DIGILIR PARA BAJINGAN
PART 1
Bunyi gemercik hujan di luar masih
terdengar, udara dingin berbanding terbalik dengan suhu ruangan dalam sebuah
rumah petak. Kedua tangan Alvi merangkul erat belakang kepala suaminya, tak mau
membiarkan Darto lolos dari lumatan bibirnya. Nafas mereka saling memburu.
Pikiran sudah buntu, nafsu telah menguasai.
“Dek…” Darto berhasil meloloskan
bibirnya. Dia menatap dalam wajah Alvi yang memerah karena nafsu.
“Kenapa Mas?”
“Jangan di sini, nanti kalo dilihat
Bapak gimana?” Darto bangkit dari kursi ruang tamu, meraih tangan istrinya
untuk berpindah ke dalam kamar.
“Sampai kapan Bapakmu tinggal di sini
Mas? Kita jadi nggak bisa sebebas biasanya.” Gerutu Alvi. Darto mengelus lembut
rambut hitam istrinya sebelum kemudian mengecup kening wanita cantik itu.
“Sabar ya, Bapak masih butuh teman.
Dia merasa kesepian kalo di rumah sendirian.” Ujar Darto.
“Aku sih nggak apa-apa sebenarnya
kalo Bapakmu tinggal di sini, tapi makin lama dia makin kurang ajar kepadaku.”
Ucap Alvi mengadukan kelakukan Pak Jamal yang tadi siang mengintipnya saat
berganti pakaian di dalam kamar.
“Hahahaha! Mungkin Bapak nafsu lihat
kamu Dek. Wajar kan, dia juga laki-laki sama sepertiku.”
“Mas! Tapi dia Bapakmu! Mertuaku
sendiri! Kamu mau lihat aku diewe dia?”
“Hmmm, sepertinya menarik. Tapi nggak
mungkin lah, Bapakku sudah tua, kontolnya udah nggak bisa ngaceng lagi Dek.”
Balas Darto dengan canda. Alvi makin cemberut.
“Kata siapa dia nggak bisa ngaceng?
Dua hari lalu aku pergoki dia lagi coli di kamar mandi sambil nyiumin celana
dalamku Mas!”
“Hahahahaha! Jadi kalian sama-sama
mengintip kan?”
“Aku nggak sengaja itu! Issh! Kamu
pasti nggak bisa serius kalo diajak diskusi kayak gini.” Gerutu Alvi sambil
membenahi daster tipisnya yang sempat acak-acakan.
“Jangan marah dong sayang, ayo kita
lanjutin aja di kamar aja. Mumpung masih hujan.”
Pasangan suami istri yang baru
menikah satu tahun terakhir itu pun masuk ke dalam kamar mereka untuk bercinta.
Sementara itu di kamar lain, tanpa mereka sadari Pak Jamal mengintip dari balik
pintu. Pria tua dengan kepala botak itu sudah bersiap untuk masturbasi sedari
tadi, berharap Darto dan Alvi bersetubuh di ruang tamu. Namun ternyata
harapannya pupus begitu saja.
“Semprul!” Umpat Pak Jamal seraya
melihat batang penisnya yang terlanjur menegang.
Sejak tinggal di rumah Darto sejak
kematian istrinya, Pak Jamal memang tak bisa menahan hasratnya kala melihat
Alvi. Menantunya itu tak hanya cantik, tapi paras wajahnya juga sangat sensual.
Apalagi lekuk tubuh wanita berusia 25 tahun itu juga tak kalah sempurna jika
dibandingkan selebgram-selebgram seksi yang sering dilihatnya di instagram dan
Tiktok.
Awalnya Pak Jamal hanya berani
curi-curi pandang, namun belakangan pria tua itu mulai berani mengintip Alvi
saat sedang berganti pakaian atau mandi. Tentu saja hal itu dilakukan saat
Darto tak berada di rumah. Lambat laun, fantasi Pak Jamal berubah jadi sebuah
obsesi. Bahkan beberapa hari terakhir Pak Jamal sudah berani mengambil pakaian
dalam Alvi dan menggunakannya untuk bermasturbasi.
“Liat aja, besok pagi bakal Aku
tidurin lonte itu.” Gumam Pak Jamal sebelum memasukkan kembali batang penisnya
ke dalam celana. Pria bertubuh tambun dengan perut membuncit itu kemudian pergi
dari rumah menuju warung kopi milik Zaenab yang berada di ujung jalan.
Sementara itu di dalam kamar lain,
Alvi rupanya sudah tak tahan untuk segera melakukan rutinitasnya setiap malam
bersama sang suami. Begitu pintu ditutup, Alvi langsung menyergap bibir Darto,
melumatnya penuh birahi. Kedua tangannya memegangi erat kepala sang pejantan. Darto
membalas lumatannya, bertukar liur, dan lidah mereka beradu di dalam mulut masing-masing.
Tangan Darto yang bebas mulai bergerak nakal menuju payudara istrinya.
“Mmmhh... Mmhh...”
Desahan keduanya mengalir memenuhi
udara kamar. Ditengah lumatan bibir, tangan Darto bebas meremasi payudara Alvi
yang masih terbungkus kain tipis daster. Pria yang sebulan terakhir tak bekerja
karena di PHK itu kemudian membimbing Alvi menuju atas ranjang. Darto buru-buru
menelanjangi tubuh istrinya, sementara Alvi tak mau kalah dengan ikut melepas
kaos serta celana yang dikenakan oleh Darto.
Meskipun sudah seringkali bercinta
tapi Darto masih saja berdebar saat menyaksikan tubuh bugil Alvi terlentang
pasrah di hadapannya. Payudara tak besar, tapi sudah begitu menggoda dengan dua
puting berwarna merah muda. Pinggul serta pantat Alvi jadi daya tarik
tersendiri dengan kesemokan yang memikat mata tiap lelaki. Alvi mundur ke
belakang, kedua pahanya yang mulus terbuka lebar mempertontonkan celah surgawi
dengan bulu-bulu halus tercukur rapi.
“Kamu mau ngewe apa liat aku colmek
aja?” Goda Alvi sembari memainkan ujung jarinya pada permukaan vagina,
menggeseknya perlahan, sambil sesekali menatap binal ke arah Darto.
“Lebih enak pake jari apa kontolku?”
Tanya Darto, tangan kanannya mengocok penisnya yang sudah mengeras dan tegang.
“Emmmcchhh…Nggak tau…”
Alvi sengaja menggoda ego sang suami,
dua jarinya sudah menelusup masuk ke dalam vagina. Dia mengocok vaginanya
sendiri, sesekali tubuhnya melengkung ke atas disertai desahan manja, seolah
sedang menikmati cumbuan jemarinya sendiri. Darto menatap nanar menyaksikan
polah binal Alvi yang sedari masa pacaran memang sudah sangat “terlatih” untuk
urusan sex.
“Occhhh! Anjing! Enak banget Maass!”
Jemari Alvi bergerak makin cepat
mengocok bagian dalam vagina, satu tangannya yang lain menjamah payudaranya
sendiri. Meremas, memilin puting kiri dan kanan secara bergantian. Di
hadapannya Darto melihatnya bermasturbasi sambil mengocok penisnya. Pria itu
kemudian mendekati tubuh Alvi, merundukkan kepalanya, mengganti jari sang istri
dengan lidahnya.
“Ouucchhh Mas!! Iya jilatin itilku
Mas! Enak banget Mass!”
Lidah Darto menjilati permukaan
vagina Alvi yang telah basah kuyup. Pria itu memfokuskan jilatannya pada area
klitoris, tak hanya menjilat saja, Darto juga menghisapnya kencang-kencang
hingga membuat tubuh Alvi melenting pasrah beberapa kali diiringi lenguhan
panjang.
Tak puas hanya dengan menggunakan
lidah saja, Darto juga memasukkan dua ruas jarinya ke dalam vagina. Ukuran jari
yang lebih besar dibanding milik Alvi membuat tubuh snag istri kelejotan bak
cacing kepanasan. Darto mengocok, mengobel, menghujami isi vagina Alvi dengan
kecepatan penuh sambil lidahnya mejilati bagian klitoris.
“Aaachh! Aaampun Mas! Ampuunn!”
Tubuh Alvi melonjak-lonjak tak karuan
hingga membuat permukaan ranjang berantakan. Darto begitu puas melihat istrinya
seperti itu, gerakan jarinya makin cepat dan dalam. Tak jarang pria itu
menelusupkan jauh sangat dalam, menyentakknya kasar, lalu melanjutkan dengan
gerakan cepat nan kasar.
“Aaachh! Udah Mas! Ampuunn!” Jerit
Alvi putus asa.
Darto menyudahi aksi cabul jemarinya.
Pria itu mengambil posisi di atas tubuh sang istri. Dibasahinya kepala penisnya
dengan air liur sebelum kemudian menggesek-gesekkan pada permukaan vagina.
Wajah Alvi terlihat begitu frustasi dipermainkan seperti itu. Menagih untuk
segera disetubuhi.
“Ayo Mas…Masukin kontolmu…”
“Udah nggak tahan ya?” Goda Darto.
“Ayo Mas…Memekku udah gatel banget!”
Racau Alvi.
Darto menurunkan pinggulnya,
menekannya ke bawah sembari mengarahkan ujung penisnya dengan tangan agar
memasuki liang vagina sang istri. Alvi memejamkan kedua matanya, menggigit
bibirnya sendiri kala alat kawinnya mulai disesaki oleh batang Darto.
“Ouucchhh!”
Tubuh Darto menelungkupi tubuh Alvi
dari atas, pinggulnya bergerak naik turun dengan perlahan. Penisnya terasa
diremasi dari dalam oleh dinding-dinding vagina Alvi yang sempit dan basah.
Kedua tangan Alvi memeluk tubuh Darto, dadanya terhimpit dada sang suami,
sesekali keduanya saling berpagut mesra seiring gerakan tubuh Darto yang makin
konstan dan cepat.
“Gimana kalo Bapak yang ngentotin
kamu Dek..?” Tanya Darto tiba-tiba. Alvi tak punya waktu banyak berpikir,
otaknya sudah terpengaruh birahi.
“Kamu rela aku dikontolin Bapakmu?”
Ujar Alvi balik bertanya.
“Ouucchh! Bakal seru banget
kayaknya.” Balas Darto. Membayangkan tubuh istrinya disetubuhi oleh Pak Jamal
malah makin membuatnya bernfasu.
“Nanti kalo aku ketagihan sama kontol
Bapakmu gimana? Aaacchh! Anjing!”
“Emang memek lonte nggak pernah puas
ya sama satu kontol doang?”
“I-Iya, aku nggak puas sama kontolmu
doang Mas!”
Alvi sama sekali tak merasa
direndahkan oleh ucapan Darto, itu justru jadi pemicu birahi sempurna. Darto
sedikit mangangkat tubuhnya, kini tubuhnya tepat berada di depan selangkangan
Alvi yang masih terlentang pasrah. Ditariknya sedikit batangnya keluar dari
vagina lalu meludahinya. Pria berkulit swao matang itu kemudian kembali
menggerakkan tubuhnya maju mundur, dia menggunakan ibu jarinya untuk menekan
serta menggosok kelentit Alvi.
“Aaaachhh! Maass! Aaacchh!”
Diperlakukan seperti itu membuat
tubuh Alvi kembali kelejotan. Apalagi tekanan penis Darto di dalam vaginanya
semakin cepat dan kasar. Kombinasi antara lesakan penis dipadu gesekan pada
klitoris sukses membuat Alvi diterjang badai orgasme hebat. Wanita itu melenguh
panjang, tubuhnya menegang, melenting ke atas, payudaranya membusung diiringi
lenguhan panjang nan parau.
“Maaassss!! Aaampuuunn!”
Darto belum puas, tubuh Alvi yang
masih lemas setelah mendapat serangan orgasme segera dibalik hingga menungging
membelakanginya. Sesaat pria itu menjilati lubang vagina sang istri, Alvi
mendesis-desis menikmati sapuan lidah Darto yang makin bernafsu. Setelah merasa
jika lubang surgawi sang istri kembali basah kuyup, Darto memposisikan penisnya
agar kembali menyesaki vagina. Dua tangannya memegangi pinggul semok Alvi,
sebelum kemudian penisnya kembali menerobos masuk ke dalam liang senggama.
“Aaachhh!!” Kepala Alvi mendongak ke
atas, mulutnya megap-megap seolah kekurangan oksigen.
Di belakang, Darto menggenjot tubuh
istrinya langsung dengan kecepatan tinggi. Racauan serta lenguhan Alvi yang
sudah lemas sama sekali tak diindahkan. Bahkan dengan sengaja satu tangannya
menjambak rambut Alvi, menarik kepalanya ke belakang sambil terus menggenjot
vagina.
“Enak dek? Hmmm? Kamu masih mau
ngrasain kontol lain selain kontolku??”
“Aaacchh! Maas!! Anjing!!” Alvi sudah
tak bisa mencerna segala macam pertanyaan cabul dari sang suami, tubuhnya sudah
dihajar habis-habisan oleh gelombang kenikmatan.
Satu tangan Darto bergerak merangkul
tubuh Alvi dari belakang, meremasi payudara sang istri yang bergantung bebas.
Kini posisi keduanya duduk saling membelakangi, sesekali keduanya juga menguas
lidah di tengah gerakan penis Darto yang entah kenapa tak kunjung menunjukkan
tanda-tanda ejakulasi.
“Maass…Buruan keluarin….” Desak Alvi
yang sudah tak kuasa melayani birahi Darto.
“Kenapa? Biasanya kamu suka yang
lama-lama.”
“Be-Besok aku shift pagi Mas….”
Setelah Darto di PHK dari tempat
kerja, Alvi lah yang kini jadi tulang punggung perBimonomian. Wanita cantik itu
sudah hampir dua minggu bekerja di sebuah pabrik pengolahan plastik sebagai
operator mesin. Meskipun capek karena harus membanting tulang tapi Alvi mulai
bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja, untungnya beberapa teman SMA nya dulu
juga berkerja di tempat yang sama.
“Jadi besok pagi aku nggak bisa dapat
jatah dong Dek?” Goda Darto.
“Jangan Mas…Besok pagi waktunya Bapak
yang dapat jatah…” Entah kenapa kalimat cabul itu meluncur begitu saja dari
mulut Alvi. Mendengar hal itu Darto makin bersemangat.
“Kamu serius??! Kamu mau dikontolin
Bapak?” Pekik Darto masih tak percaya.”
“Eeemmcchh! Tergantung, kalo kontol
Bapak masih bisa ngaceng.” Balas Alvi frontal.
“Acchh! Kamu memang istriku dek!”
“Maasssss!! Keluarin pejumu! Aku
besok pagi harus nglayani kontol Bapakmu loh…”
Darto kembali merundukkan tubuh Alvi
agar menungging. Tanpa ampun dia hajar kembali liang senggama sang istri dengan
lesakan-lesakan kuat penisnya. Membayangkan tubuh Alvi disetubuhi oleh Pak
Jamal jadi candu yang membakar birahi, bahkan itu membuat Darto yak kuasa
membendung ejakulasinya.
“Aaargghtt! Deekk!”
“Ayo Mas keluarin pejumu!!”
Benar saja, tak butuh waktu lama saat
penis Darto berkedut hebat sebelum kemudian menyemprotkan begitu banyak cairan
sperma di dalam rahim Alvi. Pria itu kemudian mencabut batang penisnya dari
dalam vagina. Alvi sigabp berbalik badan dan langsung menjilati alat kawin sang
suami. Dijilatinya kepala penis Darto, menghisap sisa-sisa sperma yang
tertinggal tanpa perasdaan jijik sedikitpun.
“Terima kasih Dek…Kamu binal banget
malam ini.” Puji Dartp seraya membelai kepala Alvi.
“Sudah tugasku buat muasin kamu Mas…”
“Dek…”
“Ya Mas?”
“Kamu serius nanti pagi mau ngrasain
kontol Bapak?”
PART 2
Sementara itu di tempat lain, sebuah
warung kopi kecil milik janda semok bernama Zubaedah berdiri dengan lampu redup
yang menyinari halaman depan. Suara jangkrik terdengar riuh di kejauhan,
mengiringi desiran angin malam yang sesekali menyentuh wajah. Warung kopi itu
sederhana, hanya beberapa meja kayu yang tersebar di dalamnya, dengan kursi-kursi
kayu yang sudah sedikit usang, namun tetap nyaman.
Meskipun kecil, tapi seperti
malam-malam sebelumnya warung milik Zubaedah selalu dipenuhi oleh para
pengunjung yang kebanyakan adalah para pria di sekitar lingkungan. Bukan saja
karena racikan kopi Zubaedah yang enak dan murah, tapi juga karena penampilan
janda berusia 35 tahun itu yang selalu menarik perhatian lawan jenis.
Maka jangan heran, jika malam sudah
menjelang, warung kopi itu selalu dipenuhi oleh para pelanggan. Mereka datang
bukan hanya untuk menikmati segelas kopi atau mengobrol saja, tapi mereka juga datang
untuk melihat kemolekan tubuh sang pemilik warung yang tak jarang mengenakan
pakaian ketat menggugah selera. Pak Jamal yang baru beberapa minggu tinggal di
lingkungan itu jadi salah satu “fans baru” Zubaedah.
Hampir setiap malam, pria tua itu
selalu mendatangi warung meskipun saat di rumah Darto, Alvi tak pernah lupa
menyiapkan kopi untuknya. Berbeda dengan para pengunjung lain yang secara
terang-terangan selalu memuji penampilan Zubaedah, Pak Jamal bergerak dalam
senyap, sama sekali tak terdeksi, namun sangat efektif. Satu minggu lalu saat
kebetulan warung masih sepi, Zubaedah menceritakan masalahnya pada Pak Jamal.
Zubaedah secara terbuka menceritakan
mantan suaminya yang sudah mati dan meninggalkan setumpuk hutang. Pak Jamal
menyimak tiap detail cerita janda semok itu dengan seksama, sebagai mantan “Don
Juan” di masa muda tak sulit bagi Pak Jamal untuk jadi sosok yang terkesan
mengayomi, jadi pendengar yang baik untuk tiap keluh kesah Zubaedah.
“Berapa sisa hutang suamimu?” Tanya
Pak Jamal kala itu.
“Lumayan lah Mas, makanya ini aku
pusing banget. Apalagi bulan depan anakku yang kecil udah mau masuk sBimolah.”
“Ya lumayan itu berapa?” Todong Pak
Jamal tanpa basa-basi, dia tau inilah kesempatan baginya untuk jadi sosok
pahlawan bagi janda semok itu.
“Hmmm, masih ada sekitar dua puluh
jutaan mungkin.” Ujar Zubaedah berterus terang.
Nominal sebesar itu sebenarnya tak
cukup membuat Pak Jamal kaget. Uang segitu tak ada artinya bagi pria yang
memiliki banyak swah di kampung tersebut. Pak Jamal hanya terdiam, sambil
otaknya berputar bagaimana cara memanfaatkan momen seperti ini. Bantuannya
harus berbuah hasil manis, dia sadar betul akan hal tersebut.
“Kalo aku yang nutup hutangmu
gimana?” Zubaedah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bola matanya
berbinar, rasa putus asanya kini ada penawarnya.
“Serius Mas???” Pak Jamal tersenyum,
dia tau Zubaedah akan segera masuk ke dalam “perangkapnya.”
“Serius dong…” Pak Jamal menyeruput
sisa kopinya di dalam cangkir kecil.
“Wah kalo beneran aku bakal terima
kasih banget sih. Tapi apa kamu yakin mau bantu aku? Dua puluh juta tu banyak
loh? Nanti apa kata Darto sama menantumu?” Cerocos Zubaedah.
“Ah, uang segitu nggak ada masalah
buatku. Lagipula Darto nggak pernah ikut campur urusanku, jadi ya nggak
masalah.” Balas Pak Jamal santai.
Mendengar hal itu Zubaedah mengambil
posisi duduk dekat, bahkan sangat dekat dengan Pak Jamal. Bahkan siku pria tua
itu bisa menyentuh gundukan payudaranya yang terbungkus kain kemben seksi.
Zubaedah tau betul caranya berterima kasih. Sepanjang usia pernikahannya dengan
mendiang suaminya tak sekalipun mendapat nafkah lahir sebanyak ini, dan
sekarang ada seorang pria tua yang dengan senang hati memberinya uang tanpa
banyak bicara.
“Aku tau jaman sekarang nggak ada
yang gratis Mas. Kamu mau apa dari aku?” Ujar Zubaedah tanpa basa-basi. Kerling
matanya menggoda. Tangan kanannya mulai berani memegang paha Pak Jamal,
mengelusnya secara perlahan.
“Hahahahaha! Kamu tau aja kalo aku
sudah lama nggak ngrasain perempuan.” Balas Pak Jamal.
Malam itu jadi tonggak hubungan baru
antara Pak Jamal dan Zubaedah karena keesokan harinya pria tua itu menepati
janji dengan menyerahkan uang untuk membayar semua hutang-hutang mendiang suami
Zubaedah, bahkan jumlahnya lebih besar dari yang dijanjikan. Apa yang diberikan
oleh Pak Jamal bukannya tanpa pamrih, Zubaedah pun tau akan hal tersebut. Maka,
setelah hari itu, apapun yang diinginkan oleh Pak Jamal maka Zubaedah akan
menurutinya. Apapun itu.
“Wah Mbak Zubaedah kalo make hijab
kayak gini jadi makin cakep.” Celetuk Rohmat, seorang PNS Kabupaten yang setiap
malam rajin mendatangi warung kopi milik Zubaedah.
“Setuju! Makin adem ngliatnya.” Sahut
Roby, pemuda berusia 20 tahun yang tinggal di dekat warung.
“Diliat aja ya bro, nggak boleh
dipegang.” Pak RT ikut menimpali, pria berambut tipis dan beruban itu sudah
tiga hari terakhir mulai sering mendatangi warung.
Malam ini Zubaedah memang merubah
penampilannya. Sebuah rok sepan panjang ketat dipadu kemeja berkancing
minimalis serta hijab gelap yang menutupi kepalanya bukan hanya menambah aura
kecantikannya, tapi juga makin merojok fantasi-fantasi liar para pengunjung
warung. Adalah sosok Pak Jamal yang meminta Zubaedah memakai pakaian tersebut,
bukan tanpa alasan, pria tua itu terobsesi pada penampilan Alvi yang sering
menegenakan hijab saat bekerja di pabrik.
“Kalian jangan suka gombal ah, inget
istri di rumah.” Rajuk Zubaedah seraya menyerahkan secangkir kopi untuk
pengunjung warungnya.
“Bukan gombal kok Mbak, tapi ini
kenyataan yang harus diungkapkan.” Ujar Rohmat dengan bahasa sok inteleknya
yang langsung disambut senyuman sinis para pengunjung warung lain.
Di sudut meja, sedari tadi Pak Jamal
hanya mengamati interaksi antara Zubaedah dengan para pengunjung warung sambil
sesekali melirik janda semok itu. Keduanya memang telah bersepakat untuk
merahasiakan “hubungan” mereka. Alhasil mereka baru bisa mengumbar kemesraan
ketika warung sudah sepi atau saat Pak Jamal mendatangi rumah Zubaedah secara
diam-diam.
“Mbak, boleh pinjam kamar mandinya?”
Pak Jamal maju ke depan, berpura-pura minta ijin pada Zubaedah.
“Oh silahkan Pak, ada di belakang,
mari saya antar.” Zubaedah tersenyum penuh arti.
“Walah, udah tua kok pake diantar
segala Mbak?” Celetuk Tomi.
“Hush! Karena sudah tua harus
didampingi, siapa tau dia nggak bisa megangin barangnya sendiri.” Sahut Pak RT
yang langsung disambut gelak tawa para pengunjung warung lain.
Guyonan Pak RT dan Tomi sama sekali
tank ditanggapi oleh Pak Jamal. Pria tua itu lebih memilih mengabaikan mereka
daripada terlibat pertengkaran yang tak perlu. Toh, apa yang sedang
difantasikan oleh pria-pria tersebut pada tubuh Zubaedah telah dilakukannya
berkali-kali tanpa ada satupun orang yang tau.
“Mas mau minta jatah sekarang? Warung
masih rame loh.” Ujar Zubaedah saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.
“Sebentar aja, kontolku udah ngaceng
banget liat kamu pake jilbab kayak gini.” Balas Pak Jamal.
“Ah! Mas Jamal mana pernah sebentar
kalo ngewe.”
“Ayo buruan!” Pak Jamal sudah tak
sabar dan langsung menarik tubuh sintal Zubaedah masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu sudah berada di dalam kamar
mandi, Pak Jamal tanpa sungkan-sungkan langsung mempreteli kancing kemeja
Zubaedah yang terlihat kekecilan. Tanpa melepas BH terlebih dahulu, pria tua
itu menarik keluar gundukan payudara si janda semok dengan sangat antusias.
“Palan Mas…Sakiiitt…” Keluh Zubaedah.
“Aku udah nggak tahan..”
Mulut Pak Jamal langsung mencaplok
payudara Zubaedah, menghisap puting janda itu secara bergantian, sementara satu
tangannya ikut meremasi aset terindah Zubaedah. Diperlakukan seperti itu,
Zubaedah sebenarnya ingin mengerang atau setidaknya mendesah sebagai
aktualisasi ekspresi kebinalannya, tapi hal itu tak dilakukannya. Tangan
kanannya menutup mulutnya sendiri, mencegah suaranya terdengar dari luar.
Seluruh tubuh Zubaedah bergetar hebat
dalam sensasi nikmat yang dipancarkan melalui sentuhan lidah pada ujung pentil
payudaranya. Pak Jamal yang sudah lama
tak merasakan payudara seorang wanita memanfaatkan waktu yang ia miliki, ia
mengecup, menjilat, mencium, melumat, menyapu hingga menghisap.
Lidahnya mengular, melintir, mengoles ke semua
arah. Setiap apa yang ia lakukan, menyebarkan sentakan elektris ke sekujur
badan Zubaedah. Sang janda itu pun memeluk kepala Pak Jamal, menekannya ke
dada, membantu sang pejantan untuk menikmati ranumnya buah dada.
“Eeemmchhhh…Eeemmcchhh..”
Puting Zubaedah makin mengeras,
apalagi hisapan mulut Pak Jamal sesekali ditambah dengan gigitan-gigitan kecil
lalu diakhiri membetot puting. Pak Jamal merapatkan tubuhnya, tonjolan penis
dari balik celananya menyentuh paha Zubaedah. Janda semok itu meremasinya
dengan tangan kiri.
“Emutin aja, aku akan cepat kali
ini.” Ucap Pak Jamal beberapa saat kemudian sambil melepas celananya hinga
bagian bawah tubuhnya terbuka. Zubaedah hendak melepas hijabnya namun Pak Jamal
buru-buru mencegahnya.
“Nggak usah dibuka, aku makin sange
kalo liat kamu make hijab kayak gini.” Zubaedah mengrenyitkan dahi.
“Tapi nanti kotor Mas…”
“Udah ayo buruan, nggak usah banyak
protes.” Pak Jamal tak mau merusak fantasinya sedari tadi.
Zubaedah bergerak merundukkan
badannya, terpaksa dia menuruti kemauan pria tua itu. Meskipun sudah tua, tapi
penis Pak Jamal bisa dikatakan tak kalah dengan penis-penis pria yang usianya
jauh lebih muda. Saat ereksi batang penisnya menunjukkan urat-urat tipis,
bagian ujungnya mengembang seperti kepala jamur berwarna kecokelatan. Memang
tak sebesar milik bintang porno dari luar, tapi itu sudah cukup menggelitik
birahi Zubaedah.
Tanpa diperintah lagi, Zubaedah
membelai benda itu. Indera perabanya merasakan urat-urat di sekujur batang
penis Pak Jamal berdenyut mengalirkan darah. Semakin dibelai daging kenyal itu
semakin keras. Zubaedah sesekali menampar pipi dan mulutnya menggunakan penis
itu.
"Occhhh! Enak sayang!"
Zubaedah tanpa ragu mendaratkan
lidahnya di kepala penis Pak Jamal, menyapu daerah itu dengan ekspresi binal. Meskipun
aroma alat kawin pejantan tua itu sedikit pesing, Zubaedah terus menciuminya
dengan sepenuh hati tanpa sekalipun merasakan jijik. Payudaranya yang
menggantung bebas jadi sasaran remasan kasar jemari Pak Jamal.
“Eeemmcchh…Eeemmchhh..” Hanya itu
yang terdengar dari bibir Zubaedah.
Rangsangan jemari Pak Jamal pada
payudaranya memicu Zubaedah untuk melanjutkan tugas, maka ia pun membuka
mulutnya dan memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Kepala Zubaedah bergerak maju mundur menservis penis Pak
Jamal, kuluman dan jilatannya begitu memanjakan pria tua itu hingga membuatnya
melenguh keenakan dengan tubuh bergetar.
“Ouuchh! Terusin! Isepin kontolku!”
Racau Pak Jamal, satu tangannya membelai kepala si janda semok yang masih
tertutup hijab.
Sesekali Zubaedah melirik ke arah Pak
Jamal, ekspresi mata binalnya makin membuat birahi pria tua itu terbakar.
Apalagi saat Zubaedah memainkan lidahnya di sekitar lubang kencing,
menjilatinya perlahan sebelum kemudian kembali mengulumnya. Tangan janda itu
kini ikut mencengkram alat kawin Pak Jamal, meremasnya lalu mengocoknya sambil
terus meberikan kuluman serta hisapan dengan mulutnya.
Suara desahan poarau Pak Jamal saling
bersahutan dengan bunyi kecipak mulut Zubaedah yang sibuk di bawah sana. Selang
beberapa waktu Pak Jamal merasakan desakan kuat dari dalam penisnya. Kedua
tangannya mencengkram kepala Zubaedah, kemudian menggantikan kocokan tangan
wanita itu dengan goyangan pinggulnya. Kini Pak Jamal terlihat sedang
menyutubuhi mulut Zubaedah.
“Orrgghht!! Orrgghhtt!” Ujung penis
Pak Jamal nyaris menyentuh kerongkongan Zubaedah, mulutnya megap-megap disesaki
penis sang pejantan.
“Aku mau keluar! Aku mau keluar!”
Buru-buru Pak Jamal melepas batang
penisnya, mengocoknya sesaat dan mengarahkan bagian ujung penisnya pada mulut
Zubaedah yang sudah terbuak dan bersiap di bawah tubuhnya.
“HAAAAAHHH!!!!”
Semprotan demi semprotan cairan
kental berwarna putih memenuhi rongga mulut Zubaedah. Janda cantik itu
menelannya hingga tandas. Beberapa ceceran sperma juga membasahi wajahnya,
tubuh Pak Jamal mengejang beberapa saat, nyaris gontai, beruntung satu tangannya
sigap berpegangan pada dinding kamar hingga membuat keseimbangan tubuhnya tak
goyah.
Setelah menelan seluruh sperma Pak
Jamal, Zubaedah masih melanjutkan serviznya dengan menjilati bagian kepala
penis. Dibersihkannya sisa-sisa sperma pria tua itu dengan lidahnya. Tubuh Pak
Jamal bergidik, sesnsai geli sekaligus ngilu menyergap tubuhnya. Untuk urusan
sex, Zubaedah memang tak pernah setengah hati, dia bakal melayani pejantannya
hingga benar-benar puas.
“Terima kasih sayang..”
“Sama-sama Mas..”

Posting Komentar
0 Komentar