DIGILIR PARA BAJINGAN

 


GENRE : HIJAB EROTIC 
JUMLAH HALAMAN : 217 HALAMAN
HARGA: Rp 30.000

ORDER PDF FULL VERSION 👉 KLIK INI CUY


PART 1

 

Bunyi gemercik hujan di luar masih terdengar, udara dingin berbanding terbalik dengan suhu ruangan dalam sebuah rumah petak. Kedua tangan Alvi merangkul erat belakang kepala suaminya, tak mau membiarkan Darto lolos dari lumatan bibirnya. Nafas mereka saling memburu. Pikiran sudah buntu, nafsu telah menguasai.

“Dek…” Darto berhasil meloloskan bibirnya. Dia menatap dalam wajah Alvi yang memerah karena nafsu.

“Kenapa Mas?”

“Jangan di sini, nanti kalo dilihat Bapak gimana?” Darto bangkit dari kursi ruang tamu, meraih tangan istrinya untuk berpindah ke dalam kamar.

“Sampai kapan Bapakmu tinggal di sini Mas? Kita jadi nggak bisa sebebas biasanya.” Gerutu Alvi. Darto mengelus lembut rambut hitam istrinya sebelum kemudian mengecup kening wanita cantik itu.

“Sabar ya, Bapak masih butuh teman. Dia merasa kesepian kalo di rumah sendirian.” Ujar Darto.

“Aku sih nggak apa-apa sebenarnya kalo Bapakmu tinggal di sini, tapi makin lama dia makin kurang ajar kepadaku.” Ucap Alvi mengadukan kelakukan Pak Jamal yang tadi siang mengintipnya saat berganti pakaian di dalam kamar.

“Hahahaha! Mungkin Bapak nafsu lihat kamu Dek. Wajar kan, dia juga laki-laki sama sepertiku.”

“Mas! Tapi dia Bapakmu! Mertuaku sendiri! Kamu mau lihat aku diewe dia?”

“Hmmm, sepertinya menarik. Tapi nggak mungkin lah, Bapakku sudah tua, kontolnya udah nggak bisa ngaceng lagi Dek.” Balas Darto dengan canda. Alvi makin cemberut.

“Kata siapa dia nggak bisa ngaceng? Dua hari lalu aku pergoki dia lagi coli di kamar mandi sambil nyiumin celana dalamku Mas!”

“Hahahahaha! Jadi kalian sama-sama mengintip kan?”

“Aku nggak sengaja itu! Issh! Kamu pasti nggak bisa serius kalo diajak diskusi kayak gini.” Gerutu Alvi sambil membenahi daster tipisnya yang sempat acak-acakan.

“Jangan marah dong sayang, ayo kita lanjutin aja di kamar aja. Mumpung masih hujan.”

Pasangan suami istri yang baru menikah satu tahun terakhir itu pun masuk ke dalam kamar mereka untuk bercinta. Sementara itu di kamar lain, tanpa mereka sadari Pak Jamal mengintip dari balik pintu. Pria tua dengan kepala botak itu sudah bersiap untuk masturbasi sedari tadi, berharap Darto dan Alvi bersetubuh di ruang tamu. Namun ternyata harapannya pupus begitu saja.

“Semprul!” Umpat Pak Jamal seraya melihat batang penisnya yang terlanjur menegang.

Sejak tinggal di rumah Darto sejak kematian istrinya, Pak Jamal memang tak bisa menahan hasratnya kala melihat Alvi. Menantunya itu tak hanya cantik, tapi paras wajahnya juga sangat sensual. Apalagi lekuk tubuh wanita berusia 25 tahun itu juga tak kalah sempurna jika dibandingkan selebgram-selebgram seksi yang sering dilihatnya di instagram dan Tiktok.

Awalnya Pak Jamal hanya berani curi-curi pandang, namun belakangan pria tua itu mulai berani mengintip Alvi saat sedang berganti pakaian atau mandi. Tentu saja hal itu dilakukan saat Darto tak berada di rumah. Lambat laun, fantasi Pak Jamal berubah jadi sebuah obsesi. Bahkan beberapa hari terakhir Pak Jamal sudah berani mengambil pakaian dalam Alvi dan menggunakannya untuk bermasturbasi.

“Liat aja, besok pagi bakal Aku tidurin lonte itu.” Gumam Pak Jamal sebelum memasukkan kembali batang penisnya ke dalam celana. Pria bertubuh tambun dengan perut membuncit itu kemudian pergi dari rumah menuju warung kopi milik Zaenab yang berada di ujung jalan.

Sementara itu di dalam kamar lain, Alvi rupanya sudah tak tahan untuk segera melakukan rutinitasnya setiap malam bersama sang suami. Begitu pintu ditutup, Alvi langsung menyergap bibir Darto, melumatnya penuh birahi. Kedua tangannya memegangi erat kepala sang pejantan. Darto membalas lumatannya, bertukar liur, dan lidah mereka beradu di dalam mulut masing-masing. Tangan Darto yang bebas mulai bergerak nakal menuju payudara istrinya.

“Mmmhh... Mmhh...”

Desahan keduanya mengalir memenuhi udara kamar. Ditengah lumatan bibir, tangan Darto bebas meremasi payudara Alvi yang masih terbungkus kain tipis daster. Pria yang sebulan terakhir tak bekerja karena di PHK itu kemudian membimbing Alvi menuju atas ranjang. Darto buru-buru menelanjangi tubuh istrinya, sementara Alvi tak mau kalah dengan ikut melepas kaos serta celana yang dikenakan oleh Darto.

Meskipun sudah seringkali bercinta tapi Darto masih saja berdebar saat menyaksikan tubuh bugil Alvi terlentang pasrah di hadapannya. Payudara tak besar, tapi sudah begitu menggoda dengan dua puting berwarna merah muda. Pinggul serta pantat Alvi jadi daya tarik tersendiri dengan kesemokan yang memikat mata tiap lelaki. Alvi mundur ke belakang, kedua pahanya yang mulus terbuka lebar mempertontonkan celah surgawi dengan bulu-bulu halus tercukur rapi.

“Kamu mau ngewe apa liat aku colmek aja?” Goda Alvi sembari memainkan ujung jarinya pada permukaan vagina, menggeseknya perlahan, sambil sesekali menatap binal ke arah Darto.

“Lebih enak pake jari apa kontolku?” Tanya Darto, tangan kanannya mengocok penisnya yang sudah mengeras dan tegang.

“Emmmcchhh…Nggak tau…”

Alvi sengaja menggoda ego sang suami, dua jarinya sudah menelusup masuk ke dalam vagina. Dia mengocok vaginanya sendiri, sesekali tubuhnya melengkung ke atas disertai desahan manja, seolah sedang menikmati cumbuan jemarinya sendiri. Darto menatap nanar menyaksikan polah binal Alvi yang sedari masa pacaran memang sudah sangat “terlatih” untuk urusan sex.

“Occhhh! Anjing! Enak banget Maass!”

Jemari Alvi bergerak makin cepat mengocok bagian dalam vagina, satu tangannya yang lain menjamah payudaranya sendiri. Meremas, memilin puting kiri dan kanan secara bergantian. Di hadapannya Darto melihatnya bermasturbasi sambil mengocok penisnya. Pria itu kemudian mendekati tubuh Alvi, merundukkan kepalanya, mengganti jari sang istri dengan lidahnya.

“Ouucchhh Mas!! Iya jilatin itilku Mas! Enak banget Mass!”

Lidah Darto menjilati permukaan vagina Alvi yang telah basah kuyup. Pria itu memfokuskan jilatannya pada area klitoris, tak hanya menjilat saja, Darto juga menghisapnya kencang-kencang hingga membuat tubuh Alvi melenting pasrah beberapa kali diiringi lenguhan panjang.

Tak puas hanya dengan menggunakan lidah saja, Darto juga memasukkan dua ruas jarinya ke dalam vagina. Ukuran jari yang lebih besar dibanding milik Alvi membuat tubuh snag istri kelejotan bak cacing kepanasan. Darto mengocok, mengobel, menghujami isi vagina Alvi dengan kecepatan penuh sambil lidahnya mejilati bagian klitoris.

“Aaachh! Aaampun Mas! Ampuunn!”

Tubuh Alvi melonjak-lonjak tak karuan hingga membuat permukaan ranjang berantakan. Darto begitu puas melihat istrinya seperti itu, gerakan jarinya makin cepat dan dalam. Tak jarang pria itu menelusupkan jauh sangat dalam, menyentakknya kasar, lalu melanjutkan dengan gerakan cepat nan kasar.

“Aaachh! Udah Mas! Ampuunn!” Jerit Alvi putus asa.

Darto menyudahi aksi cabul jemarinya. Pria itu mengambil posisi di atas tubuh sang istri. Dibasahinya kepala penisnya dengan air liur sebelum kemudian menggesek-gesekkan pada permukaan vagina. Wajah Alvi terlihat begitu frustasi dipermainkan seperti itu. Menagih untuk segera disetubuhi.

“Ayo Mas…Masukin kontolmu…”

“Udah nggak tahan ya?” Goda Darto.

“Ayo Mas…Memekku udah gatel banget!” Racau Alvi.

Darto menurunkan pinggulnya, menekannya ke bawah sembari mengarahkan ujung penisnya dengan tangan agar memasuki liang vagina sang istri. Alvi memejamkan kedua matanya, menggigit bibirnya sendiri kala alat kawinnya mulai disesaki oleh batang Darto.

“Ouucchhh!”

Tubuh Darto menelungkupi tubuh Alvi dari atas, pinggulnya bergerak naik turun dengan perlahan. Penisnya terasa diremasi dari dalam oleh dinding-dinding vagina Alvi yang sempit dan basah. Kedua tangan Alvi memeluk tubuh Darto, dadanya terhimpit dada sang suami, sesekali keduanya saling berpagut mesra seiring gerakan tubuh Darto yang makin konstan dan cepat.

“Gimana kalo Bapak yang ngentotin kamu Dek..?” Tanya Darto tiba-tiba. Alvi tak punya waktu banyak berpikir, otaknya sudah terpengaruh birahi.

“Kamu rela aku dikontolin Bapakmu?” Ujar Alvi balik bertanya.

“Ouucchh! Bakal seru banget kayaknya.” Balas Darto. Membayangkan tubuh istrinya disetubuhi oleh Pak Jamal malah makin membuatnya bernfasu.

“Nanti kalo aku ketagihan sama kontol Bapakmu gimana? Aaacchh! Anjing!”

“Emang memek lonte nggak pernah puas ya sama satu kontol doang?”

“I-Iya, aku nggak puas sama kontolmu doang Mas!”

Alvi sama sekali tak merasa direndahkan oleh ucapan Darto, itu justru jadi pemicu birahi sempurna. Darto sedikit mangangkat tubuhnya, kini tubuhnya tepat berada di depan selangkangan Alvi yang masih terlentang pasrah. Ditariknya sedikit batangnya keluar dari vagina lalu meludahinya. Pria berkulit swao matang itu kemudian kembali menggerakkan tubuhnya maju mundur, dia menggunakan ibu jarinya untuk menekan serta menggosok kelentit Alvi.

“Aaaachhh! Maass! Aaacchh!”

Diperlakukan seperti itu membuat tubuh Alvi kembali kelejotan. Apalagi tekanan penis Darto di dalam vaginanya semakin cepat dan kasar. Kombinasi antara lesakan penis dipadu gesekan pada klitoris sukses membuat Alvi diterjang badai orgasme hebat. Wanita itu melenguh panjang, tubuhnya menegang, melenting ke atas, payudaranya membusung diiringi lenguhan panjang nan parau.

“Maaassss!! Aaampuuunn!”

Darto belum puas, tubuh Alvi yang masih lemas setelah mendapat serangan orgasme segera dibalik hingga menungging membelakanginya. Sesaat pria itu menjilati lubang vagina sang istri, Alvi mendesis-desis menikmati sapuan lidah Darto yang makin bernafsu. Setelah merasa jika lubang surgawi sang istri kembali basah kuyup, Darto memposisikan penisnya agar kembali menyesaki vagina. Dua tangannya memegangi pinggul semok Alvi, sebelum kemudian penisnya kembali menerobos masuk ke dalam liang senggama.

“Aaachhh!!” Kepala Alvi mendongak ke atas, mulutnya megap-megap seolah kekurangan oksigen.

Di belakang, Darto menggenjot tubuh istrinya langsung dengan kecepatan tinggi. Racauan serta lenguhan Alvi yang sudah lemas sama sekali tak diindahkan. Bahkan dengan sengaja satu tangannya menjambak rambut Alvi, menarik kepalanya ke belakang sambil terus menggenjot vagina.

“Enak dek? Hmmm? Kamu masih mau ngrasain kontol lain selain kontolku??”

“Aaacchh! Maas!! Anjing!!” Alvi sudah tak bisa mencerna segala macam pertanyaan cabul dari sang suami, tubuhnya sudah dihajar habis-habisan oleh gelombang kenikmatan.

Satu tangan Darto bergerak merangkul tubuh Alvi dari belakang, meremasi payudara sang istri yang bergantung bebas. Kini posisi keduanya duduk saling membelakangi, sesekali keduanya juga menguas lidah di tengah gerakan penis Darto yang entah kenapa tak kunjung menunjukkan tanda-tanda ejakulasi.

“Maass…Buruan keluarin….” Desak Alvi yang sudah tak kuasa melayani birahi Darto.

“Kenapa? Biasanya kamu suka yang lama-lama.”

“Be-Besok aku shift pagi Mas….”

Setelah Darto di PHK dari tempat kerja, Alvi lah yang kini jadi tulang punggung perBimonomian. Wanita cantik itu sudah hampir dua minggu bekerja di sebuah pabrik pengolahan plastik sebagai operator mesin. Meskipun capek karena harus membanting tulang tapi Alvi mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja, untungnya beberapa teman SMA nya dulu juga berkerja di tempat yang sama.

“Jadi besok pagi aku nggak bisa dapat jatah dong Dek?” Goda Darto.

“Jangan Mas…Besok pagi waktunya Bapak yang dapat jatah…” Entah kenapa kalimat cabul itu meluncur begitu saja dari mulut Alvi. Mendengar hal itu Darto makin bersemangat.

“Kamu serius??! Kamu mau dikontolin Bapak?” Pekik Darto masih tak percaya.”

“Eeemmcchh! Tergantung, kalo kontol Bapak masih bisa ngaceng.” Balas Alvi frontal.

“Acchh! Kamu memang istriku dek!”

“Maasssss!! Keluarin pejumu! Aku besok pagi harus nglayani kontol Bapakmu loh…”

Darto kembali merundukkan tubuh Alvi agar menungging. Tanpa ampun dia hajar kembali liang senggama sang istri dengan lesakan-lesakan kuat penisnya. Membayangkan tubuh Alvi disetubuhi oleh Pak Jamal jadi candu yang membakar birahi, bahkan itu membuat Darto yak kuasa membendung ejakulasinya.

“Aaargghtt! Deekk!”

“Ayo Mas keluarin pejumu!!”

Benar saja, tak butuh waktu lama saat penis Darto berkedut hebat sebelum kemudian menyemprotkan begitu banyak cairan sperma di dalam rahim Alvi. Pria itu kemudian mencabut batang penisnya dari dalam vagina. Alvi sigabp berbalik badan dan langsung menjilati alat kawin sang suami. Dijilatinya kepala penis Darto, menghisap sisa-sisa sperma yang tertinggal tanpa perasdaan jijik sedikitpun.

“Terima kasih Dek…Kamu binal banget malam ini.” Puji Dartp seraya membelai kepala Alvi.

“Sudah tugasku buat muasin kamu Mas…”

“Dek…”

“Ya Mas?”

“Kamu serius nanti pagi mau ngrasain kontol Bapak?”

 

 

PART 2

 

Sementara itu di tempat lain, sebuah warung kopi kecil milik janda semok bernama Zubaedah berdiri dengan lampu redup yang menyinari halaman depan. Suara jangkrik terdengar riuh di kejauhan, mengiringi desiran angin malam yang sesekali menyentuh wajah. Warung kopi itu sederhana, hanya beberapa meja kayu yang tersebar di dalamnya, dengan kursi-kursi kayu yang sudah sedikit usang, namun tetap nyaman.

Meskipun kecil, tapi seperti malam-malam sebelumnya warung milik Zubaedah selalu dipenuhi oleh para pengunjung yang kebanyakan adalah para pria di sekitar lingkungan. Bukan saja karena racikan kopi Zubaedah yang enak dan murah, tapi juga karena penampilan janda berusia 35 tahun itu yang selalu menarik perhatian lawan jenis.

Maka jangan heran, jika malam sudah menjelang, warung kopi itu selalu dipenuhi oleh para pelanggan. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati segelas kopi atau mengobrol saja, tapi mereka juga datang untuk melihat kemolekan tubuh sang pemilik warung yang tak jarang mengenakan pakaian ketat menggugah selera. Pak Jamal yang baru beberapa minggu tinggal di lingkungan itu jadi salah satu “fans baru” Zubaedah.

Hampir setiap malam, pria tua itu selalu mendatangi warung meskipun saat di rumah Darto, Alvi tak pernah lupa menyiapkan kopi untuknya. Berbeda dengan para pengunjung lain yang secara terang-terangan selalu memuji penampilan Zubaedah, Pak Jamal bergerak dalam senyap, sama sekali tak terdeksi, namun sangat efektif. Satu minggu lalu saat kebetulan warung masih sepi, Zubaedah menceritakan masalahnya pada Pak Jamal.

Zubaedah secara terbuka menceritakan mantan suaminya yang sudah mati dan meninggalkan setumpuk hutang. Pak Jamal menyimak tiap detail cerita janda semok itu dengan seksama, sebagai mantan “Don Juan” di masa muda tak sulit bagi Pak Jamal untuk jadi sosok yang terkesan mengayomi, jadi pendengar yang baik untuk tiap keluh kesah Zubaedah.

“Berapa sisa hutang suamimu?” Tanya Pak Jamal kala itu.

“Lumayan lah Mas, makanya ini aku pusing banget. Apalagi bulan depan anakku yang kecil udah mau masuk sBimolah.”

“Ya lumayan itu berapa?” Todong Pak Jamal tanpa basa-basi, dia tau inilah kesempatan baginya untuk jadi sosok pahlawan bagi janda semok itu.

“Hmmm, masih ada sekitar dua puluh jutaan mungkin.” Ujar Zubaedah berterus terang.

Nominal sebesar itu sebenarnya tak cukup membuat Pak Jamal kaget. Uang segitu tak ada artinya bagi pria yang memiliki banyak swah di kampung tersebut. Pak Jamal hanya terdiam, sambil otaknya berputar bagaimana cara memanfaatkan momen seperti ini. Bantuannya harus berbuah hasil manis, dia sadar betul akan hal tersebut.

“Kalo aku yang nutup hutangmu gimana?” Zubaedah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bola matanya berbinar, rasa putus asanya kini ada penawarnya.

“Serius Mas???” Pak Jamal tersenyum, dia tau Zubaedah akan segera masuk ke dalam “perangkapnya.”

“Serius dong…” Pak Jamal menyeruput sisa kopinya di dalam cangkir kecil.

“Wah kalo beneran aku bakal terima kasih banget sih. Tapi apa kamu yakin mau bantu aku? Dua puluh juta tu banyak loh? Nanti apa kata Darto sama menantumu?” Cerocos Zubaedah.

“Ah, uang segitu nggak ada masalah buatku. Lagipula Darto nggak pernah ikut campur urusanku, jadi ya nggak masalah.” Balas Pak Jamal santai.

Mendengar hal itu Zubaedah mengambil posisi duduk dekat, bahkan sangat dekat dengan Pak Jamal. Bahkan siku pria tua itu bisa menyentuh gundukan payudaranya yang terbungkus kain kemben seksi. Zubaedah tau betul caranya berterima kasih. Sepanjang usia pernikahannya dengan mendiang suaminya tak sekalipun mendapat nafkah lahir sebanyak ini, dan sekarang ada seorang pria tua yang dengan senang hati memberinya uang tanpa banyak bicara.

“Aku tau jaman sekarang nggak ada yang gratis Mas. Kamu mau apa dari aku?” Ujar Zubaedah tanpa basa-basi. Kerling matanya menggoda. Tangan kanannya mulai berani memegang paha Pak Jamal, mengelusnya secara perlahan.

“Hahahahaha! Kamu tau aja kalo aku sudah lama nggak ngrasain perempuan.” Balas Pak Jamal.

Malam itu jadi tonggak hubungan baru antara Pak Jamal dan Zubaedah karena keesokan harinya pria tua itu menepati janji dengan menyerahkan uang untuk membayar semua hutang-hutang mendiang suami Zubaedah, bahkan jumlahnya lebih besar dari yang dijanjikan. Apa yang diberikan oleh Pak Jamal bukannya tanpa pamrih, Zubaedah pun tau akan hal tersebut. Maka, setelah hari itu, apapun yang diinginkan oleh Pak Jamal maka Zubaedah akan menurutinya. Apapun itu.

“Wah Mbak Zubaedah kalo make hijab kayak gini jadi makin cakep.” Celetuk Rohmat, seorang PNS Kabupaten yang setiap malam rajin mendatangi warung kopi milik Zubaedah.

“Setuju! Makin adem ngliatnya.” Sahut Roby, pemuda berusia 20 tahun yang tinggal di dekat warung.

“Diliat aja ya bro, nggak boleh dipegang.” Pak RT ikut menimpali, pria berambut tipis dan beruban itu sudah tiga hari terakhir mulai sering mendatangi warung.

Malam ini Zubaedah memang merubah penampilannya. Sebuah rok sepan panjang ketat dipadu kemeja berkancing minimalis serta hijab gelap yang menutupi kepalanya bukan hanya menambah aura kecantikannya, tapi juga makin merojok fantasi-fantasi liar para pengunjung warung. Adalah sosok Pak Jamal yang meminta Zubaedah memakai pakaian tersebut, bukan tanpa alasan, pria tua itu terobsesi pada penampilan Alvi yang sering menegenakan hijab saat bekerja di pabrik.

“Kalian jangan suka gombal ah, inget istri di rumah.” Rajuk Zubaedah seraya menyerahkan secangkir kopi untuk pengunjung warungnya.

“Bukan gombal kok Mbak, tapi ini kenyataan yang harus diungkapkan.” Ujar Rohmat dengan bahasa sok inteleknya yang langsung disambut senyuman sinis para pengunjung warung lain.

Di sudut meja, sedari tadi Pak Jamal hanya mengamati interaksi antara Zubaedah dengan para pengunjung warung sambil sesekali melirik janda semok itu. Keduanya memang telah bersepakat untuk merahasiakan “hubungan” mereka. Alhasil mereka baru bisa mengumbar kemesraan ketika warung sudah sepi atau saat Pak Jamal mendatangi rumah Zubaedah secara diam-diam.

“Mbak, boleh pinjam kamar mandinya?” Pak Jamal maju ke depan, berpura-pura minta ijin pada Zubaedah.

“Oh silahkan Pak, ada di belakang, mari saya antar.” Zubaedah tersenyum penuh arti.

“Walah, udah tua kok pake diantar segala Mbak?” Celetuk Tomi.

“Hush! Karena sudah tua harus didampingi, siapa tau dia nggak bisa megangin barangnya sendiri.” Sahut Pak RT yang langsung disambut gelak tawa para pengunjung warung lain.

Guyonan Pak RT dan Tomi sama sekali tank ditanggapi oleh Pak Jamal. Pria tua itu lebih memilih mengabaikan mereka daripada terlibat pertengkaran yang tak perlu. Toh, apa yang sedang difantasikan oleh pria-pria tersebut pada tubuh Zubaedah telah dilakukannya berkali-kali tanpa ada satupun orang yang tau.

“Mas mau minta jatah sekarang? Warung masih rame loh.” Ujar Zubaedah saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.

“Sebentar aja, kontolku udah ngaceng banget liat kamu pake jilbab kayak gini.” Balas Pak Jamal.

“Ah! Mas Jamal mana pernah sebentar kalo ngewe.”

“Ayo buruan!” Pak Jamal sudah tak sabar dan langsung menarik tubuh sintal Zubaedah masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu sudah berada di dalam kamar mandi, Pak Jamal tanpa sungkan-sungkan langsung mempreteli kancing kemeja Zubaedah yang terlihat kekecilan. Tanpa melepas BH terlebih dahulu, pria tua itu menarik keluar gundukan payudara si janda semok dengan sangat antusias.

“Palan Mas…Sakiiitt…” Keluh Zubaedah.

“Aku udah nggak tahan..”

Mulut Pak Jamal langsung mencaplok payudara Zubaedah, menghisap puting janda itu secara bergantian, sementara satu tangannya ikut meremasi aset terindah Zubaedah. Diperlakukan seperti itu, Zubaedah sebenarnya ingin mengerang atau setidaknya mendesah sebagai aktualisasi ekspresi kebinalannya, tapi hal itu tak dilakukannya. Tangan kanannya menutup mulutnya sendiri, mencegah suaranya terdengar dari luar.

Seluruh tubuh Zubaedah bergetar hebat dalam sensasi nikmat yang dipancarkan melalui sentuhan lidah pada ujung pentil payudaranya.  Pak Jamal yang sudah lama tak merasakan payudara seorang wanita memanfaatkan waktu yang ia miliki, ia mengecup, menjilat, mencium, melumat, menyapu hingga menghisap.

 Lidahnya mengular, melintir, mengoles ke semua arah. Setiap apa yang ia lakukan, menyebarkan sentakan elektris ke sekujur badan Zubaedah. Sang janda itu pun memeluk kepala Pak Jamal, menekannya ke dada, membantu sang pejantan untuk menikmati ranumnya buah dada.

“Eeemmchhhh…Eeemmcchhh..”

Puting Zubaedah makin mengeras, apalagi hisapan mulut Pak Jamal sesekali ditambah dengan gigitan-gigitan kecil lalu diakhiri membetot puting. Pak Jamal merapatkan tubuhnya, tonjolan penis dari balik celananya menyentuh paha Zubaedah. Janda semok itu meremasinya dengan tangan kiri.

“Emutin aja, aku akan cepat kali ini.” Ucap Pak Jamal beberapa saat kemudian sambil melepas celananya hinga bagian bawah tubuhnya terbuka. Zubaedah hendak melepas hijabnya namun Pak Jamal buru-buru mencegahnya.

“Nggak usah dibuka, aku makin sange kalo liat kamu make hijab kayak gini.” Zubaedah mengrenyitkan dahi.

“Tapi nanti kotor Mas…”

“Udah ayo buruan, nggak usah banyak protes.” Pak Jamal tak mau merusak fantasinya sedari tadi.

Zubaedah bergerak merundukkan badannya, terpaksa dia menuruti kemauan pria tua itu. Meskipun sudah tua, tapi penis Pak Jamal bisa dikatakan tak kalah dengan penis-penis pria yang usianya jauh lebih muda. Saat ereksi batang penisnya menunjukkan urat-urat tipis, bagian ujungnya mengembang seperti kepala jamur berwarna kecokelatan. Memang tak sebesar milik bintang porno dari luar, tapi itu sudah cukup menggelitik birahi Zubaedah.

Tanpa diperintah lagi, Zubaedah membelai benda itu. Indera perabanya merasakan urat-urat di sekujur batang penis Pak Jamal berdenyut mengalirkan darah. Semakin dibelai daging kenyal itu semakin keras. Zubaedah sesekali menampar pipi dan mulutnya menggunakan penis itu.

"Occhhh! Enak sayang!"

Zubaedah tanpa ragu mendaratkan lidahnya di kepala penis Pak Jamal, menyapu daerah itu dengan ekspresi binal. Meskipun aroma alat kawin pejantan tua itu sedikit pesing, Zubaedah terus menciuminya dengan sepenuh hati tanpa sekalipun merasakan jijik. Payudaranya yang menggantung bebas jadi sasaran remasan kasar jemari Pak Jamal.

“Eeemmcchh…Eeemmchhh..” Hanya itu yang terdengar dari bibir Zubaedah.

Rangsangan jemari Pak Jamal pada payudaranya memicu Zubaedah untuk melanjutkan tugas, maka ia pun membuka mulutnya dan memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Kepala Zubaedah  bergerak maju mundur menservis penis Pak Jamal, kuluman dan jilatannya begitu memanjakan pria tua itu hingga membuatnya melenguh keenakan dengan tubuh bergetar.

“Ouuchh! Terusin! Isepin kontolku!” Racau Pak Jamal, satu tangannya membelai kepala si janda semok yang masih tertutup hijab.

Sesekali Zubaedah melirik ke arah Pak Jamal, ekspresi mata binalnya makin membuat birahi pria tua itu terbakar. Apalagi saat Zubaedah memainkan lidahnya di sekitar lubang kencing, menjilatinya perlahan sebelum kemudian kembali mengulumnya. Tangan janda itu kini ikut mencengkram alat kawin Pak Jamal, meremasnya lalu mengocoknya sambil terus meberikan kuluman serta hisapan dengan mulutnya.

Suara desahan poarau Pak Jamal saling bersahutan dengan bunyi kecipak mulut Zubaedah yang sibuk di bawah sana. Selang beberapa waktu Pak Jamal merasakan desakan kuat dari dalam penisnya. Kedua tangannya mencengkram kepala Zubaedah, kemudian menggantikan kocokan tangan wanita itu dengan goyangan pinggulnya. Kini Pak Jamal terlihat sedang menyutubuhi mulut Zubaedah.

“Orrgghht!! Orrgghhtt!” Ujung penis Pak Jamal nyaris menyentuh kerongkongan Zubaedah, mulutnya megap-megap disesaki penis sang pejantan.

“Aku mau keluar! Aku mau keluar!”

Buru-buru Pak Jamal melepas batang penisnya, mengocoknya sesaat dan mengarahkan bagian ujung penisnya pada mulut Zubaedah yang sudah terbuak dan bersiap di bawah tubuhnya.

“HAAAAAHHH!!!!”

Semprotan demi semprotan cairan kental berwarna putih memenuhi rongga mulut Zubaedah. Janda cantik itu menelannya hingga tandas. Beberapa ceceran sperma juga membasahi wajahnya, tubuh Pak Jamal mengejang beberapa saat, nyaris gontai, beruntung satu tangannya sigap berpegangan pada dinding kamar hingga membuat keseimbangan tubuhnya tak goyah.

Setelah menelan seluruh sperma Pak Jamal, Zubaedah masih melanjutkan serviznya dengan menjilati bagian kepala penis. Dibersihkannya sisa-sisa sperma pria tua itu dengan lidahnya. Tubuh Pak Jamal bergidik, sesnsai geli sekaligus ngilu menyergap tubuhnya. Untuk urusan sex, Zubaedah memang tak pernah setengah hati, dia bakal melayani pejantannya hingga benar-benar puas.

“Terima kasih sayang..”

“Sama-sama Mas..”

 


Posting Komentar

0 Komentar