PAKDHE WONGSO
Ima harus menerima keputusan suaminya, Andi, untuk menampung sementara Wongso setelah pria tua itu baru keluar dari dalam penjara. Menghabiskan waktu nyaris 10 tahun di dalam penjara membuat Wongso kalap saat untuk pertama kalinya melihat sosok Ima yang begitu cantik menggoda. Hingga pada akhirnya pria tua itu tak kuasa untuk menahan birahinya. Keputusan Andi harus dibayar mahal, karena lambat laun Ima mulai bisa menerima keliaran dari sang mantan napi.
Wongso memberikan sesuatu yang tidak bisa Andi berikan untuk Ima, kepuasan birahi tanpa batas. Lalu bagaimana kisah ini akan berakhir? Apakah Andi akan bisa kembali mendapatkan hati istrinya? Atau justru Wongsolah yang semakin bertahta dalam hati Ima?
GENRE : DRAMA EROTIC
FORMAT : FILE PDF
JUMLAH HALAMAN : 292 HALAMAN
HARGA : Rp 35.000
ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY
BAB 1
BUGH!!
BUGH!!! BUUGHH!!
"Arrghhttt!!!"
Ruangan jeruji
besi berukuran tak lebih dari 4x5 meter mendadak riuh, di pojok ruangan yang
berhimpitan dengan wc serta kamar mandi kumuh nampak seorang pria paruh baya
berusia 50 tahun meringkuk tak berdaya setelah dikeroyok oleh 8 penghuni sel
lain. Meskipun postur tubuhnya cukup besar tapi menghadapi 8 pria lain dengan
postur yang nyaris sama tentu bukan hal mudah untuk diatasi. Wajahnya sudah
babak belur, darah pun mengalir dari dari bibir, pelipis, juga hidungnya
setelah menerima bogem mentah dari para penghuni sel bertampang sangar dan bengis. Di luar ruangan terdengar
teriakan-teriakan dari penghuni sel lain yang mengetahui keributan di sel nomor
69 itu, sebuah hiburan kecil bagi napi lain di tengah malam buta, beberapa
diantaranya bahkan sambil memukul-mukul teralis besi hingga menambah
kebisingan. Chaos.
Tak lama suara
sirine berbunyi nyaring memekakkan telinga, beberapa sipir berpakaian semi
militer lengkap dengan pentungan besi berlari menuju sel nomor 69 tersebut,
dipimpin langsung oleh kepala sipir, Djarot Suyanto, yang terkenal brutal dalam
menangani keributan antar napi. Keriuhan yang sebelumnya terlihat seketika
berubah menjadi keheningan saat para napi menyadari kehadiran sang kepala
sipir, tak ada satupun dari mereka berani untuk menguji kesabaran Djarot dengan
sekedar mengeluarkan teriakan. Wajah Djarot merah padam ketika sudah sampai di
depan sel nomor 69 tersebut, tanpa diperintah salah satu sipir langsung membuka
kunci sel, sementara sipir lain mengarahkan senter ke dalam ruangan. Delapan
napi yang baru saja melakukan pengeroyokan sudah duduk jongkok, berjejer rapi
dengan kedua tangan memegangi kepala mereka masing-masing. Sebuah posisi badan
yang melambangkan penyerahan diri, seolah mereka menyadari dengan kesalahan
yang telah diperbuat dan siap menerima hukuman dari para sipir.
Djarot
melangkah masuk diamatinya satu persatu wajah 8 napi yang baru saja melakukan
pengeroyokan, pria dengan kumis lebat itu nampak mengrenyitkan dahi ketika pria
tua yang baru saja dikeroyok perlahan bangkit berdiri. Kejutan kecil karena
baru kali ini ada seorang ketua kamar justru menjadi sasak hidup bagi penghuni
sel lain. Ya, pria tua itu adalah Wongso, napi senior yang dikenal sebagai
kepala sel nomor 69, tak hanya itu, Wongso juga disegani oleh napi lain karena
menjadi "ketua suku" napi dari wilayah barat Indonesia meliputi pulau
Jawa dan sekitarnya. Melihat seorang kepala sel dan ketua suku dihajar oleh
anak buahnya sendiri tentu menjadi kejutan tersendiri bagi Djarot.
"Bawa dia
ke sel isolasi!" Perintah Djarot pada salah satu sipir sambil menunjuk
tubuh Wongso. Sigap, dua orang sipir langsung menyeret tubuh pria tua itu
keluar dari kamar sel. Senyum tersungging Djaror terlihat saat tubuh Wongso
diseret tak berdaya melewatinya.
"Gua kira
kalian nggak berani ngasih pelajaran ke tua bangka itu, ternyata Gua salah.
Bagus, hari ini kalian makan enak." Ujar Djarot pada kedelapan napi lain.
"Terima
kasih bos!" Jawab mereka berdelapan nyaris bersamaan.
Wongso
sebenarnya kurang 3 bulan lagi akan bebas setelah menjalani hukuman 10 tahun
atas kasus perampokan bersenjata. Citranya sebagai penjahat kelas kakap sudah
banyak diketahui oleh orang, khususnya bagi sebagian besar penjahat lain. Hal
itulah yang membuat Wongso cukup disegani oleh penghuni sel lain hingga
menjadikannya sebagai salah satu ketua suku di lapas.
Koneksi kuat
dengan para sipir dibangun oleh Wongso selama menjalani hukuman, membuatnya
tetap bisa mengontrol kegiatan anak buahnya yang masih berada di luar penjara.
Djarot tentu tak menutup mata akan hal itu, sebagai kepala sipir dia paham
betul penjahat besar seperti Wongso tentu butuh pemasukan agar tetap bisa
bertahan hidup di dalam penjara. Situasi yang memberi kesempatan bagi kepala
sipir itu untuk ikut merasakan nikmatnya uang haram dari kejahatan Wongso yang
masih berjalan di luar sana.
Anak buah
Wongso masih bisa melakukan banyak perampokan, sebagian besar uang hasil
rampokan itu masuk ke kWongsog Wongso yang berperan sebagai inisiator serta
pengatur perampokan. Djarot pun ikut mendapat bagian, sebagai imbalannya Djarot
memberikan keistimewaan pada Wongso selama di dalam penjara, beberapa fasilitas
yang tak bisa dinikmati oleh napi lain seperti penggunaan ponsel, kunjungan
PSK, menu makanan berbeda bisa dinikmati oleh Wongso selama suplai uang haram
ikut mengalir ke kWongsog sang kepala sipir.
Hingga sebuah
kesialan itu datang 1 minggu yang lalu, sebuah perampokan toko emas yang
dilakukan oleh anak buah Wongso gagal. Bahkan dua anak buahnya tewas tertembak
Polisi, situasi makin pelik karena Wongso telah menjanjikan sebagian hasil
rampokan pada Djarot yangh selama 6 bulan terakhir tak mendapat jatah uang
haram.
Kepala sipir
itu berang bukan main karena dirinya sudah mengajukan kredit rumah baru di
pusat kota untuk istri mudanya. Kegagalan perampokan sindikat Wongso artinya
bencana keuangan bagi kepala sipir itu, akibatnya Djarot langsung menarik
fasilitas yang selama ini bisa dinikmati oleh Wongso selama dalam tahanan. Tak
hanya itu, Djarot juga membuat musuh-musuh Wongso di lapas bebas melakukan
apapun pada pria tua itu. Dengan kata lain, Wongso sudah kehilangan kekuasaan
saat ini di dalam penjara. Hukuman yang diberikan Djarot tak berhenti di situ
saja, Wongso harus rela menghabiskan sisa masa tahanannya di dalam sel isolasi
atau biasa disebut dengan sel tikus. Sebuah ruang tahanan khusus dengan luas
tak lebih dari 2x2 meter yang ditempati oleh napi pembuat onar.
***
3 BULAN KEMUDIAN
"Apa?
Kamu sudah gila Mas? Nggak! Aku nggak setuju dengan rencanamu ini! Apa nanti
kata tetangga kalo tau kita menampung mantan napi kasus perampokan?!"
Wajah Imania nampak merah padam, perempuan cantik berusia 25 tahun itu sudah
tak bisa lagi memaklumi rencana Andi, suaminya, yang berencana untuk menampung
Wongso, Kakak dari mendiang Ibunya.
"Aku
sudah janji ke Pakdhe Wongso Dek. Tolonglah untuk kali ini saja, Pakdhe Wongso
juga nggak akan lama tinggal di sini. Setelah dia dapat pekerjaan pasti akan
segera pindah. Tolonglah Dek." Andi sampai harus memelas agar Imania mau
menuruti kemauannya.
Andi merasa
harus membalas budi pada Pamannya, Wongso, karena setelah Ibunya meninggal saat
usianya baru menginjak 10 tahun, Wongsolah yang mengasuh dan membesarkan Andi.
Tempat tinggal, pendidikan, dan semua kebutuhan Andi dipenuhi oleh Wongso kala
itu. Meskipun profesi Wongso adalah sebagai bos komplotan perampok tapi pria
itu sama sekali tak menurunkan keahliannya kepada satu-satunya keponakannya
itu. Wongso memilih untuk mendidik Andi menjadi pria baik-baik alih-alih
menirunya. Maka sejak menempuh pendidikan SMP, Andi langsung dikirim Wongso ke
sebuah pondok pesantren di daerah Jawa Timur.
Andi sendiri
baru tau profesi sebenarnya dari Wongso 10 tahun yang lalu ketika sebuah
perampokan bank swasta menggemparkan Indonesia. Andi yang masih berusia belasan
tahun terkesiap kaget ketika tampang Pamannya ada di layar kaca dengan
terborgol dan divonis sebagai dalang utama perampokan besar itu. Sempat marah
tapi Andi memaksa dirinya untuk memaafkan Wongso, karena dia menyadari jika
hanya Wongsolah satu-satunya keluarga yang masih tersisa.
Berada di
balik jeruji tak membuat Wongso melepaskan tanggung jawab pada Andi yang telah
diasuhnya sejak kecil. Lewat anak buahnya, Wongso rutin mengirim uang bulanan
pada keponakannya itu. Pendidikan dan hidup Andi masih bisa dijamin oleh
dedengkot perampok itu hingga Andi bisa menyelesaikan pendidikan di bangku
kuliah.
"Aku
nggak ngerti sama Kamu Mas! Terserah Kamu ajalah, Aku nggak mau lagi ikut
campur urusanmu!" Imania melangkah pergi menuju kamar meninggalkan Andi
yang masih terduduk di ruang tamu. Pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri
sesaat setelah terdengar Imania menutup pintu kamar dengan keras.
Ima merebahkan diri di tempat tidur.
Sayangnya, Andi punya pikiran lain dan mulai bergerak mendekati istrinya yang
tidur membelakanginya. Andi memeluk Ima dari belakang, menepikan rambut dan
menciumi lehernya yang putih.
"Jangan
sekarang ah, Mas Andi, Aku capek banget."
kata Ima, dia masih merasa jengkel atas keputusan Andi.
Andi tidak
menjawab. Suami Ima itu terus menciumi lehernya dan meletakkan tangannya di
payudara kiri Ima. Andi meremas susu Ima perlahan dan menjilati daun
telinganya, sementara tubuhnya kian mendekat dan akhirnya Andi menempelkan alat
vitalnya di belahan pantat Ima yang montok.
"Mas..."
Ima menggeliat
dan mencoba mendorong suaminya menjauh. Tidak enak juga rasanya menolak
melayani suami seperti ini, karena biar bagaimanapun Ima sangat mencintai Andi
dan ingin melayaninya sampai puas. Sayangnya, Andi sering memilih waktu yang
tidak tepat saat meminta jatah.
"Ayolah
sayang, Aku pengen." kata Andi sambil mencopoti kancing baju piyama yag
dikenakan Ima.
"Aku
capek, Mas," jawab Ima. Tapi karena Andi terus merangsang payudaranya, Ima
akhirnya mengalah. Akan lebih baik kalau dia menyerah dan pasrah pada kemauan
sang suami. Lagipula kadang pertengkaran mereka akan reda setelah berhubungan
badan.
Ima berhenti
menolak dan mulai rileks saat Andi selesai melepaskan semua kancing baju piyama
yang dikenakannya. Telanjang dari perut ke atas, Andi segera menyerang kedua
payudara Ima yang ranum dan indah. Andi memijat buah dada Ima dengan kedua
belah telapak tangannya.
Suami Ima itu
lalu mengelus-elus susu Ima dan menciumi sisi-sisinya. Andi hanya sekilas
mencium puting susu Ima tidak cukup lama untuk membuatnya mengeras, lalu
bangkit dan berlutut. Ia meraih bagian atas celana piyama yang dipakai Ima dan
mencoba menariknya. Ima dengan desahan panjang mengangkat pantatnya ke atas
supaya celananya mudah ditarik. Andi melucuti celana panjang piyama Ima dan
melakukan hal serupa dengan celana dalam istrinya. Kini Ima sudah telanjang
bulat di depan suaminya.
"Seksi
banget, sayang." Kata Andi memuji keindahan tubuh istrinya. Ima tersenyum,
paling tidak dia masih mendapatkan pujian dari suaminya.
"Gombal
banget kamu Mas." Kata Ima mesra.
Andi ambruk di
atas tubuh Ima dan istrinya itu otomatis merenggangkan kakinya yang jenjang.
Ima mengaitkan kakinya diantara pinggang Andi dan menjepitnya lembut. Beberapa
saat kemudian, Ima merasakan ujung kemaluan Andi mulai menyentuh ujung vagina
Ima. Wanita cantik itu menarik nafas panjang. Andi mungkin bukan orang paling
romantis di dunia, tapi penisnya lumayan besar, dan itu biasanya mampu
mengagetkan dan memuaskan Ima.
Ima menahan
nafas sementara Andi melesakkan penisnya ke dalam vagina istrinya dengan sangat
perlahan. Setelah seluruh batang kemaluan Andi masuk ke dalam mulut rahimnya,
Ima melepas nafas. Andi mulai menyetubuhi Ima dengan gerakan pelan dan lembut.
Gerakan Andi yang ajeg dibarengi dengan erangan dan lenguhan kenikmatan. Ima
merintih pelan dan manja, untuk memberikan kesan dia menikmati permainan cinta
yang diberikan suaminya. Padahal dalam hati Ima sama sekali tidak puas.
Sebenarnya
permainan Andi tidaklah terlampau buruk, tidak pula singkat, kadang Ima juga
terpuaskan perlahan-lahan, tapi permainan Andi tidak mampu melejitkan Ima ke
puncak kepuasan yang optimal. Ima mencoba mengimbangi gerakan memilin suaminya
dengan gerakan pinggulnya, mencoba menyamakan ritme dengan gerakan mendorong
yang dilakukan Andi, tapi lagi-lagi Ima harus berpura-pura karena tak berapa
lama kemudian Andi sudah orgasme. Ima tersenyum dan mencium suaminya lembut.
Andi menyentakkan penisnya dalam vagina Ima untuk kali terakhir sementara air
maninya membanjiri liang kemaluan sang istri.
Setelah
semuanya usai, Andi bergulir dari atas tubuh Ima dan memejamkan matanya penuh
kepuasan. Ima bangkit dari ranjang, membersihkan diri sebentar dan kembali ke
tempat tidur sambil memeluk suaminya yang sudah tertidur lelap penuh rasa
cinta.
***
Wongso
berjalan menyusuri selasar panjang yang kanan kirinya berjejer puluhan ruang
berjeruji besi gelap. Ikut mengawal dua orang sipir berwajah sangar, tatapan
tajam beberapa napi yang masih berada di balik jeruji besi juga ikut mengikuti
langkah Wongso, tapi mantan bos perampok besar itu tampak tenang nyaris sama
sekali tak terintimidasi. Hari ini adalah hari kebebasannya, hari pertamanya
bisa merasakan sinar matahari setelah nyaris 3 bulan dikurung di sel isolasi.
Tak berselang
lama, Wongso dan dua sipir penjara yang mengawalnya sampai di depan pintu
sebuah ruangan. Salah satu sipir mengetuknya kemudian pintu itu terbuka dari
dalam, wajah Djarot muncul dengan senyum sinis. Wongso masih terlihat tenang
seolah sama sekali tak merasa takut di hadapan kepala sipir yang terkenal
bengis tersebut.
"Masuk."
Perintah Djarot singkat sebelum kembali beranjak masuk menuju meja kerjanya.
Wongso dan dua sipir pengawalnya mengekor di belakang.
Di atas meja
kerja Djarot sudah ada beberapa barang pribadi milik Wongso yang disita ketika
pertama kali masuk lapas. Ada sebuah tas kecil, jam tangan, dompet yang berisi
kartu identitas, sebuah ponsel dan segepok uang puluhan ribu rupiah.
"Lu masih
punya utang dan Gue akan terus menagihnya." Ujar Djarot sambil menatap
wajah Wongso yang masih tampak tenang.
"Hutang?
Hutang apalagi ya Pak? Bukankah Saya sudah membayarnya dengan menempati sel
isolasi?" Tanya Wongso, mata Djarot langsung melotot. Dengan penuh emosi
kepala sipir penjara itu langsung merangsek maju, mencengkram kerah baju
Wongso.
"Lu
jangan main-main bangsat! Gue harus bayar cicilan kredit rumah gara-gara
Lu!" Teriak Djarot tepat di depan wajah Wongso.
"Saya
tidak main-main Pak, Saya datang kesini untuk menandatangani berkas pembebasan,
nggak ada urusan dengan hutang piutang."
"Brengsek!
Gue nggak mau tau! Lu harus tetep bayar kegagalan perampokan kemarin! Atau Lu
lebih milih nyusul Hamdan dan Joni yang mati ditembak Polisi? Hmm? Gue pegang
semua kartu AS Lu bangsat!" Ancam Djarot masih dengan tatapan tajam.
"Santai
Bos, Saya cuma ingin hidup tenang setelah keluar dari sini. Saya juga tak
berniat punya musuh di luar sana, jadi kalo Bos menganggap Saya masih punya
hutang maka Saya akan melunasinya." Ucap Wongso tenang seraya mencoba
menyalami Djarot. Kepala sipir itu masih berwajah tegang, raut kegeramannya
belum benar-benar sirna.
"Gue
pegang ucapan Lu! Tapi awas, kalo sampai Lu bohong! Gue nggak akan segan
ngabisin Lu!" Ancam Djarot sekali lagi.
"Tenang
Bos, Wongso selalu menepati janji." Jawab Wongso sambil tersenyum, sekali
lagi tak ada raut ketakutan pada wajah pria paruh baya itu.
Setelah
menandatangani beberapa berkas pembebasan Wongso langsung bergegas mengemasi
barang-barangnya kemudian pergi dari ruang kerja Djarot sebelum kepala sipir
itu kembali bertindak brutal pada dirinya. Senyum mengembang di wajah mantan
napi kasus perampokan itu, hari kebebasannya telah datang, waktunya untuk
menyambut hari baru. Langkah kakinya ringan menyusuri jalan marmer diantara
bangunan kantor lapas dan ruang tahanan, berjarak sekitar 20 meter di depan
terdapat pintu gerbang tinggi dengan pos jaga di kanan kirinya. Di dalam pos
jaga bersiaga masing-masing satu orang sipir dengan bersenjata laras panjang.
Wongso berjalan mendekat, diliriknya pos jaga sambil menganggukkan kepala.
Tanpa ekspresi penjaga pos membukakan pintu gerbang itu untuk Wongso.
Wongso
menghela nafas panjang, seperti ada kelegaan setelah tubuhnya berada di luar
bangunan lapas, sengat mentari siang itu sama sekali tak mengganggunya, bahkan
momen inilah yang dia tunggu-tunggu sejak 3 bulan lalu. Di hadapan pria paruh
baya itu berjejer belasan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat
milik petugas lapas dan mungkin juga sebagian adalah milik dari para pengunjung
yang terparkir rapi. Diamatinya keadaan sekitar seperti sedang mencari
keberadaan seseorang, tak lama ponselnya berdering, di layar ponsel tertera
nama Andi, buru-buru Wongso mengangkat panggilan itu.
"Halo!
Dimana Ndi? Pakdhe udah di depan gerbang ini."
"Maaf
Pakdhe, sepertinya hari ini Saya nggak bisa jemput. Andi dapat tugas mendadak
keluar kota dari kantor." Suara Andi, keponakan satu-satunya terdengar
sedikit panik.
"Oalah,
ya udah nggak apa-apa Ndi, santai aja. Pakdhe bisa pergi sendiri kok."
Jawab Wongso, meskipun dalam hatinya lumayan kecewa karena Andi tak bisa
menepati janji untuk menjemputnya.
"Pakdhe
jadi kan sementara waktu tinggal di rumah Saya?"
"Ya jadi,
tapi kalo Kamu nggak ada di rumah kayak gini masak Pakdhe harus ke rumahmu
sekarang? Bisa disangka maling nanti, hehehehehe."
"Di
rumah ada Ima Pakdhe, Saya udah bilang tadi sebelum berangkat kerja. Jadi
Pakdhe langsung ke sana aja sekarang."
"Wah
gimana ya Ndi, Pakdhe ngrasa nggak enak kalo nggak ada Kamu. Nggak enak sama
istrimu juga nanti."
"Udah
Pakdhe tenang aja, Ima udah setuju kok buat nampung Pakdhe sementara waktu.
Lagipula kalo hari ini Pakdhe nggak nginap di rumah Saya, mau nginap dimana
lagi?"
Wongso terdiam
untuk sesaat, apa yang dikatakan oleh Andi ada benarnya juga. Di kota ini sama
sekali tak ada tempat yang bisa dia tuju setelah dua anak buah kepercayaannya
telah tewas dihajar timah panas. Meskipun ada beberapa kenalan lain tapi
dirinya tak yakin mereka mau menerima kedatangannya secara tiba-tiba apalagi
mau memberikannya tempat untuk beristirahat sementara waktu. Satu-satunya
harapan adalah Andi.
"Hmmm, ya
udah kalo gitu Ndi. Pakdhe ke rumahmu sekarang ya?" Ucap Wongso beberapa
saat kemudian.
"Iya
Pakdhe, habis ini Saya telepon Ima buat nyiapin makanan buat Pakdhe."
"Terima
kasih banyak ya Ndi."
"Iya
Pakdhe sama-sama, Andi lanjut kerja lagi ya Pakdhe."
"Oke Ndi,
hari-hati."
***
Seorang
pengemudi ojek online menghentikan sepeda motor yang dikendarainya tepat di
depan rumah bercat cream muda dengan arsitektur minimalis, rumah berlantai dua
itu terlihat cukup asri dari luar karena ditumbuhi dua buah pohon mangga tak
jauh dari pintu pagar besi berukuran sedada orang dewasa. Wongso turun dari
boncengan motor kemudian langsung membayar ongkos pada sang pengemudi ojek
online. Sang pengemudi ojol beranjak pergi setelah sebelumnya mengucapkan
terima kasih pada mantan napi itu.
"Bagus
juga rumah Andi." Gumam Wongso sebelum melangkah mendekati pintu pagar.
Rumah milik
Andi berada di sebuah komplek perumahan, di kanan kirinya berjejer rumah lain
dengan tipe dan bentuk nyaris serupa. Suasana di sekitar juga cukup sepi
meskipun sudah nyaris sore hari, di depan gerbang perumahan tadi hanya ada satu
pos keamanan dengan portal besi yang dijaga hanya oleh satu orang petugas
keamanan. Sebagai mantan perampok, Wongso tau betul jika lokasi seperti ini
adalah sasaran empuk untuk menjalankan aksi. Tapi pikiran-pikiran buruk itu
segera dia tepis, tujuannya datang ke sini adalah untuk membuka lembaran hidup
baru.
"Permisi!
Permisi!" Kata Wongso sedikit berteriak setelah berdiri tepat di depan
pintu pagar. Tak lama pintu rumah terbuka, Imania muncul dari balik pintu.
Wongso
tercekat karena istri Andi itu hanya
mengenakan daster tipis yang menerawang, khas baju ibu-ibu rumah tangga. Tapi
entah kenapa, saat Ima yang mengenakan baju itu, terlihat sangat menggairahkan.
Ima terlihat sangat cantik dan segar.
"Pakdhe
Wongso? Udah lama Pakdhe? Maaf tadi Saya masih beresin cucian." Ujar Ima
sambil membuka gembok pintu pagar.
"Barusan
kok Nduk." Jawab Wongso, kedua matanya masih belum luput mengagumi
kemolekan tubuh istri keponakannya itu. Walau tertutup, tapi Wongso bisa
melihat jelas lekuk pantat sempurna milik Ima yang menerawang di balik daster.
"Ayo
masuk Pakdhe." Ima dengan ramah mempersilahkan Paman suaminya itu untuk
memasuki rumahnya. Wongso bergegas masuk, mengekor di belakang langkah kaki
Ima.
"Mas Andi
hari ini tiba-tiba ada jadwal ke luar kota jadi nggak bisa jemput Pakdhe."
"Iya,
tadi Andi juga sudah telpon. Nggak apa-apa, namanya juga karyawan harus siap
terima tugas kapanpun." Kata Wongso sambil mencari sofa untuk duduk.
"Oh
begitu. " Jawab Ima sambil membungkuk untuk menyuguhkan secangkir teh
hangat yang telah dia persiapkan untuk Wongso. Karena daster yang dipakai Ima
sangat longgar, gerakan ini membuat Wongso bisa mengintip celah buah dada putih
ranum yang menggiurkan di balik BH Ima.
Melihat keseksian
Ima, kemaluan Wongso langsung mengeras. Mantan napi itu segera menyembunyikan
tonjolan di selangkangannya. Setelah menata meja, Ima duduk di depan Wongso dan
menyilangkan kakinya, seakan memamerkan kakinya yang putih mulus dan jenjang. Bulu-bulu halus di bagian kaki terlihat jelas
oleh mata Wongso, menambah kesan sensual pada Ima. Wongso harus konsentrasi
penuh untuk mendengarkan pertanyaan Ima.
"Jadi
bagaimana perjalanannya? Pakdhe nggak nyasar kan tadi?" Tanya Ima.
"Ya ndak,
jaman sekarang mau kemana aja gampang Nduk. Tinggal mencet udah nyampek,
nggak pake nanya orang, paling kalo bingung tinggal nanya mbah google
aja. Beres." Ima terkekeh ringan saat mendengar jawaban dari Paman
suaminya itu.
Sebagai mantan
napi sosok Wongso tak begitu menyeramkan di mata wanita cantik itu, kesan gahar
dan urakan yang dia pikirkan sejak semalam buyar begitu saja. Dengan tinggi
badan nyaris mencapai 180 sentimeter, Wongso bak raksasa tinggi di hadapan Ima
yang hanya memiliki tinggi badan sekitar 160 sentimeter. Meskipun begitu,
tubuhnya terlihat bugar dengan dada bidang dan badan kekar, tak seperti pria
paruh baya seumurannya yang kadang sudah bertumbuh tambun dengan timbunan lemak
di mana-mana.
Logatnya yang
medhok membuat kesan jenaka ketika Wongso melontarkan kata-kata, sesuatu yang
sempat menggelitik Ima saat mendengarnya. Di tengah lamunannya, Ima tak
menyadari jika sedari tadi mata Wongso bergerak menelusuri seluruh lekuk tubuh
Ima, dari atas sampai bawah, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ima mulai
sedikit rikuh dengan tatapan mata Wongso yang seakan menelanjanginya saat
perlahan mulai menyadarinya.
"Oh ya,
Pakdhe nanti bisa tidur di kamar ini ya." Kata Ima sambil menunjuk satu
kamar yang berada tak jauh dari tangga.
"Kamar
mandinya ada di dekat dapur." Lanjut Ima seraya menunjuk kamar mandi yang
berada di ujung ruangan, berdekatan dengan dapur. Wongso mengangguk pelan
sambil mengumbar senyum.
"Anggap
aja rumah sendiri Pakdhe, Saya naik dulu ya, mau beresin kamar." Ima pamit
seraya mengangkat pantat semoknya dari atas sofa, tatapan jalang Wongso
mengiringinya.
"Iya
Nduk, makasih banyak sebelumnya. Maaf kalo Pakdhe ngrepotin."
"Nggak
apa-apa Pakdhe, Mas Andi berhutang budi banyak sama Pakdhe. Cuma ini yang bisa
kami lakukan untuk membalas kebaikan Pakdhe dulu." Ujar Ima sebelum
beranjak pergi menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
Mata Wongso
tidak lepas dari goyangan pantat Ima yang aduhai sampai ke atas tangga.
Walaupun sudah uzur, tapi Wongso tetap laki-laki normal, dia butuh melepaskan
hasrat birahinya setelah nyaris 3 bulan terakhir dibiarkan terkurung di ruang
sel isolasi oleh Djarot. Dia ingin masturbasi untuk melepaskan gejolak
nafsunya. Saat itu ponselnya berbunyi. Wongso mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo,
Pakdhe udah nyampek rumah? Nggak nyasar kan?" Berondong Andi dari
sambungan seluler.
"Sudah
Ndi, udah ketemu Ima juga kok." Jawab Wongso.
"Pakdhe,
aku minta maaf nggak bisa pulang hari ini, soalnya aku harus lembur di luar
kota dan baru akan pulang sekitar hari Minggu sore. Mendadak banget dan nggak
bisa ditunda. Tolong pamitin ke Ima ya? Pesawatnya hampir berangkat, aku tidak
bisa lama-lama. Maaf tidak bisa menemani Pakdhe. Aku telpon kalau sudah sampai
di sana nanti."
"Baik,
Ndi. Nanti Pakdhe sampaikan. Hati-hati di jalan."
Setelah
mengucapkan salam perpisahan, Wongso menutup telepon. Pria paruh baya itu
menyruput teh hangat yang disajikan oleh Ima tadi, pikiran mesumnya masih belum
benar-benar reda. Bayangan tubuh semok nan aduhai milik Ima mengganggu
pikirannya, Wongso gelisah, diliriknya kembali anak tangga yang berada tak jauh
dari hadapannya.
"Ah!
Persetan!" Gumam Wongso sebelum bangkit dari duduknya, meninggalkan tas
bawaannya di atas sofa kemudian mulai mengarahkan langkah kakinya menuju
tangga.
Perlahan
Wongso menaiki tangga, berusaha agar langkah kakinya tak terdengar hingga
akhirnya pria tua itu sampai di depan pintu kamar milik Ima dan Andi. Terdengar
deru suara air mengalir dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar utama.
Setelah berpikir keras, dia memutuskan untuk memasuki kamar tidur utama
pasangan Andi dan Ima. Diraihnya gagang pintu kamar itu, menekannya ke bawah
pelan-pelan hingga terbuka.
Suara gemercik
air dari shower terdengar makin jelas kala pria tua itu sudah berada di dalam
kamar. Mata jalangnya mendapati celana dalam tipis dan BH milik Ima di atas
ranjang, Wongso benar-benar tidak kuat lagi menahan birahinya. Diambilnya
celana dalam Ima, sebelum dibukanya celananya sendiri, dan mulailah mantan napi
itu melakukan masturbasi dengan menggesekkan celdam Ima di penisnya yang mulai
keriput.
Detak jantung
Wongso makin cepat karena ia tahu Ima sedang mandi sementara dia masturbasi
menggunakan celana dalam yang akan dipakai istri keponakannya itu. Gerakan
tangan Wongso makin cepat mengocok batang penisnya sendiri. Wongso membayangkan
kemolekan tubuh Ima, Wongso juga membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Ima
terhentak-hentak didera sodokan penisnya. Tapi itu tak cukup, pikiran mesumnya
meminta lebih, adrenalinnya terpacu untuk bertindak lebih jauh lagi. Diliriknya
pintu kamar mandi, Ima rupanya lalai dan membiarkan pintu kamar mandi sedikit
terbuka, memudahkan akses bagi pria tua itu untuk mengintip. Wongso mengintip
sedikit ke kamar mandi. Wongso mendapati
Ima sedang menyabuni buah dadanya yang besar dan kenyal.
"Gila!
Gede banget!!!" Batin Wongso.
Wongso
meneruskan aksi bejatnya saat Ima membungkuk untuk menyabuni kakinya yang
jenjang dan pahanya. Tak lama kemudian, Ima bersandar pada dinding sementara
air shower membilas tubuhnya yang putih mulus. Tangan kiri Ima menangkup dua
buah dadanya. Jemarinya mulai mengelus dan memilin puting secara bergantian.
Wongso terpana melihat pemandangan erotis itu sambil terus mengocok batang
penisnya. Tangan kanan Ima menuruni perutnya yang langsing dan masuk ke
selangkangan.
"Aaaaahhhhhh!"
Ima mendesah kecil.
Tangan kiri
Ima yang penuh gelembung sabun kini memilin dan meremas-remas puting
payudaranya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan
Ima masih berada di selangkangan. Semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang,
Ima membentangkan kakinya sedikit. Wongso bisa melihat jemari lentik tangan perempuan cantik itu
keluar masuk di dalam liang peranakan. Wongso makin terpesona saat melihat si
cantik Ima menggunakan jempolnya untuk menggosok dan menggerakkan daging
menonjol yang ada di ujung atas bibir vaginanya.
"Ah! Ah!
Ah! Ehm! Ehm! Ooooohhh!!!" Kaki Ima melengkung saat si jelita itu melenguh
perlahan. Akhirnya tangan kirinya turun lemas ke samping badannya, sementara
jari-jarinya berhenti bergerak, namun
tetap berada di dalam liang vagina. Detik itu pula Wongso merasakan ejakulasi.
Tangannya
belepotan sperma buru-buru Wongso membersihkannya menggunakan celana dalam Ima.
Terdengar suara shower dimatikan, Ima meraih handuk untuk mengeringkan badannya
yang basah kuyup. Secepat kilat Wongso meletakkan celdam Ima seperti sediakala
dan meninggalkan kamar itu. Wongso menutup pintu kamar, namun masih terbuka
sedikit celah. Saat sudah beranjak meninggalkan tempat itu, terlihat Ima keluar
dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya.
Wongso masih
mengamati tiap gerak tubuh istri keponakannya itu dari luar, hingga tanpa
sengaja Ima menjatuhkan handuk yang dikenakannya. Wongso dibuat menelan
ludahnya sendiri ketika wanita cantik itu menungging untuk mengambil haduk dari
atas lantai.
Perlahan-lahan
Ima berbalik dan Wongso hampir tak kuat menahan nafsu. Baru kali inilah dia
menyaksikan keindahan tubuh Ima secara langsung tanpa sehelai benangpun. Rambut
di atas kemaluan Ima terlihat terawat karena dipotong rapi dan sangat lembut,
sementara payudara Ima yang montok sangat ranum dan besar. Si molek itu
mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena bergerak
cepat, buah dada Ima bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan erotis.
Saat Ima usai
mengeringkan rambut, istri Andi itu mengambil celana dalamnya dengan sedikit
membungkuk. Tentu saja Wongso makin puas karena bisa melihat lebih jelas ke
arah lubang anus milik Ima. Untung saja Wongso kuat menahan diri, bisa saja ia
masuk ke dalam dan menyetubuhi Ima dari belakang dengan paksa. Warna merah muda
anus mungil milik menantunya itu sangat mengundang selera sang pria tua. Wongso
berandai-andai apakah Andi pernah menyodomi istrinya?
"Luar
biasa! Beruntung sekali Aku ada di rumah ini!" Batin Wongso sambil
perlahan melangkah pergi kembali ke kamarnya di lantai satu.
"Rejeki
nomplok seperti ini tidak boleh Aku sia-siakan!" Batin Wongso sekali lagi.

Posting Komentar
0 Komentar