PAKDHE WONGSO (PART 2)

 



Ini adalah sekuel dari cerita "Pakdhe Wongso", masih menceritakan tentang kehidupan Wongso pasca dipenjaranya Andi dalam kasus pembunuhan Djarot. Pria tua itu pada akhirnya harus menuruti permintaan Andi untuk menjaga Ima selama keponakannya itu menjalani masa hukuman. Hari-hari Wongso bersama Ima yang tenang pada akhirnya harus kembali terusik ketika Andi melarikan diri dari penjara. Untuk kedua kalinya Wongso harus berusaha keras menyelematkan nyawa Andi dari buruan banyak orang. Akankah Wongso berhasil menyelamatkan keponakannya itu? Atau justru ini adalah akhir dari semua perjalanannya?

GENRE : DRAMA EROTIC

FORMAT : FILE PDF

JUMLAH HALAMAN : 205 HALAMAN

HARGA : Rp 30.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY



PART 1

Sebuah Fortuner hitam berhenti tepat di depan rumah milik Ima, seorang wanita mengenakan rok hitam ketat sebatas paha dipadu tangtop cream yang terbalut blazer navy, turun dari kursi kemudi. Yasmin. Janda itu lalu melangkah masuk menuju halaman rumah yang terlihat asri dengan dihiasi taman kecil dan beberapa pot berjejer rapi ditumbuhi macam-macam tanaman hias seperti surih gading, tanduk rusa, daun puring dan lain sebagainya. Belum sampai Yasmin mengetuk pintu rumah untuk memberitahu kedatangannya, lebih dulu dari dalam pintu terbuka. Wongso sudah rapi dengan mengenakan kemeja lengan panjang warna puitih dan celana hitam panjang lengkap dengan sepatu pantofel berwarna senada. Di samping pria tua itu menggelanyut manja Ima yang hanya mengenakan lingerie putih tipis, puting wanita cantik itu bisa terlihat jelas mengeras meskipun masih tertutup.

“Kirain masih tidur, are You ready?” Tanya Yasmin pada Wongso.

“Udah daritadi siap kok.” Jawab Wongso.

“Oke, kita bisa berangkat sekarang? Beb, Gue pinjem laki Lu bentar ye, ntar Gue balikin lagi. Tenang, nggak bakal lecet kok.” Yasmin mencolek dagu Ima, seolah keakraban sudah terjalin lama diantara mereka berdua.

“Iya Mbak.” Jawab Ima malu-malu.

“Nduk, Pakdhe berangkat dulu ya.” Ima langsung mencium punggung tangan dan pipi Wongso, persis seperti yang pernah dilakukannya dulu saat mengantar Andi berangkat kerja.

“Iya Pakdhe, hati-hati di jalan.”

Setelah berpamitan, Wongso dan Yasmin langsung bergegas menuju mobil. Hari ini rencananya Wongso akan mengikuti tes interview di perusahaan tempat Yasmin bekerja sebagai petugas keamanan. Tak hanya Wongso, Anwar dan Rocky pun diajak turut serta mengikuti tes interview ini. Setelah mempertimbangkan banyak hal pada akhirnya Wongso memutuskan untuk pensiun dari pekerjaan kotor, dia ingin kembali menata hidup dengan benar tanpa harus melanggar hukum lagi.

Pasca putusan sidang kasus pembunuhan Djarot yang melibatkan Andi, keponakannya itu divonis hukuman penjara selama 15 tahun. Hukuman itu tak hanya berdampak pada hidup Andi seorang, namun juga Wongso serta Ima. Pria tua itu memikul tanggung jawab untuk menjaga serta menghidupi Ima, seperti apa apa yang telah dipesankan oleh Andi pada dirinya. Terus mencari penghidupan sebagai seorang perampok tentu akan membahayakan Ima, hal itulah yang dikhawatirkan oleh Wongso hingga akhirnya dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hitam. Beruntung anggota komplotannya, Anwar serta Rocky, mengamini hal tersebut tanpa perlu melakukan perdebatan panjang.

Wongso yang mulai akrab dengan Yasmin, mengutarakan maksudnya untuk mencari pekerjaan pada janda tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba, kebetulan kantor cabang perusahaan tempat Yasmin bekerja yang baru dibuka beberapa minggu lalu memerlukan tenaga keamanan.

“Udah kayak suami istri aja kalian akhir-akhir ini.” Yasmin mengulum senyum, membuka percakapan setelah mobil melaju pelan meninggalkan rumah Ima.

“Halah, biasa aja kok." Jawab Wongso sambil mengemudikan mobil  di tengah padatnya lalu lintas.

“Berapa ronde tadi malem?” Yasmin melirik pada pria berusia setengah abad lebih itu.

“Hehehehe, berapa ya? Lupa, maklum udah tua.” Sahut Wongso asal sambil terkekeh ringan.

“Pantes aja ditelepon nggak diangkat, di WA nggak mau bales. Lagi sibuk sama bini muda ternyata.” Rajuk Yasmin dengan memasang wajah cemberut.

“Maaf, kemarin malem nggak sempet pegang HP. Jangan cemberut gitu dong, nanti cakepnya ilang loh.” Tangan kiri Wongso merambat di paha mulus Yasmin, mengelusnya beberapa kali.

“Eh, jangan pegang-pegang!" Rajuk Yasmin seraya menyingkirkan telapak tangan Wongso dari permukaan kulit pahanya.

“Hehehehe, oke nggak boleh pegang-pegang nih mulai sekarang?” Goda Wongso sekali lagi.

“Iya! Lu nggak boleh pegang, tapi Gue boleh.”

Yasmin melepas seat beld yang dikenakan sedari tadi, kemudian merundukkan badannya yang sintal ke kanan mendekati selangkangan Wongso. Tau apa yang diinginkan janda semok itu, Wongso mulai membuka resleting celana lalu mengeluarkan penisnya dari dalam. Beruntung kaca mobil Yasmin dilapisi plastik film gelap, hingga pengendara lain tak bisa melihat aktifitas yang sedang terjadi di dalam mobil.

“Pantes Ima jadi manja banget sama Lu, kontol Lu gede banget sih." Gumam Yasmin sambil memainkan batang penis Wongso menggunakan telapak tangannya. Mengocoknya, mengelus bagian ujung kepalanya, menggesek-gesek lubang kencing milik Wongso.

Wongso menekan kepala Yasmin ke bawah berharap janda itu segera mengulum penisnya, namun Yasmin masih ingin bermain-main terlebih dahulu. Penis Wongso ditarik hingga keluar seluruhnya, tangannya yang halus mulai bergerak naik turun, mengocoknya perlahan. Yasmin menatap sayu tongkat keperkasaan pria tua itu, kagum karena tak hanya keras namun ukurannya melebihi ukuran pria Indonesia pada umumnya.

Setelah memastikan penis Wongso benar-benar sudah keras, Yasmin mulai mendekatkan wajahnya. Sesaat janda cantik itu melirik genit  kearah Wongso yang harus membagi konsentrasinya pada kemudi mobil dan pada kenakalan Yasmin. Janda itu mulai menjilati lubang kencing pada ujung penis, lidahnya yang basah serta hangat seketika membuat tubuh kekar Wongso meremang.

“Ouucchhhh!” Lenguh Wongso saat lidah Yasmin mulai menjelajah liar.

Yasmin memainkan ujung lidahnya pada kepala penis, sesekali sambil memasukkan batang penis itu ke dalam mulutnya. Menghisapnya pelan-pelan, lalu kembali memainkan lidahnya ketika batang penis Wongso masih menyesaki mulutnya. Diperlakukan seperti itu membuat birahi Wongso makin terbakar, padahal pagi tadi dia sudah sempat bercinta dengan Ima. Namun sekarang giliran Yasmin yang membuat nafsu pria tua itu kembali bergejolak. Tangan kiri Wongso mulai meremas-remas pantat sekal Yasmin yang menungging di atas kursi. Tak sabar dia mencoba menarik tuntas ujung bawah rok ketat yang dikenakan Yasmin, namun wanita itu buru-buru mencegahnya.

“Stop! Lu diem aja, biar Gue aja yang kerja.” Ujar Yasmin sambil memelototi Wongso. Seperti kerbau yang dicokok hidungnya, pria tua tersebut pada akhirnya hanya bisa menurut tanpa banyak protes.

Yasmin kembali menggarap penis Wongso menggunakan mulutnya, ruang yang sempit, dan terkadang tubuhnya terhentak tak nyaman akibat laju mobil pada jalanan yang tak rata, sama sekali bukan penghalang bagi Yasmin untuk terus mengoral penis Wongso. Kepalanya naik turun menghisap penis itu kuat-kuat, sesekali Yasmin sengaja menekan kepalanya sedalam mungkin membuat ujung penis Wongso nyaris menyentuh kerongkongannya.

“Haaahhhh!!! Haaahhh!!!” Yasmin sampai megap-megap setelah melakukan deepthroat pada penis Wongso.

“Gila!! Enak banget!” Puji Wongso.

“Ima bisa kayak gitu nggak? Hmmm?” Iseng Yasmin mencoba membandingkan dirinya dengan Ima dalam urusan kelihaian melakukan oral sex pada Wongso.

“Ima? Belum.” Jawab Wongso singkat tak mau memperpanjang perdebatan.

Yasmin mengocok penis Wongso dengan cepat, sesekali dia meludahi batang keperkasaan pria tua itu lalu kembali mengulumnya. Hampir sepuluh menit lamanya janda cantik itu melakukan hal tersebut berulangkali hingga akhirnya lenguhan Wongso memberi tanda jika ejakulasinya akan segera datang. Yasmin langsung memasukkan penis itu ke dalam mulutnya, kini giliran tangan Wongso yang mengocoknya dari luar. Kepala Yasmin beberapa kali terantuk permukaan stir mobil karena terhentak gerakan mengocok tangan yang dilakukan Wongso.

“Aaachh!! Keluar!! Keluar!!” Lenguh Wongso saat dorongan kuat dari dalam penisnya meledak, menyemprotkan sperma kental nan hangat di dalam mulut Yasmin.

“Eeeemmmcchh!!! Eeemmcchh!!!”  Yasmin berusaha menampung seluruh semprotan sperma Wongso di dalam mulutnya dan tak mengotori mobilnya.

“Aaachhh!!! Gila! Enak banget…” Dengus puas Wongso menandai hajat birahinya telah terpenuhi.

Pelan-pelan Yasmin melepaskan batang penis itu dari dalam mulutnya, sementara sperma Wongso masih tertampung di dalam. Wongso melirik genit ke arah janda semok itu sebelum akhirnya Yasmin menelan sampai habis cairan keperkasaan Wongso. Tasmin mencari motol air mineral yang ada di samping pintu penumpang, lalu menenggak cairan di dalamnya.

“Pagi-pagi udah sarapan peju Gue.” Celetuk Yasmin yang langsung disambut gelak tawa Wongso.

***

Sementara itu di dalam penjara, tubuh Andi meringkuk di dalam sel pengasingan. Ini adalah hari ke dua puluh dia berada di dalam ruang pengap berukuran tak lebih dari dua kali dua meter, terasing sendirian. Suara derap langkah kaki beralas sepatu taktis terdengar mendekat.

PRAAANG!!!

PRAANGG!!

PRAANGG!!

Seorang pria berbadan tegap mengenakan seragam dinas petugas lapas memukul keras-keras jeruji besi di depan ruang tahanan yang ditempati Andi menggunakan pentungan. Satu tangan kanannya membawa sepiring nasi putih yang sudah dicampur kuah air putih tawar.

“Woi anjing! Bangun Lu!”

PRAANGG!!

PRAAANGG!!

PRAANGGG!!!

Kembali petugas lapas itu memukul teralis besi menggunakan pentungannya, menimbulkan suara berisik luar biasa hingga memekakkan telinga. Andi terkesiap, terbangun dari tidurnya yang baru tak lebih dari 3 jam setelah semalam dia dihajar habis-habisan oleh beberapa sipir penjara. Andi berusaha membuka mata kanannya, karena mata kirinya sudah lebam parah dan nyaris tak bisa dibuka. Wajahnya sudah babak belur luar biasa, luka memar dan darah yang sudah mengering nyaris memenuhi seluruh wajah serta tubuh keponakan Wongso tersebut.

“Nih Gue kasih Lu makanan!” Sipir penjara itu langsung membuang nasi di dalam piring tepat di depan teralis besi, membuat butiran nasi yang sudah tak layak makan itu berhamburan di atas lantai.

Andi berusaha sekuat untuk merangkak mendekati ceceran nasi itu. Tanpa rasa jijik sedikitpun Andi mulai memunguti nasi di atas lantai kemudian memakannya. Sang sipir penjara tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Andi yang seperti itu, tanpa belas kasihan sedikitpun. Bukan tanpa alasan Andi sampai harus melakukan hal semenjijikkan itu, karena bisa jadi nasi yang dibuang oleh sipir tadi merupakan jatah makan satu-satunya untuk hari ini.

Vonis 15 tahun penjara yang diberikan majelis hakim karena telah membunuh Djarot nyatanya tak membuat maslah selesai begitu saja bagi Andi. Nasib buruknya dimulai ketika dia harus menjalani hukuman di lapas tempat Djarot dulu menjadi kepala sipir. Terkuaknya kasus korupsi Djarot serta kematian pria sangar itu serta merta membuat bisnis hitam di dalam penjara ikut terusik. Pemerintah melalui kementrian terkait melakukan pengetatan, pengawasan bagi setiap petugas serta penghuni lapas dilakukan lebih intens lagi.

Hal inilah yang membuat banyak sipir penjara kehilangan mata pencaharian tambahan. Uang setoran dari para napi yang dulu masih melakukan bisnis haram di dalam penjara sudah tidak ada lagi. Bahkan uang tips dari para pembesuk yang  jumlahnya tak seberapa pun kini sudah lenyap seiring terblow upnya kasus korupsi Djarot. Maka tak heran ketika beberapa mantan anak buah mendiang Djarot tau jika orang yang membunuh bosnya akan berada di lapas yang sama maka seketika itu pula Andi menjadi sasaran empuk untuk bahan pelampiasan kekecewaan. Masuk ke dalam sel tikus seperti ini meskipun tidak melakukan kesalahan salah satunya. Belum lagi banyak penyiksaan yang harus diterima Andi selama berada di balik jeruji besi. Masa hukumannya terasa seperti di neraka. Wongso belum mengetahui akan hal ini, karena setelah dipindah ke lapas lain, pria tua itu belum sekalipun membesuk Andi.

“Habisin makanan Lu, habis itu tidur lagi karena malam nanti akan jadi malam yang panjang! Hahahaha!” Tawa sipir itu meledak kencang sebelum melangkah pergi meninggalkan Andi sendirian di dalam sel tikus.

***

Setelah memastikan pakaiannya telah rapi kembali, Wongso dan Yasmin turun dari dalam mobil. Sebuah gedung berlantai tiga dengan arsitektur modern dimana hampir seluruh bagian gedung dilapisi kaca bening nan tebal langsung tersaji di hadapan kedua orang tersebut. Di depan lobby ternyata sudah menunggu Anwar yang hanya memakai celana jins dan kaos polo berkerah. Pria bertubuh tambun itu berlari-lari kecil mendekat ke Wongso yang berjalan dari tempat parkir mobil.

“Heh! Kok pake baju kayak gitu sih?!” Hardik Wongso sambil melihat penampilan seadanya pada tubuh tambun Anwar.

“Maaf Bos, Saya kira nglamar jadi satpam nggak perlu pake pakaian kayak ikut kondangan. Ternyata Saya tadi nggak boleh masuk sama yang jaga gedung, tau gitu tadi Saya pake batik aja. Hehehee.” Seloroh Anwar sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Yasmin hanya bisa menggeleng-gelangkan kepalanya melihat tingkah konyol salah satu anak buah Wongso tersebut.

“Haduh! Kan udah Aku kasih tau tadi malam. Pake pakaian rapi!” Wongso masih geram.

“Udah nggak apa-apa biar nanti Aku yang ngomong sama HRD kantor. Pak Anwar bawa KTP atau SIM kan?” Tanya Yasmin.

“Bawa Bu, udah diingetin sama Bos Wongso tadi malam.” Sahut Anwar.

“Bagus, ya sudah ayo kita masuk ke kantor. Nanti usahakan jangan gugup ya Pak waktu diinterview sama orang HRD. Tenang, ini cuma formalitas saja, Pak Anwar udah pasti keterima kerja di sini kok.” Lanjut Yasmin menjelaskan.

“Baik Bu.” Sahut Anwar antusias.

“Terus Rocky mana?” Tanya Wongso saat menyadari satu anak buahnya lagi tak terlihat. Raut wajah Anwar seketika berubah, senyumnya menghilang.

“Anu bos, Rocky tadi malam ditangkap Polisi.” Jawab Anwar lirih, kali ini giliran raut wajah Wongso yang berubah tak bisa menyembunyikan kekagetannya.

“Ditangkap Polisi? Kok bisa?” Tanya Wongso panik.

“Salah dia sendiri Bos, mabuk terus mukulin tukang parkir di tempat pijat.”

“Haduuuhh! Mau kerja bener kok ada aja halangannya!” Ucap Wongso kesal.

“Sudah..Sudah..Masalah Rocky nanti kita beresin. Sekarang yang penting kita interview dulu. Oke?” Potong Yasmin tak sabar mendengar perdebatan antara Wongso dan Anwar, dua pria yang dia rekomendasikan untuk menjadi petugas keamanan di salah satu kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja. Janda itu langsung melangkah menuju lobby kantor, mendahului Wongso dan Anwar.

“Busyet! Pantatnya semok banget Boss!!” Celetuk Anwar saat melihat lenggak-lenggok tubuh Yasmin ketika berjalan mendahuluinya. Wongso langsung mengeplak kepala Anwar.

“Hust! Jaga sikapmu! Yasmin udah nyariin kerjaan buat kita!” Hardik Wongso mengingatkan Anwar.

“Si..Siap bos!” Sahut Anwar kikuk.

***

Antrian panjang pengunjung Lapas mengular cukup panjang. Di salah satu antrian terlihat sosok Wongso yang baru datang membesuk Andi setelah hampir satu bulan keponakannya itu dipindah ke lapas ini. Kesibukannya di tempat kerja baru membuat Wongso baru bisa menyempatkan waktu sekarang untuk menemui Andi. Awalnya tadi Wongso hendak mengajak Ima, namun wanita cantik itu menolak dengan alasan belum siap bertemu kembali dengan suaminya tersebut. Wongso berusaha untuk terus membujuk Ima agar mau ikut, namun usahanya sia-sia, Ima tetap saja tak mengindahkan permintaan tersebut.

Setelah mengantri beberapa saat dan diperiksa oleh petugas sipir penjara, Wongso dipersilahkan memasuki ruang besuk. Ruangan tersebut cukup luas, terdapat beberapa kursi panjang dan meja yang sebagian besar telah terisi oleh para pembesuk tahanan. Pria tua itu memilih duduk di sebuah kursi yang berada di bagian pojok ruangan, menunggu beberapa saat, Wongso dikejutkan kedatangan Andi. Wajah keponakannya itu terlihat babak belur, luka lebam dan biru-biru nyaris memenuhi seluruh wajah Andi. Bahkan dari cara berjalannya, Andi nampak menahan rasa sakit.

“Kamu kenapa Le? Siapa yang melakukan ini?!” Wongso berusaha memegang wajah Andi seperti ingin memeriksa lukanya.

“Aku nggak apa-apa Pakdhe.” Andi seperti enggan untuk menceritakan segala penyiksaan yang dialaminya pada Wongso.

“Nggak apa-apa bagaimana? Wajahmu aja babak belur kayak gini!” Protes Wongso.

“Udahlah Pakdhe, kalaupun Aku ceritakan semuanya apa Pakdhe bisa menolongku? Nggak kan?” Ujar Andi seolah menantang kepedulian Wongso pada dirinya.

Sebelum dipindah ke lapas ini, memang beberapa kenalan Wongso di dalam penjara sempat memberikan perlindungan pada Andi. Pria itu nyaris sama sekali tak tersentuh oleh siapapun, namun situasi berubah 180 derajat kala Andi harus mendekam di lapas tempat dimana Djarot dulu berkuasa. Keponakan Wongso tersebut harus merasakan banyak penyiksaan dari para sipir.

“Pakdhe pasti menolongmu Le! Kenapa Kamu jadi seperti ini?”

“Bagaimana caranya? Pakdhe bisa menggantikanku posisiku di sini? Mau?” Andi menatap tajam wajah Wongso, nada bicaranya seperti sedang menantang, sama sekali tak ada rasa takut atau segan lagi pada sosok pria tua yang ada di hadapannya itu. Kehidupan keras di dalam penjara sepertinya telah mengubah karakter serta kepribadian Andi.

“Kalau dipikir-pikir, semua ini terjadi karena kesalahan Pakdhe! Aku tidak mungkin disekap oleh Djarot waktu itu jika Pakdhe tak memiliki hutang padanya. Bahkan tak hanya itu, Pakdhe juga meniduri istriku! Memperlakukannya seperti seorang lonte di dalam rumahku sendiri!” Wongso tercekat, pria tua itu seolah tak percaya jika Andi akan mengatakan hal seperti ini.

“Jadi mulai sekarang stop berlagak peduli kepadaku karena semua yang terjadi dalam hidupku adalah karena kesalahan Pakdhe!” Andi langsung bangkit dari duduknya, pertemuan yang harusnya berlangsung hangat kini berubah menjadi sebuah ketegangan.

“Le! Andi! Tunggu dulu, kita bisa bicarakan ini!” Andi bergeming, tanpa berpamitan pria tersebut langsung melangkah pergi meninggalkan Wongso begitu saja.

***

Matahari sudah nyaris terbenam, seluruh karyawan perusahaan juga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang masih berjaga di pos, Anwar salah satunya. Sebagai petugas keamanan baru dia berusaha untuk berbaur dengan rekan kerjanya, sesama satpam. Beruntung Anwar adalah pribadi yang luwes dan mudah beradaptasi di lingkungan baru, tak jarang celetukan-celetukan mesumnya mengundang tawa para petugas keamanan yang lain.

Tak berselang lama berhenti sebuah pajero hitam yang dikendarai oleh Yasmin tepat di samping pos jaga yang terpasang portal besi panjang. Salah satu petugas keamanan menaikkan portal tersebut karena sudah hapal dengan mobil milik Yasmin tersebut. Mobil melaju pelan kemudian kembali berhenti tak jauh dari pos jaga, Anwar sigap menghampiri saat kaca kemudi terbuka. Kepala Yasmin melongo keluar.

“Bisa tolong Saya nggak Pak Anwar?”

“Bisa Bu, ada apa ya?”

“Ini, tolong bantu Saya mindahin printer ke ruang akuntasi, Saya tadi kelupaan nggak sempet mampir ke sini.” Anwar melirik ke kursi penumpang, terdapat dua kardus mesin printer baru yang masih tersegel.

“Bisa Bu, mari Saya bantu.” Ujar Anwar antusias, Doni salah satu petugas keamanan kantor cabang juga ikut mendekat, niatnya ingin ikut membantu namun segera diusir halus oleh Anwar.

“Udah bro, serahin ini sama Gue.” Bisik Anwar agar tak terdengar oleh Yasmin. Melihat sorot mata mesum Anwar membuat Doni mengerti maksud dan tujuan pria bertubuh tambun tersebut. Doni langsung berbalik badan dan kembali ke pos jaga.

Yasmin turun dari mobil, kemudian membuka pintu penumpang, Anwar yang berdiri di belakang janda semok itu bisa dengan jelas melihat cetakan pantat padat milik Yasmin kala wanita tersebut sedikit membungkuk untuk menarik kardus pembungkus mesin printer. Penisnya mulai mengeras namun sekuat tenaga dia lawan agar tak menimbulkan kecurigaan dari Yasmin.

“Biar Saya aja Bu.”

“Oh iya, makasih Pak Anwar.” Sahut Yasmin sebelum memindahkan posisi badannya menjauh dari pintu mobil. Anwar langsung meraih dua kardus berukuran cukup besar itu lalu mengeleuarkannya dari dalam mobil.

“Mohon maaf Bu, ruang bagian akuntasi di sebelah mana ya?” Tanya Anwar berpura-pura tak tau letak ruangan tersebut. Tujuannya jelas, agar Yasmin ikut masuk ke dalam gedung kantor yang sudah sepi.

“Loh Pak Anwar belum tau?” Tanya Yasmin.

“Hehehe, belum Bu.” Jawab Anwar terkekeh.

“Ya udah mari Saya antar Pak.”

Yasmin akhirnya melangkahkan kaki menuju ruang kantor, meskipun sambil mengangkat dua kardus besar berisi printer, Anwar masih bisa melihat lekuk tubuh semok milik Yasmin dari belakang. Pantat bulat, paha mulus, pinggang besar namun tetap sexy terbalut sempurna dalam lindungan rok ketat berwarna cream. Sesuatu yang cukup membuat Anwar menjadi konak bukan main. Pikiran mesum pria berbadan tambun tersebut sudah mulai menjadi racun dalam kepala, rencana-rencana busuk untuk mengerjai Yasmin mulai terangkai sedikit demi sedikit. Setelah melewati lobby kantor, Yasmin melangkah menuju selasar sebelah kiri, hanya ada dua ruangan di situ, salah satunya adalah ruang akuntasi. Wanita itu membuka pintu ruangan, Anwar yang mengekor di belakang langsung masuk ke dalam.

“Mau ditaruh di mana Bu?” Tanya Anwar.

“Di situ aja Pak.” Yasmin menunjuk meja yang berada tak jauh dari tempat Anwar berdiri. Anak buah Wongso tersebut langsung meletakkan dua kardus yang dibawanya ke atas meja.

“Makasih banyak ya Pak.” Ucap Yasmin sambil tersenyum.

“Nggak usah terima kasih segala Bu, udah jadi tugas Saya juga kok.” Sahut Anwar.

“Saya yang harusnya terima kasih sama Ibu karena udah dibolehin kerja di sini.” Lanjut Anwar.

“Ah, Pak Anwar bisa aja. Ya udah, ayo balik Pak.”

Yasmin berbalik badan, berniat untuk keluar dari ruang akuntasi. Namun, belum sampai tapak kakinya melanjutkan langkah dari belakang tiba-tiba Anwar memeluknya lalu buru-buru menutup pintu ruangan. Yasmin kaget bukan main dan reflek memberontak namun dekapan tubuh Anwar cukup kuat membuat janda tersebut kesulitan untuk bergerak.

“Eh!! Apa-apaan ini?! Lepas! Tolong! Tooolll…!!!”

“Eeemcch!! Eeemchh!!!”

Satu tangan Anwar langsung membekap mulut Yasmin dengan kasar sebelum wanita cantik tersebut kembali berteriak. Anwar lalu menyeret tubuh Yasmin menjauh dari pintu, dengus nafasnya memburu, adrenalinnya terpacu.

“Jangan melawan kalo masih mau hidup! Ngerti?!” Ancam Anwar serius, bulu kuduk Yasmin seketika langsung merinding efek rasa takut yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendapat ancaman dari Anwar.

“Jawab! Ngerti nggak?!” Hardik Anwar sekali lagi.

“Emmcchh!! Eeemchh!!” Yasmin mengangguk-anggukan kepalanya dengan keadaan mulut masih terbekap tangan Anwar.

“Bagus, sekarang Gue lepasin, tapi jangan sampe Lu teriak lagi! Ngerti Lu?!” Untuk kedua kalinya Yasmin menganggukkan kepala tanda kepatuhan atas perintah Anwar.

Perlahan Anwar melapaskan bekapan mulutnya dan sergapan tubuhnya pada Yasmin. Nafas janda semok itu tersenggal luar biasa setelah sebelumnya sempat kesulitan mengambil oksigen akibat bekapan tangan Anwar. Tak sabar, Anwar kembali menarik tangan Yasmin hingga wanita itu berada dalam dekapannya. Bibir tebal Anwar langsung menyosor bibir Yasmin, berusaha untuk menciuminya. Yasmin seketika berusaha untuk menghindar dengan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan namun usaha itu tak cukup untuk menghentikan aksi bejat Anwar. Dua tangan Anwar mendekapnya dengan kuat, membuat tubuhnya yang sintal tertempel erat, tak bisa leluasa untuk sekedar menjauh.

“Emmcchh!! Emmcchh!! Paakkk!!”

Yasmin berusaha menutup rapat-rapat katup bibirnya kala ciuman membabi buta Anwar mulai melibatkan lidah. Pria bertubuh tambun itu sudah terbakar nafsu, sama sekali tak terbesit sedikitpun mengingat kebaikan Yasmin yang memberinya sebuah pekerjaan baru. Bahkan pesan Wongso beberapa hari lalu agar dirinya tak memiliki pikiran kotor apalagi sampai menyentuh Yasmin kali ini tak digubrisnya sama sekali. Kedua tangan Anwar mulai menjamah bokong janda semok tersebut, meremasnya secara brutal di tengah usaha lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulut Yasmin.

Tubuh Yasmin bergerak mencoba menghindari jamahan Anwar yang sudah terbakar birahi, sekuat tenaga dia berusaha untuk menghentikan aksi mesum pria bejat tersebut. Namun usahanya sia-sia, bahkan lidah Anwar sudah berhasil membuka rongga mulutnya. Pria itu mulai menyesapi lidah serta bibirnya, sesekali juga meneguk liur Yasmin dengan penuh nafsu.

“Eeemchhhh…..! Udah Paakk…Eeemchhhh..!” Lenguh Yasmin memohon ampun.

“Nikmatin aja nggak usah banyak protes!” Hardik Anwar.

Tangan kasar Anwar berpindah ke depan, meremas payudara gembul milik Yasmin yang masih tertutup kemeja panjang. Bak orang kesurupan pria bertubuh tambun itu menarik paksa kancing kemeja yang dikenakan Yasmin hingga terlepas. Gundukan daging lebut di dada Yasmin yang terbungkus bra warna maroon langsung menyembul keluar.

“Gila!! Gede banget!” Mata Anwar membelalak kaget setelah berhasil melihat gundukan mulus payudara Yasmin, bra yang digunakan janda itu juga terlihat terlalu sempit untuk membungkus payudara Yasmin.

“Ouucchhh!!!!!”

Yasmin melenguh panjang saat Anwar mulai membenamkan wajahnya pada payudaranya, menciuminya dengan sangat bernafsu, sementara kedua tangan begundal itu ikut meremas-remas kasar, lalu secepat kilat berusaha mempreteli pengait bra di bagian punggung. Tak lama payudara besar itu terbebas dari pembungkusnya, Anwar kini bisa dengan bebas menatap payudara besar milik Yasmin. Makin bernafsulah begundal itu, bibir serta lidahnya makin leluasa menjelejahi dada Yasmin, bahkan sesekali Anwar menghisap puting janda semok itu kuat-kuat.

“Aaachhhhh!!! Pak…..!”

Anwar makin kesetanan, begundal itu membalik tubuh Yasmin hingga membelakanginya. Sedikit terdorong mendekati bibir meja, kedua tangan Yasmin reflek bertumpu di sana agar tak terjatuh. Celakanya, dengan posisi begitu tubuhnya yang sintal jadi sedikit menungging. Belum sempat Yasmin bereaksi lebih, tiba-tiba Anwar sudah mengangkat bagian bawah roknya hingga ke pinggang, lalu secara paksa menurunkan celana dalamnya.

“Ehh! Eh! Pak mau apa???!”

“Mau ngentotin Lu lah, mau apa lagi??”

“Aaacchh!!! Paak!!!!”

Teriakan Yasmin menandai dimulainya penetrasi penis Anwar di dalam vagina. Meskpiun masih kering, Anwar terus menggerakkan pinggulnya maju mundur. Yasmin merasakan perih luar biasa di bagian selangkangannya, penis Anwar menjajahnya dengan sangat kasar dan keras. Teriakannnya sama sekali tak menyurutkan birahi pria bertubuh tambun tersebut terus menggoyang tubuhnya dari belakang. Keras dan kasar.

“Udah Pak!! Udaahh!!! Sakiitttt!!”

“Udah nikmatin aja!!! Eeemcchh!!”

Satu tangan Anwar menjambak rambut Yasmin dari belakang, pinggulnya terus bergerak cepat hingga menimbulkan bunyi keras akibat benturan tubuhnya dengan pantat semok janda cantik itu. Kepala Yasmin terdongak ke atas, tubuh sintalnya bergerak liar mengikuti irama genjotan penis Anwar yang menyesaki liang senggamanya. Perih yang dirasakan oleh rahimnya tak sebanding dengan perih yang sedang dialami oleh hatinya. Yasmin memang hypersex, tapi menjadi korban pemerkosaan sama sekali tak masuk dalam list fantasy yang ingin dia rasakan. Harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat seketika hancur detik itu juga.

“Ampuunn Pakk!! Udah!! Ampun!!” Bibir Yasmin sampai bergetar, sodokan penis Anwar makin lama makin cepat.

“Diem Lu! Dasar Lonte!!!”

PLAK!!

PLAK!!

PLAK!!

Tiga tamparan keras tangan Anwar mendarat telak di permukaan pantat Yasmin, saking kerasnya bahkan sampai tercetak tanda merah di permukaan kulit mulus bokong janda semok itu.

Setelah hampir sepuluh menitan menggenjot vagina Yasmin, penis Anwar mulai berkedut dengan sendirinya. Yasmin bisa merasakan hal itu, dia menoleh ke belakang, ekspresi merem melek yang sedang terjadi pada wajah Anwar makin menguatkan dugaannya. Yasmin berusaha untuk menarik tubuhnya agar semakin menjauh, tujuannya adalah agar penis Anwar bisa terlepas dari liang senggamanya. Namun, dua tangan Anwar langsung mencengkram pinggul janda cantik itu, lalu  melesakkan batang penisnya lebih dalam, menahannya sebentar, kemudian kembali menggenjot dengan kecepatan tinggi.

“Aaachhh!! Paakkk!! Jangan di dalem!! Jangan di dalemm!!!!”

Yasmin berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya, berusaha keras agar penis Anwar yang hendak ejakulasi terlepas dari liang senggama. Namun usahanya sia-sia, lenguhan panjang Anwar terdengar parau bak harimau terluka, bebarengan dengan itu ujung penisnya menyemprotkan cairan kental.

“Aaarghghhhhttttt!!!!”

Yasmin bisa merasakan vaginanya banjir dipenuhi sperma Anwar. Marah, kesal, dan sedih luar biasa dirasakan oleh wanita itu seiring akhir drama pemerkosaan yang dialaminya hari ini.


ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


Posting Komentar

0 Komentar