya menggenggamnya, mengocoknya perlahan.

“Aaachhhh…Sakiitt Marlon!” lenguh Eva kala Marlon dengan sengaja menggigit dan menyedot putingnya keras-keras.

Di bawah, jilatan lidah Edwin kini sudah berpadu dengan kocokan dua jari sekaligus. Lidah pria China itu meliuk-liuk di sekitar klitoris sementara dua jarinya melesak kasar menyodok bagian dalam vagina. Tubuh Eva beberapa kali melenting, punggung serta pinggulnya terangkat secara refleks akibat tak tahan menerima cumbuan dari dua pria sekaligus.

“Aaachhh! Fuck! Fuck!” Umpatnya.

“Nungging dong, kontolku udah nggak tahan nih!” Perintah Edwin sembari menepuk paha Eva.

Tak perlu diperintah dua kali, Eva langsung mengubah posisi tubuhnya jadi menungging. Kedua lengannya bertumpu pada permukaan ranjang, pantatnya yang bahenol terangkat atinggi mengarah langsung pada ujung penis Edwin. Pria China itu sejenak membasahi ujung penisnya yang tak bersunat dengan air liur.

“Eeemmchhhh…Eeemmchhh..” Eva mendesah manja saat merasakan permukaan vaginanya digesek-gesek oleh ujung penis Edwin.

“Emutin lagi kak…” Kata Marlon seraya mengarahkan alat kawinnya yang besar dan hitam tepat ke mulut Eva.

“Gila…Kenapa bisa gede banget sih kontolmu?” Tanya Eva, Marlon hanya tersenyum.

Eva mulai mengulum penis Marlon, bibir serta mulutnya nampak kesulitan saat alat kawin pemuda Flores itu masuk. Tak seperti penis Edwin yang berukuran kecil, penis Marlon walaupun baru separuh saja sudah bisa menyesaki bagian dalam rongga mulut Eva. Marlon mendengus kasar saat merasakan Eva menghisap penisnya, kenikmatan menjalar pelan mulai dari selangkangan hingga ke sekujur tubuh.

“Eeemmchh!! Fuck!”

Eva melenguh, hisapannya pada penis Marlo terlepas tiba-tiba karena di belakang tubuhnya tersentak hebat akibat tusukan penis Edwin. Pria China itu kembali menyetubuhinya dalam posisi doggystyle. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi. Kini dua lubang dalam tubuh Eva tersumpal dua penis sekaligus. Mulutnya kewalahan mengoral penis Marlon, sementara vaginanya dirojok kasar alat kawin Edwin.

"Eegghhmm.. Eegghh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Eva, mulutnya terlalu sibuk menampung ketebalan penis Marlon.

Sama seperti sebelumnya, sodokan demi sodokan penis Edwin sama sekali tak membuat vagina Eva keenakan. Selain ukuran penisnya kecil, teknik genjotan Pria China itu sama sekali tak memuaskan. Gerakannya kasar dan sama sekali tak berirama. Edwin seolah hanya ingin menuntaskan hajat birahinya sendiri, menganggap lubang senggama Eva hanyalah alat seks.

“Aaachh! Aaachh!” Edwin meraung, pinggulnya terus menyodok sementara kedua tangannya sibuk meremasi bongkahan padat pantat Eva.

“Eeemmchhh…Gantian boleh?” Ujar marlo beberapa saat kemudian sambil menatap wajah Edwin yang sudah bercucuran keringat.

“Oke bro…Giliranmu!” Sahut Edwin seraya melepas keluar alat kawinnya dari lubang vagina.

Ada rasa kelegaan yang tak diutarakan oleh Eva kala marlon dan Edwin berpindah posisi. Masih dalam posisi menungging, wanita itu menanti merasakan lubang vaginanya yang sudah becek bukan main disesaki penis yang jauh lebih besar dan panjang. Marlon turun dari ranjang, mengambil kondom dari saku celananya ayang tergeletak di lantai sebelum kemudian memasang alat kontrasepsi tersebut pada batang penisnya.

“Loh? Pake kondom segala?” Tanya Eva saat melihat penis Marlon sudah terbungkus karet silikon tipis bergerigi.

“Safety first Kak…” Ujar Marlon sambil tersenyum.

“Ah, oke babe…” Sahut Eva pasrah.

Marlon menggunakan ujung jarinya untuk menggesek permukaan vagina Eva, meratakan lendir di sana sebagai pelumas alami. Permuda itu kemudian mengarahkan ujung penisnya menuju celah senggama, pinggulnya mendorong maju, ujung penisnya yang besar perlahan mulai menyeruak masuk. Dengan mudahnya ia melesakkan penisnya. Eva merasakan dinding vaginanya begitu sesak. Nyaris tak ada ruang kosong di dalam  sana.

“AACCHHH! ANJINGG! GEDE BANGET BANGSAT!” Teriak Eva begitu seluruh batang penis Marlon sudah bersemayam di dalam vaginanya.

“Sakit Kak…?” Tanya Marlon. Pinggulnya berhenti bergerak, pun begitu pula dengan penisnya. Pemuda itu seperti membiarkan Eva untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan ukuran alat kawinnya.

“Emmchhh..Nggak apa-apa, lanjutin. Jangan berhenti…” Perintah Eva dengan nafas kembang kempis. Kepalanya sudah menempel erat di permukaan ranjang, kedua tangannya tergeletak di samping. Hanya pantatnya saja yang masih menungging tinggi.

Mendapat instruksi langsung dari wanita yang membayarnya, Marlon langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan. Tubuh Eva menegang beberapa kali saat penis Marlon merojoki seluruh bagian dalam liang senggama. Sensasi sesak, mentok, sekaligus ngilu bercampur jadi satu.

“Aaacchh! Yes! Yes! Aacchh!” Eva terus mengerang.

Marlon memegangi pinggul sintal Eva dari belakang, pinggulnya sendiri menyodok dengan kekuatan penuh hingga membuat tubuh Eva beberapa kali tersentak sembari mengeluarkan lenguhan panjang. Harus diakui meskipun tak lagi muda dan sangat aktif melakukan hubungan seks, tapi jepitan vagina Eva masih sangat terasa. Marlon bisa merasakan jika batang penisnya seperti diremas oleh dinding-dinding vagina wanita cantik itu.

“Aaaacchh! Fuck Me! Please harder! Aaachhh” Eva terus meracau tak karuan.

Sementara itu di sisi ranjang, Edwin memilih untuk mengocok penisnya sendiri sembari menyaksikan tubuh Eva kelejotan dihantam penis jumbo Marlon. Melihat tubuh Eva melenting berkali-kali ditambah ekspresi kebinalan di wajah rekan bisnisnya itu membuat birahi Edwin meninggi.

“Ganti posisi boleh Kak?” Tawar Marlon, penisnya masih tertanam di dalam vagina. Eva menoleh lemah ke belakang sebelum kemudian mengangguk pasrah.

Eva sempat memekik keras kala Marlon melepas keluar batang penisnya sedikit kasar. Pria muda itu kemudian menjatuhkan tubuhnya hingga terlentang di atas ranjang. Dengan sisa-sisa tenaga dan birahi yang belum tuntas, Eva mendekati tubuh Marlon. Keduanya sempat bercumbu mesra, saling memagut bibir satu sama lain.

“Kamu mau aku di atas sekarang?” Goda Eva. Tangan kanannya sudah menggenggam penis Marlon dan mengocoknya perlahan, membuatnya makin keras maksimal.

“Boleh kak…” Sahut Marlon.

Tak menunggu lama, Eva langsung memposisikan tubuhnya di atas Marlon. Eva memilih untuk memutar tubuhnya hingga membelakangi wajah Marlon. Tangan kanannya kembali meraih alat kawin sang pejantan muda, mengarahkan ujungnya tepat di bawah celah senggama. Pekikan keras mengiringi penetrasi penis besar itu ke dalam vagina Eva.

“Aaachh! Anjing!!!” lenguh Eva begitu seluruh batang Marlon sudah masuk.

Perlahan, Eva mulai menggerakkan pinggulnya naik turun menggenjot penis Marlon. Dua tangannya melabuh ke belakang, bertumpu pada perut Marlon, sementara pinggulnya bergerak simultan maju mundur, naik turun, membenamkan seluruh batang penis besar dalam liang senggama. Sesekali Eva mendorong pantatnya ke belakang, menghujam penis Marlon dengan kekuatan penuh. Marlon bisa merasakan batang penisnya tertekan hingga ke pangkal.

“Nghhh! Ahhh! Gila, memek Kak Eva peret banget!” Marlon meraih pinggang Eva, menariknya agar lebih rapat.

Eva terus memompa, menggenjot dengan kecepatan yang tidak beraturan, kadang cepat, kadang lambat namun terus bergerak. Setiap kali tubuhnya turun, ia bisa merasakan penis Marlon berdenyut di dalam vagina, seolah-olah pria itu juga sedang berjuang menahan ejakulasi. Erangan dan desahan mereka kini menyatu, memenuhi ruangan.

Edwin yang sedari tadi hanya mlihat dari tepi ranjang kini ikut mendekati tubuh Eva. Payudara Eva yang membal naik turun jadi sasaran hisapan mulutnya. Edwin juga mengulum puting sang betina bergantian sembari tangannya sibuk mengocok batang penisnya sendiri.

“Aaacchh! Aaacchh!!” Eva mengarang, tubuhnya terus menghentak naik turun makin cepat, makin brutal.

Kedua tangan Marlon memegangi pinggul Eva kuat-kuat dari bawah, menahannya agar berhenti bergerak. Sebagai gantinya, giliran pinggulnya yang menyentak naik turun. Penisnya yang besar bergerak dengan cepat menyodok, tubuh ramping Eva terlonjak-lonjak menerima tiap hantaman alat kelamin itu. Lesakannya sangat masif, bahkan Eva bisa merasakan sensasi mentok saat ujung penis Marlon serasa menyentuh dasar rahimnya.

“AACCHH! FUCK! FUCK ME! Eemmmchhh!”

Teriakan Eva terhenti kala mulutnya disumpal paksa oleh penis Edwin yang sudah berdiri di samping tubuhnya. Mulutnya kembali disibukkan dengan oral sex. Kedua tangan Edwin memegangi kepala Eva sementara pinggulnya bergerak maju mundur seolah sedang memperkosa mulut wanita cantik itu. Sesekali, Edwin menekan kuta-kuat pinggulnya, membuat penisnya masuk lebih dalam hingga Eva sulit mengambil nafas.

“HAAAHHH! HAAHHH! HAAHH!”

Air liur menetes di sela-sela bibir Eva saat penis Edwin sudah keluar dari dalam mulut. Pria China itu kembali mengocok batang penisnya itu dengan tangan kanan, mengarahkan lubang kencingnya tepat ke wajah Eva. Nafasnya kembang kempis, otot-otot pahanya terlihat menegang. Lalu detik berikutnya ledakan ejakulasi kembali terjadi diiringi lenguhan panjang dari mulutnya.

“Aacchhh! Aaachh! Aku mau crot…”

Edwin mencengkram alat kawinnya erat-erat sembari memastikan semprotan spermanya menyasar tepat ke wajah Eva yang sudah pasrah. Cairan kental berwarna putih itu meluncur deras menghantam permukaan pipi Eva. Semprotan berikutnya menghujani bibir serta hidung wanita cantik itu tanpa ampun. Tak seperti sebelumnya, kali ini sperma Edwin yang keluar cukup sedikit. Begitu menyelesaikan hajat birahinya, Edwin turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Eva dan Marlon yang masih belum menyelesaikan persetubuhan.

“Aaachhh…Masih lama ya?” Tanya Eva sembari berusaha menoleh ke belakang. Vaginanya terus dihantam penis Marlon dari bawah.

“Kenapa Kak? Capek ya?” Marlon balik bertanya.

“Iya nih, pahaku linu banget.” Keluh Eva.

“Oh, oke..oke. Kak Eva rebahan aja kalo gitu.”

Marlon sedkit mengangkat tubuh Eva, kemudian menarik keluar penisnya dari dalam vagina. Eva langsung berguling ke samping, menjatuhkan tubuhnya hingga terlentang. Dengan penuh kesadaran Eva membuka lebar-lebar kedua paha, merenggangkan kaki jenjangnya, supaya Marlon lebih leluasa melesakkan penisnya kembali. Pria muda itu tersenyum dan mematuhi undangan Eva. Marlon segera memposisikan tubuhnya tepat di hadapan celah vagina. Tubuhnya maju perlahan, penisnya masuk tanpa halangan yang berarti.

“Aaachh!! Shit!” Eva kembali melenguh manja.

Dengan kelihaian seorang gigolo, Marlon kembali menggenjot vagina Eva. Keluar, masuk, keluar, masuk. Tarik, sodok, tarik, sodok, tarik, sodok. Masuk, keluar, masuk, keluar, masuk, keluar. Maju, mundur, maju, mundur, maju, mundur. Terus, terus, terus. Mulut Evala terbuka lebar, desahan, erangan, lenguhan mulai terdengar tanpa kendali. Ia bahkan sesekali berteriak  tapi kali ini dalam kenikmatan, bukan karena sakit yang merajam. Liang cintanya mulai lentur menyesuaikan dengan ukuran besar batang penis Marlon.

“Aaaaachh! Yes! Yes!”

Keringat sudah menetes membasahi wajah kedua orang tersebut. Pikiran terpusat pada kenikmatan semata. Eva kini sudah tak lagi dibatasi rasa nyeri, ia ikuti kata birahi. Dipacu semangat tinggi, dengan kenikmatan yang makin mendaki, Marlon juga tak lagi membatasi diri. Ia gunakan seluruh energi, untuk memuaskan sang betina. Marlon tau, dia begitu ahli untuk urusan seperti ini.

Eva mengerang, tubuh menegang, badan berputar ke kiri dan kanan, nafsu meraja, nikmat dirasa. Napas yang berpacu terdengar dari dengusan berulang saat tubuh Marlon bergerak tanpa henti, memaksakan penisnya untuk terus menyodok dan menguasai lubang peranakan Eva. Tangannya bergerak meremasi payudara wanita cantik itu dan batang penisnya terus mengoyak bagian dalam vagina. Eva melenguh dan meracau, tak bisa mengatasi sensasi lesakan penis besar itu.

“Ouuchhh! Anjing! Anjing! Kenapa enak banget sih kontolmu?!” Racau Eva di sela-sela sodokan penis Marlon yang seperti tak kenal lelah.

“Enak apa sakit Kak?” Pancing Marlon.

“Sumpah enak banget! Lebih enak dibanding punya Rio! Aaachh!” Jawab Eva berterus terang.

 Dinding vaginanya kini terdesak melebar, penis Marlon tak hanya memberi kenikmatan tapi juga sensasi sesak baru yang tak pernah dirasakan oleh Eva sebelumnya. Kedua insan itu terus bergoyang, berguncang, dan bergetar, tiap kali pinggul melaju untuk menyodok, menusuk, melesak, dan menyeruak. Makin lama kesadaran Eva makin lenyap ditelan birahi, ia makin mengikuti sodokan pinggul Marlon. Saat Marlon maju ia terima dengan penuh, sedangkan tiap kali Marlon mundur ia mengangkat pinggulnya sendiri.

"Teruuuus..." pinta Eva, berharap Marlon menumbuknya lagi dan lagi dan lagi.

"Entotin memekku! Aaachh! Anjing kamu Marlon! Aachh!”

Marlon menggenjot kian semangat, ia bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam. Batang penisnya benar-benar memekarkan vagina Eva yang hanya sanggup mengerang dan melenguh saat gairah dilampiaskan

"Marlon…Marlon! Lepasin kondommu ya, aku pengen ngrasain kontolmu tanpa karet.” Pinta Eva dengan tatapan memohon. Marlon menghentikan genjotannya.

“Kak Eva yakin?” Tanya Marlon dengan kerut berkening. Bukan hal lumrah baginya melayani wanita seperti Eva tanpa alat kontrasepsi.

“Yakin, ayo buruan lepasin. Nanti aku tambahin bayaranmu.” Ujar Eva tak sabaran.

“Nggak usah Kak, aku seneng bisa muasin Kak Eva.” Ujar Marlon seraya melepas karet kondom dari batang penisnya.

Masih dalam posisi yang sama, Marlon kembali memasukkan alat kawinnya ke dalam liang senggama. Sensasi skin to skin serasa jadi candu baru, Marlon bisa merasakan bagaimana legitnya bagian dalam vagina Eva yang mencengkram erat batang penisnya. Eva juga merasakan hal yang sama, rasa nyaman dan nikmat di selangkangan yang diwujudkan oleh persatuan dua alat kelamin yang saling melengkapi dan mengisi, berpadu padan menjadi satu kesatuan. Menangkup dan melesak, memijat dan menusuk, meremas dan mendorong.

Pemuda asal Flores itu menggoyangkan pantatnya maju mundur dengan kekuatan penuh, ibarat ia menggunakan penisnya untuk menggergaji liang vagina Eva yang tak henti-hentinya mendesah mengendarai birahi yang tak terperi. Wanita cantik itu hanya sanggup melenguh berulang tanpa bisa ditahan. Edwin keluar dari kamar mandi dan memilih untuk duduk di sofa sembari menyaksikan persetubuhan dua orang tersebut.

“Aaacchhhh! Kak, aku boleh keluar di dalem?” Ujar Marlon meminta ijin.


Posting Komentar

0 Komentar